"Kalian?" tanyaku terkejut karena tidak menduga teman-temanku bisa kemari. Padahal aku tidak pernah mengajak mereka ke sini.
"Kenapa? Kau kecewa karena bukan pacarmu yang datang?" jawab Nura dengan ketus.
"Boleh, kami masuk?" tanya Mia.
Aku mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Mereka semua mengamati rumah nenekku yang bergaya klasik.
"Rumah nenekmu bagus sekali ...."
"Terima kasih. Sebentar kuambilkan minum ... kalian duduk saja, anggap seperti rumah sendiri!" aku masuk ke dalam dan meminta mbok Min membawakan minuman dan camilan untuk temanku. Lalu aku memberitahu nenekku kalau yang datang adalah teman-temanku.
Nenekku memang bukan orang sembarangan, ia merupakan salah satu juragan tanah di desa ini. Semenjak kakekku meninggal, nenekkulah yang menggantikan tugasnya. Sekarang semua pekerjaan nenekku, diserahkan pada pamanku yang tak pernah kulihat. Adik bungsu ibuku yang sekarang menjadi kepala desa di desa ini. Sayangnya, aku lupa siapa nama pamanku itu.
"Bagaimana bisa kalian kemari?" aku kembali ke ruang tamu sambil membawakan makanan dan minuman untuk teman-temanku.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Nura.
"Bukan begitu Nura, aku senang kalian datang."
"Sulit sekali bagi kami untuk menemuimu sejak kedatangan siswa baru yang menjadi pacarmu itu. Bahkan untuk bicara denganmu saja kami juga tidak bisa. Yua juga tidak mau mengatakan apapun pada kami. Karena itu kami memaksa dia untuk mengantarkan kami ke sini!" Nura terdengar marah dan emosi. Aku bisa mengerti perasaan mereka.
"Aku mengerti kenapa kalian marah padaku. Situasi yang kualami saat itu sangat sulit sehingga aku tidak bisa menjelaskannya pada kalian. Selain itu, aku juga takut kalau masalahku akan berimbas pada kalian juga."
"Lalu Yua? Dia tahu masalahmu? Kenapa kau pilih kasih? Apa kami juga bukan temanmu?" tanya Mia tak kalah emosi dari Nura.
"Justru karena kalian temanku. Makanya aku tidak mau kalian mengkhawatirkan aku ... aku harap kalian tidak salah paham padaku."
"Baiklah. Sekarang jelaskan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi. Itupun juga jika kau masih menganggap kami ini sebagai temanmu."
Aku menghela napas panjang. Dari tadi Yua hanya diam tanpa berkomentar. Nura dan Mia juga menatapku dengan wajah yang sangat serius, baru kali ini aku melihat mereka seserius ini.
"Kita ke kamarku saja. Ada nenek di dalam, jangan sampai dia tahu."
Mereka mengikutiku naik ke lantai atas dan langsung menuju kamarku. Aku menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya. Jendela kamar yang tadinya terbuka juga sudah kututup beserta tirainya. Aku melakukan ini supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan kami. Mereka bertiga duduk di kasur ibuku dan aku duduk di kursi meja belajarku.
Tidak ada pilihan lain lagi selain menjelaskan semuanya pada kedua temanku yang konyol ini. Alasan kenapa saat ini aku harus selalu bersama Refald dan mengapa ia harus terpaksa mengakuiku sebagai pacar pura-puranya. Aku menceritakan semuanya, dari awal pertemuan hingga yang terjadi saat ini.
Mereka tidak berkomentar apa-apa saat aku selesai menjelaskan masalahku. Aku menunggu bagaimana reaksi mereka.
"Jadi benar ... kau pacaran dengannya?"
Sudah kuduga, kata-kata itulah yang keluar dari mulut Nura.
Yua langsung melemparinya dengan bantal yang ada di kasur.
"Auwww ... apa? Kenapa kau melempariku bantal, ha?" Nura memelototi Yua, dan Yua juga balas melotot.
