POV: Seas
Jantungku berdetak kencang. Nafasku memburu seraya menatap Fieri yang mulai kesulitan bernafas. Padahal tangannya masih memegang pisau ... tapi ia tak terlihat seperti ingin menusukku ...
"A-ku ... memang ... su-dah berniat ... untuk mati."
Apa?
Cengkraman tanganku melemah, aku ingin menarik tanganku dari lehernya, tetapi tangan Fieri malah menahan tanganku supaya tidak menjauh. Sorot matanya kembali melembut saat menatapku.
Aku tidak paham. Bukankah dia tadi berniat membunuhku? Kenapa? Kenapa sekarang dia berubah? Apa yang terjadi?
Aku bingung, aku tidak paham sama sekali apa yang Fieri pikirkan.
"Aku ... punya seorang adik laki-laki, sekarang dia pasti sedang kesulitan. Aku punya permohonan untukmu ... tolong ... selamatkan dia," bisiknya padaku dengan sangat pelan.
Apa?
"Kalau kau ingin menyelamatkannya ... kenapa tidak mau sendiri yang berusaha?" balasku sama dengan bisikan. Ia tersenyum tipis, sambil menutup matanya ia menggelengkan kepala.
"Sejak awal ... tubuhku sudah lemah. Dan ... aku punya sebuah penyakit kronis di jantungku. Karena itu, meskipun aku tidak ikut tes ini, aku juga akan mati."
Hah?
Sejak ... awal?
Apa karena itu matanya menjadi lebih pucat dari kemarin?
Apa karena itu tubuhnya sangat ringkih dan kecil?
"Awalnya ... aku datang ke sini untuk meminta bantuan pada Underworld School. Tapi ... aku tidak punya cukup uang untuk melakukan permohonan, aku juga tidak bisa meminta secara gratis, memangnya aku siapa sampai Underworld School mau mengabulkan keinginan egoisku ini?"
"..."
Apa yang Rex katakan benar ... aku ... tidak tau apapun tentang dunia ini ...
"Tapi ... saat aku melihatmu, kau menyimpan ambisi yang besar dari matamu. Kupikir, kau adalah orang yang kuat dan kokoh. Tapi ternyata kau tetaplah seorang remaja polos yang tidak tau apapun tentang sisi gelap dunia ini ... " Tangan Fieri menyentuh daun telingaku dengan lembut.
"Dirimu yang seperti itu ... mengingatkanku pada adikku.
Karena itu ... aku tau, meski ini cukup mendadak, tapi aku sudah memutuskan untuk ... membantumu menjadi kuat."
"Membantuku ... menjadi kuat?" Aku menatap Fieri, dia mengambil pisaunya, lalu mengarahkannya ke jantung miliknya.
"Bunuh aku, Seas."
Aku tersentak, meskipun aku sudah menduga bahwa akan tetap jadi begini, tapi tanganku menjadi semakin berat untuk digerakkan.
"Aku tau ... membunuh seseorang itu berat. Kau pasti akan terbayang-bayang bagaimana ekspresi orang yang pertama kali kau bunuh.
Karena itu ... bunuh aku," ucapnya yang sama sekali tidak kupahami. Tanganku bergerak ragu-ragu, gemetar, dan terasa dingin karena rasa gugup. Aku mulai menekan pelan ujung pisaunya ke dada Fieri.
"... Jangan takut.
Terimakasih, Seas. Setelah aku mati, ambillah kalungku ... dan ... selamatkan adikku."
Aku menutup mataku, mengeratkan pegangan pada pisau di tangan.
"... Maaf ..."
JREB!
Sudah? Sudah tertusuk?
Aku ... aku tidak berani membuka mataku!
Seperti apa penampilannya nanti? Apa dia akan menyeramkan? Apa dia akan marah? Apa dia ketakutan?
Tanganku gemetar hebat saat merasakan darah hangat mulai merembes keluar dari sana. Tanganku perlahan terasa lengket, bau darah yang menyengat ini memaksa masuk ke hidungku.
Perlahan, aku mencoba mengintip ... walaupun aku merasa bahwa mungkin ini akan jadi mimpi buruk baruku selama beberapa waktu ... tapi aku harus melihatnya, wajah terakhir Fieri ...
"..."
Mataku sudah sepenuhnya terbuka lebar. Darah merah segar mengalir terus-menerus sampai menyentuh lantai, baju putih yang dia kenakan ternodai dengan darah yang keluar dari jantungnya.
Tapi ... dia ...
Fieri sudah menutup mata, dia masih tersenyum tipis meskipun darah sudah keluar dari mulutnya.
