POV: Seas
CRAT!
Cipratan darah segar itu terbang cukup jauh. Membasahi lutut serta siku tanganku yang ada di depannya. Mataku masih terbuka, menatap bagaimana sebilah pisau kini menembus jantungnya.
"... Fieri?" Di belakang pria itu, terlihat rambut putih Fieri yang tampak basah karena darah.
"Te-terimakasih Fieri-" ucapanku terhenti. Ketika pria yang tadi telah ambruk, kini Fieri menatapku dengan sorot mata yang tajam.
"Sejak pertama aku melihatmu kemarin. Aku tau, baik kau, maupun aku, kita berdua sama-sama orang yang memiliki dendam akan sesuatu."
CRAT!
Fieri mencabut pisau yang menancap, membuat cipratan merah darah itu membasahi baju putihnya. Dia tampak berbeda, sorot matanya tajam dan dingin, sosok yang hangat seperti kelinci itu kini tampak seperti seekor hyena yang memburu mangsanya.
Tubuhku tidak bisa bergerak.
Bau anyir darah yang kembali menyeruak ke hidungku, membawa kenangan buruk seperti saat semua orang di mansion dibantai. Gemetar, dingin, nafasku terasa kosong.
"Karena itu, aku berpikir kalau kita bisa menjadi teman yang cocok. Tapi ... jika aku harus membunuhmu demi tujuanku ... maka aku akan melakukannya, meskipun kau telah menyelamatkanku dulu." Fieri bergerak maju, selangkah demi selangkah. Darah masih menetes dari ujung pisaunya. Di saku kiri Fieri, dia sudah mendapat 2 kertas emas.
"Aku pikir, kau kemarin sangat keren. Kau tidak gentar meski menghadapi dua orang dewasa sendirian. Tapi ... aku jadi menyadari sesuatu, bahwa kau tidak bisa membunuh orang lain, iya kan?"
DEG!
Aku meringis pelan saat merasakan ujung belati yang dingin mulai menggores leherku.
Aku takut! Sangat takut! Meski tanganku memegang pisau, tapi aku tidak bisa mengayunkannya pada seseorang! Membunuh orang lain? Jangan bercanda! Aku tidak pernah memikirkan hal itu! Selama ini yang kupikirkan hanyalah membunuh Kakakku saja!
"..."
Gerakan tangan Fieri berhenti, dia menatapku dingin. Tangannya masih tetap memegang pisau di leherku. Aku sudah berkeringat dingin, bahkan mungkin beberapa bulir air mata sudah menetes ke pipiku sekarang.
"Hanya segini?"
"A-apa?"
"Apa hanya segini? Tekad yang kau bilang kuat itu? Sangat dangkal," ucapnya.
Aku terdiam, aku tidak bisa membalas ucapannya. Lidahku kelu, kepalaku terasa berkabut, aku tidak tau apa yang harus ku katakan padanya.
"... Dasar, bahkan kecoa mungkin lebih baik darimu."
###
POV: C
Kejam? Ya, memang itu tujuannya. Sebelum mereka terlibat lebih jauh dengan sekolah ini, mereka harus menyadari bahwa apa yang mereka taruh di ujung tanduk bukan lagi sesuatu yang sederhana. Karena hal yang mereka pertaruhkan di sini adalah sebuah nyawa.
Sebelum menghilangkan nyawa seseorang, mereka harus siap kehilangan nyawa mereka sendiri.
Dan sebelum mereka membunuh seseorang, mereka harus tau bagaimana perasaan saat akan menghilangkan nyawa orang.
Ada banyak orang yang ingin menjadi pembunuh di Underworld School, mereka berasal dari berbagai latar belakang, ada yang menang dilatih sejak kecil untuk membunuh, ada yang tidak pernah membunuh sama sekali atau bahkan kehidupannya bagai di surga yang damai.
Dan ada juga orang yang datang karena dibutakan dendam ... aku tidak menyebut mereka iblis, karena mereka dulu pernah menjadi malaikat manis yang hanya melihat dunia dari sisi indahnya.
Karena itu ... orang yang terjatuh ke dalam dendam, orang itu tidak cocok disebut sebagai iblis biasa. Mereka adalah malaikat yang jatuh ke jurang, mereka memotong sayapnya sendiri dan membuat pedang dari tulangnya.
Bukankah begitu? Seas Veldaveol?