"Mereka cuma pura-pura, bodoh! Kau masih belum mengerti juga?" sengalnya.
"Apa bedanya? Mereka selalu bersama-sama. Cepat atau lambat mereka pasti beneran pacaran."
"Diam kau!" Yua membekap mulut Nura. Takut kalau ada orang lain yang mendengar.
"Kau yang diam!" Nura melepaskan bekapan Yua.
Mereka berdua saling tarik menarik tangan mereka masing-masing dan membuat seisi kamarku jadi berantakan. Aku hanya menyaksikan tingkah konyol mereka. Disaat seperti ini, masih sempat-sempatnya mereka bertengkar seperti itu.
"Ehmmm ... sampai kapan?" tanya Mia yang dari tadi diam tanpa peduli dengan kedua temannya yang bertengkar.
Aku berpaling memerhatikan Mia. Dia jauh lebih tenang dari biasanya. Aku bisa lihat kalau Mia sudah sedikit lebih dewasa.
"Sebenarnya aku tidak tahu pasti, aku baru bisa memastikannya setelah perban ditangannya itu dibuka."
"Apa benar lengannya separah itu? Tapi kenapa dia bisa membopongmu waktu kau pingsan tadi?"
"Apa?" Aku terkejut. "Kau bilang apa?"
"Pacarmu? Semua terkesima melihatnya. Dia menggendongmu hanya dengan satu tangan saja. Aku jadi ingin ikut pingsan juga tadi." Nura yang berhenti bertengkar dengan Yua dan mulai berkhayal.
Aku tidak mengerti, jadi Refald berbohong padaku? Lalu kenapa tadi dia bilang bukan dia yang membawaku? Ada apa lagi ini?
"Kalau kau yang pingsan ... hanya ada satu makhluk yang mau datang? Jin iprit!" ucap Yua.
Mendengar komentar Yua pada Nura, kami semua tertawa. Nura langsung ngambek melihat reaksi kami.
"Kalian pikir aku ini iblis?"
"Kau memang lebih menakutkan dari pada iblis. Setan beneran saja takut padamu. Kau tidak tahu?" ledek Yua.
"Awas kalian. Lihat saja nanti jika kalian ada di rumah sendirian, jangan teriak jika aku membawa pasukan kuntilanak ke rumah kalian!"
"Huuuuuu ... takuuuuut!" Yua berlagak ketakutan di depan kami.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah konyol mereka. Mereka selalu saja bisa membuatku tertawa.
Braakkkkk! Tiba-tiba saja pintu jendela terbuka sendiri. Membuat kaget seisi ruangan karena suara gebrakan itu. Angin kencang masuk ke dalam dan berhembus ke arah kami. Kami jadi terkejut setengah mati.
Sejenak kami diam dan saling memandang. Bagaimana bisa jendela yang sudah kututup rapat tiba-tiba saja terbuka sendiri. Teman-temanku terlihat ketakutan.
"Tidak ada apa-apa, mungkin tadi aku lupa mengunci jendelanya sehingga terbuka karena tiupan angin. Jangan ketakutan begitu." aku berusaha menenangkan mereka. "Jangan berpikiran yang aneh-aneh, aku sudah di sini dari kemarin, tidak ada apa-apa." aku menutup kembali jendela itu.
Aku mengamati sekeliling dan memang tidak ada apapun di luar sana. Ini hanya angin biasa saja karena sekarang sudah mulai mendekati musim hujan.
Ting ... tong ....
Bel berbunyi lagi, Nura terperanjat dan langsung memeluk Yua, Yua juga ikut kaget karena pelukan Nura. Tapi ia langsung mendorong jauh tubuh gadis itu sehingga Nura terjatuh di lantai. Kamipun turun ke bawah untuk memeriksa siapa yang datang.
"Siapa itu? Kenapa rumahmu tiba-tiba sepi sekali?" tanya Mia yang mengamati sekeliling ruangan.
"Kau bilang nenekmu ada di rumah?" Nura ikut bicara.
