Yua memerhatikan kami saat kami semua bicara. Aku yakin dia penasaran tentang apa yang aku bicarakan dengan Epank dan Via. Sayangnya aku tidak bisa memberitahunya disini karena ada Nura dan yang lainnya. Aku berjanji akan memberitahu Yua jika sudah di rumah nanti.
Setelah selesai makan malam, kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing karena malam sudah semakin larut. Yua dan Nura berbocengan menggunakan motor Yua. Rio juga bersedia mengantar Mia pulang. Sedangkan aku, masih belum tahu ke mana Refald akan membawaku pergi.
"Aku akan mengirim copyan proposal untukmu besok. Kau baca dulu. Aku harap kau juga mau membantuku," ucapku sebelum Yua dan Nura pergi meninggalkan kafe. Aku menatap kepergian kedua sahabatku itu.
Aku tahu perasaan Yua saat ini. Sial ... kenapa dia harus bertemu Epank dan Via di sini?
"Kami pergi duluan!" ucap Rio saat melaju meninggalkan parkiran dengan Mia. "Jangan lupa untuk pulang. Nenek bisa merepotkanku jika kau tidak pulang."
"Tentu, aku akan pulang secepatnya!" jawabku.
Aku melihat Mia yang masih dimabuk asmara. Ia melupakanku. Bahkan ia sudah tidak ingat lagi kalau aku ada bersama dengan mereka. Aku baru tahu kalau orang yang jatuh cinta bisa melupakan segalanya.
"Kita juga harus pergi!" ucap Refald sambil membuka pintu mobil.
"Ke mana?"
Refald tidak menjawab. Kami meninggalkan kafe dan melaju ke suatu tempat yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya.
Saat kami makan bersama tadi, Refald melarangku untuk pulang terlebih dulu karena ia ingin mengajakku kesuatu tempat.
"Apa hari ini memang ulang tahunmu?" Tanyaku saat Nura dan Yua ke toilet.
Refald mengangguk. "Aku ingin setelah ini kau ikut denganku. Hanya kita berdua!"
"Tidak mau!" Aku curiga padanya. Jangan-jangan dia ingin melakukan sesuatu yang buruk padaku.
Seakan tahu apa yang kupikirkan, Refaldpun menjelaskan, "Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin kau menemaniku sebagai hadiah ulang tahunku. Aku sama sekali tidak naafsu padamu. Jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh tentangku!"
"Apa ... kau bisa dipercaya?" aku masih saja mencurigainya.
"Apa aku pernah menyakitimu?"
"Kau bilang kau ingin sekali memukulku, melemparku, dan lain sebagainya?"
"Apa aku melakukannya?"
"Memang tidak sih, tapi bisa saja itu terjadi, kan?"
"Aku masih waras sekarang, jadi ikutlah denganku nanti selagi aku masih bersikap baik."
"Kau mengancamku?"
"Aku hanya memperingatkanmu. Jika kau masih tidak mau, aku bisa menggunakan cara ekstrem untuk bisa membawamu ke sana. Silahkan kalau ingin coba!"
"Kau selalu seperti itu." Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menuruti semua kemauan Refald. Menyebalkan sekali dia. Itulah pembicara yang kami lakukan sewaktu di dalam kafe tadi.
Sepanjang perjalanan, kami hanya saling diam. Satu jam kemudian kami sampai disebuah Vila. Lokasinya sangat jauh dari pemukiman dan berada di tengah hutan. Hanya lampu sorot mobil yang menyinari jalanan di depan kami.
Tidak ada lampu jalan di sini, sama sekali. Sebelah kanan dan kiri jalan hanya dipenuhi dengan pepohonan yang rindang. Sudah tidak ada rumah lagi disekitar sini. Hanya ada jalan utama yang menuju sebuah pintu gerbang vila.
