..."Berikan dia padaku."...
POV: Alio
Aku menoleh ke arah Venom. Dia berjalan ke arahku dan Seas, dia mendekatkan wajahnya ke Seas, mengamati segala gerak-gerik Seas.
"Aku tau rasanya pasti sangat sakit. Ini karena kau tidak melatih tubuhmu dan asal menggunakannya," ucap Venom sambil menggelengkan kepalanya. Venom mengeluarkan sebuah cairan warna hijau di sakunya.
"Tolong bantu aku membuka mulutnya," ucap Venom padaku, aku mengangguk lalu menyentuh bibir Seas. Saat aku berusaha membukanya, aku baru tau maksud Ned. Ini benar-benar seperti menggerakkan batu.
"Rilekskan dirimu Seas." Venom mengusap dahi Seas yang penuh dengan keringat. Aku masih berusaha membuka mulut Seas dengan jariku, hingga akhirnya terbuka sedikit.
"Bagus, cobalah untuk menelan ramuan ini. Kau akan merasa lebih rileks." Venom menuangkan ramuan itu ke mulut Seas. Seas terlihat sangat kesusahan untuk menelannya.
Venom menghela nafas lalu memukul dada Seas cukup keras.
Dug! KRAK!
"HAH?! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Aku berteriak pada Venom. Apa-apaan suara KRAK itu?!
"Aku mematahkan tulang rusuknya. Paru-parunya mengeras seperti batu, tentu saja dia kesakitan. Aku sengaja mematahkan tulang rusuknya agar pecahan tulang itu sedikit melukai paru-paru Seas," ucap Venom dengan tenang.
"Saat dia merasakan rasa sakit lain di paru-parunya, maka dia akan merasa lebih rileks pada ototnya," jelas Venom. Aku membuang nafas dengan lega, memang Seas terlihat lebih rileks saat ini. Tapi matanya masih terlihat kosong.
"Pelajaran hari ini selesai, kalian semua lulus!" ucap C. Aku ternganga dibuatnya, bagaimana mungkin kami lulus?
"Tunggu! Bukankah kami gagal mengalahkanmu?" tanya Ned, aku melihat C membalikkan badannya dan menatap Ned.
"Andai saja Seas tidak mengalami keram di seluruh tubuhnya. Aku yakin paru-paruku sudah berlubang," jelas C, kami semua memang melihatnya, andai saja Seas tidak sakit seperti ini. Bisa dipastikan itu adalah kemenangan telak bagi kami.
"Aku ... ingin mengajukan tanding ulang!"
Aku terkejut karena Seas tiba-tiba berbicara. Dia berusaha untuk duduk, aku membantu dengan mendorong bahunya.
"Boleh saja, setelah kau sembuh! Kalian bisa pulang sekarang!" C berjalan pergi meninggalkan kami.
"Ayo kita kembali." Ned menepuk pundakku. Aku mengangguk, sejujurnya aku masih khawatir dengan keadaan Seas. Tapi sepertinya Venom bisa merawatnya dengan baik.
"Seas, kami pergi dulu. Semoga kau cepat sembuh," ucapku pada Seas, dia membalasnya dengan senyuman.
***
POV: Seas
Aku masih termenung di asrama. Sky, Valeria, dan Venom masih mengawasiku dengan ketat.
"Apakah ... kalian benar-benar harus mengawasiku seperti ini?" tanyaku sambil menikmati segelas susu yang dibuat oleh Sky.
"Harus," jawab Sky dan Valeria bersamaan.
"Kita tidak tau kapan keramnya akan kambuh, jadi lebih baik kita selalu mengawasimu," jelas Venom, yah ... memang benar sih. Tapi aku merasa selama aku tidak menggunakan teknik itu, maka aku tidak akan merasa keram lagi.
"Um ... bagaimana kalau begini saja, kau berikan padaku obat untuk membuat rileks itu. Aku yakin akan baik-baik saja hanya dengan itu!" usulku pada Venom. Dia tampak berpikir sebentar.
"Apa kau ... akan menggunakan teknik itu lagi?" tanya Venom dengan tatapan dingin padaku. Aku menelan ludahku gugup.
"Aku sudah menemukan cara menjadi kuat, mana mungkin aku tidak menggunakannya," jawabku dengan jujur. Venom terlihat marah karena jawabanku. Begitu juga Sky dan Valeria.
"Seperti yang kau bilang. Tubuhku masih belum sanggup menerima efek sampingnya. Jadi ... tidak ada cara selain terbiasa dengan rasa sakitnya kan?" tanyaku pada Venom.
