Matahari sudah terbenam, aku bersiap untuk bertemu dengan Refald. Saat merapikan rambutku, aku teringat kejadian siang tadi. Saat kami membuat kesepakatan.
“Ada yang ingin kutanyakan padamu!” ucapku dengan agak sedikit ragu.
“Katakan!”ujarnya masih terus menatapku tajam.
“Kenapa kau tidak menuntutku? Kau bisa saja melaporkanku atas kecerobohanku. Bukankah kau tidak perlu repot-repot mencariku sendiri? Polisi bisa mencariku untukmu!”
Refald tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia mendekatkan wajahnya didepanku. Refleks aku langsung mundur menghindarinya.
“Pertanyaanmu sama seperti pertanyaanku waktu itu. Saat kau menyelamatkanku. Padahal kita sedang dalam kondisi yang tidak baik. Kita sedang bertengkar saat itu, dan kau mau saja menyelamatkanku. Kau bilang hatimu tidak tenang jika membiarkanku dihabisi kerumunan banteng itu, yang kau rasakan padaku saat itu, sama seperti yang kurasakan padamu saat ini.
"Awalnya aku memang ingin melaporkanmu dan memberimu pelajaran setimpal atas tindakanmu yang membuatku jadi seperti ini. Saat tahu aku akan kehilangan tanganku. Aku sangat membencimu. Ingin rasanya aku membuat perhitungan dan balas dendam atas apa yang kau lakukan padaku. Tapi, tiba-tiba saja ... ada suatu hal yang membuatku berubah pikiran ....”
Aku merinding mendengar penjelasannya. Rupanya ia membenciku dan ingin balas dendam padaku. Ternyata yang dikatakan Yua memang benar. Cowok ini sangat menakutkan, tapi aku juga penasaran, hal apa yang membuatnya bisa berubah pikiran.
“Hal apa itu?”
“Saat ini aku juga belum bisa memastikannya. Aku sedang mencari tahu ... untuk itulah aku butuh bantuanmu. Akan aku beri tahu jika aku sudah mengetahuinya.”
“Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu.”
“Maksudku adalah kau harus terus didekatku saat ini. Kita tidak harus bersama jika itu yang kau inginkan. Tapi kau bisa datang padaku setiap kali kubutuhkan." Ia mengambil sesuatu didalam tasnya. "Ini untukmu.” Ia memberikan ponselnya padaku.
“Kenapa kau memberikan ini?” aku berusaha menolak pemberiannya.
“Aku akan menghubungimu jika aku membutuhkanmu kapan saja.”
“Tapi aku sudah punya sendiri?”
“Ini tidak kuberikan gratis. Akan kuambil lagi setelah lukaku ini sembuh. Anggap saja ini bentuk kesepakatan kita. Jangan sampai hilang karena barang ini sangat mahal.”
Aku ragu dan berpikir sejenak. Lokasi rumah yang kutempati saat ini jauh dari rumah Refald. Sepertinya aku terpaksa harus pindah supaya aku tidak kesulitan mengurusnya jika ia membutuhkan bantuanku sewaktu-waktu dan aku rasa tempat itu adalah ....
“Berarti aku harus tinggal dengan nenekku!”ujarku lirih.
“Aku setuju!”
“Kau tahu aku punya nenek di sana?”aku terkejut Refald berkata seperti itu.
“Aku tahu semua. Sudah kubilang, aku harus melalui banyak hal untuk mencari tahu siapa dirimu sebenarnya!”
Aku sangat terkejut mendengar jawabannya.
Apakah dia juga mencari tahu darimana aku berasal. Apa dia juga sudah tahu semuanya? Apakah rahasia yang kututup rapat-rapat selama ini sudah diketahuinya? Haruskah aku memastikannya!
“Seberapa banyak yang kau ketahui tentang aku?”
“Kenapa? Kau menyembunyikan sesuatu?”Refald selalu suka bertanya balik jika aku menanyakan sesuatu padanya.
“Tidak!” jawabku cepat.
