Kami sampai di sebuah tempat makan yang tidak begitu kutahu nama tempatnya. Kami duduk berseberangan di dekat jendela yang menghadap langsung ke jalan. Tempat ini agak sepi karena sudah lewat jam makan siang.
“Pesanlah makanan. Kau harus makan sebelum aku mengatakan sesuatu!” cowok itu mengambil dan membaca daftar menu makanan.
“Aku tidak lapar. Kau saja yang makan!”ujarku enggan.
“Aku tidak ingin kau pingsan. Lihat dirimu! Kau pucat seperti mayat hidup. Aku tidak bisa menolongmu jika kau mati di sini. Karena aku sendiri juga sekarat!”
Aku melihat tangan kanannya yang masih diperban dan di topang dengan kain.
Lagi-lagi rasa bersalah itu muncul. Dia pasti kesulitan karena hal ini.
“Kau pesan apa?” tanyanya lagi sambil menaruh daftar menu makanan.
“Apapun yang kau pesan!”jawabku malas.
Cowok itu mengangkat satu tangannya untuk memanggil pramusaji dan memesan beberapa makanan serta minuman buat kami berdua.
“Maaf!” ucapku tiba-tiba. “Lukamu pasti bertambah parah karena kecerobohanku ... maafkan aku!" inilah kata-kata yang ingin aku ucapkan saat bertemu dengannya dan akhirnya bisa kesampaian.
Aku menunduk menyembunyikan air mata yang mulai memenuhi mataku. “Waktu itu aku tidak tahu kalau salep itu adalah lem ... aku benar-benar tidak tahu. Aku berusaha mengejarmu saat itu. Tapi kau sudah jauh. Aku juga mencarimu di Vila Cahaya, tapi kau juga tidak ada di sana. Aku tidak tahu bagaimana cara menghubungimu ....”
“Usaha yang bagus!" cowok itu memotong kalimatku yang belum selesai. "Tapi aku tidak bisa bertepuk tangan karena tanganku sedang terluka ... sangat parah, berkat kau!” sindiran yang tajam, tapi aku berusaha tenang. Jangan sampai terbawa emosi yang bisa memperkeruh suasana.
“Aku akan terima jika kau mau memarahiku, kau juga boleh memukulku jika itu yang kau mau. Aku tidak akan membalas, karena semua memang salahku.”
“Berhenti merasa bersalah dan makanlah dulu. Baru kita bicara!”
Kami saling diam sambil menunggu pesanan kami datang. Aku masih belum bisa menebak apa yang akan dia lakukan padaku. Mungkin saja dia akan balas dendam padaku di sini.
Tapi, melihat apa yang dia lakukan padaku sekarang, ini tidak bisa dibilang balas dendam, ini terlebih seperti intimidasi. Ia tidak memberikan respon seperti dugaanku. Cowok itu justru malah terkesan seperti tidak terjadi apa-apa. Ia juga tidak membahas kaca mobilnya yang kupecahkan. Menurutku ini sangat aneh, dan itu membuatku harus terus waspada. Mungkin saja dia merencanakan sesuatu yang akan membunuhku seketika.
Aku mulai parno sendiri. Aku melihat sekeliling dan memerhatikan orang yang mencurigakan. Mungkin saja di sini ada anak buahnya yang bersiap menyerangku jika aku lengah. Meskipun sebenarnya, itu hanya perasaanku saja.
Saat makanan kami tiba, akupun ragu untuk menyantapnya. Aku hanya hati-hati, dan mencoba bersiap dengan segala kemungkinan yang ada.
“Suapi aku!”pintanya tiba-tiba dan itu membuatku terkejut. Ia langsung paham dengan raut mukaku. “Aku tidak bisa makan menggunakan tangan kiri. Tangan kananku terluka!” ia menjelaskan.
Aku mengerti dan mulai melakukan apa yang dia inginkan. Dengan hati-hati aku menyuapinya, takut membuat kesalahan yang bisa membuatnya marah. Aku mengelap mulutnya setiap kali ia belepotan. Kami terus saling menatap. Tanpa suara ... sampai makanannya habis. Dari kejauhan samar-samar aku dengar orang-orang mulai membicarakan kami.
