..."Apakah hanya ini yang kalian punya?"...
POV: Seas
"Tunggu sebentar! Kalau seperti ini, tidak mungkin bagi kami untuk menang!" protesku pada C, Ned dan Alio mengangguk setuju. C menatapku datar lalu membuang nafasnya kesal.
"Seas. Apa kau sadar bahwa kemarin Spinx mengeluarkan lebih dari 20% kekuatannya? Dan kau bahkan menang melawannya," ucap C, semua orang di sini terkejut, bahkan aku sekalipun.
"Kalian juga sama, sebenarnya pelajaran kemarin sudah aku persulit dengan membuat setiap anak memiliki agen yang harus dihadapi," jelas C sambil menurunkan tekanan angin.
"Dan kalian semua berhasil! Bahkan melebihi ekspektasi kami semua! Dan sekarang kau bilang tidak bisa menang melawanku? Padahal kalian bertiga bekerja sama?" C menatap kami dengan tajam, aku terdiam.
Apakah benar Agen Spinx menggunakan lebih dari 20% kekuatannya untuk melawanku? Dan aku menang?
"Baiklah jika syaratnya terlalu susah! Jika kalian bisa melukaiku sedikit saja, kalian menang!" ucap C sambil tersenyum. Ned bangun kembali, Alio dan aku saling bertatapan.
"Yah, tidak ada waktu untuk ragu," ucapku sambil tertawa kecil.
"Kita lakukan kerja sama spontan saja!" ucap Ned sambil mulai membentuk pola pada jaringnya.
"Sepertinya aku tidak bisa menjadi inti serangan kalian, anginnya terlalu kuat," ucap Alio sambil menarik ujung cambuknya.
"Apakah aku saja yang menjadi inti serangan?" tanyaku sambil melihat ke arah mereka bergantian.
"Senjata apa yang akan kau gunakan?" tanya Alio. Aku mengeluarkan sepasang dagger yang diberikan Venom padaku.
"Dagger," ucapku serius. Alio dan Ned sedikit terkejut. Sejujurnya aku juga tidak yakin, ini pertama kalinya aku menggunakan dagger dalam pertarungan asli.
"Baiklah, kau yang memimpin serangan! Jangan takut, jika kau dalam bahaya, aku akan menarikku mundur!" ucap Alio dengan senyum.
"Aku akan membuka jalan serangan untukmu, dan pastikan kau juga membuka jalan untukku!" ucap Ned. Aku mengangguk lalu memasang posisi menyerang. C tersenyum cerah saat melihat posisi kami.
"Bagus, kita sepakat!" ucap C lalu dia memunculkan angin bertekanan tinggi sekali lagi.
Aku melesat maju ke arah C, kalau kuingat-ingat, dulu kakak pernah mengajariku beberapa hal, dan memberikanku sebuah buku. Isinya sangat aneh, tentang cara berjalan, mengatur nafas, bagaimana mencari sudut pandang yang berbeda, membuat ilusi tanpa ilusi.
"Bagaimana kalau coba ku praktekkan di sini?" ucapku pelan. Aku bernafas secara pelan, langkah kakiku kupelankan.
Aku bisa melihat lebih jelas sekarang, ekspresi C terlihat sedikit terkejut. Aku menerjang ke arahnya dan bersiap menyayatnya dari samping.
"Angin muson," ucap C sambil mengibaskan tangannya ke arahku. Aku mulai merasakan hembusan angin yang berkumpul di depan wajahku.
"Gawat! Menghindarlah Seas!" ucap Alio berusaha menjangkau kakiku dengan cambuknya.
Tidak apa-apa Alio.
...[Aku bisa melihatnya.]...
Aku memutar tubuhku di udara, entah kenapa rasanya sangat ringan.
Apa ya? Perasaan apa ini?
Aku mencoba menyayat C sekali lagi dengan dagger di tangan kiriku, sementara kakiku bertumpu di udara kosong.
Oh ... aku ingat namanya.
...[Teknik nomor 3. Langkah bayangan.]...
Aku berpindah ke samping C dengan cepat, sementara bayangan tubuhku masih di depan C. Aku bisa melihat mata C saat dia baru menyadari dimana aku.
Sekarang, kesempatan! Aku mendorong tanganku dengan cepat agar bisa menikam C.
Nyut!
"UHUK!" Aku merasakan sakit di dada dan kakiku! Ini sangat sakit! Aku merasakan kakiku ditarik oleh sesuatu.
"APA KAU BODOH?!" Alio berteriak padaku, wajahnya terlihat sangat panik.
"SANGKAR BURUNG!" Ned membentuk pola itu sekali lagi untuk mengurung C.
