Cowok itu mengantarku pulang setelah membuat jadwal kesepakatan. Akhirnya aku tahu siapa nama cowok itu. Namanya adalah Refald, nama yang sulit bagiku.
Memang benar dugaanku. Dia berasal dari luar negeri. Ia tidak bilang dari negara mana dan akupun juga tidak tertarik membahasnya.
Awal tujuannya ke sini hanya berlibur. Tapi ia memutuskan pindah sekolah karena dia tidak ingin merepotkan orang lain karena ulahku. Ini terlalu dramatis sebenarnya, ia bisa saja meminta ganti rugi dan kembali ke negaranya, tapi ia tidak mau. Ia malah ingin tetap di sini dan memintaku merawatnya sampai ia kembali pulih.
Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Meninggalkan negaranya hanya demi membuat perhitungan denganku. Dia benar-benar aneh.
Tak terasa hari sudah semakin sore. Mobil Volvo yang dikendarai Refald melaju dengan cepat. Selama diperjalanan pulang, aku tidak bicara banyak dengannya. Kami berdua saling diam. Aku hanya berharap suatu hari nanti ia pindah sekolah lagi segera setelah ia sembuh dan tangannya kembali seperti semula. Sehingga ia tidak lagi merepotkanku dan mengganggu hidupku.
Duduk berdua bersamanya dalam satu mobil seperti ini membuatku merasa canggung. Ini pertama kalinya aku menghabiskan waktuku dengan orang asing yang baru saja kutemui, apalagi orang asing itu adalah seorang pria. Namun mulai sekarang, aku harus terbiasa dengannya.
Akhirnya, kami sampai juga di depan rumahku. Aku turun dari mobil dan membuka pintu pagar. Refald juga ikut masuk ke dalam.
"Tunggu di sini!" aku menyuruhnya berhenti mengikutiku saat kami memasuki ruang tamu.
"Kau tinggal sendiri?" tanyanya.
"Ada pak Kadin dan istrinya."
"Maaf kalau aku lancang, di mana orang tuamu?" Refald memerhatikan sekeliling ruang tamu yang dindingnya kosong tanpa ada hiasan apapun. Selain kursi dan meja, aku memang tidak mengisi apapun di rumah ini. "Rumahmu sepi sekali!" komentarnya.
"Selain ketiga temanku, kau orang pertama yang menanyakan mereka setelah tujuh tahun lamanya. Ibuku meninggal dan Ayahku bekerja di perusahaan asing. Ia tidak pernah ke sini. Hanya aku yang tinggal di sini."
"Selama tujuh tahun kau tidak pernah bertemu dengan Ayahmu? Kau tinggal sendiri selama itu?" ia terlihat sangat terkejut.
"Aku tidak ingin membahas hal ini sekarang. Aku berkemas dulu!"
Refald mengangguk, ia duduk disalah satu kursi ruang tamuku sedangkan aku langsung menuju ke kamarku yang ada di lantai dua.
Sambil menangis aku menyiapkan barang-barang yang kubutuhkan, baju, buku-buku pelajaran, seragam sekolah, tak lupa buku diary dan foto ibuku. Kedua hal itu adalah bagian penting yang wajib kubawa kemana-mana.
Setelah selesai berkemas, aku turun dan menemui Refald. Aku berpamitan dengan penjaga rumahku, setelah itu kami berdua pergi ke desa nenekku. Desa yang sama dengan tempat tinggal Refald sekarang.
Untuk saat ini, Refald tinggal di Vila Cahaya. Itu adalah vila yang baru saja dibeli olehnya. Rupanya dia benar-benar anak Sultan. Ia tak hanya mampu membeli vila, tapi Volvo Silver itu ternyata juga miliknya.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Sejak tadi kau hanya diam saja. Kau marah?" tanya Refald untuk memecah kesunyian.
"Fokus saja menyetir. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu."
"Kau masih bisa jutek padaku. Kau tidak seperti yang kubayangkan. Aku kira kau bakal terpesona olehku!"
"Jangan salah paham ... semua ini hanya karena aku ingin menebus kesalahanku. Aku bahkan tidak menyukaimu. Kau bukan tipeku!" ujarku jujur.
