Akhirnya kami sampai disebuah kafe yang memiliki halaman parkir luas sehingga kami bisa memarkir kendaraan kami berdekatan agar tidak terpisah.
Tempat ini lumayan ramai. Kebanyakan yang datang ke sini adalah muda mudi. Sebagian besar dari mereka berpasang-pasangan. Tempat ini memang cocok buat nongkrong, karena banyak fasilitas yang memadai. Bangku-bangku yang tertata rapi, televisi besar yang di gunakan untuk ‘nobar’ dan alunan musik yang disukai banyak anak muda zaman sekarang, selain itu ada juga yang paling disukai semua orang, yaitu ‘free wifi'’.
Sepertinya Rio terkenal di tempat ini, karena banyak orang yang menyapanya ketika kami datang. Kami memilih tempat duduk yang kapasitasnya cukup untuk kami semua. Tempat itu ada dipojok sebelah kanan tepatnya tidak jauh dari pintu masuk kafe ini.
Aku duduk disamping kanan Refald yang menghadap ke jendela, sedangkan disamping kiriku ada Rio yang berhadapan langsung dengan Mia, sebelah Mia ada Yua yang berhadapan denganku. Sedangkan Nura berhadapan dengan Refald yang duduk didekat jendela.
Aku dan Yua sama-sama berada di posisi tengah dan menatap risih pemandangan yang menggelikan antara dua sejoli yang sedang dimabuk kasmaran ini. Sedangkan Nura bingung sendiri antara risih dan senang karena bisa langsung mengagumi ketampanan Refald dari dekat, meski cowok itu sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang ada disekitarnya.
“Aku ingin sekali menendang mereka berdua!” ucap Yua padaku. Tapi matanya melirik Mia dan Rio.
“Ehmmm ... aku juga sama.” Aku juga masih melirik Rio yang senyam-senyum sendiri pada Mia.
Mereka berdua sama sekali tidak menganggap kami ada. Bahkan pembicaraan mereka berdua membuatku mual dan ingin muntah. Mia yang puitis dan Rio yang sok romantis. Rasanya perutku benar-benar mual melihat keromantisan mereka yang menurutku terlalu berlebihan.
“Perutmu sakit?” tanya Yua.
“Sangat ... kau?”tanyaku pada Yua.
“Lebih parah. Kau lihat cewek norak yang ada disebelah kiriku? Aku ingin sekali menjitak kepalanya!”
Aku melihat Nura yang dimaksud Yua. Ia juga memperparah rasa mualku. Ia benar-benar seperti orang gila karena terpapar pesona Refald.
Aku menundukkan kepalaku yang kutopang dengan jariku. Mencoba agar kepalaku tidak pecah saat ini.
Satu masalah belum selesai muncul masalah lain lagi. Ada apa dengan mereka semua?
Yua hanya menutup mukanya. Kami berdua merasakan hal yang sama. Entah nafsu makan kami masih ada atau tidak. Saat ini aku sengaja tidak mau melihat Refald, karena jika aku melihatnya, kepalaku bisa meledak.
“Hei! Kalian berdua! Bisakah kalian tidak bersikap seperti ini? Kalian sangat mengganggu!” Akhirnya kesabaranku mulai habis melihat Rio dan Mia.
Bukannya membalas komentarku, Rio malah menggenggam tangan Mia dan mengajaknya pindah ke meja lain yang ada disebelah meja kami. Aku dan Yua semakin terpana dengan pemandangan baru yang semakin menggelikan ini.
“Bukan mereka yang mengganggu kita, tapi kitalah yang mengganggu mereka disini,” ucap Yua dan dia benar.
“Sebaiknya kita juga tidak mengganggu mereka berdua juga.” aku melirik Nura yang memandangi Refald sepuas hati, tapi cowok itu malah sibuk sendiri dengan ponselnya.
Yua setuju, kami bangkit berdiri berniat untuk mencari meja yang lainnya. Tapi Refald langsung menggenggam tanganku. “Kau mau kemana?” tanya Refald.
Aku jadi kikuk menjelaskan situasi aneh ini. “Aku akan cari meja yang lain.”
“Kenapa kau yang pergi? Harusnya mereka berdua yang pindah. Kau tetap disini. “ ia menarikku untuk duduk kembali. Sedangkan Yua juga akan beranjak pergi tapi aku melarangnya karena Nura masih belum sadar dari khayalannya. Yua menurutiku. Ia sendiri juga pasti risih jika hanya duduk dengan Nura yang saat ini pikirannya entah ada di mana.