***
POV: Alio
Aku terdiam, bahkan aku hanya melihat punggungnya. Perasaan tak nyaman ini selalu ada. Dia bisa menerobos tekanan angin seperti ini hanya dengan berlari?!
Aku melirik ke arah Ned, dia juga sama kagetnya sepertiku.
"Ned ... yang kulihat ... tidak salah kan?" ucapku pelan saat melihat ada 2 Seas. Ned masih terdiam, kami sama-sama tak percaya dengan apa yang kami lihat.
Woah?! Dia menggunakan kesempatannya dengan baik! Sedikit lagi dia bisa menikam C!
"UHUK!" Seas tersungkur tiba-tiba sambil memegang dadanya. Aku mengayunkan cambukku untuk menarik kakinya dan membawanya kembali.
"NED! CEGAH C!" Aku memberi instruksi pada Ned.
"AKU TAU!" Ned membentuk pola di tangannya dengan cepat. Lebih cepat dari tadi.
"APA KAU BODOH?!" Aku berteriak pada Seas saat dia sudah dekat denganku. Wajahnya terlihat pucat, air liurnya menetes keluar dari mulutnya.
"SANGKAR BURUNG!" Ned berhasil membuat sangkar burung dalam waktu singkat, semoga ini mampu menahan C sementara.
"Hei? Kau tidak apa-apa?" Aku begitu panik karena Seas tidak berhenti batuk! Tangannya terus-terusan meremas dadanya, apakah itu sangat sakit?!
"Apa kau terluka? Apa dadanya sakit? Seas? Seas!" Aku mencoba menepuk pipinya beberapa kali, seluruh tubuhnya bergetar hebat, apa ini?! Sebelumnya dia baik-baik saja bahkan saat nyawanya terancam! Kenapa baru sekarang?!
"Hei Seas kenapa?!" Ned berlari ke arahku dan Seas. Aku membaringkan kepala Seas di pahaku. Aku masih mencoba menyadarkannya.
"Sa ... sakit ... ini s-sangat sakit! UHUK! ARGH!" ucap Seas, badannya tidak berhenti bergetar, bahkan yang lainnya jadi ikut mendatangi Seas karena panik.
"Seas?! Bernafaslah dengan benar! Ayo Seas coba bernafaslah dengan benar dulu!" Ned membantuku dengan menekan menekan pergelangan tangannya.
"Hei ... a-apa ini? Nadinya sekeras batu!" Wajah Ned menjadi pucat. Aku menoleh kepada C.
"C! ADA APA DENGAN SEAS?! LUPAKAN PELAJARAN SIALAN INI! SEAS HAMPIR MATI! SELAMATKAN DIA!" Aku berteriak ke arah C. Dia melepaskan diri dari sangkar burung Ned dengan cepat lalu berlari ke arah kami.
C melihat wajah Seas dengan seksama.
"Sudah kuduga. Kau bisa menggunakan salah satu 'seni' itu! Tapi tubuhmu tak sanggup menahan efeknya. Bertahanlah, aku akan memanggil orang yang bisa membantumu!" ucap C serius. Dia berlari dengan cepat lalu menghilang begitu keluar dari pintu.
"A-apa tidak ada yang membawa obat untuk membuat otot lebih rileks?! Atau mungkin obat yang meredakan rasa sakit?!" Aku melihat Erea yang sama paniknya denganku. Sial! Seharusnya aku tidak mengizinkanmu menjadi inti serangan tadi!
"A-aku hanya membawa racun mati rasa ... a-apakah ini tidak apa-apa? Nadinya sekeras batu! Aku takut ini malah melukai jantungnya!" Ned ikut panik, aku bisa melihat tangannya yang gemetaran.
"Seas! Bernafaslah sesukamu! Asalkan itu membuatmu rileks! Lupakan cara bernafas manusia biasa! Gunakan apapun agar kau bisa rileks!" Aku menggoyangkan kepala Seas beberapa kali. Seas masih membuka matanya, kuharap dia mengerti ucapanku.
"Huu fuu ... huu fuu ... . " Gemetaran di tubuh Seas mulai berkurang, dia sudah bernafas dengan lebih rileks. Tapi dia masih meremas dadanya, sepertinya rasa sakitnya tidak menghilang!
"Kenapa dengan Seas?"
Aku menoleh ke belakang saat mendengar suara perempuan. Tunggu! Rambut hijau keemasan dan mata merah keruh itu! Agen Venom!
..."Berikan dia padaku."...
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
ilfindazaka ochtafarela
keren
2022-03-18
1
Pecintagepeng01
yey venom dateng
2022-03-18
1
Pecintagepeng01
... bawa racun udah kayak bawa promag ya
2022-03-18
2