POV : ???
Jantungku berdetak kencang, nafas memburu dengan rasa nyeri di bahu kiriku. Kemeja putih yang kupakai koyak sudah dipakai berlari, tanpa alas kaki maupun sepatu, aspal yang dingin ini mulai terasa perih di kaki.
"AAAARRRRGGGGHHHHH!" Aku berteriak, menarik rambutku kuat hingga beberapa helai rontok di tanganku sendiri. Sakit? Tentu saja. Tapi daripada itu, mungkin amarah dan rasa kecewa yang paling kurasa saat ini.
"BANGSAAAT! SIAALL! SIAALAAANN!" Aku ambruk berlutut, memukul aspal hingga buku-buku tanganku berdarah. Sesak! Rasanya aku ingin mengeluarkan jantungku sendiri dan meremasnya hingga hancur.
"Huu ... hiks ... kenapa Kak? Kenapa? ... " Aku terisak, berusaha menghilangkan kenangan buruk yang baru saja kualami. Bukankah hari ulang tahun seharusnya menjadi hari yang paling dinantikan? Bukankah hari ini seharusnya menjadi salah satu hari yang paling bahagia untukku?
"Kenapa ... kenapa Kakak membunuh semuanya?" rintihku pelan. Kepalaku tak bisa melupakan bayangan kakak yang berdiri dengan senyuman di atas tumpukan mayat orang-orang-
Termasuk kedua orang tua kami.
Bahu kiriku terasa nyeri, darah segar yang masih mengalir seperti menjadi bukti, bahwa yang kulihat tadi bukanlah mimpi.
Aku menatap ke arah langit malam. Gelap. Tak ada bintang maupun bulan. Apa bahkan semesta sudah meninggalkanku?
"Benar. Larilah, bertahan hidup seperti seekor kecoa."
"AAARRRRGGGGHHH!" Aku memukul aspal lagi, ucapan yang kakak berikan padaku-
Aku tidak mengerti sama sekali. Dimana salahnya? Kapan semua ini dimulai?
Memangnya apa salahku sampai hidupku hancur dalam semalam?!
Tes ... tes tes!
Rintik air perlahan mengenai tubuhku. Bersama dengan angin malam yang berhembus, hujan datang mengguyur semuanya.
Hampa.
Aku menatap aspal yang berubah menjadi hitam mengilap. Arus air dari hujan yang berangsur ke tepi jalan, membuatku diam dan berpikir.
Memangnya jika aku marah ... jika aku memaki ... bahkan jika aku berteriak ...
Apa ada yang akan berubah?
"Sudah mati."
"Seas Veldaveol, sudah mati hari ini."
Tap ... tap ... tap ...
Suara langkah kaki terdengar perlahan mendekat. Bahkan diantara derasnya suara hujan, entah kenapa aku masih mendengar suara itu dengan jelas. Tapi aku sudah tidak punya tenaga bahkan untuk mengangkat kepala.
Tap.
Sepasang sepatu serba hitam dengan hak pendek, itu adalah sepatu perempuan. Aku hanya diam ketika melihat salah satu dari kakinya berlutut, menawarkan sebuah sapu tangan semerah darah padaku.
"Apa kau mau balas dendam?"
Mataku melebar, segelintir tenaga yang tersisa kugunakan untuk mengangkat kepala.
Kulit putih agak pucat, rambut lurus panjang dengan warna hijau keemasan, lalu ...
Mata yang berwarna merah keruh tanpa cahaya.
Apa dia manusia?
Perempuan itu masih diam, menatapku dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"K- ... Kalau aku mau, apakah ... bisa?" tanyaku lirih, berusaha menggapai sapu tangan yang dia berikan.
"Itu tergantung dirimu sendiri," ucapnya.
"Tapi jika kau mau. Aku akan membuatkan jalan untukmu."
Kilat di atas langit mulai bersuara, bersama dengan cahaya terang yang turun menyilaukan mata.
Ah-
Aku tidak peduli dia ini dewa atau pencabut nyawa. Aku tidak peduli dia malaikat ataupun iblis.
Aku menarik lengan bajunya kuat, menatap mata merah itu dengan segenap tekad.
"Bawa aku!"
JEDER!
Kilat menyambar keras, bersamaan dengan penglihatanku yang memburam. Untuk sesaat ... sepertinya aku ... melihatnya tersenyum?
