Sorakan dan tepukan tangan meriah membuyarkan lamunanku. Mereka semua tersenyum senang dengan kehadiran orang yang mengusik hari-hariku.
Kalau diperhatikan, dia datang memakai seragam yang sama seperti kami dengan tangan kanan dibalut perban dan ditopang kain yang disangkutkan dilehernya. Ia membawa tas ransel hitam yang ditautkan dipundak sebelah kiri. Tatapannya lurus ke depan dan acuh dengan suara berisik siswi-siswi yang menyambut kedatangannya. Bak pangeran yang datang dari negeri dongeng, ia terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
Aku begitu tercengang mamastikan bahwa ia bukan siswa baru di sini. Meski kenyataannya adalah dia memang siswa baru. Gayanya yang terlihat cool dan keren membuat para siswi rela berjajar di koridor untuk menyambut kedatangan siswa baru ini. Bahkan kini aku tahu alasan beberapa pasangan yang cemburu karena pacarnya lebih memilih antre di koridor untuk menyaksikan ketampanan cowok ini. Itulah sebabnya mereka beradu mulut tadi.
Kepalaku terasa pusing memikirkan apa yang terjadi. Aku berusaha masuk kedalam kelas untuk menenangkan diri, tapi tiba-tiba saja ada yang menarik lenganku tanpa izin. Hampir saja aku terjatuh karena tarikan itu, untungnya ada seseorang yang mau menopangku dengan lengannya sehingga aku tidak jadi jatuh.
Aku terkejut mengetahui siapa pemilik lengan itu. Pemiliknya adalah... siswa baru itu. Dia juga yang ternyata menarik lenganku. Kami bertatapan satu sama lain.
Tentu saja teriakan semakin menggelegar antara tidak terima dan tidak percaya bahwa siswa baru yang mereka dambakan meraihku. Aku diam seribu bahasa, bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Kami terus beradu pandang, aku bahkan tidak bisa bergerak saking syoknya. Tapi, teriakan mereka menyadarkanku dan membuatku buru-buru berbalik masuk ke kelas.
Anehnya, sekali lagi lenganku ditarik olehnya sampai mendekat ke arah cowok itu berdiri. Aku terkejut begitu juga dengan yang lainnya. Kali ini, mereka tidak bersuara, karena bukan aku yang sengaja mendekatkan diri padanya, tapi cowok itu yang menarikku hingga ada dihadapannya.
Aku memerhatikan lengan kanannya yang menggantung di depan dadanya. Rasa bersalah itu muncul lagi sampai aku ingin menangis. Air mataku tiba-tiba keluar membasahi pipi, cowok itu masih memegangi lenganku untuk memastikan bahwa aku tidak menghindar lagi lalu ia berbisik di telingaku yang membuatku langsung terbujur kaku.
"Akhirnya ... aku menemukanmu!" ia mendekatkan wajahnya ditelingaku seolah-olah ingin menciumku.
Kali ini suara teriakan kembali menggelegar mengalahkan suara petir. Tapi cowok ini tidak peduli dengan suara-suara bising disekitarnya. Ia hanya menatapku. Bukan tatapan suka atau menyenangkan, tapi tatapannya seolah-olah ingin memangsa dan membunuhku.
"Kita harus bicara nanti. Aku ... harus buat perhitungan denganmu. Jangan lari atau kabur karena aku bisa menemukanmu kemanapun kamu pergi. Senang bisa bertemu lagi." ia menyeringai padaku.
Kata-katanya membuatku semakin takut ... takut akan hal buruk yang menimpaku.
Tidak salah lagi! Dia pasti ingin balas dendam padaku.
Cowok itu melepaskan tanganku dan pergi berlalu begitu saja. Suara sorakan sudah mulai tenang seiring dengan kepergian cowok itu. Hanya menyisakan pandangan kebencian yang ditujukan padaku. Baru pertama kali ini aku menjadi bahan gunjingan dan perhatian, seolah-olah menandakan hari-hari burukku akan dimulai.
Aku terduduk lunglai, jatuh dan menangis. Yua yang sejak tadi berdiri didekatku mulai memahami situasiku meski aku tak mengatakan apapun. Dia memapahku yang lemas masuk ke dalam kelas dan mendudukkanku di kursi bangku.
Perlahan kubasuh air mataku. Mencoba menenangkan diri sendiri. Aku tidak bisa terlihat seperti ini. Semua teman-temanku berlari kearahku dan menghujaniku dengan sejuta pertanyaan yang tidak bisa kujawab.
"Kau kenal dia, Fey? Siapa Dia? Kenapa tanganmu dipegang sama Dia? Apa hubunganmu dengannya?" itulah pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan teman-temanku padaku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Saat ini aku hanya bisa diam seribu bahasa. Aku tidak tahu bagaimana menjawab semua pertanyaan teman-temanku.
Beruntung ada bapak ibu guru segera datang sehingga mereka berhenti bertanya dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Pelajaran pun dimulai.