“Kenapa temanmu melihatku seperti itu?” tanya Refald
“Kenapa kau tanya padaku? Kau lebih tahu jawabannya dibandingkan denganku!”cetusku.
“Haruskah kusiram wajahnya dengan air supaya ia sadar?”
“Jangan! Biarkan saja dia seperti itu. Kita hanya menunggu makanannya datang, aku yakin dia pasti langsung sadar jika mencium aroma makanan,” ucap Yua.
Benar apa yang dikatakan Yua. Nura langsung kembali menjadi dirinya lagi begitu mencium aroma makanan yang dihidangkan di meja. Tanpa pikir panjang ia pun langsung mencomot beberapa makanan yang tersedia.
“Kapan kau memesan semua ini? Ini ... terlalu banyak.” aku terkejut menyaksikan ada begitu banyak makanan yang dihidangkan.
“Tadi, saat kita baru masuk, aku memesan semua menu yang ada disini. Kau jangan khawatir, temanmu yang rakus inilah yang akan menghabiskannya.”
Aku melihat Nura yang dengan lahab memakan makanan yang dihidangkan didepannya. Pesona Refald yang tadi membuatnya luluh seolah langsung luntur tak tersisa karena digantikan oleh bau makanan yang menyengat dan lezatnya hidangan yang ada di depannya.
“Dia lebih bucin dengan makanan yang kau pesan ketimbang denganmu,”ledekku karena membandingkan Refald dengan makanan.
“Diam kau! Dan suapi aku!”Refald mulai jutek.
"Di sini?" tanyaku agak keberatan jika aku harus menyuapi Refald didepan semua tenan-temanku.
"Iyalah ... kau ingin kita pulang lagi?"
"Tidak ... oke. Apa yang ingin kau makan." aku terpaksa menuruti kemauannya.
"Aku ingin yang itu ...." Refald menunjuk spaghetti bumbu lada hitam yang ada didepanku.
Kenapa dia juga suka makanan yang paling kusukai? Apa dia sengaja? batinku kesal.
Aku menyuapinya seperti biasa. Mungkin ini pertama kali bagi Yua dan Nura melihatku menyuapi Refald. Tapi mereka langsung sadar bahwa yang kulakukan saat ini bukan karena aku menyukainya, tapi karena ini adalah bentuk penebusan kesalahanku padanya yang telah membuatnya seperti ini.
Setelah selesai menyuapi Refald, giliranku berburu makananku sendiri. Aku memilih bistik daging panggang yang ditaburi lada hitam kesukaanku. Saat akan menyantap hidangan itu, aku tidak sengaja melihat pemandangan yang mengejutkan.
Pintu kafe terbuka dan mereka berdua masuk melewati kami lalu duduk di meja yang ada dibelakang Mia dan Rio yang masih asyik dengan dunia mereka sendiri. Mereka adalah Via dan kekasihnya, Epank. Sepertinya saat ini hanya aku yang tahu kehadiran mereka. Yua sedang asyik menikmati makanannya bersama dengan Nura.
“Kau tidak makan?” tanya Refald yang sejak tadi mengawasiku.
“Ada yang harus aku lakukan!” jawabku tanpa melihat Refald karena aku masih memerhatikan Yua yang hampir selesai makan.
“Makanlah dulu! Jika tidak kau tidak boleh pulang sampai kau menyelesaikan makananmu,” ancamnya.
Aku tak menggubris ancaman Refald. Aku hanya menatapnya dengan kesal.
“Hei, kalian berdua! Jangan sok romantis didepanku!” ucap Yua dengan nada kesal juga.
“Kami tidak seperti itu.” aku menatap Yua yang juga mulai melihat sesuatu. Dia pasti sudah mengetahuinya. “Aku akan makan setelah ini, tapi aku harus melakukan sesuatu!” ucapku pada Refald.
“Apa?” Refald masih menahanku yang sudah mau berdiri.
“Aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Kau lihat saja.” Aku berdiri dan pergi kebelakang kursi menuju tempat Epank dan Via duduk. Tentu saja mereka terkejut dengan kedatanganku.
“Fey!” Via sangat terkejut setelah melihatku berdiri didepannya.
“Hai, Via ... hai, Epank. Apa aku mengejutkan kalian?” tanyaku sambil tersenyum.
