Dalam mimpiku, aku seperti kembali dihari ulang tahunku yang ke-9. Ayah dan ibuku merayakan ulang tahunku dengan sangat meriah. Aku sangat bahagia waktu itu. Saat yang paling ditunggu akhirnya tiba, yaitu meniup lilin. Aku begitu senang sampai tidak sabar ingin segera meniupnya. Namun kebahagianku menjadi hilang ketika ada seorang anak laki-laki yang berdiri di sebelahku menggantikan aku meniupkan lilin itu untukku.
Aku menangis karena kecewa, harusnya akulah meniup lilin itu lebih dulu karena yang berulang tahun adalah aku, bukan anak laki-laki itu. Namun tidak ada yang peduli dengan tangisanku. Semua orang malah bertepuk tangan dengan meriah seolah-olah dialah yang berulang tahun. Anak laki-laki itu tersenyum mengejek padaku sehingga aku jadi sangat membencinya.
Perasaanku saat itu, sama seperti yang kurasakan saat ini. Aku membenci Refald karena sudah membuat hidupku yang sulit menjadi lebih sulit lagi. Satu hal yang kini aku ingat dari mimpiku yang juga membuatku terkejut setelah mengingatnya.
Aku ... sudah memiliki tunangan.
"Kau sudah sadar?" Tanya Refald, raut mukanya cemas dan tegang ketika melihatku terjaga.
Perlahan aku membuka mataku. Aku bisa melihat langit-langit plafon yang berwarna putih, juga tirai hijau yang ada di sebelah kiriku. Aku mengamati sekelilingku dan aku langsung mengenali tempat ini. Sebuah ruangan yang sudah tidak asing lagi bagiku. Ini adalah ruang UKS.
"Berapa lama aku pingsan?" Tanyaku pada Refald. Aku mencoba untuk bangun dari tempat tidurku.
"Kau pingsan 30 menit yang lalu, dan sebaiknya kau istirahat saja. Akan merepotkan jika kau pingsan lagi. Kau berat sekali!"
"Kau yang membawaku kemari?" Aku terkejut. "Bagaimana bisa? Bukankah tanganmu masih ...."
"Bukan aku!" Ia menyela. "Tapi pak guru dan beberapa temanmu yang membopongmu kemari. Aku hanya menyampaikan apa yang mereka rasakan. Butuh banyak orang untuk bisa membawamu kemari."
Wajahku berubah masam, disaat seperti ini ia masih saja bisa membuatku kesal.
Aku tidak percaya dengan ucapannya. Bobotku hanya 45 kg waktu kutimbang beberapa waktu yang lalu. Dia pasti berbohong dengan mengatakan tubuhku berat. Aku tidak seberat itu. Dia pasti sengaja membuat suasana hatiku menjadi buruk.
Aku merasa kepalaku masih terasa berat. Ditambah lagi ada cowok menjengkelkan itu di tempat ini.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Aku heran, karena bukan Yua yang menungguiku.
"Aku juga lagi sakit ... kau tidak lihat? tanganku diperban!" ia mengangkat tangan kanannya yang terluka dihadapanku.
"Bukankah dari kemarin tanganmu memang seperti itu? Kenapa baru sekarang kau ke sini?"
Refald tidak menjawab, ia membalikkan badan dan merebahkan diri di kasur kosong yang ada di sebelah kanan tempatku berbaring.
"Aku sedang tidak ingin bicara, tidurlah! Ada hikmahnya juga kau pingsan. Jadi, ada alasan juga buatku untuk tidak ikut pelajaran." Ia berbaring memunggungiku.
Aku mendengus kesal. Tiba-tiba saja aku jadi teringat sesuatu yang membuatku pingsan. "Kenapa kau bilang aku adalah pacarmu? Diantara kita tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa kau berbohong pada mereka?"
"Cuma itu alasan yang tepat supaya mereka berhenti mengganggumu!" Refald masih memunggungiku.
"Apakah harus dengan cara itu? Tidak adakah cara lain?"
"Ada ....!"
"Benarkah?" Aku senang, ternyata masih ada cara yang lain. Aku memiringkan tubuhku karena terlalu bersemangat mendengar cara lain apa yang Refald maksud. "Apa itu?"
"Bagaimana kalau jadi istriku!"
Degggg!
Senyumku langsung menghilang. Aku melempar bantalku karena emosi dan bantal itu tepat mengenai kepalanya.
"Itu sama saja bodoh! Belum jadi pacar pura-puramu saja aku sudah kesulitan. Apalagi pura-pura jadi istrimu!"
"Auwwww! Apa ini?" ia bangun dan melemparkan kembali bantalku.