###
POV : Author
Seas ambruk dengan wajah yang memucat, wanita dengan mata merah itu-Venom, dengan sigap menangkap tubuhnya. Ia menelisik luka Seas yang ada di bahu kirinya.
"Seas Veldaveol. Selamat bergabung dengan Underworld School." Dengan satu tangan, dia memanggul tubuh Seas di bahunya. Venom kemudian berjalan pergi, sembari membawa Seas menghilang dari tanah kelahirannya.
Hujan lebat yang turun kala itu, mungkin adalah sebuah keberuntungan yang semesta berikan untuk menghapus jejak mereka.
* * *
Kling!
"Oh? Selamat datang Venom, bagaimana misimu- ASTAGA! ANAK SIAPA YANG KAU BAWA?!" teriak Farula - penjaga administrasi Underworld School. Venom melirik ke arah Seas yang tak kunjung sadarkan diri bahkan setelah 11 jam perjalanan ke Underworld School.
"Dia kehabisan darah. Aku sudah memeriksa golongan darahnya, O+, antar dia ke ruang kesehatan," ujar Venom sambil menaruh tubuh Seas di atas kursi panjang.
"Masukkan nama Seas sebagai pendaftar di ujian masuk minggu depan," ucap Venom to the point. Farula gelagapan, dia langsung membuka komputer dan berbagai berkas dengan panik.
"T-t-tunggu dulu! Kau mau mendaftarkannya? Anak seperti apa dia?! Kau tau kan kita tidak bisa menerima sembarang anak?!" ujar Farula yang baru sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Nama belakangnya adalah Veldaveol."
"Veldave- apa? ..." Farula tercengang. Matanya menatap ke arah Seas dengan tatapan shock.
"D-dia? Dia sungguh adik orang itu? Tunggu tunggu tunggu! Venom! Bagaimana kalau dia bersekongkol dengan kakaknya?!"
Venom diam, menatap Farula tanpa ekspresi. "Tidak akan. Kalau iya seperti yang kau bilang. Tidak mungkin dia duduk bersimbah darah terlantar sendirian di tengah jalan."
"Ah ... jadi kita terlambat, ya?" Farula menghela nafas pendek.
"Ya ... kita terlambat satu langkah. Tapi tidak masalah." Venom melirik ke arah Seas sekali lagi sebelum akhirnya Seas dibawa oleh petugas kesehatan Underworld School.
"Karena kita mendapatkan sebuah berlian yang sangat berkualitas." Setelah mengucapkan itu, Venom berbalik arah, dia melangkah menuju pintu keluar.
"Aku akan melaporkan misiku kali ini. Kau urus anak itu sampai aku kembali."
Kling!
Farula tersenyum tipis sambil mengusap keringat di wajahnya. "Astaga, aku kira dia membawa mayat lagi. Tapi jujur ... aku lebih kaget dia membawa manusia hidup ke sini, si Venom itu." Farula menutup layar komputer setelah memasukkan nama Seas ke sana, dia segera mengambil beberapa perlengkapan medis dan juga beberapa buku untuk menganalisis psikologis Seas.
"Baiklah, saatnya kita mengurus calon agen yang baru."
###
POV : Seas
Kepalaku masih berdenyut ... sial, rasanya mual. Dengan perlahan, aku berusaha membuka mata.
Dimana ... ini?
Semuanya terasa asing bagiku, interior ruangan yang aneh dan serba hitam. Bau obat-obatan yang belum pernah kucium, serta ...
Wanita aneh yang menatapku sambil tersenyum tidak jelas?
"Siapa ... kau?" tanyaku dengan suara lirih.
"Ah! Akhirnya kau sadar juga! Aku khawatir kau mati karena kita sudah melewatkan golden hour saat berusaha menyelamatkanmu!
Namaku Farula, sementara ini aku bertugas mengawasi kondisimu! Baik baik baik~ mari kita lihat kondisimu!" Wanita itu mengeluarkan senter, menyentuh dan membuka paksa mataku.
"Ack!"
"Hmm respon pupil masih sedikit lambat. Tapi kau bisa merespon rasa sakit dengan baik. Oke, apa kau ingat siapa namamu?"
"Seas ... "
"Hm hm oke. Otakmu juga aman karena kau masih ingat namamu." Dia kembali menulis sesuatu di buku yang dia bawa.
"Ini ... dimana?" tanyaku sambil melihat tangan kiriku yang tersambung dengan kantung darah.
"Ah- benar! Selamat datang di Underworld School."
TBC.
POV: Venom
Pukul 7 malam di Underworld School.
