POV: Seas
"Aku ... akan memilih pertarungan jarak dekat," jawabku. Rex mengangguk singkat, lalu dia memberiku sebuah permen.
"Baiklah, kalau begitu, besok kau ada tes. Kalau tidak salah lokasinya ... di sini." Rex mengirimkan lokasi ke ponselku. Setelah itu dia berdiri, kembali duduk ke tempat kerjanya.
"Yah ... semoga kau berhasil. Jangan mati ya, aku ingin melihatmu lebih lama lagi," ujar Rex dengan kekehan pelannya. Aku mengangguk paham, tersenyum tipis lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Besok, jam 10 malam. Lokasinya cukup jauh jika dari pondok tempatku tinggal sementara.
"... Aku harus melakukan persiapan."
.
.
.
.
.
Waktu berlalu dengan cepat, aku sengaja tidak mengganti pakaianku saat ini. Bukannya aku tidak nyaman dengan pakaian yang disediakan oleh Venom, tapi ... pakaian ini mengingatkanku dengan tujuan saat datang ke sini.
Aku menatap layar ponselku yang menunjukkan kurang 60 menit sebelum waktu tes.
Ah ... iya juga ... setelah ini, aku harus berhenti menggunakan ponselku. Karena ponsel ini mudah dilacak, kata Rex kemarin aku akan diberi ponsel lain yang sesuai jika aku sudah diterima.
Aku merasa tidak nyaman dengan teman-temanku ... tapi aku juga tidak ingin berhenti sekarang. Tidak sebelum aku membunuh orang itu dengan tanganku sendiri.
Aku mematikan layar ponsel, berjalan keluar pondok, menuju ke arah lokasi tes. Aku naik sebuah mobil yang mungkin bisa dibilang seperti angkutan umum di Underworld School, karena tempat ini sangat luas, tentu kendaraan seperti ini juga diperlukan.
Perjalanan terasa sunyi, karena aku tidak berbicara satupun kata, dan kelihatannya supir di depanku juga sudah mengerti, karena itu dia tidak bertanya sedikitpun. Waktu yang dibutuhkan sampai di lokasi adalah 30 menit, kurang lebih sekitar 24 kilometer dari pondokku.
"... Jadi di sini, ya?" Aku menatap ke depan, melihat sebuah gudang suram yang tampak luas dan besar. Pagar kawatnya tampak rusak, samar-samar suara orang berbincang terdengar dari dalam sana. Kakiku mulai melangkah, seraya dengan angin dingin yang semakin menusuk, jantungku berdetak kencang menggebu.
Cklik.
Aku membuka pintu, menatap cukup banyak orang yang berkumpul di tengah gedung. Mereka tampaknya berasal dari berbagai usia, ada yang seumuran denganku, ada yang lebih muda, bahkan ada juga yang sudah orang dewasa. Sistem pendidikan Underworld School tidak memiliki patokan umur ya?
Aku mengamati sekitar, melihat ke kiri dan kanan seraya berjalan ke tengah kerumunan. Tidak banyak juga orang di sini, mungkin hanya sekitar 30 sampai 40 orang. Aku terus mengamati sekitar, sampai mataku tak sengaja menangkap sosok yang familiar untukku.
"Fieri?" panggilku pelan. Remaja laki-laki berambut putih yang cukup panjang itu menoleh.
"Eh? Seas! Kau memilih kelas ini?" Ia berlari kecil menghampiriku. Sedikit perasaan lega membuatku bisa bernafas rileks, setidaknya ada satu orang yang aku kenal diantara puluhan orang menyeramkan lainnya.
"Fieri, aku tidak tau kau juga mengambil kelas ini ... bukankah lebih baik kau mengambil kelas senjata api?" tanyaku padanya saat sudah berada di depanku. Ia tertawa kecil, matanya menatap alas kaki usang yang dia pakai.
"Aku, ingin punya tubuh yang kuat untuk mencapai tujuanku. Karena itu aku mengambil kelas ini!" jawabnya percaya diri.
"Begitu ya? Baiklah, semoga kau, dan kau, bisa lulus tes kali ini!" ujarku juga semangat.
"Ekhem ekhem!"
Suara deheman keras itu berhasil membuat suasana langsung menjadi hening. Semua mata menoleh ke asal suara, begitu juga denganku dan Fieri. Di pintu masuk, muncul seorang pria dengan tubuh yang kekar, rambutnya berwarna abu-abu dengan mata kiri yang bercodet.
