Season 1 Entrance - Kapan Hari Itu Tiba?
Di balik awan tebal yang gelap dan busuk ini, matahari terbit seperti biasanya
Hari yang panas, hari yang hujan, dan hari yang mengenaskan, semua itu terjadi berulang kali tanpa disadari
Aku tidak menertawakanmu meski kau jatuh tersandung kakimu sendiri
Di dunia tanpa warna ini aku sudah bangun, duduk di tepi jendela sambil melihat awan dan langit hitam yang bergerak berpacu
Meski jantungku dimakan oleh kelabang, aku akan tetap berjalan sambil menanti hari itu tiba
Apa kau sudah puas bermain di dunia mimpimu? Wajar saja kau terjatuh karena kau masih mengantuk
Kapan hari itu tiba?
Sangat gelap, apa kau yakin tidak takut dengan apa yang ada di depanmu?
Kapan hari itu tiba?
Hujan ini tak pernah berhenti, bagaimana jika selanjutnya kau harus melewati sungai darah?
Sedikitpun aku tidak merasa aneh saat menganggap dunia ini tidak penting
Bermainlah sendiri di dunia mimpimu, saat kau bangun, kau berkata padaku kau malu menceritakan isinya?
Dinding labirin besar di depanmu ini sangat kokoh dan rumit, apa kau yakin akan tetap memasukinya?
Denting besi dan peluru itu sudah terdengar, algojo sudah membunyikan surganya
Bahkan saat kau tidak yakin dengan tujuanmu, kau masih tetap melangkah maju?
Kapan hari itu tiba?
Sebentar lagi?
###
POV: Author
"Oh iya, menurutmu, apakah anak itu bisa bertahan saat ini? Maksudku, dia tidak punya pengalaman sama sekali, dan dia juga menjadi target kebencian kebanyakan orang di sini," ujar C pada Rex.
"Hmmm itu tergantung pada dirinya. Tapi entahlah hahaha, aku merasa semua akan baik-baik saja," jawab Rex lalu menaruh dokumen Seas ke dalam lacinya.
Sekarang kita kembali ke kondisi Seas.
.
.
.
.
.
"... Baiklah." Seas menatap dingin pada dua orang yang ada di depannya.
"Namamu ... siapa namamu?" bisik Seas pelan pada remaja di belakangnya.
"... Fieri ... namaku Fieri," jawabnya pelan.
"Fieri, aku punya rencana. Apa kau mau melakukannya?" Seas mendekatkan diri ke Fieri, berbisik pelan ke telinganya.
"Apa kalian bodoh? Menyusun rencana di depan kami?" ejek salah satu dari dua pria bertudung itu dengan tawa meremehkan. Fieri mengangguk pelan, dia keluar dari punggung Seas lalu melepaskan kalung dari lehernya.
"I-ini, kalian mau ini k-kan?" tanya Fieri sambil menyodorkan kalung miliknya. Dua pria itu saling menatap heran, tapi mereka kemudian tertawa dan langsung berjalan maju untuk mengambil kalung dari Fieri.
Fieri- remaja laki-laki berambut putih panjang itu menelan ludah gugup, dia mencoba mempercayai perkataan Seas.
"Pertama, kita serahkan kalungmu pada mereka. Tidak apa-apa, aku tidak akan membiarkan kalungmu sampai direbut.
Saat melihat kau menyerahkan kalungmu, mereka pasti akan berpikir ... 'Akhirnya ini selesai lebih cepat, bocah itu harusnya menyerah sejak awal'.
Lalu, setelah pria itu menyentuh kalungmu ...
Kau mengambilnya kan? Pasir di tanganmu saat kau jatuh tadi.
Lemparkan ke mata mereka."
WUSH!
Fieri melemparkan pasir ke mata salah satu pria tersebut. Segera setelah itu Fieri menarik kalungnya kembali.
"SIAL! KEMARI KAU BOCAH LICIK!"
Fieri menutup mata, sebelum dia terjatuh, dia melirik ke arah Seas yang berlari maju dengan pipa besi di tangannya.
"Setelah kau melemparkan pasir, larilah ke belakang. Cukup satu orang yang kena pasir saja tidak masalah. Karena setelah dia melihat rekannya panik, maka orang yang tersisa akan ikut panik sebab mereka hanya berdua.
Setelah kau lari ke belakang, sisanya serahkan padaku."
BUAGH!
Seas mengayunkan pipa besinya dari depan, mengenai wajah pria yang mengejar Fieri dengan telak tepat di mukanya.
"A-AGHH!" Pria itu terhuyung mundur, dia memegang hidung dan matanya yang ngilu karena kena pukul pipa. Namun, Seas tidak berhenti, dia mengangkat pipanya ke atas, lalu menghantam pria itu di bagian belakang kepalanya.
BUGH!
BRUK!
Pria itu tumbang, Seas lanjut menerjang ke arah pria yang sibuk membersihkan pasir dari matanya.
"A-APA YANG TERJADI?! HEI! KENAPA KAU TIDAK ADA?!" panik pria itu karena rekannya tidak ada di sebelahnya. Seas berhenti di depan pria bertudung yang tersisa, ia mengayunkan pipa itu dengan kuat ke dagu pria itu.
BUAGHH!
BRUK!
