Aku menatap Refald, ia sungguh berbeda kalau berada di bawah sinar bulan. Cowok tampan itu memang sempurna. Kini aku tahu kenapa semua wanita bisa tergila-gila padanya. Tidak menuntut kemungkinan aku juga akan menjadi salah satu dari semua wanita itu. Hanya saja, saat ini aku tidak bisa menyukainya karena aku sendiri belum bisa memastikan bagaimana perasaanku yang sesungguhnya.
“Kau tahu? Kau itu penuh dengan misteri. Setiap bertemu denganmu selalu saja ada kejutan baru dihidupku. Sejujurnya aku merasa senang dengan kejutan-kejutanmu. Terutama saat ini, sudah lama sekali aku tidak melihat bulan seperti ini." aku memulai pembicaraan karena tanpa sadar aku merasa nyaman berada di dekat Refald.
"Dulu, saat aku kecil, ibuku selalu mengajakku berbincang-bincang di bawah sinar bulan," lanjutku. "Ibuku mengajari bahasa jawa dan bahasa indonesia hingga aku lancar menguasainya. Aku bahkan bisa menulis aksara jawa dengan benar. Justru aku kesulitan belajar huruf katakana dan hiragana. Sedangkan Kakakku malah sebaliknya. Ia tak pernah bisa menguasai bahasa yang diajarkan ibuku padanya. Karena itulah logat bahasaku tak jauh beda dengan penduduk asli daerah sini. Makanya tidak ada yang tahu kalau aku bukan asli penduduk di sini bahkan teman-temanku yang selama ini bersamaku juga tidak tahu.”entah ada apa denganku sehingga kau harus menceritakan semua ini pada Refald.
“Aku tahu. Dari pertama kau cerita, kau pasti merahasiakan banyak hal dari teman-temanmu. Kenapa kau merahasiakan identitasmu yang sebenarnya pada mereka?”tanya Refald. Tidak kusangka, ia menyimak ucapanku.
"Mengatakan siapa aku sebenarnya, berarti sama saja dengan menceritakan kembali masa laluku yang tidak ingin kuingat. Bagiku itu sangat menyakitkan. Alasan keberadaanku di sini dan kenapa aku tinggal sendiri. Aku tidak ingin lagi mengingatnya. Aku sudah sangat nyaman dengan kehidupanku yang sekarang, dan aku ingin terus seperti ini sampai aku siap memberitahu mereka semua rahasiaku suatu hari nanti."
"Begitu rupanya."
“Maafkan aku jika aku lancang, kurasa kau juga sama sepertiku. Awalnya aku tidak begitu peduli siapa kau dan semisterius apa dirimu. Tapi lama-lama aku juga penasaran, ada banyak rahasia yang kau simpan rapat-rapat dan kau tidak ingin orang lain tahu, bukan?”aku mencoba menggali lebih dalam siapa Refald sebenarnya.
“Kau ini lucu. Jika rahasia diketahui orang, itu sudah bukan rahasia lagi namanya.”
Aku menertawai diriku sendiri. “Kau benar. By the way kenapa kau tidak mengundang keluargamu kemari? Bukankah hari ini hari ulang tahunmu? Harusnya mereka datang ke sini untuk merayakannya denganmu.”
“Mereka kularang datang kemari.”
“Kenapa? Apa karena lukamu? Kau tidak ingin mereka tahu seperti apa lukamu?”
“Itu salah satunya. Tapi, ada hal lain yang membuatku tak bisa membiarkan mereka datang ke sini.”
“Kenapa? Apa kau melarikan diri? Jangan bilang bahwa mereka tidak tahu kalau kau kemari? Lalu ... bagaimana dengan temanmu yang waktu itu? Kau tak takut kalau dia yang memberitahu keluargamu jika kau di sini?”
“Mereka sudah tahu. Aku juga tidak sedang melarikan diri. Aku berbeda denganmu.”
“Lalu kenapa kau masih tetap ada di sini jika kau tak ingin keluargamu kemari? Mereka pasti khawatir padamu. Bagaimana kalau mereka datang kemari untuk mencarimu?”Sungguh, pembicaraan ini mengalir begitu saja. Aku mulai sedikit memahami permasalahan yang dihadapi Refald gara-gara keteledoranku.
“Bukan aku yang mereka cari. Aku juga punya alasan kenapa aku masih di sini!”
“Benar, kau sudah memberitahuku. Kau terluka karena aku. Itulah sebabnya kau masih ada di sini. Lalu, siapa yang dicari keluargamu?”aku jadi kepo.
