Perlahan aku berjalan ke kamar nenekku. Aku mengetuk pintu. Lalu membukanya begitu terdengar suara didalamnya. Nenek masih berbaring di tempat tidurnya. Ia menyambutku dengan uluran tangan. Aku menerima uluran tangannya dan duduk disampingnya.
"Kau sudah pulang? Apa hari ini sekolahmu berjalan dengan lancar?" tanyanya sambil tersenyum.
"Iya ...."
"Kau tampak pucat sekali ... apa kau sedang sakit?"
"Aku baik-baik saja, Nek. Mungkin aku hanya terlalu lelah."
Aku tidak mungkin menceritakan pada nenek bahwa tadi aku sempat pingsan.
"Kalau begitu cepat ganti baju dan makan sana! Minta mbok Min menyiapkan makanan untukmu. Setelah itu ... istirahatlah supaya tubuhmu kembali fresh."
"Tidak perlu, Nek. Aku sudah makan. Aku juga membawa beberapa makanan untuk Nenek. Apa Nenek sudah makan?"
"Nenek sudah makan. Nenek baru saja minum obat, jadi Nenek akan istirahat sebentar."
Aku memerhatikan nenekku. Apa yang dikatakan Refald memang benar dan masuk akal, tidak seharusnya aku menghukum nenekku seperti ini, apalagi diusianya yang sudah tidak lagi muda, harusnya ia menikmati masa tuanya dengan tenang.
Semua ini adalah takdir, hidup dan mati seseorang tidak bisa ditentukan oleh siapapun. Semuanya sudah tertulis digaris tangan masing-masing. Tidak ada yang tahu kapan kita akan mati.
Apa yang terjadi pada ibuku, sepenuhnya bukan kesalahan Nenek. Tapi itu merupakan takdir yang sudah digariskan Tuhan pada ibuku. Awalnya aku menentang takdir ini, tapi kini, aku mulai bisa menerimanya. Selama ini aku menyembunyikan kisah kelamku, sampai aku mengungkapkannya pada orang yang baru saja aku kenal. Jika aku bertemu Refald tujuh tahun yang lalu, mungkin aku bisa menerima takdir ini lebih cepat. Sekarang aku mulai menyadari sesuatu, bahwa berbagi masalah dengan seseorang yang dipercaya, ternyata bisa meringankan beban yang ada dipundakmu.
“Maafkan aku, Nek!” ucapku sambil menatap nenek dengan sendu. “Aku terlalu kasar pada Nenek tadi.”
Nenek melihatku dan merasa senang mendengar kata-kataku. Ia bangun dari tempat tidurnya dan langsung memelukku. “Kau tidak perlu minta maaf, Sayang!” Nenek melepaskan pelukannya, matanya juga berkaca-kaca. “Kau benar, neneklah yang bersalah. Seandainya dulu nenek merestui ayah dan ibumu, kalian semua pasti sudah hidup bahagia. Maafkan nenek, Cucuku ...." Nenek memelukku lagi. Kali ini dia menangis. Begitu juga aku. Kami menangis bersama-sama.
Akhirnya aku lega, perasaan yang kurasakan saat ini benar-benar membuatku lega. Butuh waktu lama bagiku agar aku bisa berdamai dengan keangkuhanku. Menghukum diri sendiri dan orang lain yang ada disekitarku.
Aku tahu, tidak mudah bagi nenek menghadapi kondisi, situasi dan sifatku yang masih labil. Bahkan disaat aku bersikap kasar sekalipun, nenek sama sekali tidak pernah memarahiku atau membenciku. Itu karena nenek menyayangiku sama seperti Ia menyayangi ibuku. Namun sekarang aku memahami semuanya. Kini aku sudah bisa membedakan mana yang baik, dan mana yang buruk. Hanya saja, aku masih belum tahu bagaimana perasaan nenek terhadap ayahku. Apakah masih tetap sama ... atau sudah berubah.
“Apa nenek masih membenci ayah?” aku melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku.