Saat kami sampai, Refald menelepon seseorang dan tidak lama pintu gerbang tinggi dan besar itu terbuka. Perlahan kami masuk kedalam melewati penjaga gerbang itu. Aku tidak bisa melihatnya karena tempat ini terlalu gelap. Entah tidak ada listrik atau lampu sedang mati atau mungkin saja memang sengaja dimatikan. Aku tidak tahu, yang jelas tempat ini sangatlah gelap, tidak ada cahaya sama sekali.
Kami sampai di sebuah gedung berlantai tiga, lumayan jauh juga dari pintu gerbang yang kami masuki tadi. Aku tidak bisa menjelaskan seperti apa detail bangunan vila ini. Karena aku tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan meskipun sekarang belum terlalu malam. Refald mengambil senter yang ada didalam dasbor mobilnya dan keluar setelah menyalakan senter itu.
"Ayo!" Ajaknya.
Aku masih terpana dan mengamati sekeliling. Aku tak bisa lihat apapun disini, terlalu gelap untuk sebuah vila biasa. Refald menyeretku karena tak juga beranjak dari tempatku. Ia membuka pintu rumah dan mengajakku masuk ke dalam. Aku langsung merinding. Bulu kudukku berdiri. Tanganku gemetar tapi aku tidak bisa berteriak karena ketakutan.
"Jangan takut, ada aku di sini!" Refald menggenggam erat tanganku yang gemetar sambil membimbingku ke sebuah tempat dengan menggunakan lampu senter.
"Kita mau kemana?" Tanyaku saat menaiki tangga.
"Kau akan tahu nanti."
"Tempat apa ini? Bukan rumah hantu, kan?"
"Aku tidak yakin." Refald memberikan jawaban yang tidak pasti.
"Apa maksudmu? Kau sedang mengikuti ekspedisi alam ghaib? Kenapa kau mengajakku juga?"
Refald tidak menjawab lagi, ia terus menuntunku sampai kelantai paling atas. Kami menuju kamar satu-satunya yang ada di lantai ini. Aku semakin gemetar dan ketakutan, setiap perjalanan kemari, tidak ada apapun, lukisan atau hiasan juga tidak ada. Ditambah lagi, Refald tidak mau menjawab semua pertanyaanku.
"Untuk apa kau membawaku kemari? Apa yang akan kau lakukan padaku?" aku sudah tidak bisa bersabar lagi. Aku menarik tanganku sehingga lepas dari genggamannya dan berhenti berjalan. "Aku tidak mau lagi mengikutimu jika kau tidak mau menjelaskan!"
"Diamlah dan lihat saja! Bisakah kau tidak berpikiran jelek padaku? Berapa kali aku harus bilang? Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Percayalah!" Refald kembali menarik tanganku dan kami berjalan beriringan menuju pintu kamar. Ia membuka pintu itu, perlahan, tapi cukup membuatku merasa semakin ketakutan. Aku membayangkan sejumlah makhluk ghaib keluar dari sana.
"Apa tidak ada listrik di sini?" aku menatap Refald yang terlihat sangat tenang disisiku. Tanpa sadar, aku mengapit lengannya. Seolah-olah memeluknya.
"Kau tidak membutuhkan listrik disini. Bersiaplah! Kau akan takjub setelah melihat semuanya!"
Aku benar-benar kesal dengannya. Ia terlalu tenang untuk situasi yang sangat menakutkan bagiku.
Bagaimana bisa ada orang yang tak takut dengan kegelapan seperti ini.
Perlahan Refald membuka pintu, saat pintu itu terbuka aku menutup wajahku di pundak Refald. Aku baru sadar ternyata dadanya sangat bidang sekali. Tapi bukan saatnya untuk mengagumi dada bidangnya.
Aku benar-benar ketakutan. Aku rasa dia sengaja membuatku seperti ini. Jika disuruh memilih, aku lebih suka melihat film paling horor yang pernah ada karena hantunya tidak akan keluar dari layar kaca meskipun ia sangat menakutkan daripada harus berada di tempat seperti ini. Kapan saja dan dimana saja, hantu itu pasti bisa muncul tiba-tiba dan bisa membuatku terkena serangan jantung dadakan.
