Aku memerhatikan penampilan cowok itu. Lumayan keren. Ia memakai hem putih polos yang melekat sempurna ditubuhnya dengan paduan celana jins yang menambah kesan kasual dalam dirinya. Aroma tubuhnya yang wangi mengalahkan wangi bunga yang kupegang saat ini. Sekilas aku memerhatikan cowok ini. Sudah jelas dia bukan berasal dari sini, ia juga tidak datang sendiri. Ada orang lain di dalam mobil volvo silver yang terparkir rapi di pinggir jalan tepat di depan rumah Mia.
"Ada banyak nama Vila Cahaya di sini, tapi lokasi alamat ini bukan di sini, ini beda desa." aku mengamati kertas berisikan alamat yang cowok itu berikan padaku.
"Entahlah ... kami hanya mengikuti google maps dan petunjuk itu mengarah ke sini.” Cowok itu mengamati sekitar rumah Mia.
“Kau tidak sadar? Kau sudah tersesat!” aku melihat mobil volvo silver yang ada di belakang cowok ini. Mataku tertuju pada orang yang duduk di balik kemudi.
Seseorang yang ada di dalam mobil itu memerhatikan kami. Aku sangat yakin ia sedang melihatku, dan entah kenapa aku merasa aku juga pernah melihatnya, tapi aku tidak ingat kapan dan di mana.
"Apa kalian baru di sini?”tanyaku penuh selidik.
“Iya, kami baru sampai kemarin dan langsung ke sini. Tempat ini sangat asing bagi kami. Hanya google maps petunjuk kami. Tidak kusangka aku tertipu olehnya, dan aku baru tahu aplikasi ini bisa menyesatkan.”
“Hei ... jangan bercanda? Kau tidak bisa menyalahkan aplikasi? Kau yakin kau sudah menuliskan alamatmu dengan benar?" entah kenapa aku merasa anak ini lucu sekali. Dasar bule nyasar!
“Aku tidak tahu ... temanku yang yang menulisnya, aku hanya ikut saja.”
“Orang yang duduk di dalam mobil itu?” aku menunjuknya dengan daguku.
Cowok itu menoleh ke belakang. “Iya, dia ... apa ... kau mengenalnya?”
"Tidak! Aku baru bertemu kalian pertama kali di sini, mana mungkin aku mengenalnya," jawabku sambil tersenyum.
Cowok itu manggut-manggut. Entah ia mengerti atau tidak, aku tidak begitu peduli. Apalagi orang ini adalah orang asing bagiku. Kalau dilihat dari logat bahasanya, sepertinya ia berasal dari luar negeri yang baru belajar bahasa Indonesia.
“Baiklah ... keluar dari gang ini lurus ke depan sampai dipersimpangan jalan utama. Lalu belok kiri dan terus ikuti jalan utamanya. Akan ada banyak sekali jalan berliku yang turun naik, terus saja. Nanti ada jalan menurun dan belokan tajam dekat sisi jurang yang bekelok-kelok jalanannya. Tidak ada jalan menanjak lagi. Lokasi Vila itu ada di belokan tajam itu. Tepatnya di sebelah kiri kalau berangkat dari sini. Jaraknya kurang lebih sekitar 5 km dari sini. Kalau lebih dari itu, berarti kalian tersesat lagi.”Aku memberitahu di mana lokasi vila itu berada.
“Aku agak sedikit bingung ...." ujarnya sambil garuk-garuk kepala setelah mendengar penjelasanku.
"Ikuti saja jalan utamanya begitu keluar dari gang ini," ucapku agak kesal.
Sudah dijelaskan panjang lebar begitu, masih saja belum mengerti. Dasar bule menyebalkan! batinku.
"Baiklah terimakasih ... kau berkata jujur, kan?”
“Kau meragukanku?”orang ini lumayan mengesalkan sekali.
“Bukan begitu ... kalau google maps saja bisa salah bagaimana aku bisa percaya pada orang asing yang baru saja kutemui.”
“Terserah ... aku sudah membantumu. Mau percaya atau tidak, itu terserah kamu.”
Cowok itu tidak menjawab. Ia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.
“Benar-benar menjengkelkan. Dasar bule aneh!” aku menggerutu sambil melihat mobil itu berlalu.
“Ada apa?" tanya Yua saat aku duduk didekatnya. “Siapa dia?”