Sesaat Nenek diam membisu, tapi kemudian Ia tersenyum melihat kepolosanku.
“Tidak, semua yang lalu sudah berlalu. Nenek sudah melupakan semua yang terjadi. Sekarang, Nenek punya kau, Cucuku ... tidak ada lagi yang nenek inginkan. Suruh ayah dan kakakmu datang kemari, nenek sudah tidak membenci mereka lagi. Nenek sudah tua, tidak ada gunanya nenek membenci orang yang bahkan belum tentu bersalah.”
“Aku senang Nenek bilang begitu ....” kali ini aku yang memeluk nenek sambil tersenyum bahagia.
Aku tahu nenek sangat menyayangiku. Karena aku lebih mirip ibuku dibandingkan dengan kakakku yang cenderung lebih mirip ayah. Wajahku yang oriental, membuat siapapun tidak akan menduga bahwa aku termasuk keturunan orang Jepang yang dilahirkan di negara Sakura itu. Sebab itulah nenek langsung setuju ketika aku memilih tinggal di sini daripada di Jepang. Mungkin nenek ingin aku menggantikan posisi ibuku di sini.
Hanya saja, waktu itu aku berubah membenci nenek karena sempat melarang ayah dan kakakku datang kemari. Tidak hanya cukup sampai disitu, aku juga menyalahkan nenekku atas meninggalnya ibuku. Itu karena aku tahu nenek masih membenci ayah. Namun kini, semua sudah berakhir. Nenek sudah tidak membenci ayah lagi. Tidak ada alasan bagiku untuk membenci nenek juga.
“Cepat telepon ayahmu!”suruh nenek.
Aku tersenyum. Aku sangat senang, akhirnya nenek mau menerima ayah. Dengan begitu, aku sudah bisa kembali ke Jepang. Bertemu dengan kakak dan ayahku.
Aku hampir berlari menerima kabar ini. Baru kali ini aku kembali bersemangat lagi. Seakan-akan beban yang ada dipundakku, sedikit demi sedikit mulai terangkat. Entah apa yang merasuki pikiran nenekku sehingga ia mengatakan hal yang selama ini aku tunggu.
Ini pertama kalinya aku memeluk nenekku. Aku hampir meloncat saat menaiki anak tangga karena rasa bahagia yang sudah lama tidak pernah kurasakan semenjak ibuku tiada.
Sesampainya di dalam kamar aku meraih ponselku yang ada di atas meja belajar. Belum sempat aku menelepon ayahku, tiba-tiba saja ada sms yang masuk dari ponsel Refald. Aku langsung membukanya.
Refald:
Kita akan makan malam nanti jam 18.00. Satu jam lagi aku akan datang minta izin pada Nenekmu. Kita pergi kesuatu tempat.
Aku terduduk lunglai menatap layar ponsel. Sepertinya aku tidak bisa pergi ke Jepang saat ini. Refald masih membutuhkanku. Aku tidak mungkin meninggalkannya dan lepas dari tanggung jawab begitu saja. Apalagi berkat dia pula, hubunganku dengan nenekku mulai mencair. Selain itu juga, masih ada banyak kegiatan yang harus ku kerjakan di sini.
Aku tidak bisa kembali ke Jepang saat ini. Mungkin aku harus menunggu satu tahun lagi sampai aku lulus dari sekolah ini.
Untuk sesaat aku memang bisa merasakan kebahagiaan setelah ditinggal pergi selamanya oleh ibuku. Tapi perasaan itu langsung hilang begitu aku mengingat Refald. Kesenangan sesaat yang baru saja kudapat, berubah menjadi kekecewaan yang hilang hanya dalam waktu sekejap.
“Kejutan apa lagi yang akan ia berikan padaku!” gumamku.