"Seseorang ... apa kau juga ingin tahu siapa orang yang dicari keluargaku?" tanyanya, padahal jelas-jelas dia tahu kalau aku tidak mungkin tahu.
"Tidak," jawabku cepat. Aku tidak mau dia salah paham. "Aku tidak ingin tahu. Lagipula semua itu bukan urusanku. Aku hanya akan bertanggung jawab pada lukamu yang disebabkan olehku."
“Itu hanya kecelakaan yang tidak direncanakan. Meskipun tanganku tidak terluka, aku akan tetap di sini!”
“Kenapa? Untuk apa sebenarnya kau datang kemari? Apa yang kau cari?”tanyaku makin penasaran.
“Aku juga mencari seseorang!”
“Apa?” Aku terkejut, karena aku sama sekali tidak menduga bahwa kedatangannya kemari hanya untuk mencari seseorang. “Siapa? Pacarmu?”tebakku.
“Bukan, sepertinya kau penasaran sekali?”
“Tentu saja aku penasaran ... selama ini aku mengira kalau kau tidak tertarik dengan semua orang yang ada di sini. Tidak kusangka ternyata alasanmu kemari hanya untuk mencari seseorang. Aku hanya penasaran seperti apa orang itu sehingga bisa membuatmu jauh-jauh datang kemari dan rela meninggalkan seluruh keluargamu.”
“Orang itu seperti apa, aku juga tidak tahu,”ujar Refald lirih.
“Apa maksudmu? Kau mencari orang yang tidak kau ketahui? Kau aneh sekali ... sangat sangat aneh! Bagaimana mungkin kau mencari seseorang tapi kau tidak tahu seperti apa orang yang cari itu. Ini lelucon yang menggelikan,”komentarku.
“Aku hanya penasaran seperti apa dia, karena itu aku kemari, dan aku tidak menyangka pertemuan kami harus melalui berbagai macam cerita seperti sebuah drama dalam film-film drama pada umumnya.”
“Berarti kau sudah pernah bertemu dengannya? Siapa dia? Bagaimana orangnya? Cantik? Baik?”
“Aku memang sempat menemukannya. Tapi ia menghilang sebelum aku mengenalinya. Jadi aku masih mencarinya lagi. Dia ... sangat cantik, baik dan hampir mirip denganku!”
“Oh iya? Begitukah?”
“Kenapa? Apa kau kecewa? Karena bukan kau orangnya?”tebaknya.
Aku hanya menunduk. “Bukan begitu, aku senang dan lega akhirnya ada juga orang yang menarik perhatianmu. Jadi, jika kita nanti berpisah, aku tidak punya beban apa-apa lagi. Kau punya seseorang yang kau sukai.” Aku berkata jujur. Meski dalam hatiku ada sedikit penolakan dari kata-kataku.
“Aku tidak bilang kalau aku menyukainya!”
“Oh iya? Tapi ... kau mencarinya?”
“Aku memang mencarinya, tapi aku tidak bilang kalau aku menyukainya. Aku bahkan tidak tahu orang seperti apa dia. Aku juga tidak tahu perasaanku saat ini. Kisah kita hampir mirip bukan? Kau sendiri malah membenci tunanganmu.”
“Itu karena kami dijodohkan dan kami tidak pernah bertemu sekalipun. Bagaimana bisa aku menyukainya? Apa kau juga dijodohkan sepertiku?”
“Tidak ... aku sendiri yang memilihnya.”
“Apa? Kau ini membuatku bingung. Kau sendiri yang memilihnya tapi kau tidak pernah bertemu dengannya dan sekarang kau bingung dengan perasaanmu. Menyukainya apa tidak. Ribet sekali? Kalau tidak suka kenapa kau memilihnya? Kau bisa cari orang lain yang kau suka. Kau tidak perlu repot-repot datang kemari hanya demi seseorang yang belum tentu kau sukai. Bukankah itu artinya sama dengan buang-buang waktu saja?”
“Kau memang benar. Terlalu banyak waktu yang kubuang hanya demi dia. Lalu ... bagaimana denganmu? Bagaimana kalau tunanganmu ada di sini? Apa yang akan kau lakukan?”
“Apa maksudmu?”
“Bagaimana kalau kau jatuh cinta pada orang lain dan tiba-tiba tunanganmu datang kemari untuk menjemputmu? Apa yang akan kau lakukan?”
Aku terperanjat mendengar pertanyaan Refald yang menurutku sangat sulit untuk kujawab. Sejenak, aku berpikir dan menanyakannya pada hatiku. Aku melihat bulan dan menutup mataku. Merasakan suara hatiku.