.
.
.
.
.
"Jadi maksudmu, misiku kali ini adalah mengejar ... Arma Veldaveol? Rein?" tanyaku pada wanita dengan kacamata bulat di depanku. Namanya Rein, wanita yang mengurus segala administrasi dari Underworld School.
"Hmm benar. Dia sudah menyebabkan banyak masalah. Dan ... sebenarnya aku khawatir ... " ujarnya yang membuatku melirik padanya.
"Kenapa?"
"Aku dengar dia berniat untuk membunuh semua keluarganya sekarang. Kalau bisa, tolong jangan biarkan ia membunuh keluarganya. Dia punya satu adik laki-laki yang kudengar ... adiknya itu sangat mengaguminya."
Oh, itu bukan urusanku. Kenapa aku harus peduli pada anak kecil itu?
"Dia seumuran denganmu, jadi aku yakin kalian pasti akan akrab," ucapnya yang tidak masuk akal.
Yah, apapun itu, aku hanya akan berusaha menyelamatkan mereka saja ... dan kalau bisa ... aku akan membunuh Arma.
Meskipun aku tidak yakin apakah aku mampu.
.
.
.
.
.
Setelah berkendara 5 jam lamanya, akhirnya aku sampai di kediaman Veldaveol. Seperti biasa, rumah ini selalu megah dan bersinar.
Tapi ...
Bau darah.
Apa aku terlambat?
Aku melompat masuk melalui salah satu jendela yang terbuka. Dengan langkah tanpa suara, aku berjalan menyusuri lorong gelap dan bau anyir ini. Semakin ke sini, semakin banyak mayat dengan seragam pelayan yang berserakan. Aku berhenti ketika melihat sebuah pintu yang hancur lebur.
Aku masuk ke dalam, melihat kolam darah yang membasahi lantai, dan ...
Jenazah kedua orangtua Veldaveol.
Aku sudah terlambat, ya?
Aku berjalan masuk, memeriksa identitas yang bisa aku pastikan memang mereka berdua sudah terbunuh. Aku segera mengeluarkan ponselku untuk menghubungi Rein dan meminta bantuan dalam menguburkan mereka semua.
Bagus, sekarang aku tinggal kembali ke Underworld School.
"..."
Tunggu dulu ...
Adik laki-laki ... ?
Aku tidak melihat jenazah adik laki-laki Arma.
"... Apa dia masih hidup?"
Aku segera berlari keluar, langit sudah mendung, kalau tidak cepat-cepat, jejak anak itu akan hilang tersapu air hujan. Aku terus berlari mengikuti bau darah yang bisa aku cium. Hingga akhirnya aku menemukannya ...
Tes tes ...
BRESSSS!
Hujan deras ... setidaknya aku sudah berhasil menemukannya. Lalu ... apa yang harus aku katakan? Maaf aku telat? Selamat karena jadi yatim piatu?
"..."
Aku sungguh buruk dalam menghibur orang.
"Hei-"
Ah ... mata ungunya ... sama dengan milik Arma. Dan lagi ... matanya penuh dengan dendam dan amarah. Dia sangat indah.
Tapi ... rasanya dia sedikit putus asa.
Kalau begitu ...
Aku berjalan mendekatinya, berjalan dengan tenang lalu berdiri di depannya.
"Apa kau benar adik Arma Veldaveol?"
Dia mendongak, tapi pandangan matanya sudah sangat buram. Bahunya sudah koyak, apa Arma yang menyerangnya? Selain itu ... aku melirik ke bawah, melihat jari-jarinya yang terluka berdarah-darah.
"..." Sepertinya aku tidak perlu memastikannya lagi.
Anak ini ... dari wajah, rambut, dan juga mata. Semuanya sangat mirip dengan Arma. Tapi mungkin ... dia ... punya bakat yang lebih besar daripada kakaknya.
Aku berjongkok ke depan supaya dia bisa mendengarku lebih jelas.
"Apa kau mau balas dendam?" tanyaku.
Aku juga bingung, kenapa aku sangat perhatian pada anak yang bahkan tidak aku kenal? Ini aneh, aku tidak seperti diriku. Tapi mungkin ... aku suka dengan iblis di dalam hatinya.
Anak itu meraih kerah bajuku dengan kasar. Sorot matanya tiba-tiba kembali terang, gigi taringnya terlihat seperti harimau yang menggeram.
"Ya! Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"
Ya ... itu yang ingin aku dengar.
