Tidak butuh waktu lama untukku sampai di rumah nenekku. Dari sini, hanya memakan waktu 25 menit kalau berkendara dengan kecepatan sedang.
Aku harus bergegas! Aku benar-benar lupa kalau nenekku sedang sakit. seruku dalam hati.
Tadi pagi sebelum berangkat ke sini, Rio memberitahuku lewat telepon. Namun, tugas dan janjiku pada teman-temanku juga penting. Jadi, aku memutuskan menemui mereka lebih dulu, baru setelah itu aku bermaksud menjenguk nenekku.
Selama diperjalanan aku selalu memikirkan kondisi nenek. Di rumah nenek, hanya ada Rio dan pengasuh yang biasa mengurus nenek. Rio adalah adik sepupuku yang ibunya juga sudah meninggal. Sama sepertiku. Saat ini, Rio mungkin sedang mencari kayu bakar untuk persediaan di rumah.
Desa tempat nenekku tinggal diapit oleh banyak gunung dan perbukitan sehingga hawanya menjadi sangat dingin. Semua penduduk desa menggunakan perapian untuk menghangatkan tubuh ketika berada di dalam rumah. Tidak heran jika kebanyakan dari mereka mencari kayu bakar di hutan jika ada waktu senggang seperti yang dilakukan Rio sekarang. Itulah sekilas tentang desa nenekku.
Aku ingin menambah kecepatan motorku agar bisa cepat sampai di rumah nenek. Tapi mobil volvo di depanku membuatku menunggu. Aku tidak bisa menyalipnya karena jalanan di sini sempit dan banyak sekali tikungan tajam. Salah prediksi sedikit saja bisa menimbulkan kecelakaan. Karena itu, aku harus lebih berhati-hati.
"Apa yang mereka lakukan di sini? Kenapa dari tadi mereka belum juga sampai?" Aku menggerutu sendiri.
Aku menunggu kesempatan untuk mendahului volvo ini. Sungguh lamban sekali.
"Apa mereka baru belajar menyetir? Bagaimana aku bisa sampai dalam 25 menit kalau jalannya seperti ini?" gumamku dengan gemas dan cemas.
Aku tidak sabar ingin segera menyalip mereka meski aku tidak yakin apakah aku bisa. Saat ada jalan lurus sebelum tikungan berikutnya, aku berusaha menyalip dan tidak kusangka, ternyata aku berhasil. Aku tidak percaya motor scoopyku bisa menyalip sebuah volvo.
Aku sungguh suka mobil itu! Kuharap suatu saat, aku bisa menaikinya.
Aku menambah kecepatanku dan hampir sampai masuk ke desa tempat nenekku tinggal. Dari kejauhan, aku melihat ada seorang anak laki-laki yang sedang membawa tumpukan kayu dipunggungnya. Aku langsung mengenali siapa anak itu.
“Naiklah! Akan kubantu kau membawanya?" aku berhenti disamping anak laki-laki yang tidak lain adalah Rio, sepupuku.
“Kau yakin?”tanyanya.
“Tentu!” Aku memarkir maticku di pinggir jalan dan turun dari motor untuk membantu Rio menaikkan tumpukan kayu itu di atas motor.
“Sejak kapan kau pergi? Bagaimana dengan kondisi nenek?”tanyaku pada Rio.
“Satu jam yang lalu. Nenek baik-baik saja. Dia sedang tidur saat kutinggalkan tadi,”jawab Rio santai.
Setelah selesai menumpukkan semua kayu itu ke atas matic, Rio mengikatnya dengan kuat supaya tidak jatuh saat di bawa. Sialnya, saat kami siap untuk berangkat pulang, tiba-tiba ada genangan air yang menyembur di tubuh kami. Penyebabnya ternyata pengendara mobil yang sepertinya sengaja melewati genangan itu agar airnya menyiram tubuh kami.
Tentu saja aku syok dan kaget. Seketika kami berdua seperti di guyur tumpukan lumpur yang sangat kotor. Rio berteriak penuh amarah dan aku langsung menghantamkan kayu yang terjatuh ke arah belakang kaca mobil yang ternyata, mobil itu adalah volvo silver yang kutemui tadi.
Kaca belakang mobil itu pecah karena hantaman kayu dariku. Mobil itu berhenti seketika. Pemiliknya keluar dengan wajah emosi.
