..."Kau tau kan kenapa aku memanggilmu ke sini?"...
POV: Author
Rex menghirup asap rokoknya, C duduk diam di sofa.
"Masalah pelajaran yang kuadakan hari ini?" ucap C menebak tujuan Rex. Rex mengangguk.
"Kenapa kau mempersulit pelajarannya? Bukankah biasanya hanya 2 atau 3 agen tingkat atas yang kau libatkan?" Rex menatap C dengan tatapan penasaran. C menghembus nafasnya pelan.
"Aku yakin kau sudah mendengarnya, anak-anak di generasi ini sangat luar biasa!" ucap C sambil memberikan beberapa data pada Rex.
"Lalu? Aku tak percaya kau mempersulit ujian hanya karena alasan ini. Ya, aku sudah mendengar banyak yang berkata seperti itu. Memangnya seluar biasa apa mereka?" Rex membaca salah satu daya yang diberikan C. C hendak menjawab, tapi beberapa agen tiba-tiba masuk.
"Kenapa kalian ke sini? Spinx, Cat, Walker, dan F?" Rex menatap para agen itu dengan tatapan tidak suka. Para agen itu membungkuk lalu duduk di atas lantai.
"Perkataan Agen C benar. Saya bisa membuktikan perkataannya." Spinx berbicara lalu melepaskan zirahnya.
Rex tertegun sesaat, kulit di tubuh Spinx banyak yang berwarna ungu kehitaman. Para agen lain juga menunjukkan luka mereka.
"Contohnya adalah anak yang baru masuk sini. Seas," ucap Spinx.
"Dia kan adik dari Arma. Bukan hal mustahil membuatmu seperti itu~ jangan melebih-lebihkannya!" Rex menatap Spinx dengan kecewa.
"Rex kau tau bahwa kami semua memiliki kontrak dengan C, yaitu batasan kekuatan yang kami pakai pada murid-murid. Aku... Sudah melanggar kontraknya. Aku menggunakan lebih dari 20% kekuatanku." ucap Spinx, semua yang ada di ruangan itu tertegun. Spinx adalah salah satu top agen, kekuatannya sangat besar jika dibandingkan agen lainnya.
"Seas, dia memiliki intuisi yang bagus, dia bisa berpikir dengan tenang bahkan dalam kondisi nyawanya dalam bahaya. Tapi yang paling merepotkan itu adalah otaknya. Dia sangat cerdik ... dan licik," ucap Spinx. Rex terdiam sedangkan C tersenyum kecil.
"Begitu juga untuk Ruo dan Erea." Agen Cat membuka suara. Kini perhatian berada di agen Cat.
"Erea, pada awalnya dia adalah gadis cengeng yang tidak tau harus berbuat apa saat menghadapi F. Tapi saat nyawa temannya terancam, dia tiba-tiba menunjukkan potensi yang mengagumkan!" ucap Cat sambil menunjukkan pisaunya yang sudah rusak, banyak peyokan di tepinya.
"Dia bisa mengimbangi 20% kecepatanku, bahkan pada pembelajaran ke-duanya." ucap Agen Cat.
"Begitu juga Ruo, kekuatannya tidak masuk akal. Dia bisa membuatku pingsan dengan sekali pukulan. Kau tau kan kami hanya bisa menahan kekuatan kami, tapi daya tahan tubuh yang sudah terbentuk tidak bisa dikontrol," ucap Agen F.
"Yah ada 2 anak yang agak membingungkan dan 2 sisanya adalah seorang genius." C berdiri dan menunjukkan data yang dia peroleh.
"Fani dan Kuo. Secara data, mereka adalah pemilik kemampuan fisik terkuat di kelas. Tapi dalam pertarungan, mereka tertinggal satu langkah dari teman-temannya," ucap C sambil merebut salah satu rokok Rex.
"Lalu 2 genius itu ... Ned dan Alio," ucap C lalu menyalakan rokoknya.
"Ada apa dengan mereka?" Rex menatap C dengan heran. C mengendikkan bahunya lalu melirik para agen di belakangnya.
"Mereka berdua ... sudah bisa menggunakan senjata kategori khusus meskipun baru tahap pertama." Walker membuka suara. Rex menatap Walker dengan tidak percaya.
"Anak yang bernama Ned itu, dia ahli menggunakan jaring besi. Kukira dia hanyalah peracik racun dan pembuat bom. Ternyata keahlian aslinya adalah jaring besi. Dia bahkan bisa menyembunyikan hawa keberadaannya," ucap Walker.