Aku berharap Refald masih belum tahu siapa aku. Darimana aku berasal dan untuk apa aku berada di sini. Jika dia tahu, dia pasti sudah menanyakannya. Tapi gerak geriknya sangat mencurigakan. Aku harus lebih waspada.
“Kau harus pindah ke rumah nenekmu hari ini juga, karena besok pagi kau harus datang ke vilaku untuk menyiapkan semua kebutuhanku. Mulai besok, kita akan berangkat dan pulang bersama! Kau mengerti?”
Tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Aku pun tidak bisa menyangkal. Entah kenapa aku merasa ada hal lain yang ia sembunyikan dariku. Aku akan mencoba cari tahu sendiri apa itu. Saat ini yang dapat kulakukan hanyalah mengikuti permainannya sampai saat itu tiba.
Pintu kamar diketuk kembali menyadarkanku. Nenek masuk ke dalam menghampiriku. “Fey! Ada seorang anak muda tampan sedang mencarimu di bawah. Siapa dia?” tanya nenek.
Aku melihat jam di dinding. Sudah pukul 19.00 WIB.
“Dia teman sekolahku Nek, dia siswa baru dan juga tinggal di Vila Cahaya.”
“Oh ... dia teman sekolahmu? Kenapa dia datang kemari?”
“Mungkin dia butuh bantuanku, karena hanya aku yang dia kenal di sini.”
“Dia tahu kau tinggal di sini?”nenek terus saja bertanya.
“Dia tahu, kami tidak sengaja bertemu di jalan tadi, saat aku menuju kemari.” Aku membuat alasan yang tepat.
Nenekku manggut-manggut. Aku tidak tahu apakah nenek curiga apa tidak. Lagipula, aku juga tidak peduli. Sebenarnya aku tidak begitu dekat dengan nenek. Meski nenek telah menerima keberadaanku di rumah ini dengan senang hati. Aku tetap memandang hubungan kami hanyalah sekedar nenek dan cucu saja. Aku masih belum bisa menyayanginya seperti aku menyayangi ibuku. Karena kebencian yang kurasakan pada nenekku masih ada.
Aku turun dan menemui Refald yang duduk di ruang tamu seorang diri.“Apa kita akan pergi?”tanyaku setelah aku sampai di tempat dia menunggu.
“Tidak.” Refald mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tasnya.
Aku memerhatikan gerak geriknya. Saat ini Ia terlihat sangat tampan jika tidak memakai seragam. Hem ketat warna biru muda yang ia padukan dengan celana jins biru dongker membuat kesan charming yang melekat pada dirinya mulai terlihat. Aku yakin jika teman-temanku tahu Refald berpenampilan seperti ini, mereka pasti bakal heboh.
“Ini adalah buku catatan temanku. Aku meminjamnya tadi. Salinlah dibukuku ... dan ini ....” ia mengeluarkan kotak bekal makanan dari dalam tasnya. “Suapi aku. Kau juga boleh makan bersamaku.”
Aku tersenyum getir. Aku tidak percaya dia sudah menyiapkan semuanya.
“Darimana bekal itu?”
“Aku membelinya.”
“Sebanyak itu?”
“Untuk kita berdua. Aku tidak ingin merepotkan nenekmu!”
“Kalau caramu seperti ini, siapapun pasti mengira kau adalah pacarku. Kau datang membawa mobil ke rumah, membawa bekal makanan dan belajar bersamaku. Tidak akan ada yang percaya jika kita tidak punya hubungan apa-apa.”
“Terserah apa kata mereka. Siapa yang peduli?”
“Kau selalu bicara begitu.” Aku menutup mukaku dengan satu tanganku.
Percuma berdebat dengannya. Ini adalah permainannya dan aku harus mengikuti permainan ini.
Besok, Hidupku yang berat juga akan segera dimulai.
***
Dengan cepat aku menyelesaikan catatan yang kusalin untuk Refald. Tanganku sampai kebas karena kebanyakan menulis. Setelah itu aku menyuapinya. Dalam waktu dua jam aku sudah menyelesaikan semua tugasku.