"1 ... 2 ... 3 ... hmmm, cukup banyak juga ya? 37 orang. Yah, berapapun itu tidak berpengaruh." Pria itu tampak mengantuk, dia berbicara sembari membunyikan otot lehernya.
"Aku Agen C, pengawas ujian kali ini sekaligus ... orang yang akan menjadi wali kalian sampai kalian lulus ke tingkat 4."
Agen C? Dia ... orang yang sudah berada di tingkat tertinggi! Para agen tingkat atas?! Setara dengan Venom!
Aku menelan ludahku gugup, pria itu tampak menatap kami semua dengan tatapan merendahkan.
"Baiklah, kalian semua, mengantrilah untuk mengambil kertas emas ini." Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas emas, dan membagikannya pada seluruh peserta tes, aku mendapatkannya di bagian akhir bersama dengan Fieri.
"Kira-kira tesnya seperti apa ya?" tanya Fieri sambil membolak-balikkan kertas itu ke atas. Aku hanya diam dan memperhatikan sekitar. Apa maksudnya memberikan kertas emas seperti ini? Aku tidak tau apakah ini emas asli atau bukan, tapi kertas ini kuat. Tidak bisa disobek, aku juga tidak tau apakah ini bisa dibakar. Untuk apa kertas emasnya?
"Peraturannya sangat sederhana. Gudang ini cukup luas dengan berbagai alat dan barang penyimpanan yang sudah usang. Kalian mau lulus tes nya, kan?
Syaratnya sederhana, orang yang bisa mendapatkan 3 kertas emas, maka dia lulus. Kalian boleh melakukan apapun untuk mendapatkannya," ucapnya dengan seringai dan tatapan yang tajam. Atmosfer di sini tiba-tiba berubah, tekanan dan rasa waspada langsung meningkat drastis!
"Bahkan kalian boleh membunuh untuk mendapatkannya."
DEG!
Aku langsung mengeluarkan pisauku, berlari mundur seraya menjaga jarak dari kerumunan. 3 kertas emas? Jangan bercanda! Ada 37 orang di sini! Yang lulus hanya ada 12 orang?!
Kacau.
Semuanya langsung menggila.
Pisau, gergaji, knuckle dan banyak senjata lain mulai digunakan untuk bertarung dan saling berusaha membunuh.
"Hmmm! Mangsa yang mudah~"
Deg.
Merinding. Leherku terasa dingin dan kaku. Aku menoleh ke belakang, menatap seorang pria dewasa berambut gondrong yang sudah mengangkat pisau miliknya.
Aku ...
Aku belum mau mati!
TRANG!
Sebelum pisaunya turun, aku hanya harus menghancurkan pisaunya, kan?
Aku menyerang pisau pria itu dengan pisauku. Tapi pisaunya tidak langsung hancur, seranganku tadi hanya membuatnya sedikit bengkok dan retak.
Sial! Perbedaan tenaga kami cukup besar, jika diteruskan adu kekuatan, maka aku yang akan kalah!
Aku melompat mundur, berusaha menjaga jarak dari pria itu.
Takut. Jantungku berdetak kencang, keringat mulai mengucur deras dari dahi dan pelipisku.
Dia menatapku sambil menghisap air liurnya yang hendak menetes. Matanya bukan lagi mata jernih yang biasa aku lihat, itu adalah mata yang keruh dan berkabut, mata pembunuh ... sama seperti milik Venom!
"Hmmm? Kau ... padahal tadi kau bisa langsung membunuhku dengan reflek secepat itu ... tapi ... kau hanya menargetkan pisauku? Khekhekhe!"
Deg ... Deg ... Deg!
Gawat ... ini gawat ...
"Kau ... masih setengah hati menjadi seorang pembunuh, ya?"
DEG DEG DEG!
Apakah ... aku benar-benar cocok menjadi seorang pembunuh?!
Pria itu mulai melangkah maju perlahan, pisau di tangannya dia biarkan terayun ke kiri dan kanan sehingga aku tidak bisa memprediksi gerakannya!
"Hihi ... MATI KAU!"
TIDAK!
CRAT!
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
ilfindazaka ochtafarela
keren alurnya
2022-03-18
1
Pecintagepeng01
jurusannya Sky ternyata ngeri juga tesnya:" salah milih obat auto nyesel seumur hidup
2022-03-15
1