Setelah mengatakan itu, ia pingsan. Yah, wajar saja, dia kehilangan banyak darah dan hormon adrenalinnya pasti sudah berkurang sekarang.
Sebaiknya aku mengobatinya lebih dulu sebelum membawanya ke Underworld School.
###
POV: Seas
Gelap ... tapi ... rasanya nyaman ... aku seperti melayang ...
GLUDAK!
BRUK!
JDUG!
"..." Aku langsung membuka mata.
"A-a ... aduh ..." Aku berusaha berdiri. Mataku mengamati keadaan sekitar ... sepertinya ini di dalam mobil. Tunggu ... jadi aku barusan ... jatuh dari tempat duduk?
Aku melihat ke depan, menatap seorang gadis dengan rambut hijau muda keemasan yang menyetir.
"... Kau jatuh ya?" tanyanya yang jelas jawabannya iya.
"Maaf, aku baru belajar menyetir. Tadi hampir saja jatuh ke jurang."
"??????!!!"
HAH?!
Aku langsung duduk di lagi di kursi, memasang sabuk pengaman. Mataku melihat ke sisi kiri.
"..."
Beneran jurang. I-ini yakin gapapa? Dia baru belajar nyetir k-kan?
"Gapapa, tenang aja. Nanti kalau jatuh juga kita tetep bakal selamat."
GIMANA CARANYA TETEP SELAMAT?!!
"Ah iya! Ngomong-ngomong namamu ... siapa ... ya?" Aku baru ingat aku belum menanyakan namanya. Gadis itu diam, dia melirikku dari spion tengah mobil.
"... Panggil saja aku Venom."
Venom? ... Nama yang unik ... tunggu, memangnya itu nama? Tapi kalau dia memang tidak mau memberitahu nama aslinya ya ... sudahlah.
Oh iya, ini kita mau kemana? Aku belum pernah lewat sini ... memangnya jalan ini ada di maps? Aku bahkan baru tau ada jalan seperti ini di dekat jurang ...
"Kita ... mau kemana?" tanyaku lagi.
"Kau mau balas dendam, kan?"
Aku mengangguk singkat.
..."Underworld School."...
"Underworld ... School? Apa itu?" tanyaku bingung. Sekolah? Sekolah apa? Sekolah di bawah tanah? Aku baru pertama kali mendengar nama sekolah itu.
"Itu sekolah untuk para pembunuh."
"Ohh," jawabku.
"..." Aku terdiam sejenak.
Lah?
Sekolah untuk pembunuh ... ?
AKU TIDAK SALAH DENGAR, KAN??!!
"T-tunggu? ... Sekolah ... untuk pembunuh?!" tanyaku bingung.
FYUSH!
Cahaya matahari tiba-tiba menghilang, hawa dingin dan bau udara yang tidak nyaman perlahan menyeruak masuk. Aku mengintip keluar jendela, menatap langit gelap dengan awan abu abu-abu gelap yang menghiasinya.
Tunggu, sekarang jam berapa? Tadi ada matahari, kan?
Aku mengambil ponselku, menatap jam digital yang terpampang di layar.
9 pagi ... aku pingsan berapa lama memangnya? Tunggu, tidak, bukan itu yang penting! Di sini ... kenapa malam?!
Ckit.
Mobil yang kami kendarai berhenti, Venom pergi keluar dan aku hendak mengikutinya.
"Tunggu." Pintu mobilnya ditahan oleh Venom.
"Kenapa?"
"... Lebih baik kau di dalam saja. Tunggu sampai aku memanggilmu lagi." Begitulah ucapnya lalu dia meninggalkanku di mobil sendirian. Aku menurut, jadi yang kulakukan sekarang hanya duduk diam dan menunggu.
Mataku melihat kesana kemari, menatap pemandangan yang hitam dan sepi. Memang ada beberapa orang yang lewat, dan kebanyakan dari mereka terlihat ... unik? Tato, bekas luka, bekas jahitan, atau beberapa atribut aneh lagi yang mereka pakai.
Mereka semua ... adalah pembunuh, kan?
BRAK!
DEGG!
Aku menoleh ke samping, menatap sebuah tangan yang memukul kaca mobil ini. Di tangannya terlilit perban yang terlihat kotor dan kacau.
Dia siapa?!
Aku menatap sorot matanya dari dalam mobil. Sorot mata yang penuh amarah dan kebencian?
BRAK!
Mobil ini berguncang, memangnya seberapa kuat tenaganya?!
