POV: Venom
Pukul 7 malam di Underworld School.
.
.
.
.
.
"Jadi maksudmu, misiku kali ini adalah mengejar ... Arma Veldaveol? Rein?" tanyaku pada wanita dengan kacamata bulat di depanku. Namanya Rein, wanita yang mengurus segala administrasi dari Underworld School.
"Hmm benar. Dia sudah menyebabkan banyak masalah. Dan ... sebenarnya aku khawatir ... " ujarnya yang membuatku melirik padanya.
"Kenapa?"
"Aku dengar dia berniat untuk membunuh semua keluarganya sekarang. Kalau bisa, tolong jangan biarkan ia membunuh keluarganya. Dia punya satu adik laki-laki yang kudengar ... adiknya itu sangat mengaguminya."
Oh, itu bukan urusanku. Kenapa aku harus peduli pada anak kecil itu?
"Dia seumuran denganmu, jadi aku yakin kalian pasti akan akrab," ucapnya yang tidak masuk akal.
Yah, apapun itu, aku hanya akan berusaha menyelamatkan mereka saja ... dan kalau bisa ... aku akan membunuh Arma.
Meskipun aku tidak yakin apakah aku mampu.
.
.
.
.
.
Setelah berkendara 5 jam lamanya, akhirnya aku sampai di kediaman Veldaveol. Seperti biasa, rumah ini selalu megah dan bersinar.
Tapi ...
Bau darah.
Apa aku terlambat?
Aku melompat masuk melalui salah satu jendela yang terbuka. Dengan langkah tanpa suara, aku berjalan menyusuri lorong gelap dan bau anyir ini. Semakin ke sini, semakin banyak mayat dengan seragam pelayan yang berserakan. Aku berhenti ketika melihat sebuah pintu yang hancur lebur.
Aku masuk ke dalam, melihat kolam darah yang membasahi lantai, dan ...
Jenazah kedua orangtua Veldaveol.
Aku sudah terlambat, ya?
Aku berjalan masuk, memeriksa identitas yang bisa aku pastikan memang mereka berdua sudah terbunuh. Aku segera mengeluarkan ponselku untuk menghubungi Rein dan meminta bantuan dalam menguburkan mereka semua.
Bagus, sekarang aku tinggal kembali ke Underworld School.
"..."
Tunggu dulu ...
Adik laki-laki ... ?
Aku tidak melihat jenazah adik laki-laki Arma.
"... Apa dia masih hidup?"
Aku segera berlari keluar, langit sudah mendung, kalau tidak cepat-cepat, jejak anak itu akan hilang tersapu air hujan. Aku terus berlari mengikuti bau darah yang bisa aku cium. Hingga akhirnya aku menemukannya ...
Tes tes ...
BRESSSS!
Hujan deras ... setidaknya aku sudah berhasil menemukannya. Lalu ... apa yang harus aku katakan? Maaf aku telat? Selamat karena jadi yatim piatu?
"..."
Aku sungguh buruk dalam menghibur orang.
"Hei-"
Ah ... mata ungunya ... sama dengan milik Arma. Dan lagi ... matanya penuh dengan dendam dan amarah. Dia sangat indah.
Tapi ... rasanya dia sedikit putus asa.
Kalau begitu ...
Aku berjalan mendekatinya, berjalan dengan tenang lalu berdiri di depannya.
"Apa kau benar adik Arma Veldaveol?"
Dia mendongak, tapi pandangan matanya sudah sangat buram. Bahunya sudah koyak, apa Arma yang menyerangnya? Selain itu ... aku melirik ke bawah, melihat jari-jarinya yang terluka berdarah-darah.
"..." Sepertinya aku tidak perlu memastikannya lagi.
Anak ini ... dari wajah, rambut, dan juga mata. Semuanya sangat mirip dengan Arma. Tapi mungkin ... dia ... punya bakat yang lebih besar daripada kakaknya.
Aku berjongkok ke depan supaya dia bisa mendengarku lebih jelas.
"Apa kau mau balas dendam?" tanyaku.
Aku juga bingung, kenapa aku sangat perhatian pada anak yang bahkan tidak aku kenal? Ini aneh, aku tidak seperti diriku. Tapi mungkin ... aku suka dengan iblis di dalam hatinya.
Anak itu meraih kerah bajuku dengan kasar. Sorot matanya tiba-tiba kembali terang, gigi taringnya terlihat seperti harimau yang menggeram.
"Ya! Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"
Ya ... itu yang ingin aku dengar.
Setelah mengatakan itu, ia pingsan. Yah, wajar saja, dia kehilangan banyak darah dan hormon adrenalinnya pasti sudah berkurang sekarang.