“Tulisanmu bagus sekali! Sampai ketemu lagi nanti. Jangan lupa besok kau harus bangun pagi dan menjemputku, oke! Sampaikan salamku pada nenekmu,” ucapnya sesaat sebelum ia pamit.
Dia benar-benar sok akrab! Paling tidak, harusnya ia mengucapkan terimakasih. Dasar bocah tengil!
Entah kenapa tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit. Aku menutup pintu dan menguncinya setelah memastikan Refald sudah pergi.
Aku naik ke lantai dua dan masuk kamar. Aku merebahkan diri di atas kasur. Sepertinya nenekku sudah tidur. Mbok Min yang mengurus nenek juga sudah pulang.
Teleponku tiba-tiba saja berdering dan aku mencari sumber suara itu. Kukira suara itu berasal dari ponselku, tapi ternyata bukan. Suara itu berasal dari ponsel milik Refald. Ponsel yang ia berikan padaku memiliki nada dering yang sama dengan ponsel milikku.
Bagaimana bisa nada dering kami sama? Kami bahkan belum pernah bertemu sebelumnya!
“Ada apa?” ucapku setelah mengangkat panggilan dari Refald.
“Kau jutek sekali?”
Aku menutup teleponnya tapi ia meneleponku lagi. “Beraninya kau menutup teleponku sebelum aku selesai bicara!” serunya kesal.
“Aku tidak mau mendengar komentarmu! Katakan ada apa?”
“Aku bosan. Aku akan kerumahmu lagi. Aku ingin jalan-jalan!”
“Apa?" Aku terkejut. "Kau baru saja datang ke sini! Aku tidak mau jalan-jalan. Kau pergi saja sendiri. Ini bukan perkotaan. Ini desa yang terletak dikawasan hutan. Kau bisa dilahap harimau jika kau keluar malam-malam.”
“Baiklah hari sabtu besok kita akan pergi ke kota! Oke!”
“Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku?”
“Tidak ada ... aku sangat suka sekali mengganggumu!” suara tawa terdengar sebelum ia menutup teleponnya.
Ia benar-benar tidak waras. Kenapa aku merasa menjadi semakin stres!
Tiba-tiba nada dering itu berbunyi lagi. Kali ini bukan dari ponsel Refald. Karena ponselku sendiri yang berbunyi. Yua meneleponku. Aku menepuk jidatku. Karena terlalu banyak pikiran, aku jadi lupa memberitahu Yua apa yang sedang terjadi.
“Hallo ....”
“Fey! Kau gila? Kenapa tak angkat teleponku?” terdengar suara teriakan yang memekikkan telinga dari seberang sana.
Aku memeriksa ponselku. Ada puluhan miscall dan sms didalamnya.
“Maaf ... aku lupa!”
“Sejak kapan kau jadi lupa ingatan? Kau tidak apa-apa? Apa yang anak baru itu lakukan padamu? Kau baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja ... tenanglah!”
Aku mengunci pintu kamar supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan kami dan mulai berbicara pelan padanya. Aku menjelaskan kronologi yang tejadi hari ini, kesepakatan kami, apa yang kami lakukan hari ini dan yang akan datang. Awalnya Yua sedikit bingung dan terkejut mendengar penjelasanku, tapi ia berusaha mengerti situasi dan kondisiku saat ini.
“Aku mengerti. Tapi, bagaimana kau menjelaskan ini pada Mia dan Nura. Sejauh ini mereka sama sekali tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua. Mia terus saja meneleponku. Ia juga menanyakan seperti apa hubungan kalian. Bagaimana bisa cowok baru itu mengenalmu? Kalian juga pulang bersama. Bukan hanya Mia saja yang menanyakan itu, semua teman-teman kita dan beberapa siswi yang tidak kukenal pun ikut bertanya ... aku merasa seolah jadi menejer dadakan dari artis yang mendadak terkenal, karena dari tadi siang sampai hari ini ponselku tak henti-hentinya berdering. Akupun juga tidak tahu harus jawab apa?”
“Jawab saja dia adalah sepupuku.”