Apa kau akan mati di tes ini? Kau bahkan tidak bisa mengangkat pisaumu karena takut, iya kan?
Klontang!
Aku melirik ke samping, melihat seorang remaja berambut hitam dengan mata hitam yang berlumuran darah. Mataku melebar, melihat ada begitu banyak kertas emas di tangan kanannya.
Dia ... membunuh 10 orang sendirian?
"Hei! Kau! Namamu Damian, bukan? Kalau sudah mendapat banyak kertas, jangan menggugurkan peserta lain! Menepilah!" ucapku pada anak itu. Dia melirik, menatapku datar tanpa kata. Kemudian dia terlihat berdecak kesal, tapi dia menurut karena dia menepi ke sisi gudang supaya tidak terlibat perebutan kertas lagi.
Ah sial, padahal aku berniat meluluskan 10 sampai 12 orang, tapi kalau begini, sepertinya yang lulus tidak sampai 10 orang. Malah mungkin ... hanya 5?
Aku kembali melihat ke arah Seas, apakah bocah itu sudah dibunuh oleh Fieri?
Oh? Apa yang terjadi?
###
POV: Seas
Membunuh?
Ingatan ingatan kejam saat melihat jasad orangtuaku diinjak oleh kakak terlintas begitu cepat.
Kecoa?
Saat dimana aku hampir mati karena cambuk sialan yang diayunkan mengincar leherku.
Lemah?
Saat dimana aku menangis meraung di tengah jalanan malam hingga tanganku hancur.
"... Kau benar, aku terlihat menyedihkan."
BUAGH!
"Ugh!"
Aku menendang perut Fieri keras, membuatnya terdorong ke belakang sambil memegangi perutnya. Matanya masih menatapku tajam dengan air liur yang menetes keluar karena efek tendanganku.
Aku berusaha kembali berdiri, pandanganku masih sedikit kabur, tapi nafasku perlahan menjadi lebih normal. "Kau benar, aku sangat menyedihkan."
Bagaimana ... caranya memegang pisau yang bagus?
Kalau aku melihat orang lain ...
Begini?
Aku tidak tau apakah ini pose yang benar, tapi aku ingin menunjukkan, bahwa sekarang aku juga akan serius.
Dia benar, aku memang menyedihkan. Karena itu aku datang ke sini, untuk menjadi kuat dan tidak mengenaskan.
"Heh ... bagus ... bagus, Seas." Fieri kembali mengarahkan pisaunya padaku. Kamu masih saling diam, hanya menatap dengan tatapan yang sama.
Kali ini, aku akan mengakhirinya.
###
POV: Author
C tampak terkejut tapi juga terhibur. Melihat bagaimana Seas akhirnya berdiri dan mengambil pijakannya, tanpa sadar C juga ikut penasaran dengan apa yang akan dia lakukan.
SRAT!
TRANGG!
Kedua pisau itu berbenturan, dentingan yang keras membuat beberapa mata melirik pada mereka. Helai putih Fieri tampak bergerak mengikuti gerakan kakinya. Pisau mereka berdua beradu kekuatan, namun tentu saja kekuatan Seas lebih besar sehingga tubuh Fieri terdorong mundur.
"Bukan hanya kau ... yang ingin menjadi kuat!"
BUGH!
Wajah Seas terkena tendangan Fieri. Anak itu dengan sengaja membiarkan Seas mendorong tubuhnya, sementara kaki kanannya dia gerakkan untuk menendang wajah Seas.
Seas melirik perlahan, mata ungunya mulai bergerak seolah mengintai mangsa yang melawan di depannya. Fieri tersenyum tipis meskipun sebenarnya dia merasa ngeri sekarang. Mata ungu Seas tampak seperti hewan buas yang siap menerkam.
Grep!
Seas menangkap kaki Fieri yang masih ada di udara, dengan tangan kirinya, ia membanting Fieri ke tong kosong yang ada di belakang.
BRUK!
KLANGG!
Fieri berusaha bangun, tapi punggungnya terasa terlalu sakit sehingga dia kesulitan. Saat dia menghadap ke depan, tangan Seas sudah ada di sana dan langsung memegang leher Fieri.
"... Aku, yang akan lulus!"
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
Pecintagepeng01
agen tingkat atasnya ga ada yang waras, masih penasaran kayak apa lawan Seas nanti
2022-03-15
2