Aku merasa buruk saat ini sehingga tidak bisa konsen dengan pelajaran yang diberikan oleh guruku. Pikiranku kacau dan tidak tahu harus bagaimana. Entah kenapa hari ini menjadi begitu seakan-akan menandakan akhir dari hidupku.
Kesedihan ini mengingatkanku akan masa laluku yang begitu kelam, saat dimana ibuku meninggal. Aku benar-benar terpuruk dan selalu memikirkan hal yang terburuk dalam hidupku.
Ingin sekali aku mengikuti ibuku, sampai sebuah pesan itu datang dan terngiang. Sebelum ibu meninggal, ia menginginkanku untuk terus menjalani kehidupan yang kuinginkan lalu menjadikannya kenangan yang tak terlupakan sampai akhir hayatku.
Pesan ibuku sangatlah rancu sampai aku menemukan buku diarynya. Kubaca setiap lembarnya yang berisikan hari-hari yang dilaluinya mulai dari ia remaja sampai ia berkeluarga.
Aku mulai tertarik dengan kehidupan ibuku dan akupun mulai mengikuti jejaknya. Karena itulah aku sampai di sini, berada di tempat ini dan mencoba mengukir kembali kenangan ibuku. Dengan begini, aku beranggapan seolah-olah ibuku kembali hidup dan mengisi hari-hariku. Di sini pula, aku menemukan kehidupan yang kuinginkan seperti yang dikatakan ibu dalam diarynya.
Sampai hari ini tiba, kehadiran cowok itu mulai menjadi bumerang bagi hidupku. Aku mulai merasakannya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Haruskah aku lari? Tidak, jika aku lari ... seumur hidupku akan terus dihantui dengan rasa bersalah. Aku tidak boleh lari. Bagaimanapun juga, semua ini salahku. Aku harus menghadapinya. Iya ... aku harus menghadapinya. Aku tidak mau hidupku berantakan hanya karena Dia. Aku akan bertanggungjawab dan menyelesaikannya.
Aku memantapkan hati dan pikiranku untuk menghadapi cowok itu.
"Apakah ... dia ... cowok itu?" tanya Yua setelah melihatku sedikit tenang.
Aku mengangguk pelan.
"Bagaimana bisa dia ada di sini? Apa dia sengaja?" tanya Yua.
"Aku tidak tahu, ia hanya bilang akan buat perhitungan denganku!"
"Itu yang dia katakan padamu? Astaga! Wajahnya saja tampan, tapi ternyata ia menakutkan sekali. Kau jangan takut, Fey. Ada aku."
Aku tersenyum dan sangat berterimakasih atas dukungan yang diberikan Yua padaku. Aku memang tidak takut, hanya saja mulai hari ini akan ada gangguan sedikit dalam hidupku. Tapi aku sudah memutuskan untuk menghadapinya, bukan menghindarinya ataupun lari darinya.
"Yua ....!"
"Ehmmm ... ada apa, Fey!"
"Sepertinya, nanti kita tidak bisa pulang bersama. Jadi, apa tidak apa-apa kalau kau pulang sendiri?" tanyaku.
Seolah paham dengan apa yang kubicarakan, Yua mengangguk. "Apaaa ... kau akan menemuinya? Kau tidak apa-apa jika sendiri? Mau kutemani?" Yua jadi terlihat cemas.
"Tidak, terima kasih ... aku bisa sendiri. Aku ingin tahu perhitungan apa yang ia berikan padaku."
"Kau mau aku menunggumu? Untuk jaga jaga ...."
"Tidak usah. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Tidak akan ada yang terjadi!" aku meyakinkan Yua dan meyakinkan diriku sendiri.
"Kau yakin?"
"Iya ... jika ada sesuatu aku pasti menghubungimu." aku mencoba tersenyum walau salah hati terasa was-was.
Yua terdiam seakan tidak yakin dengan keputusanku. Tapi ia berusaha percaya padaku. "Semoga semua baik-baik saja ... jika ada sesuatu, kau harus janji cepat hubungi aku."
Aku mengangguk. "Oke."
Bel tanda selesai pelajaran berbunyi. Kami bergegas merapikan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas lalu bersiap untuk pulang.
Di akhir pertemuan, pak guru memberikan pekerjaan rumah yang harus kami kerjakan. Setelah itu, semua siswa diizinkan keluar untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tepat seperti dugaanku. Aku mendadak berubah jadi selebritis papan atas yang banyak mencuri perhatian, itu sangat membuatku tidak nyaman. Tatapan para siswi-siswi itu seolah-olah ingin menerkamku hidup-hidup. Apalagi cowok baru itu sudah ada di depan kelasku. Ia pasti sengaja menungguku.
Aku menyadari sesuatu hal yang membuatku lega. Kami tidak satu kelas. Sehingga aku bisa sedikit bernafas selama aku tidak melihatnya.
Cowok itu berdiri mematung menungguku. Tentu saja ia juga jadi perhatian banyak orang. Kaki mereka melangkah tapi mata mereka tetap tertuju pada cowok itu dan padaku yang mulai berjalan ke arahnya. Kami saling berhadapan, dan aku siap berperang kalau memang itu yang dia inginkan.