Dia bukan cowok yang menanyaiku alamat sewaktu di rumah Mia tadi, itu berarti dia adalah temannya yang duduk di balik kemudi. Cowok itu menghampiriku dan aku siap menghadapinya. Rio sudah mau maju tapi aku menghalanginya. Meski aku seorang cewek, aku tidak takut dengan cowok yang angkuh seperti dia.
"HEEEEIIII!” teriaknya di depanku. Aku tak gentar sedikitpun bahkan terkesan menantangnya. “Kau gila? Kau tahu apa yang kau lakukan?”bentaknya.
Aku maju selangkah didepannya. Sekarang jarak kami berdua hanya 10 cm. Dia memang lebih tinggi dariku, tapi bukan berarti aku takut padanya.
“081335467823!” ucapku dengan tatapan tajam.
“Apa maksudmu!”
“Itu nomor teleponku. Kirim nomor rekeningmu dan akan kutransfer biaya ganti rugi kaca mobilmu yang kupecahkan!”tantangku.
“Kau ...!" cowok itu terlihat sangat geram saat melihatku. Aku tidak butuh uangmu! Beraninya kau! Untung kau cewek, kalau tidak ... kau pasti ....”cowok itu tidak melanjutkan kata-katanya.
"Pasti apa? Lagian kau yang salah. Kau sadar apa yang sudah kau lakukan? Kau bahkan tidak minta maaf. Aku tahu kau sengaja melewati genangan itu. Apa masalahmu padaku?”ganti aku yang marah.
“Kau menuduhku? Itu salahmu sendiri. Siapa suruh kau berhenti di situ?”
Aku benar-benar emosi kali ini, tapi aku berusaha menahannya. Aku teringat kalau saat ini, nenekku sedang ada di rumah sendirian.
Rio menghampiriku. Dia mengajakku pergi dan tidak ingin memperpanjang masalah ini, dan aku mengerti. Saat aku berbalik badan, cowok itu menahan lenganku. Spontan aku langsung menghempaskannya.
“Apa yang kau lakukan?”bentakku.
“Kita belum selesai!”geramnya.
“Sudah kuberikan nomerku dan aku mau bertanggung jawab. Tidak sepertimu. Pengecut!”umpatku to the poin.
“Apa? Pe ... pe, apa? Kau mengataiku apa??”
“Aku berani bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan. Tidak sepertimu yang tidak mau mengakui kesalahan. Apalagi kau seorang cowok. Bukankah pantas kalau kau kusebut dengan sebutan 'pe-nge-cut'?”ejaku.
Cowok itu terlihat sangat kesal dan marah, tapi aku tidak peduli. Dia mendekat ke arahku, sangat dekat. Tepat di depan hidungku. Ingin sekali kutarik jaket merah menyala itu dan kuhantam dia ke lantai. Tapi aku menahan kuat keinginanku itu.
Ini desa nenekku, dan aku tidak mau membuat keributan di sini.
“Jika aku pengecut seperti yang kau bilang. Aku sudah menghajarmu dari tadi. Tapi kau hanya seorang cewek. Aku tidak mau mengotori tanganku dengan memukulmu!”ujarnya sambil menatapku tajam.
“Tapi kau baru saja memegangku!” aku men-skak-nya. Aku tetap tegar menghadapi intimidasinya. “Kurasa, kau harus mencuci tanganmu tujuh kali dengan air bersih dan satu kali dengan tanah supaya kau tidak terkena penyakit rabies!”
Cowok itu mundur dan bingung dengan ucapanku, dan matanya terus saja mengamatiku dari atas hingga bawah.
“Hafalkan nomerku tadi. Aku akan bertanggung jawab penuh bahkan jika kau akan melaporkanku ke polisi. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Aku juga bisa menuntutmu atas perlakuan tidak menyenangkan yang telah kau lakukan terhadap kami. Baju ini yang akan menjadi bukti!”
Cowok itu tertegun seakan tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Namun, aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkannya. Aku hanya menunjukkan bahwa jika dia menyerangku, aku juga bisa menyerangnya balik.
Aku balik badan dan bersiap untuk menyalakan motorku. Sampai tiba-tiba, seekor banteng tak diundang datang melewatiku dengan kencang dan berlari menabrak cowok itu. Dia langsung tersungkur tanpa bisa menghindar.
