POV: Seas
BRAKK!
GILA!
Mobil yang ku naiki terbalik dan berguling beberapa kali. Untung saja aku berpegangan pada kursi dan atap mobil. Aku keluar dari mobil, menatap pria berbadan besar dengan perban di kedua tangannya.
Aku menarik nafas panjang.
"WOIII! MATAMU BUTA?!" Aku sudah kehabisan rasa sabar. Bayangkan kalian sedang bersantai di mobil lalu tiba-tiba mobil kalian digulingkan? Ingin sangat mengesalkan.
"GRAAAAHHHH!" Pria itu terlihat tidak memedulikan teriakanku. Dia berlari maju ke sini. Lalu dia tiba-tiba melompat, kedua tangannya menyatu di udara.
Anjir?! DIA MAU MUKUL MOBIL INI?!
Aku menghindar ke samping tepat sebelum pria besar itu menghantam mobil dengan kepalan tangannya.
BRAAAKK!
DUAARR!
Mobilnya dihantam sampai penyet dan tiba-tiba meledak. Aku terdiam, sekarang di pikiranku bukan kenapa bisa pria itu sangat kuat ... tapi bagaimana caranya membayar mobil yang meledak.
Aduh Venom ... dia kelihatan miskin. Aku juga udah miskin, ga punya uang lagi.
"Woi! Kau yang menghancurkan mobilnya ya! Aku tidak mau ganti rugi!" ucapku pada pria itu. Ia menoleh, matanya masih menatapku dengan tajam dan berapi-api.
"Arma ... kau ... benar Arma?"
Bukan blok.
"Kau tambah kecil," ucapnya sembari menarik tangan dari mobil itu. Ledakan keras tadi seolah tak berasa, bahkan kulitnya tidak ada luka bakar sedikitpun.
Ternyata tempat ini memang sarang para monster ya? Baguslah ...
Tanpa sadar senyuman mengembang di wajahku. Darahku berdesir cepat, jantungku berdetak keras seraya melihat pria itu yang menerjang ke sini.
Ayo, buat aku jadi monster seperti kalian!
DUAR!
WHOSSSHH!
Sebuah ledakan keras muncul di depanku, angin kencang berhembus menerbangkan debu dan apapun yang ringan di sana. Aku menutup mata, berusaha menjaga pandanganku agar tidak terkena benda asing.
Apa tadi?
Angin yang kencang itu mulai menipis, sedikit demi sedikit aku bisa melihat ke depan. Mataku terpaku melihat sosok yang ada di sana. Venom kini berdiri di atas tubuh pria besar tadi yang sekarang tampak tak sadarkan diri.
"... Hebat ...," gumamku tanpa sadar. Venom melirik ke arahku, mata merah keruhnya sangat datar seperti biasanya.
"... Untunglah kau masih hidup. Aku lupa mengucapkan satu hal." Venom berbalik ke arahku lalu ia melompat turun dari tubuh pria tadi.
"Sekarang ... semua orang di Underworld School sangat membenci kakakmu."
"... Lalu kenapa mereka menyerangku?" tanyaku.
"Karena kau sangat mirip dengannya. Orang yang sudah dibutakan oleh dendam, akan sering salah melihat. Bahkan untuk melihat kenyataan yang ada di depannya." Venom berdiri di depanku. Tingginya sama denganku, sorot matanya menatap lurus ke milikku.
"Ngomong-ngomong ... " Venom berbalik badan.
"Selamat datang di Underworld School."
Angin tipis datang berhembus, rambut hijau keemasan sepinggang miliknya yang dipotong rata terlihat bergerak dengan ringan sesuai arah angin. Tempat ini gelap, menyeramkan, mengerikan, dan juga ... mendebarkan.
.
.
.
.
.
"... A-anu ... sekarang kita mau kemana ya?" tanyaku yang sudah mulai merasa lelah menaiki tangga bangunan yang tidak kunjung sampai. Rasanya aku sudah naik sampai 15 atau 19 lantai ... tapi kenapa tidak sampai juga?
"Aku harus membawamu bertemu Rex."
"Siapa itu Rex?" tanyaku.
"Kepala sekolah Underworld School sekaligus ... orang terkuat di sini."
Orang ... terkuat?
.
.
.
.
.
Tok tok tok!
"Masuklah."
Venom membuka pintu hitam di depannya. Dengan hanya bermodalkan satu lampu di tengah ruangan yang juga remang-remang, aku bisa melihat seorang pria yang duduk di kursi dengan bersandar pada siku di meja kerjanya.