“Mereka romantis sekali! Aku jadi iri,”ujar seseorang yang ada dibelakangku.
“Mereka pasangan yang serasi,”sahut yang lainnya.
“Beruntung sekali cewek itu,”tambah wanita yang ada di samping meja kami.
“Mereka benar-benar membuatku iri,”yang lainnya juga ikutan berkomentar.
“Siapa mereka?”tanya seseorang yang tidak aku kenal.
Semua orang yang ada di sini membicarakan kami. Aku jadi ingin pergi dari tempat ini karena tidak tahan mendengar semua komentar mereka.
“Kau tidak mau makan?” tanyanya. Ia mengambil segelas air dengan tangan kirinya. Sepertinya cowok ini sangat menikmati suasananya.
“Sudah ku bilang, aku tidak lapar.”
“Kenapa? Kau takut makanan itu beracun?”
Aku diam. Apa yang dia katakan memang benar. Aku takut makanan itu diracuni.
“Ayolah ... tidakkah kau lihat? Aku bersikap baik padamu? Kau pikir aku akan melakukan hal buruk padamu?”
“Dengan semua apa yang terjadi saat ini, bukankah wajar jika aku berhati-hati?”
Cowok itu tertawa. “Kau lucu sekali? Kau baru saja menyuapiku. Kita lihat apakah aku akan mati setelah ini.”
Aku terus menatapnya. Ia juga menatapku.
“Habiskan dulu makananmu! Aku janji tidak akan menyakitimu.”
Aku ingin percaya pada ucapannya. Meski hatiku menolak memercayainya. Mungkin rasa bersalah yang melandaku selama seminggu ini membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih. Hanya hal-hal buruk saja yang kupikirkan.
Perlahan aku menyantap hidanganku dan berusaha menikmatinya. Aku mulai tenang dan nyaman saat makan. Rasa lapar mungkin memengaruhi pikiranku sehingga aku terlalu berlebihan mencurigai orang yang terluka karena aku.
Entah kenapa makanan ini terasa sangat enak. Bahkan aku baru ingat akhir-akhir ini aku jarang sekali makan, karena terlalu merasa bersalah padanya.
Meskipun begitu, aku tetap merasa tidak tenang, karena ia terus menatapku. Aku tidak tahu apakah itu tatapan kebencian atau bukan. Yang jelas tatapannya membuatku kembali tidak nyaman.
Ku akui, wajahnya memang tampan. Wajar saja kalau siswi-siswi tadi heboh begitu melihatku bersama dengan cowok ini. Termasuk orang-orang yang ada di restoran ini. Dimanapun cowok ini berada, pasti akan menjadi pusat perhatian karena ketampanannya. Siapapun yang bersamanya juga pasti ketiban sial karena dihujat para penggemarnya. Itulah yang terjadi padaku saat ini.
“Jangan menatapku seperti itu? Kau membuatku takut?”
Cowok itu tersenyum sinis. "Kau takut dengan wajah tampanku? Harusnya kau terpesona padaku!”
“Jangan bercanda?”
“Baiklah kita tidak perlu basa-basi lagi. Aku datang untuk meminta pertanggungjawaban darimu! Seperti yang kau lihat, lukaku ini sangat parah, dan aku dalam keadaan yang tidak baik.”
“Tapi ... kau terlihat baik-baik saja?”
“Aku tidak baik-baik saja! Untuk menemukanmu, aku harus melewati banyak hal!”
“Aku sudah memberimu nomer teleponku!”
“Kau pikir aku Enstein? Langsung hafal hanya dalam sekali ucap?”
Dia benar, aku menyandarkan punggungku di kursi. Saat itu situasinya begitu aneh, sekilas aku teringat peristiwa waktu itu. Bahkan aku tidak bisa melupakannya.
“Baiklah! Apa yang kau inginkan dariku?”tanyaku ingin tahu.
“Aku sangat menyukaimu!”jawabnya dan itu langsung membuatku terkejut.