Jadi ini ... maksud Fieri ...
"..." Aku terdiam selama beberapa saat di atas jasadnya.
###
POV: C
Gawat ... ini ... benar-benar diluar perkiraanku.
Aku pikir murid yang akan lulus setidaknya kurang lebih 10 orang ... tapi ... hanya 3 orang?!
Murid-murid tahun ini ... mereka sangat gila.
Sial, bagaimana aku harus melapor pada Rex nanti?!
Tap ... tap ... tap ...
Aku menoleh ke samping, menatap sesosok remaja berambut hitam dengan mata ungu yang berjalan santai ke arahku. Di tangan kanannya ada 3 lembar kertas emas ... dan semuanya penuh darah.
Seas Veldaveol ... dia berhasil? Bukankah dia hanyalah anak rumahan yang polos?
Aku menatap sorot matanya. Normalnya, seseorang yang baru pertama kali membunuh pasti akan mempunyai sorot mata orang trauma atau juga ketakutan, kecuali jika dia memang gila. Karena itu, kupikir Seas juga akan begitu.
Tapi ... di luar dugaan ku.
Sorot matanya sangat tenang ... dan jernih.
"Maaf aku terlambat. Aku sudah dapat 3 kertas, apa aku lulus?" tanyanya dengan suara yang sopan dan sorot mata malu-malu.
Anak ini ... bukankah dia telah membunuh seseorang? Kenapa dia terlihat sangat biasa saja?
"Kau ... berapa orang yang kau bunuh?" tanyaku dingin.
Dia terdiam sejenak, lalu dia menjawab, "Satu orang."
Satu orang? Dia membunuh orang yang mendapat 2 kertas, ya?
Tapi tetap saja ... ini terasa aneh ... ah, biarlah, aku akan memeriksanya sendiri nanti.
"Ekhem, baiklah. Berarti ada 4 orang yang lulus kali ini. Kelasnya baru akan dimulai 4 hari lagi. Setelah ini kalian akan dibagikan nomor asrama kalian dan dimana lokasinya," ucapku setelah memutuskan untuk tidak ambil pusing. Seas Veldaveol, seorang anak rumahan yang polos, yang tiba-tiba bisa menggerakkan hati Venom dan juga lulus tes yang kejam ini. Aku masih belum yakin dia itu berbakat atau sedang beruntung saja.
###
POV: Seas
"... Haahhh!" Aku menghela nafas lega. Jujur, tatapan Agen C sangat menakutkan! Aku berusaha terlihat santai padahal sebenarnya aku menahan rasa gugup. Dan lagi ... yang lulus hanya 4 orang?
Aku menatap sekeliling, dua diantara mereka juga berlumuran darah sepertiku, tapi ada satu orang yang tubuhnya begitu bersih tanpa noda.
Kalau tidak salah nama mereka ... Damian, Zena, dan juga Eloyu. Laki-laki berambut hitam dan mata hitam itu bernama Damian, dia kelihatannya membunuh 10 orang.
Lalu Eloyu, perempuan dengan rambut ungu gelap dengan jarum yang sebesar tongkat yang dia bawa. Dia membunuh 12 orang, kelihatan dari baju yang dia pakai sudah semerah darah.
Lalu yang terakhir ... Zena. Ia kelihatan sedikit lebih tua daripada aku, rambutnya berwarna abu-abu gelap dengan mata hijau seperti permata. Dia ... orang yang paling banyak membunuh ... meskipun begitu, bagaimana dia bisa masih sangat bersih?
"Apa kau punya masalah denganku? Aku benci tatapan mengamatimu."
Suaranya dingin dan tiba-tiba. Aku tersentak sedikit kaget, sorot matanya datar namun juga menyeramkan.
"... Bagaimana caranya kau masih bisa sangat bersih?" tanyaku langsung. Dia berdecak, lalu pergi dari gedung tanpa menjawab pertanyaanku.
Greb!
"Jangan pedulikan dia~ dia memang agak sinting," ucap Eloyu seraya merangkulku dari samping. Aku menatapnya heran, rasanya aneh jika dia tiba-tiba sok dekat sok kenal begini.
"... Matamu cantik ya, apa menurutmu itu akan cocok di rambutku?" tanyanya sambil menatapku tepat di muka.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
One Tea
Cerita sebagus ini kok blm byk yg bca ya? Berasa nonton naruto 😁😁
2022-05-26
3
Pecintagepeng01
jadi agen Spinx itu kayak pengendali pasir gitu?! susah banget lawannya Seas
2022-03-15
2