POV: Seas
Aku terdiam sejenak, memikirkan beribu alasan apa yang sebaiknya aku lontarkan. Tapi, semua alasan itu hilang ketika aku melihat kantung mata Sky yang menghitam, mungkin sejak awal memang sudah begitu, hanya saja aku baru menyadarinya.
"Kau ... kenapa kau masuk Underworld School?" tanyaku padanya.
Dia terdiam, matanya akhirnya kini bertemu dengan milikku. Kuning cerah seperti langit siang yang ingin menjadi senja, warna matanya mengingatkanku pada langit yang jingga.
"I-itu ... bukan urusanmu!"
BLAM!
Aku terdiam. Dia langsung membanting pintunya begitu saja di depan wajahku. Apa aku menanyakan sesuatu yang sensitif?
.
.
.
.
.
"HAHAHAHAHA! PANTAS SAJA DIA MARAH!" Damian tertawa terbahak-bahak setelah aku memberitahunya. Aku tidak paham, dia tertawa lepas bahkan sampai menitikkan air mata.
"Menanyakan alasan seseorang masuk Underworld School itu tidak bagus, Seas. Rasanya seperti menanyakan apa yang membuatmu memutuskan jadi penjahat?" jawab Damian setelah tawanya reda. Aku mengangguk mengerti, mungkin bagi beberapa orang, menanyakan hal yang seperti ini sangat menggores hati mereka.
"Begitu ya ... kau benar juga. Tapi aku ingin dekat dengannya ... bukankah setelah ini dia akan jadi rekan terdekatku?" tanyaku sambil merebahkan diri di kasur Damian.
Pria berambut hitam itu tersenyum jahil. "Mungkin iya? Tapi bukankah kau masih punya banyak waktu? Kenapa jauh sangat buru-buru?" tanyanya.
Aku merenung sejenak. Aku buru-buru ya? Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Aku ingin segera balas dendam supaya apa yang mengganggu pikiranku sepenuhnya hilang, tapi aku juga sadar kalau aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatanku sekarang.
"... Aku buru-buru?"
"Sedikit? Aku tidak peduli apa alasanmu, tapi jika kau terlalu buru-buru, kau akan jadi ceroboh," ujar Damian lalu ikut membaringkan tubuh di sebelahku.
.
.
.
.
.
Mungkin yang Damian katakan benar, aku terlalu terburu-buru. Kalau begitu ... aku hanya harus, sedikit lebih santai tanpa mengurangi rasa dendamku ini kan?
Tok tok tok!
"Sky! Apakah kau ada di dalam?!" teriakku dari luar. Aku sudah tau apa yang harus kulakukan setidaknya untuk sekarang, karena itu, aku juga ingin membangun hubungan dengan Sky. Walaupun bukan sebagai teman akrab, aku ingin jadi orang yang bisa dia percaya, karena aku juga akan mempercayainya!
Pintu hitam itu perlahan terbuka, seperti tadi pagi, Sky muncul dengan wajah yang malu-malu. Aku langsung tersenyum lebar. "Ikut aku yuk!"
.
.
.
.
.
"... Kau yakin ... mau rambutmu begitu?" tanya Sky sambil kami berjalan beriringan di tepi jalan. Aku bersenandung pelan, menikmati angin dingin Underworld School yang memang tak pernah hangat.
"Ya ... apakah cocok denganku?" tanyaku sambil menoleh padanya. Sky terdiam sejenak, ia menatapku tanpa berkedip.
"Ya ... rambut putih itu juga cocok untukmu, Seas," jawabnya dengan senyuman tipis. Aku ikut tersenyum senang.
Benar, aku mewarnai rambutku. Aku tidak ingin punya rambut yang sama dengan orang itu, jadi aku akan mewarnainya dengan warna yang berkebalikan dengannya. Agar semua orang tau kalau aku bukan dia, dan aku tidak akan menjadi dirinya.
BRUK! GRUSAKK!
Aku menoleh ke samping dan segera siaga, begitu juga dengan Sky yang tampak waspada karena bunyi keras yang tiba-tiba muncul.
"Apa itu?!" tanya Sky panik.
"Aku tidak tau! Tapi kita harus bersiap untuk uang terburuk," jawabku pelan. Mataku menatap waspada pada kepulan asap yang berterbangan dari dalam gang. Aku terus mengamatinya, hingga perlahan muncul bayangan seseorang yang berjalan mendekat.
Siapa?!
Aku mengeluarkan pisau, siap menyerang siapapun yang keluar nanti. Bayangannya semakin mendekat, hanya tinggal setengah meter lagi maka dia akan keluar dari kepulan asap.
