POV: Seas
"Menjauhlah, aku tidak suka bau darah," ujarku seraya mendorong Eloyu agar menjauh. Perempuan itu tersenyum tipis, menjauh sedikit dari tempatku.
"Aww~ kau sangat pemarah ya? Aku sedikit penasaran karena katanya kau adik 'orang itu'," ucapnya yang sukses membuatku melirik tajam. Gadis itu hanya tersenyum dengan mata yang ikut melengkung kecil.
"Hmm~ jangan kasar begitu, kita nanti juga akan sekelas. Yah ... mungkin dengan beberapa orang lain." Eloyu kemudian berjalan ke arah pintu keluar saat C sudah kembali masuk dan melemparkan ponsel hitam untuk masing-masing dari kami.
"Yah, selamat, kalian sudah resmi menjadi agen pembunuh tingkat 1. Ponsel itu punya jaringan khusus yang bisa memberikan kalian koneksi supaya tidak terdeteksi oleh dunia luar. Itu adalah benda khusus untuk berkomunikasi antar para pembunuh.
Oh dan untuk catatan, aku sudah mengirimkan dimana dan nomor berapa kamar kalian. Kelas akan dimulai 3 hari lagi, beradaptasilah dengan cepat.
Sampai jumpa." Setelah mengucapkan itu, Agen C berjalan keluar gudang. Damian kemudian ikut keluar, lalu disusul oleh Zena. Tapi sebelum laki-laki berambut abu-abu melangkah melewati pintu, mata hijaunya kembali menatapku ...
Rasanya seperti ... dia terlihat benci? Aku tidak paham. Dan aku juga tidak peduli bagaimana perasaannya.
.
.
.
.
.
Jadi ini ... asrama yang dimaksud oleh C?
Aku berdiri terdiam, menatap bangunan 3 lantai yang terlihat suram. Dindingnya banyak yang terlihat retak, dan masih ada beberapa senjata tajam dan peluru yang masih menempel di sana. Kalau dari pesan yang C kirimkan, di sini ada 9 orang yang juga sudah dibagi menjadi 3 tim dengan 1 tim berisi 3 orang. Untuk sementara, hanya ada siswa dari jurusan pertarungan jarak dekat di sini.
Yaitu aku, Damian, dan juga ... Zena. Aku kemudian berjalan masuk, di lantai 1, ada Damian yang duduk di sofa sembari meminum sesuatu. "Oh? Halo Seas. Kamarmu ada di lantai 2 ya?" sapanya padaku. Dia terlihat bersih tanpa darah, sepertinya dia sudah bersih-bersih.
"Ah ... iya, kau di lantai ini kan?" tanyaku sebelum menaiki tangga. Damian mengangguk singkat, lalu dia melemparkan sesuatu padaku. Karena kaget, akuu hampir saja gagal menangkap benda yang dia lempar.
Apa ini? Minuman ... anti mabuk?
"Kau akan memerlukannya nanti. Sistem asrama ini cukup gila. Meskipun aku juga tidak yakin apakah minuman itu akan membantumu atau tidak," ujarnya dengan kekehan singkat. Aku yang belum paham maksudnya hanya diam, lalu menyimpan minuman itu dan lanjut naik ke lantai 2, dimana kamarku berada.
Damian lantai 1, aku lantai 2, jadi yang ada di lantai 3 adalah Zena. Yah, aku akan menyapanya nanti saja. Aku membuka pintu kamarku tanpa rasa curiga, kupikir semuanya normal-normal saja karena saat di pondok, rumahnya juga normal.
Tapi tidak, ternyata kata normal itu tidak berlaku di Underworld School.
Begitu aku masuk, aku langsung mencium sesuatu yang aneh. Mataku melihat sekeliling, hingga akhirnya aku menemukan selembar kertas yang berisi apa saja yang ada di dalam kamar ini.
"... Jadi bau yang tidak enak ini ... AC beracun? ..." Aku melihat ke arah kiri, menatap AC kecil yang memberi kesejukan dan juga ... racun yang tidak terlalu enak baunya. Kalau dari keterangannya, ini berguna untuk melatih kekebalan tubuh dari racun perlahan-lahan.
Gila, sekarang aku paham kenapa Damian memberikan obat anti mabuk. Rasanya saja sekarang aku mau muntah. Aku kembali membaca kertas di tanganku.