"ARMAAA! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!"
Hah?! Kenapa dia menyebut nama kakak?!
TBC.
POV: Seas
BRAKK!
GILA!
Mobil yang ku naiki terbalik dan berguling beberapa kali. Untung saja aku berpegangan pada kursi dan atap mobil. Aku keluar dari mobil, menatap pria berbadan besar dengan perban di kedua tangannya.
Aku menarik nafas panjang.
"WOIII! MATAMU BUTA?!" Aku sudah kehabisan rasa sabar. Bayangkan kalian sedang bersantai di mobil lalu tiba-tiba mobil kalian digulingkan? Ingin sangat mengesalkan.
"GRAAAAHHHH!" Pria itu terlihat tidak memedulikan teriakanku. Dia berlari maju ke sini. Lalu dia tiba-tiba melompat, kedua tangannya menyatu di udara.
Anjir?! DIA MAU MUKUL MOBIL INI?!
Aku menghindar ke samping tepat sebelum pria besar itu menghantam mobil dengan kepalan tangannya.
BRAAAKK!
DUAARR!
Mobilnya dihantam sampai penyet dan tiba-tiba meledak. Aku terdiam, sekarang di pikiranku bukan kenapa bisa pria itu sangat kuat ... tapi bagaimana caranya membayar mobil yang meledak.
Aduh Venom ... dia kelihatan miskin. Aku juga udah miskin, ga punya uang lagi.
"Woi! Kau yang menghancurkan mobilnya ya! Aku tidak mau ganti rugi!" ucapku pada pria itu. Ia menoleh, matanya masih menatapku dengan tajam dan berapi-api.
"Arma ... kau ... benar Arma?"
Bukan blok.
"Kau tambah kecil," ucapnya sembari menarik tangan dari mobil itu. Ledakan keras tadi seolah tak berasa, bahkan kulitnya tidak ada luka bakar sedikitpun.
Ternyata tempat ini memang sarang para monster ya? Baguslah ...
Tanpa sadar senyuman mengembang di wajahku. Darahku berdesir cepat, jantungku berdetak keras seraya melihat pria itu yang menerjang ke sini.
Ayo, buat aku jadi monster seperti kalian!
DUAR!
WHOSSSHH!
Sebuah ledakan keras muncul di depanku, angin kencang berhembus menerbangkan debu dan apapun yang ringan di sana. Aku menutup mata, berusaha menjaga pandanganku agar tidak terkena benda asing.
Apa tadi?
Angin yang kencang itu mulai menipis, sedikit demi sedikit aku bisa melihat ke depan. Mataku terpaku melihat sosok yang ada di sana. Venom kini berdiri di atas tubuh pria besar tadi yang sekarang tampak tak sadarkan diri.
"... Hebat ...," gumamku tanpa sadar. Venom melirik ke arahku, mata merah keruhnya sangat datar seperti biasanya.
"... Untunglah kau masih hidup. Aku lupa mengucapkan satu hal." Venom berbalik ke arahku lalu ia melompat turun dari tubuh pria tadi.
"Sekarang ... semua orang di Underworld School sangat membenci kakakmu."
"... Lalu kenapa mereka menyerangku?" tanyaku.
"Karena kau sangat mirip dengannya. Orang yang sudah dibutakan oleh dendam, akan sering salah melihat. Bahkan untuk melihat kenyataan yang ada di depannya." Venom berdiri di depanku. Tingginya sama denganku, sorot matanya menatap lurus ke milikku.
"Ngomong-ngomong ... " Venom berbalik badan.
"Selamat datang di Underworld School."
Angin tipis datang berhembus, rambut hijau keemasan sepinggang miliknya yang dipotong rata terlihat bergerak dengan ringan sesuai arah angin. Tempat ini gelap, menyeramkan, mengerikan, dan juga ... mendebarkan.
.
.
.
.
.
"... A-anu ... sekarang kita mau kemana ya?" tanyaku yang sudah mulai merasa lelah menaiki tangga bangunan yang tidak kunjung sampai. Rasanya aku sudah naik sampai 15 atau 19 lantai ... tapi kenapa tidak sampai juga?
"Aku harus membawamu bertemu Rex."
"Siapa itu Rex?" tanyaku.
"Kepala sekolah Underworld School sekaligus ... orang terkuat di sini."
Orang ... terkuat?
.
.
.
.
.
Tok tok tok!
"Masuklah."