“Siapa yang percaya itu? Kalian saling menatap dan berpegangan tangan? Mana ada sepupu yang bersikap seperti itu?”
“Kami tidak berpegangan tangan! Dia yang menyeretku!”
“Sama saja! Yang terlihat adalah kalian saling berpegangan tangan. Kau tahu kehebohan tadi? Menakutkan sekali!”
“Baiklah, Sebaiknya kau istirahat saja. Kau terdengar lebih menakutkan daripada mereka. Matikan ponselmu supaya tak ada yang mengganggu.”
“Kau yakin semua akan baik-baik saja? Bagaimana kau akan menghadapi mereka besok?”
“Aku bisa mengatasinya sendiri. Kau tidak usah khawatir. Maaf telah merepotkanmu. Kau pasti lelah gara-gara aku!”
“Aku tidak apa apa ... hanya saja ... ini lebih rumit dari yang kubayangkan. Sebagai teman aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu.”
Aku terharu, kata-kata Yua membuatku jadi ingin menangis. “Kau sudah melakukan banyak hal untukku. Terimakasih Yua, sampai ketemu besok.” Aku menutup teleponnya.
Aku senang sekali masih punya teman yang peduli padaku. Bahkan disaat tersulitku. Yua selalu mendukungku. Padahal Yua juga punya masalah sendiri yang harus ia hadapi tapi masih bisa memikirkan masalahku.
Dia memang cewek yang tangguh. Juga setia kawan! Sayang sekali Epank tidak melihat kebaikan hatinya. Dibandingkan dengan Via, Yua seribu kali lebih baik darinya.
Aku menelepon Refald. Setidaknya aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan untuk menghadapi penggemar fanatik dadakannya besok.
“Ada apa?” terdengar suara diseberang sana. Aku tertegun sesaat. Entah kenapa tiba-tiba suaranya terdengar indah.
Aku menceritakan apa yang disampaikan Yua padaku. “Apa yang harus kita lakukan? Aku harus jawab apa jika mereka menanyakannya lagi? Yua bilang, mereka tidak percaya kalau kubilang kau adalah sepupuku. Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa kau begitu populer bagi mereka?”
“Kau bodoh? Atau pura-pura bodoh?”
“Apa?”
“Tentu saja karena aku ini tampan, keren, cool, charming dan tajir! Tipe idaman para wanita yang ada di dunia. Kau tidak tahu itu? Atau kau pura-pura tidak tahu?”
Aku menahan emosi mendengar kata-kata narsisnya yang menyebalkan. Ingin sekali kutinju mukanya. Aku langsung menutup teleponnya dengan kesal. “Harusnya aku tidak meneleponnya tadi!” Gumamku.
Telepon kembali berdering lagi dan aku langsung mengangkatnya. “Kenapa kau menutup teleponnya sembarangan? Apa itu kebiasaanmu?" ia berteriak.
Aku pasti sudah gila saat merasa suaranya itu merdu! Kenyataannya suaranya itu seperti petir yang menggelegar!
“Aku meneleponmu bukan untuk mendengar ocehanmu yang tidak masuk akal. Kau itu terlalu narsis.”
“Kenyataannya cowok narsis ini memang digilai banyak cewek. Bersiap-siaplah besok! Kerena akan ada badai yang menghantam.”
“Apa rencanamu? Kau tidak bermaksud menjadikanku sasaran empuk amukan mereka, bukan?”
“Kau tenang saja. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, Oke! Bye!” Kali ini dia yang menutup teleponnya.
Aku tidak bisa tidur memikirkan apa yang akan terjadi besok.
Apa mungkin seseram itu? Hahhhh ... sudahlah. Sebaiknya aku tidur, karena aku harus bangun lebih pagi dari biasanya. Tunggu! Apa maksud ucapannya tadi?
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Mara
Diakui sebagai tunangan yang kabur dari perjodohan 😁
2023-04-03
0
Oca.thjpg_
minta komen kek mana kak🤭
2022-11-12
0
Susanti Maya
berdoa bnyak" fey mdh"n g da yg aneh"..🤲
2021-12-05
0