Underworld School: Learn To Kill
POV : ???
Jantungku berdetak kencang, nafas memburu dengan rasa nyeri di bahu kiriku. Kemeja putih yang kupakai koyak sudah dipakai berlari, tanpa alas kaki maupun sepatu, aspal yang dingin ini mulai terasa perih di kaki.
"AAAARRRRGGGGHHHHH!" Aku berteriak, menarik rambutku kuat hingga beberapa helai rontok di tanganku sendiri. Sakit? Tentu saja. Tapi daripada itu, mungkin amarah dan rasa kecewa yang paling kurasa saat ini.
"BANGSAAAT! SIAALL! SIAALAAANN!" Aku ambruk berlutut, memukul aspal hingga buku-buku tanganku berdarah. Sesak! Rasanya aku ingin mengeluarkan jantungku sendiri dan meremasnya hingga hancur.
"Huu ... hiks ... kenapa Kak? Kenapa? ... " Aku terisak, berusaha menghilangkan kenangan buruk yang baru saja kualami. Bukankah hari ulang tahun seharusnya menjadi hari yang paling dinantikan? Bukankah hari ini seharusnya menjadi salah satu hari yang paling bahagia untukku?
"Kenapa ... kenapa Kakak membunuh semuanya?" rintihku pelan. Kepalaku tak bisa melupakan bayangan kakak yang berdiri dengan senyuman di atas tumpukan mayat orang-orang-
Termasuk kedua orang tua kami.
Bahu kiriku terasa nyeri, darah segar yang masih mengalir seperti menjadi bukti, bahwa yang kulihat tadi bukanlah mimpi.
Aku menatap ke arah langit malam. Gelap. Tak ada bintang maupun bulan. Apa bahkan semesta sudah meninggalkanku?
"Benar. Larilah, bertahan hidup seperti seekor kecoa."
"AAARRRRGGGGHHH!" Aku memukul aspal lagi, ucapan yang kakak berikan padaku-
Aku tidak mengerti sama sekali. Dimana salahnya? Kapan semua ini dimulai?
Memangnya apa salahku sampai hidupku hancur dalam semalam?!
Tes ... tes tes!
Rintik air perlahan mengenai tubuhku. Bersama dengan angin malam yang berhembus, hujan datang mengguyur semuanya.
Hampa.
Aku menatap aspal yang berubah menjadi hitam mengilap. Arus air dari hujan yang berangsur ke tepi jalan, membuatku diam dan berpikir.
Memangnya jika aku marah ... jika aku memaki ... bahkan jika aku berteriak ...
Apa ada yang akan berubah?
"Sudah mati."
"Seas Veldaveol, sudah mati hari ini."
Tap ... tap ... tap ...
Suara langkah kaki terdengar perlahan mendekat. Bahkan diantara derasnya suara hujan, entah kenapa aku masih mendengar suara itu dengan jelas. Tapi aku sudah tidak punya tenaga bahkan untuk mengangkat kepala.
Tap.
Sepasang sepatu serba hitam dengan hak pendek, itu adalah sepatu perempuan. Aku hanya diam ketika melihat salah satu dari kakinya berlutut, menawarkan sebuah sapu tangan semerah darah padaku.
"Apa kau mau balas dendam?"
Mataku melebar, segelintir tenaga yang tersisa kugunakan untuk mengangkat kepala.
Kulit putih agak pucat, rambut lurus panjang dengan warna hijau keemasan, lalu ...
Mata yang berwarna merah keruh tanpa cahaya.
Apa dia manusia?
Perempuan itu masih diam, menatapku dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"K- ... Kalau aku mau, apakah ... bisa?" tanyaku lirih, berusaha menggapai sapu tangan yang dia berikan.
"Itu tergantung dirimu sendiri," ucapnya.
"Tapi jika kau mau. Aku akan membuatkan jalan untukmu."
Kilat di atas langit mulai bersuara, bersama dengan cahaya terang yang turun menyilaukan mata.
Ah-
Aku tidak peduli dia ini dewa atau pencabut nyawa. Aku tidak peduli dia malaikat ataupun iblis.
Aku menarik lengan bajunya kuat, menatap mata merah itu dengan segenap tekad.
"Bawa aku!"
JEDER!
Kilat menyambar keras, bersamaan dengan penglihatanku yang memburam. Untuk sesaat ... sepertinya aku ... melihatnya tersenyum?
###
POV : Author
Seas ambruk dengan wajah yang memucat, wanita dengan mata merah itu-Venom, dengan sigap menangkap tubuhnya. Ia menelisik luka Seas yang ada di bahu kirinya.