Venom membuka pintu hitam di depannya. Dengan hanya bermodalkan satu lampu di tengah ruangan yang juga remang-remang, aku bisa melihat seorang pria yang duduk di kursi dengan bersandar pada siku di meja kerjanya.
"Aku dengar kau membawa tamu yang menarik, Venom," ucap pria itu dengan senyuman tipis.
Suaranya terdengar begitu berkharisma namun juga seperti mencekik leher. Berada dalam satu ruangan dengan orang ini ... benar-benar tidak nyaman.
"Ya, aku membawanya, adik dari Arma. Namanya ... " Venom terdiam sejenak, kemudian dia menatapku.
"... Namamu siapa tadi?"
"..."
Apa dia serius? Aku baru saja memberitahunya tadi di jalan, sekarang dia sudah lupa?
Aku menghela nafas pendek. "Namaku Seas, aku tidak perlu menyebutkan nama keluargaku, kan?" tanyaku berusaha santai sebisa mungkin. Rex- pria dengan rambut coklat kemerahan, dia punya bekas luka di mata kanannya dan punya tubuh yang kekar dan tinggi. Kepala sekolah Underworld School sekaligus ... pembunuh terkuat di sini.
Pria itu menyeringai, menatapku dari atas hingga ke bawah. "Kau benar-benar mirip Arma saat masih remaja."
"Ya, berkat itu tadi aku diserbu beruang gila," ucapku sarkas mengingat kejadian tidak menyenangkan itu. Rex tertawa, dia mematikan cerutu yang daritadi belum dia hisap.
"Duduklah, sepertinya banyak yang akan kita bicarakan." Ia menunjuk dua sofa panjang yang berhadapan di pojok kiri ruangannya. Aku pergi ke sana bersama Venom, setelah kami duduk, Rex ikut duduk di depan kami.
Aku sedikit merinding, karena tadi dia duduk di belakang meja besar, aku tidak bisa menebak ukuran tubuhnya yang sebenarnya. Tapi sekarang setelah dia berdiri dan duduk di depanku.
Gila, tinggi orang ini 2 meter lebih?! Selain itu tubuhnya sangat besar dan kekar, apa dia benar keturunan manusia?!
"Yang kau pikirkan terlihat jelas di wajahmu, dasar bocah." Rex tersenyum miring sambil menatapku tajam. Aku menelan ludah gugup, menghindari pandangan matanya.
"Hahaha. Jadi, apa yang membawamu ke sini?" tanyanya setelah tertawa.
Aku diam sejenak, tanganku meremas erat celana yang kotor. Dari darah dan jantungku, perasaan kotor ini terus meluap naik.
"Aku ... akan membunuh Kakakku!" ucapku yakin. Rex diam, dia hanya menatapku dengan senyuman tipis dan mata yang ... menatapku tajam.
"... Hee?" Hanya itu yang Rex ucapkan dengan senyuman yang mengerikan.
"Venom, keluarlah," kata Rex. Aku melirik ke arah Venom yang ... menurutku dia tampak sedikit terkejut?
"... Rex, dia belum-'
"Aku tau, aku punya batasanku sendiri. Keluarlah, sekarang." Dingin, begitulah yang aku dengar dari Rex. Dia tersenyum, tapi ... sorot matanya seperti binatang buas yang melihat buruan kecilnya yang ingin melawan.
Dia ... tampak terhibur.
"... Baiklah." Venom berdiri lalu berjalan keluar. Pintu hitam itu kini ditutup, sekarang, hanya ada aku dan Rex di ruangan ini.
Tuk tuk tuk.
Jari Rex mengetuk-ngetuk meja di depan kami. Entah ini hanya perasaanku saja ... tapi ... atmosfer di sini semakin sesak sejak Venom keluar ruangan.
Leherku ... seakan diperas!
Tapi ... tapi!
Kalau hanya segini ... kalau hanya segini saja aku tumbang ... aku tidak bisa mengalahkan kakakku!
"Ho ... menarik. Tekad di matamu ... menyala seperti lilin di tengah malam."
"UHUK UHUK! HAH HAH HAH!" Aku menarik nafas panjang ketika tekanan yang kurasakan semakin berkurang. Mengambil oksigen sebanyak apapun yang aku bisa.
Mataku melihat ke depan, menatap Rex yang mulai menyalakan cerutunya lagi.
"Baiklah ... pertanyaan pertama."
Pertanyaan ... pertama?
..."Apa yang kau tau tentang Underworld School?"...
TBC.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!