Alarm pisau ... kalau aku tidak segera bangun, tubuhku akan dicincang? Anjirlah?! Aku berjalan ke arah kasur empuk dengan jendela suram yang ada di ujung dinding. Kertas menyeramkan itu aku taruh di atas meja, mataku menatap lurus ke langit hitam dan awan yang tampak berputar di sana.
Aku sudah sejauh ini ya? Bohong jika aku bilang bahwa aku tidak merindukan rumahku, semua kenangan yang pernah terjadi selama 17 tahun, tidak mungkin bisa kulupakan hanya dalam beberapa hari. Rasanya seperti mimpi buruk, saat itu mungkin rasanya aku juga sudah pasrah menerima kematian. Tapi bukankah akhirnya aku masih hidup?
Saat aku sedang melamun, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari atas. Aku kaget, mataku langsung melihat ke bawah, menatap kaos abu-abu gelap yang berlumuran darah.
Apaan tuh?! Kaos siapa?!
Aku mendongak ke atas, melihat Zena yang tidak pakai baju juga ikut menatap ke bawah.
Oh ... tadi bajunya Zena?
Tunggu ...
Bukannya tadi bajunya bersih?
Kenapa sekarang banyak darahnya?!
"Tck, ngerepotin aja sih." Zena menutup jendelanya. Entah dia kemana, tapi sepertinya dia mau turun ke bawah. Sebenarnya aku masih agak kepikiran tentang Zena. Entah kenapa ... rasanya aku tidak asing dengan mata hijaunya itu.
Mata hijau bukan mata yang umum, sama seperti milikku, dia pasti seseorang dari sebuah keluarga yang memiliki nama. Tapi ... siapa?
.
.
.
.
.
Jantungku berdetak kencang. Keringat mengalir, seolah AC ruangan ini tidak memberi pengaruh apapun. Hampir saja ... hampir saja aku jadi daging cincang! Telat satu detik saja badanku sudah jadi cilok!
Aku menatap ke arah kasurku yang dipenuhi duri tajam. Karena kemarin aku minum obat anti mabuk, jadi aku tidur terlalu lelap! Aduhh, kepalaku masih sedikit nyut-nyutan, efek racunnya katanya memang begini ya? Kalau aku sudah terbiasa hal ini juga tidak akan terlalu berpengaruh.
Tok tok tok!
Aku berjalan lunglai ke pintu, membukanya perlahan, menatap sosok remaja rambut dan mata hitam legam- Damian yang mendatangi kamarku dengan senyum lebarnya.
"Ayo bersiap menyambut jurusan sebelah!"
Jurusan ... sebelah?
.
.
.
.
.
Aku sudah bersiap di depan asrama dengan seragam serba hitam yang ada di lemari. Ternyata semua baju dan keperluan sudah disediakan, dan jujur, menurutku seragamnya cukup keren. Dan ... enak juga bahannya. Ah iya! Katanya hari ini akan ada pendatang asrama baru dari jurusan Obat dan Racun. Ada 3 orang, dan salah satu dari mereka akan satu tim denganku.
Aku melirik ke belakang, menatap Zena yang berjalan santai ke sampingku. Kami bertiga diam, tak ada satupun dari kami yang mulai berbicara. Beberapa hal yang mulai kusadari sejak datang ke sini, yaitu Damian ternyata anak yang lumayan ramah, dia mengajakku makan dan juga sering bertamu ke kamarku. Lalu Zena, aku hanya menduga ... tapi sepertinya dia anak yang cukup ceroboh walaupun kelihatannya sedingin es.
"Apa kalian baik-baik saja? Alarm pagi tadi ... " Damian mulai bertanya seraya melirik padaku dan Zena.
"... Berkat minuman yang kau beri kemarin, aku tidak muntah, tapi hampir jadi daging cincang," jawabku singkat yang diiringi tawa oleh Damian.
"Lalu, bagaimana denganmu? Zena?" tanya Damian. Laki-laki di sebelahku itu masih diam, matanya menatap tajam lurus ke depan.
"... Aku tidak tidur."
Edan.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
«Brooke X»
POV : C
baris ke 4
(.....bulunya penuh duri dan berwarna..)
typo
2022-03-21
3