Kejadian itu begitu cepat sehingga untuk syok saja tidak akan cukup. Lengan cowok itu terluka dan mengeluarkan banyak darah. Banteng yang sudah menubruk cowok itu, juga berbalik arah dan siap-siap menyerang cowok itu lagi.
Cowok itu tahu gelagat banteng tersebut dan langsung bangkit berlari kearah banteng tadi datang. Ia melewatiku tanpa bicara apapun. Dengan wajah tegang dan syok, ia berlari sekencang-kencangnya.
Rio sangat panik dan bersembunyi di balik tumpukan kayu. Dia menarikku yang juga masih tertegun dengan apa yang baru saja kami lihat.
Banteng itu melewati kami lagi, berarti ia hanya mengejar cowok itu. Dan aku tahu alasannya. Dia ... cowok itu memakai jaket merah. Warna merah adalah warna yang paling tidak disukai banteng, dan banteng itu mencoba mengejar targetnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Rio panik.
“Cepat lapor kepala desa dan cari bantuan. Aku harus menolong cowok itu!”
“Kau benar, dia lari ke arah yang salah! Di sana adalah tempat ....” Rio dan aku saling menatap.
Aku menyerahkan kunci motorku pada Rio lalu berlari mengambil jalan pintas menyusul ke arah banteng dan cowok itu pergi.
Pemikiran kami berdua sama. Cowok itu ... Dia berlari ke arah kawanan banteng.
Di balik bukit, ada padang safana tempat habitat para banteng hidup. Penduduk desa tidak berani datang ke sini. Mereka tidak bisa membunuh banteng-banteng yang ada di sini karena mereka adalah salah satu binatang yang dilindungi.
Selama aku berada di desa ini, tidak pernah ada banteng yang menyerang penduduk desa. Itu karena kepala desa menghimbau agar tidak memakai baju warna merah selama mereka tinggal di desa ini. Karena desa ini lokasinya sangat dekat dengan habitat banteng.
Aku tidak mengenal cowok ini. Siapa dia, darimana dia berasal, aku sama sekali tidak tahu. Tapi kini, dia sedang dalam bahaya dan aku tidak bisa berdiam diri. Jika tidak sampai tepat waktu, kerumunan banteng itu bisa saja membantainya hidup-hidup.
Ini merepotkan sekali, kenapa harus aku yang menyelamatkannya. Bahkan aku ragu apakah aku bisa tepat waktu.
Aku berlari dan terus berlari sampai akhirnya aku tiba di padang safana tempat habitat para banteng berada berkat melewati jalan pintas yang sering kulewati dengan Rio saat membantunya mencari kayu bakar. Aku mencari-cari di mana keberadaan cowok itu berharap tidak ada sesuatu hal yang buruk.
Tidak lama, 50 meter dari tempatku berada, dia muncul sambil terus berlari. Kawanan banteng yang sedang berada di padang safana sepertinya juga mulai melihatnya. Bodohnya, cowok itu tidak tahu dengan apa yang menanti di hadapannya karena terlalu fokus pada salah satu banteng yang mengejarnya.
Aku berlari sekencang mungkin. Banteng yang mengejar cowok itu semakin dekat. Sedangkan kawanan Banteng yang ada di hadapannya juga mulai bersiap menyerang.
Itu pasti karena jaketnya! Gawat! Aku memerhatikan cowok yang sedang dikejar-kejar banteng.
Sepertinya, ia kelelahan berlari, tangannya bersandar di batang pohon dan napasnyapun tersengal-sengal. Sementara banteng yang ada dibelakangnya tanpa henti berlari ke arahnya untuk menabraknya lagi.
Aku meloncat ke arah cowok itu tepat sebelum banteng itu menabraknya. Kami berdua jatuh terguling ke bawah tanpa bisa berhenti. Beruntung ada pohon besar malang melintang menghadang kami, punggung cowok ini menabrak pohon itu sehingga kami bisa berhenti berguling, tapi kerumunan banteng itu masih mengejar kami. Aku bergegas melepas jaket yang dipakai cowok itu.
“Apa yang kau lakukan? Kau tidak punya moral?”teriaknya marah.
“Apa yang kau bicarakan? Lepaskan jaketmu!”
“Kenapa aku harus melepasnya? Kau mau memperkosaku?”