“Tidak,” jawab Via dengan gugup. Aku tahu sebenarnya ia kaget melihatku tiba-tiba saja ada disini. “Tentu saja ... ehmmm ... maksudku ... bagaimana kau bisa ada disini?”
Tanpa diminta aku langsung duduk dihadapan mereka berdua. “Aku kesini dengan teman-temanku. Mereka ada disana.” Aku menunjuk Yua dan Nura yang ada didepan mereka.
Sesuai dugaanku, Yua terkejut melihat siapa yang kutemui kali ini. Ia sedikit khawatir aku melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan. Tapi aku memberikan kode bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
“Kalian sedang merayakan sesuatu?” tanya Epank. Tapi ia tidak menatapku, tapi menatap seseorang yang ada disebelah kananku.
“Iya!” jawab orang itu yang juga langsung duduk disampingku. “Terima kasih pertolonganmu tadi di UKS!” lanjutnya.
Aku terpana melihat Refald mengikutiku kemari dan sudah langsung duduk saja disampingku.
Sejak kapan Refald mengikutiku. Barusan ... kulihat dia ... ada disana bersama Yua dan Nura.
“Apa lukamu baik-baik saja!” tanya Epank. Aku terkejut karena ternyata Epanklah yang merawat luka Refald yang terbuka sewaktu memaksa menggendongku tadi.
“Iya! Lumayan ... sudah tidak apa-apa!”
“Dia yang merawat lukamu?” tanyaku.
“Iya!” Refald menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti.
“Apa kalian sedang merayakan anniversary?” Tanya Via.
“Bukan!”jawabku cepat.
“Iya!”jawab Refald.
Jawabanku dan jawaban Refald berbeda. Membuat mereka berdua bingung dan canggung. Kami sendiri juga saling pandang kerena jawaban kami tidak sama. Aku harap mereka tidak mencurigai sesuatu.
“Maksudku, ini bukan hanya anniversary saja ... ini juga ....” Aku bingung harus mencari alasan apa.
“Ulang tahunku!” jawab Refald.
“Oh ... iya? Ulang tahunnya.” ucapku sambil tersenyum tapi menatap heran pada Refald.
Apa benar hari ini ulang tahunnya? Kenapa ia tidak bilang padaku? Akupun juga tidak tahu kalau hari ini ulang tahunnya. Pantas saja ia kelihatan kesal dari tadi. Ternyata hari ini adalah hari lahirnya. Kasihan sekali dia ... pasti ia sangat merindukan keluarga dan orang terdekatnya.
“Baiklah. Kebetulan saja kita bertemu di sini. Maaf kami tidak tahu.” Epank mengulurkan tangannya. Refald membalas uluran tangan itu. “Selamat ulang tahun. Semoga panjang umur."
“Terima kasih." Refald tersenyum. "Oh ... pesanlah apapun yang kalian suka. Aku yang traktir.”
“Benarkah?” Via terlihat senang. “Terima kasih.”
“Sama-sama. Nikmati makanannya, aku permisi dulu.” Refald berdiri, tapi aku masih tetap duduk dikursi. “Kau tidak mau pergi?” tanya Refald padaku.
“Ada yang ingin kubicarakan dengan mereka berdua.”
Refald kembali duduk dan penasaran mengenai apa yang ingin kubicarakan dengan mereka berdua. Ia menatapku yang terlihat serius, dan aku menatap Epank dan Via lekat-lekat.
"Kenapa kau duduk lagi? Bukannya kau harus pergi? Kau sudah pamit tadi?" sindirku.
"Aku ingin tahu apa yang ingin kau bicarakan dengan mereka."
Aku mendengus kesal karena Refald mulai ikut campur urusanku. Kali ini aku akan mengabaikannya. Banyak hal yang jauh lebih penting daripada meladeni Refald yang kepo.
“Maaf kalau aku mengganggu acara kalian berdua. Tapi, berhubung kalian ada disini. Ada yang ingin kubicarakan. Itupun jika kalian tidak keberatan.”
Via dan Epank saling pandang. Mereka berdua menatapku dengan wajah penasaran.
“Tentu. Bicaralah!” jawab Epank kemudian.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Mara
Mau apa yaaa
2023-04-03
0
Braiyen Siburian
next
2022-05-20
0
Nurulfajriyah
epank
2021-07-22
1