Aku mengeratkan genggamanku pada pisau, memperhatikan setiap gerakannya yang berjalan ke arah kami tanpa ragu.
"A ... HATCHI!"
"...?" Aku dan Sky terdiam. Kami menatap sesosok remaja perempuan dengan baju yang dipenuhi abu dan debu.
"Eh? Kalian siapa?" tanyanya pada kami.
"Lah? Kau siapa?" tanyaku balik.
"Kan aku duluan yang tanya!"
"Aku ga mau jawab!"
Gadis itu punya rambut coklat gelap yang agak sedikit merah. Begitu juga dengan warna matanya. Seperti kayu yang sedang dibakar oleh api.
"Tck! Ah sial~ aku tidak menyangka mereka punya bazoka! Untung saja aku berhasil menghindar sebelum pelurunya meledak!" ujarnya kesal sambil membersihkan bajunya dengan kibasan tangan.
Bazoka?
"Andai saja aku punya senjata yang lebih bagus daripada sekedar pistol! Ah tidak, meskipun tanpa senjata akan kuhajar mereka!" Dia tiba-tiba marah sendiri lalu menghentak-hentakkan tanah dengan kakinya.
Seperti bocah tantrum.
"A-anu ... a-aku punya jarum ... apa kau mau?" tanya Sky yang mengintip dari belakang punggungku. Perhatian gadis itu tertuju pada Sky, dia terlihat berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepala.
"Tidak ... aku akan tetap menang. Ngomong-ngomong, ini memang pertama kalinya kita berbicara, salam kenal, Seas Veldaveol."
Apa?! Dia mengenalku?!
"Tunggu! Darimana kau tau namaku?!" Dia langsung melompat ke atas rumah dan berlari pergi.
"Lain kali saja ceritanya~ aku sedang sibuk! Kita akan segera bertemu lagi!" ucapnya yang kemudian menghilang seolah ditelan kegelapan.
"K-kau kenal dia?" tanya Sky.
Aku menggeleng. Tidak, aku juga tidak mengenalnya. Siapa gadis itu? Postur tubuhnya terlihat cukup kekar dan berisi, rambut coklat yang agak merah dan suara yang begitu percaya diri. Apa aku pernah bertemu dengan orang semacam itu di sini?
Aku menoleh ke belakang karena Sky menarik-narik lengan bajuku.
"A-ayo segera pulang Seas. Aku ta-takut nanti ada orang aneh lagi," ucapnya.
"... Kau benar, ayo segera pulang."
Begitulah, hari itu aku dan Sky segera pulang setelah mewarnai rambutku dan bertemu gadis aneh. Kupikir saat dia mengatakan akan bertemu lagi denganku, itu mungkin akan cukup lama. Tapi ternyata ...
.
.
.
.
.
"Halo! Kami siswa dari jurusan pertarungan jarak jauh! Salam kenal!"
Gadis itu muncul lagi dengan 2 orang temannya di depan asrama kami.
"Kau? Gadis yang kemarin?!" gumamku shock. Dia malah tersenyum lebar.
"Namaku Valeria! Valeria Regan! Salam kenal semuanya!" ujarnya yang sangat bersemangat.
"Oh iya! Seas! Mulai sekarang kita satu tim!" Dia langsung mendekat ke arahku dan berjabatan tangan denganku. Aku masih shock, ini masih sangat pagi dan sudah terlalu banyak informasi yang datang tiba-tiba.
"Oh iya! Katanya besok akan ada ujian kelulusan misi! Ujiannya akan dilakukan bersama tim!" ucap Valeria sambil menunjukkan pesan di ponselnya. Tak perlu menunggu lama, pesan yang sama langsung muncul di ponsel kami semua.
"... Hah? Ujian? Ujian misi?" gumamku kebingungan.
APA LAGI?! UJIAN LAGI? UJIAN UJIAN UJIAN TERUSS!?
"Ujian misi itu ujian yang harus kau lalui kalau mau melaksanakan misi. Ini wajib untuk semua murid baru," jelas Sky dari samping, menjelaskan sambil berbisik padaku.
"Ah ... begitu! Tunggu, kenapa kau bisa tau?"
Sky terdiam. "Aku sudah lama di sini ... itu tidak penting. Ja-jadi ... a-ayo berusaha untuk be-sok!" ucap Sky yang tiba-tiba jadi gugup lagi.
"Ba ... baiklah ... "
Aku mohon, tolong ujiannya jangan terlalu gila lagi.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
kang Deden
keroyokan nih wkwkwkwk
2022-10-18
1
kang Deden
lanjut
2022-10-17
0
«Brooke X»
GO GO GO TIM WKWKKW
2022-03-21
3