Dalam satu serangan, pria bertudung terakhir akhirnya ambruk. Seas menarik nafas panjang berkali-kali, dia kemudian membuang pipa besi dari tangannya.
###
POV: Seas
Untung ... untung saja ... berjalan sesuai rencana.
Aku menoleh ke belakang, menatap Fieri dengan senyuman lebar. "Kita berhasil ... tapi ... ayo kabur! Aku tidak tau mereka akan pingsan berapa lama!" Aku menarik tangan Fieri, kami berdua berlari menjauh dari lokasi tadi.
.
.
.
.
.
"Hah ... hah ... hah ... kita ... sudah cukup jauh ... kan?" ujarku sambil ngos-ngosan, kita sudah berlari cukup jauh, harusnya mereka tidak bisa mengejar kami, kan?
"Terima ... kasih ya ... " ucap Fieri di sebelahku. Wajahnya terlihat pucat, keringat terus bercucuran keluar dari wajahnya.
"Syukurlah ... kalungnya tidak mereka ambil ... ah! Ngomong-ngomong, siapa namamu, ya?" Fieri menatapku, dia tersenyum tipis sambil tertawa singkat.
"... Seas, apa kau sudah lama ada di sini?" tanyaku padanya. Dia menggeleng pelan.
"Entahlah ... mungkin 2 minggu? Aku sedang melakukan persiapan untuk tes masuk nanti," ucapnya yang membuatku terdiam.
Eh?
Tes masuk?
Tunggu, masih ada lagi???
"... Aku benar-benar tidak tau apapun ... " gumamku pada diri sendiri. Fieri menatapku dengan bingung, sementara aku sedang pusing memikirkan darimana aku harus mempelajari Underworld School.
"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau ... sudah lama ada di sini?" tanyanya. Aku menggeleng singkat sebagai jawaban.
"Mungkin ... ini baru hari pertamaku?" jawabku dengan senyuman canggung. Fieri tampak tertegun, tapi dia segera tertawa lalu duduk di aspal.
"Kenapa ... kau ke sini? Seas?" tanyanya.
"... Aku ... ingin balas dendam," jawabku singkat. Aku sedikit bingung bagaimana menjawabnya, rasanya tidak nyaman jika harus mengatakan ambisi burukku terang terangan. Aku melirik ke arah Fieri, sorot matanya tampak begitu teduh dan tenang, sangat berbeda dibanding orang-orang yang tersisa di sini.
"Aku juga ... aku juga punya hal harus aku bereskan. Karena itu, aku datang kemari ... untuk mencapai tujuanku," ucapnya dengan percaya diri. Saat itu, mungkin aku baru menyadarinya, maksud dari yang Rex tanyakan, maksud dari kalimat 'Apa yang kau ketahui tentang Underworld School?'.
"... Begitu ya? Semoga yang kau inginkan tercapai! Ngomong-ngomong, aku harus pergi! Ada sesuatu yang harus aku selesaikan hari ini!" Aku tersenyum singkat lalu berlari menjauh dari sana. Aku harus segera memberikan jawaban atas pertanyaan Rex!
.
.
.
.
.
Tok tok tok!
Aku mengetuk pintu dengan semangat, jantungku berdebar seraya menunggu suara dingin itu terdengar .
"Masuklah."
Cklik.
Aku membuka pintu, menatap ruangan dengan pencahayaan minim itu. Sosok Rex kini sedang berdiri menatap jendela di belakangnya, seperti biasa, punggung lebar dan sosok besarnya itu selalu berhasil membuatku merinding.
"18 jam, cukup cepat juga. Jadi, apa jawabannya?" ujarnya sambil melirik ke arahku. Aku menelan ludahku gugup, tapi aku tidak boleh mundur sekarang. Karena bukan hanya aku ... yang punya ambisi di sini.
"Aku ... ingin membunuh Kakakku. Karena itu, kupikir jawabannya adalah tempat ini adalah sekolah.
Tapi ... harusnya aku juga sadar, bahwa selain aku, banyak orang lain yang punya ambisi yang berbeda." Aku berdiri di depan meja Rex, mendongak menatap pria besar itu dengan tatapan percaya diri.
Rex tersenyum, lalu dia bertanya. "Lalu? Apa yang kau dapat?"
"Underworld adalah ... tempat untuk mencapai ambisi ... bahkan ambisi terburuk seseorang."
"HAHAHAHAHA!"
Aku tersentak, Rex tertawa keras sembari menutupi matanya dengan tangan. Dia kemudian duduk, menatapku dengan tatapan yang lebih lembut.
"Jadi itu ... yang kau lihat dari Underworld School ya? Baiklah, itu juga tidak masalah." Rex bergumam pelan.
"Selamat bergabung di Underworld School, Seas Veldaveol. Di sini, aku, Rex sebagai kepala sekolah Underworld School, akan berjanji untuk membantumu meraih ambisi dan melindungimu selama menjadi anggota dari Underworld School."
Hari itu, mungkin aku sudah satu langkah menjadi lebih kuat. Mungkin aku sudah satu langkah untuk menggapai kakakku di depan sana.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
Disa disa
Sadis bgt, baru juga pelajaran pertama
2022-06-07
0
Disa disa
Dih, padahal udh ditolongin
2022-06-07
0
Disa disa
Buset
2022-06-07
0