Refald memelukku seakan tahu kalau aku ketakutan. Sambil menyeringai ia berkata, "Tenanglah, kau tidak akan melihat hantu di sini. Jangan berlebihan begitu! Kau membuatku ingin tertawa, sayang aku tidak bisa menikmati wajah takutmu itu."
Aku melepaskan pelukannya dengan kesal, tapi tanganku masih ia genggam erat-erat. "Kau memang sengaja, kan? Kau puas karena aku sekarang benar-benar ketakutan!"
Ia hanya menyeringai.
Pintu sudah terbuka dan Refald menyeretku masuk ke dalam. Memang tidak ada apa-apa disini. Hanya ada tempat tidur besar, satu buah meja, dan beberapa kursi. Disudut ruangan ada lemari kecil dua pintu. Kamarnya juga lumayan luas. Didepan kami terbentang tirai panjang yang mendominasi tempat ini.
"Aku tidak membawamu kemari untuk menakutimu atau berbuat buruk padamu. Aku hanya ingin menikmati semua ini denganmu. Berhentilah berpikiran negatif dan lihatlah....!"
Refald melepaskan tangannya dan melangkah ke depan mendekati tirai panjang yang menutupi jendela, lalu ia menyibaknya.
Seketika cahaya terang benderang memasuki ruangan tempatku berdiri. Refleks aku langsung menutup mataku dengan lenganku. Butuh beberapa detik untuk bisa melihat dari mana asal cahaya itu datang. Begitu mataku terbiasa, aku tercengang melihatnya.
"Waaaaaauuwwww ... indah sekali!" seruku.
Cahaya yang datang itu ternyata adalah cahaya bulan yang saat ini dalam fase sempurna. Karena sekarang ada di hutan dan ditutupi oleh rindangnya pepohonan, aku sampai tidak tahu kalau malam ini adalah malam bulan purnama, dan bangunan ini menghadap langsung ke arah bulan itu. Seolah-olah bulannya sangat dekat dengan tempatku kini berada.
"Sungguh menakjubkan. Ini bulan purnama terindah yang pernah kulihat." aku menoleh pada Refald yang juga menatap bulan teramat indah itu.
"Supermoon ... itu adalah nama bulan itu saat ini."
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Ini adalah hal sangat luar biasa bagiku. Sejak kematian ibuku, aku tak pernah melihat bulan lagi. Ini adalah kali pertama aku melihat supermoon atau bulan purnama yang besar sekali. Entah mengapa aku menyukai bulan ini. Aku terus menatapnya tanpa henti.
"Kau suka?" tanya Refald.
"Iya ... aku sangat menyukainya. Terima kasih telah membawaku kemari." Aku berusaha menguasai diri agar tidak terlarut dengan keindahan bulan yang saat ini bersinar menyinariku. "Bagaimana kau bisa tahu tempat ini? Padahal kau baru saja tinggal di sini. Aku yang sudah bertahun-tahun tinggal disekitar sini, tidak pernah tahu kalau ada tempat seperti ini. Apa vila ini milikmu?"
Refald melangkah mendekatiku. Ia meraih tanganku dan menuntunku ke dekat jendela pintu yang lebarnya kurang lebih dua meter dengan tinggi tiga setengah meter. Perlahan Refald membuka pintu jendela itu. Angin berhembus lembut saat pintu jendela terbuka, menyapu wajahku dan tubuhku. Dinginnya malam dan semilirnya angin yang berhembus, membuatku merasa rileks dan segar kembali. Di tambah ada sinar bulan yang menambah suasana hati menjadi tenang dan damai.
"Ini bukan milikku, aku hanya menyewanya." ujarnya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Mara
Romantis 😘
2023-04-03
0
Nurulfajriyah
amazing
2021-07-22
0
Shakila Rassya Azahra
memang repald ga jauh beda sama adik sepupunya leo gengsrer ga ada akhlak dikit2 ngacem kalau ga di turuti..memang kalian duo somplak 🤭😁😁😁
2021-06-23
1