"Seas Veldaveol. Selamat bergabung dengan Underworld School." Dengan satu tangan, dia memanggul tubuh Seas di bahunya. Venom kemudian berjalan pergi, sembari membawa Seas menghilang dari tanah kelahirannya.
Hujan lebat yang turun kala itu, mungkin adalah sebuah keberuntungan yang semesta berikan untuk menghapus jejak mereka.
* * *
Kling!
"Oh? Selamat datang Venom, bagaimana misimu- ASTAGA! ANAK SIAPA YANG KAU BAWA?!" teriak Farula - penjaga administrasi Underworld School. Venom melirik ke arah Seas yang tak kunjung sadarkan diri bahkan setelah 11 jam perjalanan ke Underworld School.
"Dia kehabisan darah. Aku sudah memeriksa golongan darahnya, O+, antar dia ke ruang kesehatan," ujar Venom sambil menaruh tubuh Seas di atas kursi panjang.
"Masukkan nama Seas sebagai pendaftar di ujian masuk minggu depan," ucap Venom to the point. Farula gelagapan, dia langsung membuka komputer dan berbagai berkas dengan panik.
"T-t-tunggu dulu! Kau mau mendaftarkannya? Anak seperti apa dia?! Kau tau kan kita tidak bisa menerima sembarang anak?!" ujar Farula yang baru sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Nama belakangnya adalah Veldaveol."
"Veldave- apa? ..." Farula tercengang. Matanya menatap ke arah Seas dengan tatapan shock.
"D-dia? Dia sungguh adik orang itu? Tunggu tunggu tunggu! Venom! Bagaimana kalau dia bersekongkol dengan kakaknya?!"
Venom diam, menatap Farula tanpa ekspresi. "Tidak akan. Kalau iya seperti yang kau bilang. Tidak mungkin dia duduk bersimbah darah terlantar sendirian di tengah jalan."
"Ah ... jadi kita terlambat, ya?" Farula menghela nafas pendek.
"Ya ... kita terlambat satu langkah. Tapi tidak masalah." Venom melirik ke arah Seas sekali lagi sebelum akhirnya Seas dibawa oleh petugas kesehatan Underworld School.
"Karena kita mendapatkan sebuah berlian yang sangat berkualitas." Setelah mengucapkan itu, Venom berbalik arah, dia melangkah menuju pintu keluar.
"Aku akan melaporkan misiku kali ini. Kau urus anak itu sampai aku kembali."
Kling!
Farula tersenyum tipis sambil mengusap keringat di wajahnya. "Astaga, aku kira dia membawa mayat lagi. Tapi jujur ... aku lebih kaget dia membawa manusia hidup ke sini, si Venom itu." Farula menutup layar komputer setelah memasukkan nama Seas ke sana, dia segera mengambil beberapa perlengkapan medis dan juga beberapa buku untuk menganalisis psikologis Seas.
"Baiklah, saatnya kita mengurus calon agen yang baru."
###
POV : Seas
Kepalaku masih berdenyut ... sial, rasanya mual. Dengan perlahan, aku berusaha membuka mata.
Dimana ... ini?
Semuanya terasa asing bagiku, interior ruangan yang aneh dan serba hitam. Bau obat-obatan yang belum pernah kucium, serta ...
Wanita aneh yang menatapku sambil tersenyum tidak jelas?
"Siapa ... kau?" tanyaku dengan suara lirih.
"Ah! Akhirnya kau sadar juga! Aku khawatir kau mati karena kita sudah melewatkan golden hour saat berusaha menyelamatkanmu!
Namaku Farula, sementara ini aku bertugas mengawasi kondisimu! Baik baik baik~ mari kita lihat kondisimu!" Wanita itu mengeluarkan senter, menyentuh dan membuka paksa mataku.
"Ack!"
"Hmm respon pupil masih sedikit lambat. Tapi kau bisa merespon rasa sakit dengan baik. Oke, apa kau ingat siapa namamu?"
"Seas ... "
"Hm hm oke. Otakmu juga aman karena kau masih ingat namamu." Dia kembali menulis sesuatu di buku yang dia bawa.
"Ini ... dimana?" tanyaku sambil melihat tangan kiriku yang tersambung dengan kantung darah.
"Ah- benar! Selamat datang di Underworld School."
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
Pecintagepeng01
Setelah aku melihat notif update, aku langsung buka, tapi karena lupa alur, jadinya mau baca ulang dulu/Shhh//Shhh//Shhh/
2024-02-23
1
Tatata
Wow😳 prolognya keren banget!!!
2023-02-28
2
Pecintagepeng01
Halo para reader marathon! Jangan lupa untuk like di setiap bab ya! Sebagai apresiasi untuk authornya!
2022-11-19
4