POV: Seas
Apa ... yang kuketahui tentang Underworld ... School?
"... I-ini adalah sekolah-"
"Kau tidak tau apa-apa, ya?" Belum selesai aku berucap, Rex memotong sambil menghembuskan asap tebal dari mulutnya.
"Aku tau-"
"Tidak, kau tidak tau apapun." Dia menatapku dengan sorot mata yang lebih tajam, senyuman itu menghilang dari wajahnya.
"Kau bahkan tidak paham apa maksud pertanyaanku. Pergilah, aku tidak akan melanjutkan proses penerimaanmu jika kau tidak bisa menjawab pertanyaanku dengan benar."
Apa?
Jangan bercanda ...
Secepat ini?
Secepat ini aku gagal?!
"Hoo ... kenapa? Ekspresi marahmu seram juga," ujarnya singkat. Aku sangat kesal, memangnya apa maksud pertanyaannya?!
"Kau tidak bisa mengusirku begini!" Aku berdiri, menatapnya tajam dengan rahang yang menahan emosi.
"... Kau masih seorang bocah yang tidak tau apapun. Arma sangat memanjakanmu, ya? Bahkan kau tidak punya satupun bakat yang dia miliki, sebenarnya apa yang Venom lihat darimu?"
Apa?! Bangsat ...
"Jaga mulutmu dasar sampah!" Aku menerjang maju, menaruh kakiku di atas meja, hendak menarik kerah bajunya.
"Satu-satunya hal yang patut dipuji hanyalah keberanianmu. Kalau begitu, akan kuberi satu kesempatan."
Sebuah tangan besar tiba-tiba melahap wajahku, besar! Satu tangan Rex saja seukuran wajahku. Sial!
"Kembalilah ke sini saat kau sudah mengetahui jawabannya."
Apa?! Jangan bercanda!
.
.
.
.
.
Eh? Ini ... dimana?
"Bukankah ... tadi aku di ruangan Rex?"
"Kau sudah sadar? Baguslah, aku sudah membuatkanmu teh, untuk sementara, pondok ini adalah rumahmu. Aku harus pergi untuk menjalankan misi lain." Jantungku rasanya mau meledak saat tiba-tiba mendengar suara orang di belakangku. Aku menoleh, menatap Venom yang menatapku dengan tatapan datarnya seperti biasa.
"... Rex bilang aku ... "
"Aku tau, tidak banyak orang yang bisa meyakinkan Rex dalam satu pertemuan. Tapi ... " Venom menatapku lagi, dia berjalan mendekat, menaruh tangan kanannya di pucuk kepalaku.
"Setidaknya kau masih hidup setelah bertemu dengannya juga merupakan keajaiban ... atau kau yang luar biasa," ucapnya sambil mengusap-usap rambutku.
"... Apakah aku bisa?"
"Apa kau ingin menyerah sekarang? Sebelum kita semakin jauh."
Menyerah? ...
"Tidak ... aku akan ... mendapatkan jawabannya."
"Baguslah, kalau begitu aku pergi dulu. Kalau kau ingin mencari makanan, pergilah ke pondok yang ada di sana." Venom menunjuk ke arah sebuah rumah yang dijaga seorang laki-laki yang tengah membaca buku. Aku mengangguk mengerti, setelah itu Venom pergi meninggalkanku sendiri di pondok ini.
.
.
.
.
.
Dua jam ... sudah dua jam aku memikirkan hal ini ... tapi rasanya kepalaku justru seperti mau meledak. Apa aku memang sebodoh itu? ... Tidak kok, aku selalu masuk 5 besar di sekolahku ... kalau begitu ...
Apa ini karena aku tidak pernah mendengar apapun tentang dunia bawah?
Aku bangun dari tempat tidur, berpikir untuk keluar dan melihat-lihat. Begitu aku keluar kamar, semua hal yang kulihat saat ini terasa begitu asing. Pemandangannya, hawa udaranya, dan juga bau yang kuhirup, masih sulit bagiku menerima semua perubahan ini hanya dalam satu hari.
"Tck! Sial!" Aku menendang pelan batang pohon di sebelahku. Setelah itu aku kembali berjalan, menyusuri jalanan yang begitu sepi dan tanpa nyawa. Underworld School ini ternyata cukup luas, kalau sesuai dengan yang aku lihat di peta saat akan menemui Rex, maka luas Underworld School ini setara dengan sebuah kota besar.
Yah tapi, isinya terlalu sepi. Mungkin karena semua penghuninya adalah seorang pembunuh dan kebanyakan dari mereka punya misi di luar area Underworld School seperti Venom.