“Disaat seperti ini kau sempat punya pikiran kotor seperti itu?”Aku terkejut ia menuduhku yang bukan-bukan. Padahal aku bermaksud menolongnya.
“Kau manabrakku dan menyuruhku melepas jaketku! Bagaimana mungkin aku tidak berpikiran kotor?”
“Aku hanya ingin menyelamatkanmu! Lepaskan jaket itu sekarang!”Aku jadi ikut emosi juga.
“Tidak! Aku tidak mau? Kau tahu? Ini jaket limited edition!”
“Nyawamu juga limited edition! Kau tidak akan bisa mendapatkan nyawamu kembali di toko yang lain. Lepaskan! Kita tidak punya waktu lagi?”
“Kenapa?”
“Jaket itulah alasan kau dikejar banteng itu!”jelasku. Sungguh aku gemas sekali dengan cowok ini.
“Jaket ini?”tanyanya bingung.
"Kau tidak tahu? Banteng membenci warna merah! Harusnya kau tahu itu! Bodooh!”aku sungguh kesal padanya.
“Kau meneriakiku?”cowok itu malah protes.
“Tidak ada waktu lagi! Kau ingin kita berdua mati?” aku melepas paksa jaket yang dikenakan cowok itu dan melemparnya jauh- jauh tepat ketika gerombolan banteng itu mulai dekat dengan kami.
Tentu saja kawanan banteng itu langsung berbelok arah mengejar jaket yang sudah kulempar jauh ke dalam hutan sehingga banteng itu tidak mengejar kami lagi. Aku terduduk lesu, tapi juga lega, karena untuk sesaat aku sempat berpikir hidupku bakal berakhir di sini gara-gara cowok bodoh ini.
Aku mengamati hutan yang ada di sekeliling kami. Tidak ada siapa-siapa di tempat ini. Cowok ini juga sedang terluka. Kami tidak bisa lama-lama di sini karena tempat ini merupakan tempat habitat para binatang buas yang dilindungi. Aku juga harus segera mencari bantuan supaya luka cowok ini bisa segera diobati.
Aku melihat cowok menyebalkan itu masih tertegun saking paniknya. Kejadian barusan pasti juga membuatnya syok berat, ditambah tangannya sedang terluka akibat serangan banteng tadi.
Aku mengeluarkan salep di sakuku yang tidak sengaja terbawa saat aku berada di rumah Mia tadi. Salep itulah yang Mia gunakan untuk mengobati lukaku saat tanganku tak sengaja tergores cutter.
Mungkin aku harus menggunakan salep ini untuk mengobati lukanya sebelum bertambah parah.
Aku menarik lengan tangan cowok itu yang terluka. Kali ini dia diam saja tanpa bicara apa-apa. Aku mencari beberapa lembar daun disekelilingku yang biasa kugunakan mengobati lukaku saat mencari kayu bakar. Tanaman itu ada disemua rumput yang tumbuh di hutan ini. Dan beruntung, tanaman itu tepat berada di sebelahku. Aku memetiknya beberapa helai dan kuoleskan diluka cowok itu sebelum memakaikan salep.
Ia mengerang kesakitan. “Arrrhhhhgggg ... Apa ini!”tanyanya.
“Diamlah cengeng! Daun ini sama seperti Betadine. Aku mengoleskannya supaya lukamu tidak terinfeksi jika kau biarkan lama terbuka. Saat ini kita berada di hutan, bukan di rumah sakit. Hanya ini yang bisa dilakukan untuk pertolongan pertama!”terangkumasih sambil fokus mengobati lukanya.
Cowok itu tidak protes meski aku mengatainya cengeng. Mungkin karena lukanya memang terlalu sakit. Sejauh ini dia selalu berteriak setiap kali aku bicara. Dia benar-benar payah sebagai cowok.
Aku memerhatikan lukanya. Setelah beberapa menit, daun itu kubuang dan kuoleskan saleb obat luka. Aku merobek bagian kaos yang kupakai untuk membalut lukanya supaya darahnya tidak keluar lagi.
“Lukanya sedikit dalam dan panjang, sepertinya butuh dijahit. Aku khawatir kalau tidak segera di rawat akan bertambah parah. Sebaiknya kita cepat meninggalkan tempat ini. Di sini banyak sekali binatang buas."
Tidak ada jawaban. Saat aku melihatnya, dia sedang menatapku. Kali ini dia tidak terlihat emosi ataupun marah. “Kenapa melihatku begitu?”tanyaku bingung.