"Apa? Aku? Bukan tipemu? Huh ... Aku tidak percaya ini ... kau orang pertama yang tidak menyukaiku. Semua cewek terpesona padaku. Bahkan mereka sampai tergila-gila padaku. Kau bisa lihat tadi di sekolah ... mereka menyambutku dengan meriah."
"Mereka hanya cewek bodoh. Kau tidak sekeren itu."
"Apa?" cowok itu tersedak dan menatapku marah.
"AWAAAAS !" Teriakku. Refald mengerem mobil seketika. Hampir saja kami terjun ke jurang. "Apa yang kau lakukan? Kau ingin kita mati? Sudah kubilang fokus saja menyetir! Cepat keluar!" bentakku marah.
Aku membuka pintu mobil dan berjalan kesisi Refald. Ia pun membuka pintu mobilnya lalu keluar. Sepertinya ia juga terkejut. Aku menggantikan posisinya dan beralih mengambil kendali setir. Kami bertukar kursi.
"Aku baru tahu kalau kau bisa juga menyetir. Darimana kau belajar?"
Dalam situasi seperti ini orang ini masih saja bisa berbicara. Dasar menyebalkan.
Aku tak mau menjawab pertanyaannya dan mulai fokus menyetir dengan tenang. Beberapa menit kemudian, kami sampai di vila cahaya milik Refald. Aku keluar dan membanting pintu mobilnya. Membuka bagasi, mengambil barang-barangku dan menutupnya lagi dengan kencang. Lalu pergi begitu saja ke rumah nenekku yang jaraknya 500 meter dari sini. Tanpa bicara sepatah katapun.
Untung hari masih belum terlalu malam. Karena jika sudah malam, jalanan jadi sepi dan gelap karena lampu-lampu jalan juga masih jarang. Akan menakutkan jika berjalan di tempat seperti ini sendirian. Apalagi di sini banyak ditumbuhi pepohonan yang rindang dan serasa menakutkan.
"Aku antar kau pulang!" tidak kusangka Refald mengejarku.
"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri!" nadaku ketus.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Bersiap-siaplah karena nanti malam akan aku jemput. Suapi aku untuk makan malam."
Ia kembali ke mobilnya dan memasukkannya di garasi. Akupun melanjutkan langkahku ke rumah nenekku dengan perasaan kesal setengah mati.
Sebelum datang ke sini aku sudah memberitahu nenek untuk tinggal di rumah ini sementara waktu selama kurang lebih sebulan. Nenekku sangat senang. Keadaannya sekarang juga lebih baik dari minggu sebelumnya. Sudah lama nenekku ingin kami tinggal bersama, tapi aku tidak mau. Hanya karena Refaldlah terpaksa aku tinggal bersama dengan nenekku.
Ingatan masa lalu membuatku menjadi penyendiri dan tidak suka ditemani oleh siapapun. Karena itulah selama ini aku memilih untuk tinggal sendiri.
Aku masuk ke dalam kamar yang sepertinya sudah nenek siapkan untukku. Kamar itu adalah kamar ibuku saat ia masih tinggal dengan nenek. Letaknya ada di lantai dua tepat di samping balkon.
Kenangan tentang masa lalu ibuku semasa ia hidup mulai terbayang dipikiranku. Perlahan aku merebahkan diriku di atas kasur milik ibu. Ruangannya masih tetap sama seperti saat ibu masih kecil. Tak banyak yang berubah. Semuanya sama persis seperti yang digambarkan ibuku di buku Diary-nya yang selalu kubawa. Sepertinya nenek tidak berniat mengubah kamar ini. Mungkin ia ingin kamar ini menjadi kenangan untuknya.
Air mataku mulai jatuh. Aku sangat merindukan ibuku. Entah kenapa aku sangat merindukannya. Demi bisa menerima kematiannya aku rela datang ke sini. Sendiri, saat usiaku baru 10 tahun. Sebenarnya aku tidak ingin mengingat masa itu, karena itu adalah masa yang paling kelam dalam hidupku.
Kini aku berusaha bangkit kembali, dan itu tidaklah mudah. Selama tujuh tahun ini, aku berjuang sendiri. Akhirnya aku berhasil, meski saat ini masalah sedang menghampiriku, aku juga harus bisa melaluinya. Supaya aku bisa kembali ke negara asalku dan menghadapi diriku yang sebenarnya.