Sebaiknya aku mengobatinya lebih dulu sebelum membawanya ke Underworld School.
###
POV: Seas
Gelap ... tapi ... rasanya nyaman ... aku seperti melayang ...
GLUDAK!
BRUK!
JDUG!
"..." Aku langsung membuka mata.
"A-a ... aduh ..." Aku berusaha berdiri. Mataku mengamati keadaan sekitar ... sepertinya ini di dalam mobil. Tunggu ... jadi aku barusan ... jatuh dari tempat duduk?
Aku melihat ke depan, menatap seorang gadis dengan rambut hijau muda keemasan yang menyetir.
"... Kau jatuh ya?" tanyanya yang jelas jawabannya iya.
"Maaf, aku baru belajar menyetir. Tadi hampir saja jatuh ke jurang."
"??????!!!"
HAH?!
Aku langsung duduk di lagi di kursi, memasang sabuk pengaman. Mataku melihat ke sisi kiri.
"..."
Beneran jurang. I-ini yakin gapapa? Dia baru belajar nyetir k-kan?
"Gapapa, tenang aja. Nanti kalau jatuh juga kita tetep bakal selamat."
GIMANA CARANYA TETEP SELAMAT?!!
"Ah iya! Ngomong-ngomong namamu ... siapa ... ya?" Aku baru ingat aku belum menanyakan namanya. Gadis itu diam, dia melirikku dari spion tengah mobil.
"... Panggil saja aku Venom."
Venom? ... Nama yang unik ... tunggu, memangnya itu nama? Tapi kalau dia memang tidak mau memberitahu nama aslinya ya ... sudahlah.
Oh iya, ini kita mau kemana? Aku belum pernah lewat sini ... memangnya jalan ini ada di maps? Aku bahkan baru tau ada jalan seperti ini di dekat jurang ...
"Kita ... mau kemana?" tanyaku lagi.
"Kau mau balas dendam, kan?"
Aku mengangguk singkat.
..."Underworld School."...
"Underworld ... School? Apa itu?" tanyaku bingung. Sekolah? Sekolah apa? Sekolah di bawah tanah? Aku baru pertama kali mendengar nama sekolah itu.
"Itu sekolah untuk para pembunuh."
"Ohh," jawabku.
"..." Aku terdiam sejenak.
Lah?
Sekolah untuk pembunuh ... ?
AKU TIDAK SALAH DENGAR, KAN??!!
"T-tunggu? ... Sekolah ... untuk pembunuh?!" tanyaku bingung.
FYUSH!
Cahaya matahari tiba-tiba menghilang, hawa dingin dan bau udara yang tidak nyaman perlahan menyeruak masuk. Aku mengintip keluar jendela, menatap langit gelap dengan awan abu abu-abu gelap yang menghiasinya.
Tunggu, sekarang jam berapa? Tadi ada matahari, kan?
Aku mengambil ponselku, menatap jam digital yang terpampang di layar.
9 pagi ... aku pingsan berapa lama memangnya? Tunggu, tidak, bukan itu yang penting! Di sini ... kenapa malam?!
Ckit.
Mobil yang kami kendarai berhenti, Venom pergi keluar dan aku hendak mengikutinya.
"Tunggu." Pintu mobilnya ditahan oleh Venom.
"Kenapa?"
"... Lebih baik kau di dalam saja. Tunggu sampai aku memanggilmu lagi." Begitulah ucapnya lalu dia meninggalkanku di mobil sendirian. Aku menurut, jadi yang kulakukan sekarang hanya duduk diam dan menunggu.
Mataku melihat kesana kemari, menatap pemandangan yang hitam dan sepi. Memang ada beberapa orang yang lewat, dan kebanyakan dari mereka terlihat ... unik? Tato, bekas luka, bekas jahitan, atau beberapa atribut aneh lagi yang mereka pakai.
Mereka semua ... adalah pembunuh, kan?
BRAK!
DEGG!
Aku menoleh ke samping, menatap sebuah tangan yang memukul kaca mobil ini. Di tangannya terlilit perban yang terlihat kotor dan kacau.
Dia siapa?!
Aku menatap sorot matanya dari dalam mobil. Sorot mata yang penuh amarah dan kebencian?
BRAK!
Mobil ini berguncang, memangnya seberapa kuat tenaganya?!
"ARMAAA! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!"
Hah?! Kenapa dia menyebut nama kakak?!
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
Brooww_Nisss
yg bener aja lu venom?
masa mo ngomong kek gitu
kaku banget wkwk
2024-07-18
0
RIARDA UNIVERSE
Dasar rex
2022-07-23
1
Disa disa
Dih, ku tandain kamu Rex
2022-05-31
0