Venom mengusap kepalanya frustasi, aku malah tertegun karena ini pertama kalinya aku melihat Venom melakukan hal ini.
Kalau kulihat-lihat. Wajah marahnya cantik juga.
"Aku tau kau pasti berpikir Venom sangat cantik sekarang," bisik Sky padaku. Aku merasakan wajahku panas seketika. Sial! Bagaimana dia bisa tau?!
"Ini obatnya, jika habis mintalah lagi kepadaku." Venom memberikan obatnya padaku.
"Kurasa Sky bisa membuat ini jika dia memiliki contoh ramuannya, aku tidak ingin merepotkanmu lagi!" ucapku sambil tersenyum. Tapi Venom justru memandangku dengan tatapan dingin. Aku salah apa lagi?
"Terserah." Venom keluar dengan membanting pintu. Aku bersyukur pintu asrama ini terbuat dari kayu berkualitas tinggi.
"Dasar! Para cowok selalu saja tidak peka!" Valeria mengikuti Venom keluar dan menutup pintu dengan kasar.
"Yang sabar ya pintu," ucapku dan Sky bersamaan.
***
Hari ini adalah hari pertandingan ulang. Aku sudah mempersiapkan diriku kali ini!
"Ayo masuk!" Aku menoleh, ternyata Alio datang bersama dengan Ned. Mereka mendorong bahuku untuk masuk bersama dengan mereka.
Aku melihat Erea dan yang lainnya sudah berada di pinggir ruangan. Mereka terlihat bersemangat untuk melihat pertandingan hari ini.
"OHO! BAIKLAH! KITA MULAI SAJA LANGSUNG!" ucap C yang turun dari plafon. Benar-benar diluar akal sehat, seperti biasa.
"Aku akan jadi inti serangan seperti kemarin-" ucapanku terpotong karena Alio menutup mulutku.
"Kami yang akan jadi inti serangan kali ini, kau bantu kami," ucap Ned sambil melakukan pemanasan. Aku menatap mereka dengan bingung.
"Hei itu tidak adil! Aku yang menunggu untuk hari ini!" protesku. Sementara mereka pura-pura tidak mendengarku!
"Kami siap!" ucap Alio. C sudah mengaktifkan tekanan angin yang kuat seperti sebelumnya.
Apakah mereka bisa menembusnya? Kemarin saja mereka langsung terpental begitu angin ini diaktifkan!
"Aku tidak paham cara pikir kalian," ucapku pasrah. Ned dan Alio hanya tertawa kecil.
"Ayo mulai Ned!" Alio maju menerobos tekanan angin itu. Dia membuat cambuknya berputar di depannya! Dia mengurangi tekanan angin dengan cara seperti itu ya!
Aku mengeluarkan daggerku, bersiaga untuk menyerang kapanpun mereka siap. Aku melihat ke arah Ned, dia mempersiapkan sesuatu.
"Aku tau sangkar burung tidak mempan untukmu. Jadi aku menyiapkan hal lainnya! Jalan udara!" ucap Ned, setelah itu jaring-jaringnya terangkat dan membuat ruangan ini seperti penuh dengan jaring.
Ternyata ini untuk membantu Alio mencapai C! Hah? Tapi tunggu! Ned membiarkan jaringnya dan tidak mempertahankan bentuknya?!
"Lalu sekarang, perangkap laba-laba!"
Jaring-jaring itu runtuh dan langsung mengarah pada C. Alio turun dari jaring dan berputar di udara.
"Serangan kombinasi, cambuk laba-laba!" Alio berputar dengan cepat dan mengayunkan cambuknya, karena kecepatan berputarnya, bahkan rekanan angin pun tak mampu menghalangi cambuk Alio.
"Apakah mereka sudah merencanakan ini?! Keren sekali!" ucapku kagum. Aku juga ingin punya serangan kombinasi seperti ini!
"Lumayan~" C tersenyum sambil menikmati pemandangan di depannya.
"Apa namanya? Oh iya. Bom angin," ucap C sambil tersenyum licik. Sesaat kemudian C meledak ... tidak! Angin di sekitar C meledak! Itu membuat Jaring Ned dan Alio terpental!
Aku berlari dan melompat untuk menangkap Alio.
"Ugh, terimakasih," ucap Alio. Aku mengangguk lalu menurunkannya.
..."Ayo lanjutkan! Ini jadi semakin menarik!"...
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 208 Episodes
Comments
«Brooke X»
Dug! Krak!
Baris ke 2
(aku sengaja mematahkan tulang rusuknya agar pecahan.....)
2022-03-21
4
Pecintagepeng01
plis, matahin tulang kayak matahin ranting😭😭😭
2022-03-18
1