“Apa?” seruku tak percaya.
“Maksudku, kau adalah cewek yang suka berterus terang, dan aku suka cewek yang seperti itu. To the poin tanpa basa-basi!”
“Apa yang kau inginkan?”tanyaku sedikit lega.
“Tanganmu!”
“Tanganku? Kau ingin tanganku? Kau mau memotongnya?” aku mulai panik. Pikiranku jadi semakin kacau.
“Kau tidak waras? Untuk apa aku memotong tanganmu?” Ia memegang tanganku tapi aku langsung menepisnya.“Tenangkan dirimu dulu. Aku tidak sejahat itu. Berhentilah berpikir negatif tentangku!”
Aku menghela napas dan memejamkan mataku. Meski aku berusaha tenang, namun rasa ketakutanku membuatku tidak bisa berpikir positif lagi. Sejauh ini, dia tidak melakukan hal buruk padaku. Bahkan ia terlalu baik pada orang yang telah mencelakainya. Kuakui, sikapku memang terlalu berlebihan padanya.
“Baiklah, maafkan aku. Aku terlalu stres memikirkan ini. Aku terlalu bersalah padamu. Bahkan selama seminggu ini aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan keadaanmu. Aku bahkan tidak bisa menghubungimu untuk mencari tahu apakah kau baik-baik saja. Selama hidupku aku tidak pernah melukai orang lain. Ini pertama kalinya orang lain terluka karena aku. Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku!”aku mulai berterus terang padanya tentang apa yang kurasakan.
“Aku tahu. Kau baru saja mengatakannya!”
“Aku sedang tidak bercanda!”
“Aku juga tidak. Karena itu kita kemari untuk berbicara. Kau pikir hanya kau saja yang kesulitan? Aku lebih sengsara darimu. Aku bahkan tidak bisa melakukan aktivitasku dengan normal karena tangan ini. Harusnya kau tanyakan keadaanku begitu kita bertemu. Kau malah berpikiran negatif tentangku. Tidakkah kau merasa kau sangat kejam?”
“Maafkan aku ... aku tidak bermaksud seperti itu ....”
“Saat itu tanganku terluka cukup dalam. Salep yang kau berikan memperparah lukanya ....” aku terkejut dan menatapnya dengan pandangan bersalah, bahkan mataku mulai berkaca-kaca saat ia berbicara. “Waktu di rumah sakit, yang mengobatiku tidak bisa membuka kain yang melekat di lenganku. Jika itu dipaksa maka lukaku akan semakin parah. Jadi, aku pergi ke rumah sakit yang lebih besar di kota Surabaya. Kain yang kau balutkan ke lukaku menyatu dengan syarafku. Untuk melepaskannya dibutuhkan operasi yang tidak mudah.”
“Apa? Operasi? Kau? Dioperasi? Separah itukah? Kau tidak bohong?”tanyaku kaget
“Apa aku kelihatan berbohong? Kau mau merasakan apa yang tanganku rasakan saat ini? Aku bisa melakukan hal yang sama padamu jika itu yang kau inginkan supaya kau tahu bagaimana rasanya!”
“Maafkan aku!”
“Aku tidak bisa menjelaskan dengan detail istilah medisnya, tapi begitulah kenyatannya!”
“Apa operasinya berjalan lancar?”
“Ini kasus pertama kali bagi dokter yang menanganiku. Dia sendiri juga bingung. Bagaimana bisa luka sobek yang begitu dalam diobati dengan lem perekat kertas yang kandungan senyawanya mungkin berbahaya bagi kulit manusia hidup sepertiku. Jadi, hasil operasinya baru bisa diketahui setelah perban ini dibuka. Sebelum perban ini dibuka, tanganku harus terus seperti ini. Kau tahu itu apa artinya, kan?”
Aku memalingkan wajah supaya air mataku tidak tumpah. “Aku mengerti. Semua ini salahku. Maafkan aku ....”
“Berhentilah minta maaf dan penuhi tanggungjawabmu! Baru aku akan memutuskan apakah kau pantas dimaafkan atau tidak!”