Bagaimana jika tunanganku datang disaat aku jatuh cinta pada orang lain? Apa yang harus aku lakukan?
“Apa kau benar benar ingin tahu jawabannya?” Tanyaku saat mataku perlahan terbuka.
Refald mengangguk. Ia menatapku dengan tatapan yang tajam.
“Aku akan memilih orang yang kucintai. Bagaimana bisa aku hidup dengan orang yang tidak kucintai meskipun ia adalah tunanganku yang bahkan belum tentu juga mencintaiku. Sudah kubilang bahwa pertunangan kami hanya bentuk kerjasama antar keluarga, dan jika kerjasama itu selesai, sama saja pertunangan kami juga sudah selesai. Tidak ada ikatan lagi diantara kami, itulah keputusanku jika memang aku dihadapkan dengan situasi seperti itu, meskipun itu sangatlah tidak mungkin terjadi."
“Kenapa?”
“Karena, untuk saat ini, aku sedang tidak ingin jatuh cinta pada siapapun."
“Kau yakin?” Refald melangkah maju dan mendekatkan wajahnya dihadapanku. Di bawah sinar rembulan ia menatapku lekat dan penuh dengan makna. “Kau yakin saat ini kau tidak menyukaiku? Sedikitpun?”
Aku mundur selangkah tapi Refald juga maju selangkah sampai aku terbentur pagar pembatas balkon. “Bisakah kau tidak mendekatiku seperti ini? Kau sangat menakutkan jika kau menatapku seperti itu?” aku merasa gugup tapi berusaha terus bersikap tenang. Supaya Refald tidak terus menerus mendekatiku.
“Jawab dulu pertanyaanku. Baru aku akan mundur.”
“Ada banyak hal yang harus kulakukan di sini daripada sekedar jatuh cinta!”
“Apa itu?”
“Kau tahu sendiri. Butuh waktu lama bagiku untuk bisa bangkit seperti sekarang ini. Banyak orang yang membantuku dan setia menemaniku disaat aku terpuruk, meskipun mereka sendiri tidak tahu apa masalahku yang sebenarnya. Kini aku sudah kembali menjadi diriku yang dulu lagi dan itu semua berkat orang-orang yang setia bersamaku. Aku harus membalas jasa mereka. Aku harus membuat mereka semua bahagia sebelum aku pergi dari sini!”
“Karena itukah kau ikut campur urusan Yua dan orang yang dia suka?”
“Bagaimana kau bisa tahu? Aku tak pernah membicarakan soal Yua padamu!” aku terkejut ia tahu rahasiaku dengan Yua.
Seberapa ketat ia mengamatiku selama ini? Aku terlalu fokus dengan masalah Yua sampai aku tidak sadar kalau Refald juga mengawasiku sejauh ini.
“Tidak ada yang tidak kutahu tentangmu, Fey!”
“Baiklah! Aku tahu kau memang anak sultan yang bisa melalukan apapun yang kau inginkan tapi, aku ingin kau merahasiakan ini untukku dan demi Yua. Jangan sampai orang lain tahu.” aku sedikit memohon.
“Apa imbalannya?”
“Apa maksudmu?”
“Anggap saja untuk kompensasi tutup mulut. Apa yang akan kau berikan padaku?”
“Kau! Aku kira kau orang yang baik. Ternyata kau licik juga memanfaatkan kelemahan orang lain.” Aku mulai emosi.
Refald hanya tersenyum sinis. “Terserah apa katamu, aku tidak peduli.”
“Apa yang kau mau?”tantangku karena kesal juga dengan Refald yang licik.
Refald berjalan mundur. Ia menatapku dengan sendu. Bulan masih bersinar terang seakan ikut menyaksikan pembicaraan kami yang menurutku agak aneh ini.
“Aku ingin ... kau jatuh cinta padaku!”ujarnya.
“Apa?”aku terkejut. Sangat terkejut mendengar Refald bicara seperti itu padaku.
Aku tidak mengerti apa maksudnya. Apa cowok ini mabuk? Atau dia sudah gila? Apa yang dia katakan? Apa ia sedang mengajakku bercanda?
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
HNF G
jgn2 yg tunangan sm Fey itu sepupunya refald? 🙄🤔
2024-07-10
0
Mara
Sungguh kalian penuh misteri....lanjut🥰
2023-04-03
0
Teh Yen
sepertinya tunangan Fey waktu kecil itu refald yah ,,skrng dia mencarinya ingin tau seperti apa.wanita yg dulu dia pilih betul engg Thor
refald misterius.sekali jd bikin bingung Fey kl.gini
2022-08-10
0