"Aku dengar kau membawa tamu yang menarik, Venom," ucap pria itu dengan senyuman tipis.
Suaranya terdengar begitu berkharisma namun juga seperti mencekik leher. Berada dalam satu ruangan dengan orang ini ... benar-benar tidak nyaman.
"Ya, aku membawanya, adik dari Arma. Namanya ... " Venom terdiam sejenak, kemudian dia menatapku.
"... Namamu siapa tadi?"
"..."
Apa dia serius? Aku baru saja memberitahunya tadi di jalan, sekarang dia sudah lupa?
Aku menghela nafas pendek. "Namaku Seas, aku tidak perlu menyebutkan nama keluargaku, kan?" tanyaku berusaha santai sebisa mungkin. Rex- pria dengan rambut coklat kemerahan, dia punya bekas luka di mata kanannya dan punya tubuh yang kekar dan tinggi. Kepala sekolah Underworld School sekaligus ... pembunuh terkuat di sini.
Pria itu menyeringai, menatapku dari atas hingga ke bawah. "Kau benar-benar mirip Arma saat masih remaja."
"Ya, berkat itu tadi aku diserbu beruang gila," ucapku sarkas mengingat kejadian tidak menyenangkan itu. Rex tertawa, dia mematikan cerutu yang daritadi belum dia hisap.
"Duduklah, sepertinya banyak yang akan kita bicarakan." Ia menunjuk dua sofa panjang yang berhadapan di pojok kiri ruangannya. Aku pergi ke sana bersama Venom, setelah kami duduk, Rex ikut duduk di depan kami.
Aku sedikit merinding, karena tadi dia duduk di belakang meja besar, aku tidak bisa menebak ukuran tubuhnya yang sebenarnya. Tapi sekarang setelah dia berdiri dan duduk di depanku.
Gila, tinggi orang ini 2 meter lebih?! Selain itu tubuhnya sangat besar dan kekar, apa dia benar keturunan manusia?!
"Yang kau pikirkan terlihat jelas di wajahmu, dasar bocah." Rex tersenyum miring sambil menatapku tajam. Aku menelan ludah gugup, menghindari pandangan matanya.
"Hahaha. Jadi, apa yang membawamu ke sini?" tanyanya setelah tertawa.
Aku diam sejenak, tanganku meremas erat celana yang kotor. Dari darah dan jantungku, perasaan kotor ini terus meluap naik.
"Aku ... akan membunuh Kakakku!" ucapku yakin. Rex diam, dia hanya menatapku dengan senyuman tipis dan mata yang ... menatapku tajam.
"... Hee?" Hanya itu yang Rex ucapkan dengan senyuman yang mengerikan.
"Venom, keluarlah," kata Rex. Aku melirik ke arah Venom yang ... menurutku dia tampak sedikit terkejut?
"... Rex, dia belum-'
"Aku tau, aku punya batasanku sendiri. Keluarlah, sekarang." Dingin, begitulah yang aku dengar dari Rex. Dia tersenyum, tapi ... sorot matanya seperti binatang buas yang melihat buruan kecilnya yang ingin melawan.
Dia ... tampak terhibur.
"... Baiklah." Venom berdiri lalu berjalan keluar. Pintu hitam itu kini ditutup, sekarang, hanya ada aku dan Rex di ruangan ini.
Tuk tuk tuk.
Jari Rex mengetuk-ngetuk meja di depan kami. Entah ini hanya perasaanku saja ... tapi ... atmosfer di sini semakin sesak sejak Venom keluar ruangan.
Leherku ... seakan diperas!
Tapi ... tapi!
Kalau hanya segini ... kalau hanya segini saja aku tumbang ... aku tidak bisa mengalahkan kakakku!
"Ho ... menarik. Tekad di matamu ... menyala seperti lilin di tengah malam."
"UHUK UHUK! HAH HAH HAH!" Aku menarik nafas panjang ketika tekanan yang kurasakan semakin berkurang. Mengambil oksigen sebanyak apapun yang aku bisa.
Mataku melihat ke depan, menatap Rex yang mulai menyalakan cerutunya lagi.
"Baiklah ... pertanyaan pertama."
Pertanyaan ... pertama?
..."Apa yang kau tau tentang Underworld School?"...
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
Disa disa
Hohohohohohohohohohoho
2022-05-31
0
Disa disa
Yg membunuh keluarga mu, ngeri ya
2022-05-31
0
Disa disa
Dikira cenayang apa yak
2022-05-31
0