“Kenapa kau menolongku? Kau bisa saja membiarkanku mati di sini.”
Aku berpikir sejenak sambil terus membalut lukanya dengan sobekan bajuku. "Aku sendiri juga tidak tahu. Pertanyaanmu juga sama dengan yang kupikirkan saat tiba-tiba berlari ke sini. Aku bahkan takut jika tidak tepat waktu. Aku tidak tahu siapa dirimu? Kau bahkan membuatku kesal dengan insiden genangan air yang membuatku kotor seperti ini, dan sekarang aku jauh lebih kotor lagi!”aku menertawai diriku sendiri yang lebih mirip Tarsan.
Aku melihat badanku sendiri dan pasrah dengan apa yang terjadi. “Lihat aku ... orang-orang akan menganggapku gelandangan jika melihatku seperti ini.”Aku berdiri setelah selesai membalut luka cowok ini dan mulai mencari jalan pulang. “Kau mau tetap di sini?”tanyaku karena cowok itu tak bergeming dari tempatnya.
Sepertinya cowok itu masih syok. Ia diam tanpa bicara apa-apa lagi. “Aku ... aku kesulitan bangun ....” ucapnya lirih.
“Astaga ....” aku kembali kearahnya setelah beberapa langkah.
Aku menarik lengannya supaya ia bisa berdiri dan membantunya berjalan. Aku mencari kayu sebagai tongkat agar ia lebih mudah melangkah.
Kami sampai di jalan utama desa setelah kurang lebih satu jam berada di tengah hutan. Semua penduduk tiba dan menyongsong kedatangan kami. Teman cowok ini yang tadi menanyaiku alamat juga langsung berlari ke arah kami. Ia langsung mengambil alih tugasku dan menggantikanku memapah cowok itu berjalan. Semua warga juga membantunya.
Rio juga langsung menghampiriku. “Apa kau baik-baik saja?” ucapnya sedikit khawatir.
“Iya. Aku tidak apa-apa.”
“Syukurlah, harusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri.”
“Sudahlah tidak apa-apa. Situasinya genting saat itu. Kau mengambil langkah tepat dengan segera mencari bantuan.”
“Kau terlihat lelah. Biar aku yang menjelaskan semua kejadian ini, kau pulanglah dan jaga nenek. Maaf maticmu kutinggalkan di rumah sebab tidak ada yang menjaga jika kubawa ke sini, karena kami tadi mau ke hutan menyusulmu.”
“Tidak apa-apa. Aku pergi dulu.”aku menepuk pelan bahu Rio.
“Kau berantakan sekali," ucap Rio sambil berlalu pergi.
Aku tertawa dan sepupuku itu berlari ke arah beberapa warga sedangkan aku berjalan memasuki desa. Aku sempat melihat cowok itu masuk ke dalam mobilnya.
Semoga ia baik-baik saja.
Aku berjalan pulang sendirian. Sementara beberapa warga berusaha mengamankan daerah ini supaya banteng tadi tidak bisa lagi masuk ke area ini dan menyerang warga lain. Aku mengeluarkan salep itu lagi dari sakuku. Tanpa sengaja aku melihat tulisan di salep itu yang ternyata bukanlah salep obat untuk luka. Melainkan ... lem perekat.
Aku panik dan langsung berlari menyusul mobil yang membawa cowok itu, berusaha memperingatkannya atas keteledoranku, tapi terlambat ... mobil itu sudah terlalu jauh. Aku tidak bisa mengejarnya.
“Bagaimana ini? Dia memakai salep yang salah. Apa yang akan terjadi? Bagaimana dengan lukanya? Astaga, aku bisa gila ... kali ini, matilah akuuuu ....!" aku memegang kepalaku dengan harap-harap cemas.
BERSAMBUNG
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
HNF G
hahaha..... astagfirullah..... tp gpp lah, semoga malah bisa menutup luka sementara, asal bukan alteco aja😂😂😂😂
2024-07-09
0
HNF G
halah... kelamaan, keburu gantengnya sampai😅😅😅🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2024-07-09
0
Jeissi
lumayanlah untuk pertolongan pertama lukanya di lem 🤣
astaga... udah baca untuk yang kesekian kalinya tapi tetap aja ngakak
2023-11-05
0