“Orang yang tersesat, dan sangat menjengkelkan! Harusnya kusesatkan saja tadi!” wajahku jadi merah karena terkena paparan sinar matahari di tambah dengan suasana hatiku yang sedang kesal.
“Mobilnya keren!“
“Iya! Kau benar, itu mobil volvo yang kusukai dan suatu hari nanti aku ingin sekali memilikinya.”
“Kau mimpi terlalu tinggi!” Yua tersenyum. “Kenapa kau suka mobil seperti itu?”
“Mobil itu sama seperti milik Edward.”aku tersenyum membayangkan kalau suatu hari ada Edward sungguhan datang dan mengajakku naik ke dalam mobil Volvonya.
“Apa? Edar siapa?”tanya Yua.
“Bukan edar ... EEEDDD-WWWAAARRRD! Novel dan film kesukaanku!”jawabku kesal.
“Twilight?” Yua menepuk jidatnya. "Kau penggemar fanatik juga rupanya.”
“Aku berbeda dengan mereka berdua!” aku menunjuk Nura dan Mia yang asyik menonton drakor dengan daguku. "Aku hanya suka mobil yang dikendarai Edward di film itu, menurutku itu keren!”
“Kau benar. Tunggu! Berarti mereka yang tadi itu ... baru datang dari luar negeri? Tidak ada yang punya mobil itu di sini.”
“Sepertinya begitu, aku tidak bertanya?”
“Ahhh ... harusnya kau bertanya. Aku sempat melihat pria yang ada di mobil itu, lumayan tampan juga. Untung Mia dan Nura tidak lihat, kalau mereka melihatnya pasti heboh dan bikin malu kita?”
“Kau benar, tapi aku tidak terlalu tertarik untuk tahu siapa mereka. Mungkin jika tadi Mia dan Nura tahu, mereka pasti bakal berteriak ‘Haduhhh ... mereka ganteng sekaliiii ....’!” Aku menirukan gaya genit mereka saat mengatakan kalimat itu.
Mia tertawa melihat tingkahku. “Kau benar. Mereka berdua selalu bertengkar. Tapi dalam hal cowok. Mereka satu selera. Ganteng menurut mereka belum tentu bagi kita!”Yua terkekeh begitu pula aku.
Kami berdua melakukan tos khas kami. Tidak banyak perbedaan diantara aku dan Yua. Kami punya kriteria orang yang disukai. Meski kriteria kami juga sangat berbeda sebenarnya. Yua lebih menyukai cowok ala preman, bandel, dan arogan. Menurutku, menyukai cowok semacam itu bukanlah hal yang biasa dan tidak mudah dilakukan.
Tidak banyak orang yang tahan berpasangan dengan cowok semacam itu, tapi Yua berbeda. Dia memang luar biasa. Sayangnya, hanya ada satu orang di sekolah kami yang masuk kriteria Yua, yaitu 'Epank’ anak IPA 2 teman sekelas Mia. Hanya saja, si Epank sudah punya pacar dan lebih parahnya lagi adalah pacar Epank itu teman sekelas kami sendiri ‘Via’.
Karena tidak mau merusak persahabatan kami, Yua harus menyimpan perasaan itu dalam-dalam. Sebagai sahabat yang dekat dengan Yua, aku hanya bisa memberikan dukungan dan semangat supaya dia melupakan Epank dan mencari penggantinya. Memang tidak mudah melupakan cinta pertama. Tapi juga tidak mudah menyakiti hati teman sendiri demi rasa egois karena cinta.
Sampai saat ini, belum ada sosok yang bisa menggantikan Epank dalam hati Yua. Sebagai sahabatnya, aku selalu berdoa yang terbaik untuk Yua. Semoga suatu hari nanti, ia mendapatkan cinta sejatinya. Itulah sedikit kisah kriteria Yua yang ia inginkan.
Berbeda denganku, aku suka cowok yang biasa saja, yang penting dia pandai dan bisa membuatku tertawa. Aku sangat benci dengan cowok yang jail dan suka mengganggu orang lain. Kebanyakan, semua teman-teman sekelas kami bertingkah seperti itu. Mereka benar-benar kekanak-kanakan.
Dengan kata lain, aku lebih suka cowok yang lebih dewasa dariku. Itulah kriteria cowok yang kusuka. Sayangnya, tidak ada cowok yang seperti itu di sekolah kami.