Aku tidak menjawab pertanyaan mereka. Aku pergi ke kamar nenekku dan ternyata nenekku tidak ada. Mbok Min yang biasa mengurus nenekku juga tidak ada.
Ada apa ini? Kenapa mereka semua menghilang?
Aku memeriksa seisi ruangan tapi tidak ada siapa-siapa di rumah. Bel berbunyi lagi. Kali ini aku langsung berlari kearah pintu untuk memeriksanya. Sementara teman-temanku masih berada di bawah anak tangga. Tangan mereka saling berpegangan tanpa mereka sadari. Entah kenapa, suasana rumah jadi menakutkan.
Aku membuka pintu depan yang terkunci. Ini sangat aneh. Tidak ada yang mengunci rumah ini saat ada orang di dalam.
Bagaimana bisa pintu ini dikunci! Siapa yang menguncinya? Apakah nenek? Atau mbok Min?
Aku melihat wajah teman-temanku yang begitu tegang, entah apa yang mereka pikirkan, tapi aku tidak ingin mereka ketakutan dengan hal-hal yang tiba-tiba tidak masuk akal ini.
Aku berusaha mengesampingkan pikiran negatifku dan fokus kembali pada pintu. Saat pintunya terbuka, aku terkejut karena nenekku ada didepanku.
Nenek yang melihatku terkejut menjadi heran, "Ada apa dengan wajahmu?" Nenek terus menatapku saat melewatiku masuk ke dalam. Teman-temanku yang ada dibelakangku juga merasa lega karena yang datang bukan hantu, melainkan manusia. "Kau seperti melihat hantu saja?"
Aku bingung harus berkata apa. Sebab kami mengira bahwa nenek adalah hantu.
"Nenek ada di luar? Sejak kapan? Bukannya ... Nenek tadi ... ada di dalam kamar?"
"Apa maksudmu? Sejak kau masuk ke kamar tadi, nenek keluar dengan Mbok Min, karena ada rapat darurat di desa."
Aku memandang temanku yang ada di belakangku. Apakah selama itu kami di dalam kamar?
"Bukankah tadi kau bilang nenekmu ada di dalam?" tanya Yua sambil berbisik. Mia dan Nura ikut mendekat.
"Aku ... sangat yakin aku mendengar suaranya ada di dalam kamar, kupikir nenek sedang istirahat, makanya aku tidak masuk ke dalam kamarnya, hanya bicara dari luar saat memberitahukan kedatangan kalian. Mbok Min lah yang membantuku menyiapkan camilan dan minuman untuk kalian. Tadi kalian lihat sendiri, kan?" aku melihat wajah-wajah tegang teman-temanku. Kami saling beradu pandang.
Kami melihat minuman dan camilan yang terletak di meja sudah tidak ada lagi, mulutku langsung menganga, tapi aku langsung sadar dan menutup mulutku dengan tangan. Namun, rasa terkejutku tidak bisa hilang, begitu juga dengan teman-temanku. Mereka langsung bergidik ngeri. "Kemana minuman dan makanan tadi?"
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Nenek. Ia heran dengan sikap kami yang seolah ketakutan.
"Kapan nenek keluar? Kenapa aku tidak tahu? Dan kenapa pintunya terkunci? Seingatku, aku tidak menguncinya tadi."
"Nenek keluar saat kalian naik ke atas, karena tidak ada suara, nenek kira kalian sedang tidur. Jadi, nenek kunci saja pintunya dari luar, supaya tidak ada yang masuk mengganggu kalian, tapi nenek lupa, dimana nenek menaruh kunci itu, makanya nenek membunyikan bel!"
"Hah?" aku dan yang lainnya terkejut mendengar penjelasan nenek barusan.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
HNF G
kl nenek keluar trs ngunci pintunya, otomatis kuncinya kan dibawa nenek, gmn sih nek😅😅😅🤦♀️
2024-07-10
0
Mara
lah udah tegang euiy 🙈🙈🙈
2023-04-03
0
Teh Yen
apaan sih Thor bikin tegang gini duh mulai sereeem yah
2022-08-10
0