"Yah, mungkin Ned masih terbilang genius normal, dia juga punya beberapa kekurangan layaknya Seas. Yang tidak normal itu Alio!" Cat berbicara cukup keras.
"Alio menggunakan cambuk panjang sebagai senjatanya. Dia bahkan bisa mengontrol sampai ke titik mengikat dari jarak jauh! Dia tak menunjukkan emosi dalam pertarungan, dia tidak lengah dan menggunakan cambuk seolah bagian dari dirinya!" ucap Cat. Rex berdiri dan berjalan ke arah Cat.
"Alio itu ... Tidak memiliki kekurangan dalam kertas yang kutulis. Dia sempurna dalam versinya saat ini." C ikut menyambung perkataan Cat.
"Hmm ... generasi saat ini adalah monster ya? Aku juga mendapat laporan yang sama dari tiap jurusan." Rex tertawa kecil dan mengambil data dari lacinya.
"Di kelas pertarungan senjata api, ada anak dengan kekuatan fisik serta IQ yang hebat. Dia bisa menemukan taktiknya sendiri dalam bertarung." Rex membalik kertasnya.
"Di kelas obat dan racun. Ada anak yang bahkan bisa mengenali racun hanya dengan sekali melihatnya. Mata anak itu istimewa. Matanya bisa melihat sampai ke tingkat DNA," ucap Rex. Para agen terdiam, mereka tak menyangka generasi ini akan benar-benar ada. Generasi para monster yang akan memimpin nantinya.
"Oh lalu ... untuk Seas ... sebenarnya aku tidak yakin mengatakan ini ... tapi sepertinya ... ." Spinx terdiam sesaat sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Dia sudah mengetahui tentang salah satu 'seni bertarung terlarang'," ucap Spinx.
"HAH? ITU TIDAK MUNGKIN!" F berdiri. Dia tidak terima seorang anak bisa menguasai 'seni' itu.
"Itu adalah 'seni' yang sangat sulit, bahkan untuk agen tingkat atas. Hanya beberapa yang menguasainya, salah satu yang kita kenal yaitu Rex dan Venom. Ada beberapa lainnya tapi mereka sedang dalam misi," ucap Cat. Lagi-lagi ruangan itu hening.
"Atas dasar apa kau berkata seperti itu Spinx?" Rex menghembuskan nafasnya kasar. Kepalanya sangat pusing saat ini.
"Aku sudah bilang, aku mengeluarkan lebih dari 20% kekuatanku," ucap Spinx.
"Dia memang darimu hanya karena dia beruntung menemukan ulat beracun yang mematikan!" F berbicara dengan nada marah.
"Tidak ... bahkan sebelum itu. Kalau dia benar-benar amatir dalam pertarungan, kenapa dia bisa selamat dari tombak pasirku? Apalagi aku sudah menggunakan lebih dari 20% kekuatanku. Dia terkena luka di kakinya karena dia ceroboh," ucap Spinx.
"Mungkin bagi kalian itu adalah pergerakan yang amatir, gerakan dasar yang sangat amatir. Tapi saat kalian bertarung dengannya. Kalian akan merasakan perbedaannya." Spinx berdiri lalu berjalan ke arah pintu.
"Rasanya seperti ... dia bukan seorang manusia. Suara nafas, gerakan tangan, posisi kaki yang diambil, serta perspektif yang dia gunakan ... ttu benar-benar berbeda dari seorang amatir." Setelah mengucapkan itu Spinx keluar dari ruangan.
"Haaah ... terimakasih atas laporan kalian ... dan kau C. Gunakan metode yang menurutmu bagus, kita tidak tau sampai mana potensi mereka ... dan tidak tau potensi apa lagi yang mereka sembunyikan." Rex duduk kembali ke kursinya dan memijat keningnya.
C dan para agen lain sudah keluar. Venom masuk setelah para agen itu keluar.
"Venom?" Rex menyadari Venom berdiri di depannya.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Rex.
"Menurutku ... bisa saja mereka benar. Untuk 'seni' yang digunakan Seas, kupikir itu berbeda dengan 'seni' milik Arma. Dan mungkin, Seas tidak sadar dia sudah menggunakan 'seni' itu," Ucap Venom.
..."Akan jadi seperti apa kalian? Generasi Monster."...
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
Sindy Sintia
aku suka ceritanya
2023-08-21
1
hetdoo
mantab thor😳💪💪
agak heran juga knp masih sepi, padahal bagus ini ceritanya 😍
2022-07-13
1
One Tea
Whoa Whoa Whoa...... Kerennnnn
2022-05-26
1