Setelah membaca pesan dari Refald aku kembali ke kamar nenekku dengan wajah murung tanpa semangat. Bahkan untuk berjalan saja rasanya tidak sanggup. Padahal tadi aku sudah semangat sekali saat masuk ke kamar. Begitu keluar, aku langsung lemas lagi.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Kau tidak suka ayahmu ke sini? Kau sudah bilang padanya?” tanya Nenek begitu melihat wajah murungku.
Aku menggeleng. Aku duduk di samping tempat tidur nenek dengan wajah yang menyedihkan.
“Apa Ayahmu yang menolak datang kemari? Lihat wajahmu! Kau seperti orang yang sedang patah hati.” Aku tahu nenek berusaha mengajakku bercanda.
“Bukan begitu, Nek! Aku bahkan belum menghubungi ayahku!”
Nenek terkejut. “Kenapa?”
“Jika ayah datang kemari, itu artinya aku juga akan pergi darisini. Sedangkan aku belum bisa pergi ... masih ada banyak hal yang harus kulakukan di sini, sebentar lagi ada ujian kenaikan kelas, selain itu ....”
“Karena sekarang kau sudah punya pacar? Nenek paham.” Nenek mulai menggodaku.
Sepertinya Nenek tidak keberatan jika aku tinggal di sini lebih lama. Selain itu, Ia terlihat sangat menyukai Refald.
Ternyata, bukan hanya siswi-siswi di sekolah saja yang terpikat oleh pesona Refald, nenekku pun juga! Hebat sekali dia? Ilmu apa yang ia gunakan untuk memikat hati wanita?
“Bukan begitu, Nek ... Refald bukan pacarku. Nenek jangan salah paham. Kami hanyaaa ....!” Aku berusaha menjelaskan seperti apa hubungan kami sebenarnya pada nenek, tapi nenek menyelaku.
“Oh ... jadi nama pemuda itu Refald. Nama yang unik juga.”
Nenek bangun dari tidurnya dan bersandar di dinding kasur. Aku memegang tangannya yang sudah keriput.
“Aku tidak bisa pergi dalam waktu dekat ini, Nek. Paling tidak aku harus lulus dulu, aku tidak mau mengulangi pelajaranku lagi di sana. Aku juga tidak ingin berpisah dengan teman-temanku secepat ini. Setidaknya kami harus merayakan kelulusan bersama. Baru aku siap berpisah dengan mereka. Bukan karena Refald."
Nenek hanya melihatku sambil tersenyum. “Baiklah jika memang itu maumu, tapi tidak ada salahnya jika ayahmu mau berkunjung kemari? Sudah lama sekali kalian tidak bertemu, nenek juga ingin bertemu dengan ayah dan kakakmu. Cepat hubungi mereka dan tanyakan kapan mereka bisa kemari.”
“Baik, Nek. Akan kuhubungi.”
Saat aku akan mengambil ponselku tiba-tiba ada bel berbunyi.
Ting ... tong ....
“Sepertinya ada tamu. Siapa yang bertamu sore-sore begini?” Nenek hendak bangun untuk membukakan pintu. Tapi aku melarangnya.
“Biar aku saja, Nek! Mungkin itu Refald, dia bilang dia ingin bicara pada Nenek.”
“Oh iya? Kalau begitu suruh dia kemari!” Nenek terlihat bersemangat.
“Ke kamar ini?”
“Iya ... cepatlah, tidak baik membiarkan tamu lama-lama menunggu.”
Aku bergegas keruang depan untuk membukakan pintu. Aku pikir Refald yang datang, ternyata bukan. Untuk sesaat aku merasa senang dan tersenyum lebar saat menyentuh gagang pintu dan membukanya. Tapi, begitu melihat mereka, senyumku mulai memudar.
Mereka tiba-tiba saja ada disini.
Yua, Mia, dan Nura?
"Kalian?" tanyaku terkejut.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Mara
yeyyyyyyyy...udah ada yang baper😁
2023-04-03
0
Teh Yen
yaaah ternyata buka refald yah fey
2022-08-10
0
Hasanah Purwokerto
kecewa fey..? xixixixi
2022-07-07
0