POV: Seas
Kami akhirnya berbincang cukup lama, Zena masih tetap agak ketus, tapi dia masih meresponku dan juga Damian. Perhatian kami teralih pada 3 orang yang turun dari mobil dengan mengenakan jas putih panjang, sangat mirip dengan jas laboratorium ... atau memang iya?
Ada 2 remaja laki-laki dan 1 remaja perempuan. Remaja perempuan itu bertubuh pendek dan kecil, dengan rambut pendek ungu muda yang dikuncir di satu sisi, dia pasti yang bernama Lily. Lalu remaja laki-laki yang terlihat penuh percaya diri, rambut coklat tua begitu juga warna matanya, sepertinya dia Yessio.
Kalau begitu ... remaja laki-laki pemalu yang berada di tengah dengan rambut kuning kebiruan itu ... Sky, ya?
Mereka bertiga memakai pakaian dengan desain yang sama, sepertinya itu adalah pakaian khusus jurusan racun dan obat.
"Wah wah~! Apa kalian menyambut kami?!" Gadis yang bernama Lily itu berlari riang seperti punya pegas di kakinya.
"Heh~? Kalian anak jurusan pertarungan jarak dekat ya? Berarti kalian bodoh dong?" ujar Yessio dengan tatapan meremehkan.
"..." Tunggu ... kenapa mulutnya sangat seperti sampah?
"Yessi jangan begitu~ meskipun mereka bodoh, bukankah mereka masih berguna jadi tikus percobaan~?" timpa Lily dengan senyuman mengerikan.
Oke, gadis itu tidak imut. Dia psikopat.
"T-teman teman! Kupikir mengejek mereka itu salah ..." ucap Sky yang ada di belakang dengan sangat pelan. Wajahnya terlihat khawatir dan sangat gugup. Apa dia anti sosial?
"Eyy Sky~ kenapa tidak boleh? Tikus itu ... harus diperlakukan seperti tikus."
SRING!
Baru satu detik setelah Yessio berbicara, sebuah belati sudah bersiap di depan lehernya. Rambut hitam yang bergerak ringan tertiup angin, gerakannya cepat, aku juga baru melihatnya.
Damian langsung menghentikan ocehan Yessio.
"Benarkah? Mau taruhan? Siapa yang lebih cepat ya? Pisauku atau otakmu?" tanya Damian dengan seringai tipis miliknya.
"Apakah kita akan bertarung?! Bertarung?! Yey!" Lily melompat senang, dia mengeluarkan 3 suntikan yang di dalamnya sudah berisi sesuatu.
TRANG!
Ketiga suntikan itu langsung dihancur oleh batu yang dilempar Zena.
"Mengeluarkan senjatamu terang-terangan. Untuk orang yang punya otak jenius, kau tolol juga ya? Apa otakmu sekecil semut?" ucap Zena dengan tatapan dingin. Bahkan sepertinya lebih dingin daripada saat dia menatapku.
Satu hal yang tidak aku duga, adalah hari pertama pertemuan kami langsung berubah jadi pertarungan.
###
POV: Author
TRANGG!
Yessio terdesak mundur, Damian sama sekali tidak memberikan celah. Setiap Yessio ingin mengeluarkan ramuan, semua wadahnya langsung dihancurkan oleh Damian.
"Wah wah~ aduh! Kau gigih juga ya?" Yessio melompat ke atas, dia menyembunyikan kedua tangannya dibalik jas putih saat di udara. Mata hitam Damian terus memperhatikan, hingga akhirnya sebuah benda besi keluar dari jubah Yessio.
DOR!
TRANG! PRANG!
Damian reflek menangkis sesuatu yang ditembakkan. Pandangan mata Damian bergeser, dia melihat pecahan kaca pada hal yang baru dia tepis dengan pisaunya tadi.
'Pecahan kaca? Jangan-jangan pelurunya?'
Damian kembali menatap ke atas, melihay Yessio yang sudah mau turun ke bawah, dengan dua tangannya memegang pistol yang di isi peluru racun.
"Heii~ apa kau bisa menangkis dua pistol?" Yessio menjulurkan lidah seraya mengarahkan dua pistolnya pada Damian.
DOR DOR DOR DOR!
PRANG PRANG TRANGG!
Damian terus maju sambil menghindar dan menangkis peluru yang terbang padanya. Yessio kaget, dia tidak menyangka bahwa Damian akan segila itu untuk menerobos hujan peluru.