Aku melanjutkan mengerjakan hasil karyaku. Begitu juga dengan Yua. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan karya ini. Bunga-bunga dan daun dari berbagai jenis kucelupkan di berbagai macam warna dan kutempelkan di kertas manila.
Hasilnya, sangat menakjubkan. Cepat dan praktis. Hanya membutuhkan waktu lima menit. Setelah itu tinggal menunggu kering untuk melepaskan bunga-bunga dan daun-daun itu dari kertas agar terbentuk sempurna.
“Selesai, akhirnya ....”aku menatap bangga hasil karyaku sendiri. Yua mengamati hasil kinerjaku dan dia takjub juga melihatnya.
“Karyamu bagus sekali! Dari mana kau dapat ide menggambar seperti itu? Aku saja belum selesai dan ini ribet sekali. Kenapa tidak terpikirkan olehku idemu itu?”
Aku tersenyum, aku jadi merasa bangga pada diriku sendiri.
“Kau memang punya bakat seni, tidak salah kalau pak guru merekomendasikanmu untuk sekolah seni di Yogja. Apa nanti kau mau ambil jurusan itu?"
Senyumku menghilang mendengar pertanyaan Yua. “Aku tidak tahu. Aku belum memutuskan, lagi pula itu masih lama.”
“Aku iri padamu! Kau punya banyak sekali bakat. Kau pintar matematika dan IPA. Kau punya masa depan yang cerah.”
Aku hanya diam. Sungguh aku tidak tahu bagaimana masa depanku, karena setelah lulus SMA nanti mungkin aku tidak akan ada di sini lagi, dan teman-temanku tidak ada yang tahu itu. Mereka bahkan tidak tahu siapa aku sebenarnya. Mereka hanya tahu bahwa kami hanya berteman sejak SMP karena berada di satu sekolah yang sama.
Kami menjadi lebih dekat sejak kami memasuki sekolah SMA yang sama lagi. Setiap hari kami berangkat dan pulang bersama. Kami juga mengikuti kegiatan ektrskurikuler yang sama. Intinya kami selalu bersama-sama.
"Aaahhhhh kenapa membosankan sekali.” Mia melekukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sepertinya ia sudah selesai melihat filmnya.
“Kau sudah selesai?” tanyaku.
“Belum! Tapi aku sedang bosan. Kenapa aku tidak punya pacar! Setiap hari aku terjebak dengan kalian! Tidak adakah orang yang menyukaiku? Menembakku? Apa aku tidak cantik? Aku sempurna, bukan?”
“Ku kira hanya Nura yang narsis,ternyata kau lebih parah?”ujarku.
“Aku kurang apa coba? Kenapa aku tidak punya pacar diusiaku saat ini. Teman-teman kita yang lain sudah punya semua!”
“Kau kurang menarik!” sahut Nura dari dalam dan masih betah dengan filmnya.
“Aku tidak bicara denganmu!”
“Kau bicara pada kami?” tanya Yua mulai menggoda.
“Menurutmu?”
“Kurasa kau mulai terkontaminasi film yang kau lihat sehingga jadi baper seperti ini. Apa salahnya menjomblo? Bukankah itu mengasyikkan? Kau tidak harus tertekan dengan sebuah hubungan. Punya pacar jauh lebih membosankan dari pada yang kau rasakan sekarang.”Aku mulai mengutarakan pendapatku.
Yua setuju denganku. Ia mengacungkan jempolnya tepat dihadapanku.
“Apa kau pernah punya pacar? Kau sangat paham sekali?”
“Kenapa bertanya lagi? Kau sudah menanyakannya tadi, kau lupa? Aku sudah menjelaskannya. Haruskah kujelaskan sekali lagi?”
“Tidak usah. Mungkin kau benar. Aku terlalu baper. Tapi aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya punya pacar.”
“Apa yang kau bicarakan? Jalani saja, semuanya pasti bakal indah pada waktunya.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja. Kau tidak?”
Mia tampak ragu, tapi ia membenarkan kata-kataku. “Baiklah! Kita semua punya kesamaan. Sama-sama masih jomblo. Jika salah satu diantara kita ada yang punya pacar, maka orang itu harus mentraktir kita semua, dan kitalah yang menentukan traktiran apa yang diinginkan!”tantang Mia.