"Sepertinya kau sudah siap!" sindirnya. Aku hanya diam menuggu apa yang akan dia lakukan terhadapku. Tiba-tiba dia melemparkan tas ranselnya kearahku tanpa peringatan. Spontan aku langsung menangkap benda hitam itu yang lumayan berat juga. "Bawakan tasku! Dan ikut denganku!" ujarnya dengan sikap menyebalkan.
Aku terkejut dengan sikapnya yang kasar, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Terlalu banyak orang di sini. Kami juga menjadi pusat perhatian mereka.
Cowok itu mendahuluiku, tapi aku masih saja belum beranjak dari tempatku. Berat rasanya kaki ini melangkah sehingga aku masih diam berdiri ditempatku.
"Apa yang kau lakukan? Cepat ke sini!" teriaknya.
Aku tidak bisa membayangkan reaksi orang-orang yang ada disekitarku. Mereka semua menatapku. Seribu pertanyaan mungkin muncul dibenak mereka. Begitu juga diriku, entah kenapa aku harus menuruti kemauan cowok itu. Cowok yang sampai saat ini belum kutahu siapa namanya.
Perlahan aku melangkah dan mulai mengikutinya. Tapi cowok itu tidak sabaran dan menyeret tanganku dengan tangan kirinya.
"Kau ini lamban sekali!" geramnya sambil menarik tanganku.
"Lepaskan tanganku! Semua orang melihat kita. Aku tidak ingin mereka salah paham!" aku berusaha berontak tapi cekalannya terlalu kuat.
"Biarkan saja mereka salah paham. Siapa yang peduli!" cetusnya.
"Apa?" cowok itu terus menarikku keluar jalan dan menuju gerbang sekolah.
Semua orang melihat kami berpegangan tangan dan mengira kami yang bukan-bukan. Tatapan mereka semakin membuatku tidak nyaman.
Mereka semua pasti salah paham, dan cowok ini acuh dengan apa yang terjadi disekelilingnya. Aku jadi semakin stress!
Kami sampai di dekat mobil volvo yang kulihat waktu itu. Sepertinya kaca belakang mobil ini sudah di perbaiki. Cowok itu menyuruhku masuk ke dalam mobil sementara dia berjalan kearah lain. Ia langsung duduk di belakang setir dan menyalakan mesinnya
Suara teriakan heboh terdengar dari luar, tapi cowok itu tetap tidak peduli. Begitu mesin sudah menyala, kami langsung melaju dengan cepat meninggalkan sekolah serta jutaan pasang mata yang menatap nanar kearah kami.
"Bagus! Aku akan jadi artis mulai dari sekarang, dan sepertinya akan ada banyak orang yang mem-bully-ku! Dan itu berkat kau!" protesku.
Cowok itu menoleh ke arahku. Ia menyetir dengan menggunakan satu tangan. "Apa maksudmu!"
"Harusnya aku yang bertanya? Apa maksudmu tadi? Melempariku tas? Menyeretku keluar? Menyuruhku masuk kedalam mobil ini? Apa yang kau lakukan? Kau gila? Inikah perhitungan yang kau maksud? Kau ingin aku jadi sasaran empuk bully-an mereka?"
"Kenapa kau dibully?" tanyanya sok polos.
"Kenapa?" mataku terbelalak menatapnya. "Tentu saja mereka salah paham pada kita!" ujarku sedikit emosi.
"Oh, biarkan saja. Yang penting mereka tidak menyakitimu."
"Apa?" aku sungguh tidak percaya ada orang seperti dia. "Bagimu memang tidak masalah, tapi bagiku ... ini masalah besar," cetusku kesal.
"Aku tidak akan membiarkanmu disakiti oleh siapapun, selama berada disisiku, kau aman."
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
Cowok itu hanya tersenyum sinis tanpa berkata apa-apa dan itu membuatku semakin emosi. Ia terus fokus menyetir dan mengacuhkanku seolah-olah aku tidak ada. Ingin rasanya aku keluar dan melompat dari mobil ini tapi aku masih belum mau mati sia-sia di sini apalagi gara-gara dia.
Entah kenapa tiba-tiba aku teringat kata-kata yang pernah kuucapkan pada Yua, bahwa aku akan baik-baik saja. Aku menyadari sesuatu, hal yang dulu juga pernah kukatakan pada Yua ... kalau aku akan naik ke dalam mobil seperti ini suatu hari nanti.
Kata-kata itu kini menjadi nyata. Hanya saja, ini bukan volvoku, melainkan volvo cowok aneh ini.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
HNF G
dasar gak tau terimakasih. udah diselametin nyawanya malah kelakuannya minus kek gitu😤😤😡😡😡
2024-07-10
0
Mara
Ucapan adalah doa👍🤗
2023-04-03
0
Suchomimus
bagus... cuma terlalu banyak ceritanya, dari pada komunikasinya
2022-12-20
0