BRUKK!
Kedua tangan Damian mendorong Yessio, tenaganya yang besar membuat remaja berjubah putih kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh ke tanah. Tangan Damian menahan lengan Yessio, mencegah anak itu mengarahkan pistolnya lagi setelah dikunci.
"Bagaimana rasanya dikalahkan oleh seekor tikus?" tanya Damian dengan nada mengejek.
Sementara itu di sisi lain. Zena menghindari kelereng kelereng kecil milik Lily yang ternyata bisa meledak. Walaupun ledakannya memang tidak besar, tapi kelereng itu bisa membuat orang yang terkena ledakan lumpuh untuk sesaat karena punya aroma beracun.
"Hahaha! Apa kau akan terus menghindar! Ini hanya masalah waktu sampai kau banyak menghirup racun dan tak bisa bergerak lagi! Hahahaha!"
DUAR! DUAR DUAAR!
Zena terlihat sudah kesal, wajahnya yang awalnya seperti tembok kulkas, datar + dingin, sekarang sudah seperti es cendol busuk. Semakin tidak enak dilihat.
Setelah 5 menit sibuk melompat ke sana ke sini menghindari bom. Akhirnya Zena berhenti menghindar. Dia berjongkok, lalu menarik nafas panjang.
"... Aku daritadi menahan nafas. Tapi aku sudah capek, jadi, ayo cepat selesaikan." Ucapan Zena membuat Lily shock. Bukan hanya Lily, Seas dan Sky yang memperhatikan juga ikut shock. Selama 5 menit lebih dia menahan nafas dan melompat tanpa henti, terus baru lelah sekarang?
Zena mengambil kerikil yang cukup besar di sebelah kakinya. Dia kemudian berdiri, lalu melempar kerikil itu dengan kecepatan tinggi. Lily tau, tapi dia tak sempat bereaksi.
DUAGH!
CRAT!
Bruk.
"..." Zena diam, Seas diam, Sky makin shock.
Gadis itu pingsan dengan kepala bocor dilempar batu oleh Zena. Sky buru-buru menghampiri Lily, dia melakukan pertolongan pertama dengan menghentikan pendarahan secepat mungkin. Sementara Zena sendiri langsung masuk ke dalam asrama lagi.
Lupakan Damian dan Yessio yang masih adu cekcok sampai sekarang.
Sementara Seas menghampiri Sky dan menawarkan bantuan, tapi malah berakhir Sky ikut pingsan karena takut melihat Seas.
###
POV: Seas
Aku tidak percaya ...
Aku satu tim ... dengan Sky?
Anak yang baru kudekati 10 langkah lalu pingsan itu?!
"..." Aku menghela nafas untuk yang ke 16 kalinya hari ini.
Bagaimana ya? ... Mau tukar tim? Tapi sepertinya tidak bisa. Aku juga tidak tau bagaimana kriteria pemilihan timnya, aku mau protes, tapi ... aku juga siswa dengan nilai terendah di ujian masuk kemarin.
"..."
Baiklah. Aku harus sadar diri. Aku adalah pemula di sini, jadi harusnya aku tetap bersyukur kalau aku dapat tim!
Oke! Ayo kita mengakrabkan diri pada Sky!
.
.
.
.
.
Tok tok tok!
"... Um ... halo? Sky?" Dengan jantung yang berdegup, aku mengetuk lalu memanggil namanya yang berada di sebelah kamarku. Karena kamu berada dalam tim yang sama, kami juga ada di lantai yang sama.
Aku menunggu dengan sabar, 4 menit ... 9 menit ... 15 menit. Akhirnya pintu itu terbuka.
"... Ha-lo ..." sapanya dengan mata yang tertunduk ke bawah.
"Halo! Namaku Seas! Namamu, Sky? Kan? Salam kenal Sky!" Aku tersenyum lebar dan berbicara padanya dengan nada seramah mungkin. Rasanya dia seperti siput super sensitif yang akan masuk tempurung bahkan jika dia hanya tertiup angin.
"B-benar na-maku S-Sky, Seas." Dia mengintip dari belakang pintunya.
Pikirkanlah Seas ... apa yang biasa kau lakukan untuk ngobrol dengan orang pemalu?!
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
ilfindazaka ochtafarela
keren banget
2022-03-18
1