Semua sepakat setuju dengan usulan Mia. Termasuk juga aku. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyetujuinya juga.
“Baiklah. menurutmu siapa diantara kita yang bakal punya pacar duluan?” tanya Yua.
“Aku!” sahut Nura dari dalam.
“Urus filmmu itu!” Teriak Mia dengan kesal. “Dasar ratu narsis! Dia pikir dia menarik?" kami semua tertawa melihat wajah Nura cemberut lagi mendengar kata-kata Mia yang agak sedikit pedas di dengar.
"Aku tidak yakin ...." lanjut Mia. "Diantara kita berempat yang paling tinggi, putih dan berwajah lumayan adalah kau dan Yua. Pasti aku yang terakhir karena punya fisik dan wajah yang pas-pasan.”Mia mulai melantur lagi.
“Siapapun dia, kita harus bahagia. Kenapa kau sedih? Kau tidak suka bila ada temanmu yang terlebih dulu punya kekasih? Bukankah itu pelanggaran?” tanya Yua.
“Mia, jangan menilai sesuatu hanya dari fisiknya saja. Kita semua berteman. Jika teman kita bahagia kita semua juga harus ikut bahagia. Tidak ada wanita yang sempurna di dunia ini. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kau sendiri juga jago banget bikin puisi. Siapapun yang membaca puisimu pasti langsung jatuh hati padamu!”aku menyemangati Mia.
Semuanya membenarkan ucapanku, dan tiba- tiba saja aku teringat sesuatu.
“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Titip kertas ini, yah! Kalau sudah kering, tolong masukkan ke dalam rumahmu. Besok pagi kuambil.”aku buru-buru merapikan tasku.
“Kau mau ke mana?”tanya Yua bingung dengan tingkahku.
“Kerumah nenekku. Dia sedang sakit aku ingin menjenguknya.”
“Kau mau aku ikut bersamamu?” Yua menawarkan diri.
“Tidak usah, aku bisa ke sana sendiri!”
“Mendadak sekali!”
“Aku baru ingat!”
“Dasar! Sepertinya tidak butuh waktu lama buatmu untuk menjadi nenek-nenek karena sifatmu yang pelupa,”sindir Mia.
Aku hanya tersenyum mendengar omelan Mia. "Kau sendiri juga tidak butuh waktu lama untuk menjadi emak-emak karena sering mengomeli teman-temanmu!"
Aku buru-buru membereskan perlengkapanku dan tanpa sengaja jariku tergores cutter.
“Kau tidak apa-apa? Kau ini benar-benar ceroboh sekali!” Mia bertindak cepat dan langsung mengoleskan salep luka ditanganku agar darahnya berhenti keluar.
“Aku tidak apa-apa. Sudahlah ini hanya luka kecil.” Aku melanjutkan beres-beres. "Kalau ada yang ketinggalan tolong simpankan untukku, oke! Besok kuambil.”
“Hati-hati di jalan dan jangan ngebut!” ucap Yua.
“Simpan nasihat itu untuk dirimu sendiri! Kaulah yang suka ngebut.”
“Aku tidak ngebut! Itu hanya cepat!”
“Apa bedanya?”
“Itu berbeda!”
“Bagiku itu sama! Baiklah aku pergi dulu. Tebengin Nura pulang, ya!”
“Aku lebih ikhlas kalau dia pulang sendiri jalan kaki.”
Aku tersenyum mendengar jawaban Yua. Temanku yang satu itu memang suka sekali menjahili Nura.
“Kau tega padaku? Kejam kau!” sahut Nura. Walaupun dia fokus dengan filmnya, dia bisa menyimak pembicaraan kami.
Kami semua tersenyum dan aku langsung pamit. "Sampai ketemu lagi, bye!" ujarku.
BERSAMBUNG
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
agustin puspita
udh keberapa ya lupa.......
2023-10-27
0
Mara
Suka bgt sama kisah persahabatan yang somplak..
Semoga mereka benar-benar rukun😘
2023-04-03
0
Teh Yen
saling ejek dengan sahabat adlaah hal yg menyenangkan aplgi tanpa ada yg sakit hati semuanya blak.blak kan aj gt ,,, jd inget zaman SMA 😂😂😅
2022-08-10
0