“Apa yang harus kulakukan?”
“Jadilah tanganku! Seperti yang kau lakukan tadi. Saat makan kau harus menyuapiku, menyiapkan semua kebutuhanku yang kubutuhkan, saat akan berangkat sekolah kau harus menyiapkan baju, sepatu, buku-buku dan menyuapiku saat sarapan, makan siang dan makan malam. Begitu juga dengan tugas-tugas sekolah, sementara ini kau yang mengerjakan ....”
“Tunggu ... tunggu! Apa aku tidak salah dengar? Kenapa harus aku yang mengerjakan tugas-tugas sekolahmu?”
“Itu karena tanganku tidak bisa mengerjakan tugas?”
“Itu di luar tanggung jawabku!”sanggahku. Entah kenapa aku merasa kalau aku sedang dimanfaatkan.
“Itu salahmu! Karena kau, aku jadi tidak bisa menulis!”
“Tapi otakmu masih bisa berpikir. Aku hanya akan menulis tapi kau sendiri yang berpikir.”
Cowok itu mendengus kesal. Tapi yang aku katakan memang benar.
“Mengenai kebutuhanmu ... ” lanjutku. “Tidakkah itu berlebihan? Menyuapimu sarapan, makan siang dan makan malam ... menyiapkan kebutuhanmu yang lainnya ... itu artinya aku harus bersamamu setiap saat?”
“Ehmmmm ... iyaaaa ... mungkin, kurang lebih seperti itu.”
“Kau sudah gila? Bagaimana bisa bersamamu setiap saat sementara kita tinggal terpisah?”
“Kalau begitu kita akan tinggal bersama.”
“Kau sadar apa yang kau katakan? Kau benar-benar sudah gila? Kau pikir ini dimana, ha? Bagaimana kau bisa berpikir kita tinggal serumah sementara kita tidak ada hubungan apa-apa!”
“Kalau begitu kita buat hubungan itu!”
“Apa? Tidak! Aku tidak mau! Kau benar-benar sudah tidak waras. Sebaiknya aku pergi sebelum aku jadi gila sepertimu!” Aku mulai beranjak dari kursiku dan bersiap pergi.
“Kau mau ke mana? Aku hanya bercanda.”
“Kau pikir ini lelucon?”
“Aku baru di sini. Aku tidak tahu apa-apa tentang tempat ini. Dan aku sendirian. Susah payah aku mencarimu supaya kau bisa mengurusku. Hanya sampai tangan ini sembuh. Karena bagaimanapun, aku jadi seperti ini karenamu. Aku tidak ingin merepotkan orang lain. Karena itulah aku di sini. Aku senang akhirnya bisa menemukanmu. Aku harap kau bisa memenuhi janjimu. Kau bilang kau akan bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan karena kau bukan pengecut sepertiku!”
Aku duduk kembali di kursi, setelah sempat berdiri karena emosi. Kata-katanya terdengar pedas juga ditelinga.
Dia benar, dan semua ini kesalahanku. Meski awalnya niatku baik. Tapi ujungnya berakhir petaka baginya.
“Kapan perban itu dilepas?” tanyaku lirih.
“Satu bulan lagi.”
“Dan apa yang terjadi setelah satu bulan?”
“Jika operasinya berhasil ... berarti lukanya sembuh, dan tidak ada masalah. Tapi jika gagal ... maka harus dioperasi lagi. Jika gagal lagi ... maka tanganku harus diamputasi.”
Aku terkejut mendengarnya. Aku tidak percaya bahwa kebaikanku menjadi musibah bagi orang lain.
Kata 'amputasi' , membayangkannya saja aku sudah ngeri. Bagaimana kalau sampai itu benar terjadi?
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
HNF G
boong tuh.... mana ada sampai diamputasi😂😂😂😂😂😂😂
polos banget kamu Fey🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2024-07-10
0
HNF G
😱😱😱😱😱
2024-07-10
0
Mara
Kok Yo kaya modus yaa😂😂😂
2023-04-03
0