Jadi, apa itu Underworld School? Aku masih belum menemukan jawabannya sampai sekarang.
Bruk!
"Aduh!" Aku menatap kesal pada seorang remaja laki-laki dengan rambut panjang yang menabrakku dari belakang. Ia tersungkur di depanku.
"Ma-maaf! Aku sedang buru-buru," ucapnya lirih sambil seraya berdiri.
"Buru-buru kenapa?"
"I-itu aku-"
"ITU DIA! ANAK ITU DI SANA!"
Aku menoleh ke belakang, menatap dua orang pria bertudung yang tampaknya mengejar anak ini. Dia dikejar? Kenapa?
Aku kembali menoleh padanya, dia tampak ketakutan, tubuhnya gemetar dengan sorot matanya yang menatap dengan berkaca-kaca. Tck, apa yang sebenarnya terjadi?
"To-tolong aku-"
"Hei! Kau! Anak bermata ungu!"
Aku melirik pada mereka.
"Aku tidak peduli apa urusanmu tapi anak yang berada di belakangmu itu adalah milik kami. Serahkan dia, dan kami akan membiarkanmu hidup," ucap mereka sambil mengeluarkan pedang dari balik tudungnya. Mereka bersenjata, kalau aku salah bertindak, aku bisa mati sungguhan!
"Hiks ... hiks! Aku- aku hanya tidak mau memberikan mereka kalungku, tapi mereka memaksanya ...," ucapnya lirih di belakangku. Jadi ... yang jadi orang jahatnya di sini mereka, ya?
"... Baiklah."
###
POV: Author
Di ruangan Rex, terlihat bayangan dua orang pria yang tampak berbincang. Orang itu adalah Rex, dan juga salah satu Agen mata-mata, Agen C.
"Kudengar kita kedatangan anak yang menarik," ucap C sambil menyalakan cerutunya. Rex tertawa pelan, dia mengaduk kopi yang ada di tangannya perlahan.
"Ya, dia adik dari Arma, namanya Seas Veldaveol."
"Oh ya? Dia benar-benar seperti kembaran Arma saat remaja." C tersenyum tipis, menatap ke arah luar jendela dari dalam ruangan Rex.
"Bagaimana menurutmu ... anak itu?" tanya C pada Rex. Pria besar itu melanjutkan meminum kopi hangatnya sejenak, lalu dia menaruhnya kembali ke meja.
"Hmmm bagaimana menjelaskannya ya ... " Rex menopang dagunya dengan kedua tangan, berpikir sejenak sambil menimbang-nimbang.
"Aku tidak tau apa yang sudah dia lalui, apa yang sudah dia hadapi, dan apa yang sudah dia rasakan. Tapi ... anak itu masih bisa sadar bahkan setelah aku mengeluarkan hawa membunuh."
"Apa? Kau serius?" C agak kaget, ini adalah pertama kalinya ada murid baru yang tidak pingsan setelah merasakan hawa membunuh milik Rex.
"Ya, meskipun dia terlihat sangat tersiksa, tapi dia tidak pingsan. Kesadaran mentalnya patut diacungi jempol. Tapi ... dia adalah anak yang polos dan bodoh, setidaknya untuk sekarang." Rex mengangkat gelas kopinya lagi lalu meminumnya hingga habis.
"Lalu? Apa menurutmu ... anak itu ...," Ucapan C terhenti sejenak, dia menatap Rex yang juga terdiam dengan pandangan kosong.
"Kalau soal itu ... aku belum yakin. Kalau kau bertanya apa anak itu punya potensi jadi pembunuh, maka jawabannya ... " Rex diam, dia tersenyum lebar menatap biodata Seas di mejanya.
"Tentu saja, dia bahkan bisa melebihi orang paling berbakat di dunia pembunuh saat ini. Melebihi Arma? Itu hanya masalah waktu baginya."
C agak tercengang mendengar Rex memuji Seas sampai sebegitunya.
"... Menarik ... kalau dia lulus ujianmu, aku yang akan menjadi wali kelasnya."
Rex tertawa keras. "Ambil saja, aku percaya kau bisa melatihnya."
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
Disa disa
SKY LUCU BGT IH SUKA, btw nih ya, saya curiga, mungkin gk sih kalo kakak Seas itu sebenarnya baik gitu, trs dia bunuh keluarganya karena terpaksa
2022-05-31
1
Disa disa
Kasian, mental MC kita udh rusak🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺
2022-05-31
0
Disa disa
Rumus paling gampang, r=p1-p2, eh itu kimia apa fisika ya
2022-05-31
0