Seperti halnya Refald. Aku juga bukan asli warga negara Indonesia. Aku dilahirkan di luar negeri dan menghabiskan masa kecilku di sana. Sedangkan ibuku berasal dari sini. Di rumah inilah dia dilahirkan.
Aku meninggalkan negaraku dan jauh-jauh datang ke sini untuk menghilangkan kesedihanku atas kamatiannya yang begitu cepat agar aku bisa menerimanya dengan ikhlas. Aku begitu terpuruk sejak ibuku meninggalkanku untuk selamanya sampai tanpa sengaja, aku menemukan buku diarynya.
Buku itulah yang membuatku ingin tahu lebih banyak seperti apa kehidupan ibu dimasa lalu. Aku memutuskan datang kemari seorang diri berharap hari-hari yang kulalui ketika berada di sini bisa membuat kenangan ibu menjadi bagian dari hidupku. Aku ingin menghabiskan masa kecilku sama seperti yang dilalui ibu semasa dia hidup.
Tanpa terasa sudah tujuh tahun lamanya aku tinggal seorang diri tanpa ada yang tahu identitas asliku. Namun sekarang, berkat seseorang aku harus tinggal serumah dengan orang yang aku benci. Orang itu adalah ibu dari ibuku sekaligus nenekku.
Selain nenek dan keluarga besar nenekku. Tak banyak yang tahu mengenai siapa aku sebenarnya, dan untuk apa aku menetap di sini meski satu-satunya ikatan yang membawaku kemari telah pergi. Aku tetap menjadi orang asing meski sudah tujuh tahun aku berada di negara ini.
Aku memang menutup diri. Tidak pernah keluar rumah selain pergi ke sekolah dan bermain dengan ketiga temanku. Bagiku, merekalah keluargaku. Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah saudara ibuku.
Hanya Rio yang kutahu, karena cuma dia yang tinggal dengan nenekku di rumah ini. Ayah dan ibunya juga sudah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit. Dia sama sepertiku. Meski begitu, kami juga tidak terlalu akrab, karena kami jarang bertemu.
Rio berbeda denganku. Ia lebih suka keluar rumah dan mencari kayu bakar untuk penghangat ruangan. Setelah selesai mencari kayu bakar, ia membersihkan diri lalu keluar lagi entah ke mana. Ia baru pulang setelah tengah malam. Mungkin itu merupakan hal yang bisa ia lakukan untuk mengisi waktu luang agar bisa menghapus kesedihannya karena kehilangan kedua orang tua. Berbeda denganku yang lebih memilih menutup diri dan tinggal seorang diri di rumah kosong milik ayahku.
Aku dan nenekku tidak begitu akrab, meskipun aku langsung cemas jika mendengar ia sakit. Ada hal yang membuatku masih belum bisa menerima nenekku meski aku berusaha menepisnya. Sejujurnya ... aku membencinya. Aku masih belum bisa memaafkan nenekku sepenuhnya. Apalagi setelah aku tahu bahwa nenekku juga salah satu penyebab ibuku meninggal. Meskipun tidak secara langsung.
Bertahun-tahun aku berjuang hidup untuk memenuhi apa yang diharapkan mendiang ibu. Tapi semua itu tidak mudah. Aku kesulitan bahkan untuk bernapaspun aku tidak bisa, jika aku teringat bagaimana perjuangan ibuku untuk bertahan hidup meski takdir berkata lain.
Sampai detik ini, aku masih belum bisa menerima takdir itu. Takdir yang menghancurkan kebahagiaan seluruh keluargaku. Takdir yang harus memaksaku untuk meninggalkan keluargaku dan memilih datang ke sini untuk menjalani hari-hari demi mengejar kenangan ibuku yang dulu pernah ia lalui.
Apa yang aku cari? Aku masih belum bisa menemukannya. Ditambah dengan kedatangan Refald yang lagi-lagi memaksaku harus memilih tinggal bersama dengan nenekku meski sebenarnya aku tidak mau melakukannya. Aku bisa gila jika terus seperti ini ....
"Apa yang direncanakan cowok itu?" gumamku pelan.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Mara
Misterius bgt kisahnya fey
2023-04-03
0
Suchomimus
satu bab isinya cerita doang🤦♀🤦♀. ngoceh sendiri
2022-12-20
0
Rosnelli Sihombing S Rosnelli
kenapa bisa nyetir klo tangannya sakit thor
2022-03-20
0