Aku menangkap bantal itu sebelum menghantam mukaku dan menggunakannya lagi karena tubuhku terasa sangat lemah. Aku tidur membelakanginya dan tidak mau lagi melihatnya. Aku benar-benar kesal padanya.
"Kenapa? Itu kan cara yang bagus? Kau tidak suka?" Ia duduk sambil menatapku.
"Iya! Aku sangat tidak suka ... mereka tidak akan percaya dengan apa yang kau katakan. Mereka pasti akan mencari tahu kebenarannya." Aku mulai berbalik ke arahnya.
"Aku tidak peduli mereka percaya atau tidak!"
"Tapi aku peduli ...."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah punya seseorang ...."
"Seseorang? Apa ... apa maksudmu?" Refald terkejut sampai ia tidak sadar kalau ia langsung bangun berdiri. "Jangan bilang kalau kau sudah punya pacar?"
"Aku tahu kau tidak akan percaya, bukan hanya sekedar pacar, tapi ia adalah tunanganku ...."
"Apa?" Refald tertawa mengejek. "Kau kira aku bodoh? Tidak ada yang bilang kalau kau punya tunangan? Aku juga tidak pernah melihatmu bersamanya? Jangan berbohong!"
"Aku tidak bohong! Di sini memang tidak ada yang tahu, tapi ayah dan kakakku tahu!"
"Kau punya Kakak?" Refald terkejut.
Aku mengangguk. "Kakak perempuan!"
"Di mana dia? Bukankah kau tinggal sendiri di rumah itu?"
"Kakakku tinggal dengan ayahku. Kami juga sudah lama tidak pernah bertemu!" aku tidak tahu kenapa aku mau saja menjawab semua pertanyaannya.
Refald tercengang melihatku. Ia menatapku lekat-lekat. Perlahan-lahan ia mendekatiku. Ia bahkan mendekatkan wajahnya kewajahku, dan terus menatapku dengan sangat serius seakan mencari-cari sesuatu.
"Lalu ... di mana tunanganmu sekarang?" tanyanya dengan nada suara yang tandas.
Aku menggeliat untuk menghindari tatapannya. Jujur, tatapannya kali ini menakutkan. Tiba-tiba saja suasananya berubah jadi tegang.
"Dia ... tidak ada di sini. Aku tidak tahu di mana dia sekarang. Bisakah kau agak menjauh dariku? Aku ... sangat tidak nyaman."
Refald mengernyitkan alis dan berdiri tegak. Tapi ia terus menatapku. "Jelaskan padaku! Siapa tunanganmu dan bagaimana bisa kau tidak tahu keberadaannya? Siapa kau sebenarnya? Jika kau tidak mau menjelaskan ... aku akan memasukkanmu ke penjara."
Aku terkejut ... tiba tiba saja dia mengancamku seperti itu. Wajahnya yang biasanya menjengkelkan berubah menjadi suram dan menakutkan. Ada kemarahan yang besar didalamnya.
Aku baru sadar, ia lebih manis saat membuatku kesal daripada melihatnya serius seperti ini, membuatku jadi merinding. Ingin sekali aku membalikkan badan dan membelakanginya, tapi tubuhku seakan terhipnotis dan tidak bisa bergerak.
Bagaimanapun juga, ia memang harus tahu kebenarannya. Kebenaran yang selama ini aku sembunyikan. Bahkan teman-temanku yang selama ini bersamaku juga tidak pernah tahu siapa aku dan rahasiaku.
"Tidak perlu mengancamku seperti itu, aku akan menjelaskannya padamu, dan aku ingin kau mempertimbangkan lagi kata-katamu mengenai hubungan kita selanjutnya. Sebelum itu, aku minta kau tidak memberitahu siapa-siapa karena hanya kau saja yang kuberitahu rahasiaku. Selain dirimu, tidak ada lagi yang tahu."
Tidak ada sahutan, ia diam dan terus menatapku tajam. Ia duduk di kursi di sebelahku. Bersiap untuk mendengarkan. Aku menghela nafas. Menutup mata, dan mulai berbicara.
"Aku bertunangan dengan tunanganku saat usiaku masih sembilan tahun. Kami berdua dijodohkan. Tidak ada alasan bagiku dan dia untuk menolak perjodohan ini, karena perjodohan kami merupakan bentuk kerja sama antara ayahku dan ayahnya. Perusahaan ayahku juga bekerjasama dengan perusahaan ayahnya.
"Ini semacam kontrak kerja untuk menaikkan harga saham, mereka membuat kesepakatan dengan menjodohkan kami berdua. Tidak disangka strategi mereka berhasil. Begitu pertunangan kami diumumkan, harga saham langsung melonjak tinggi. Namun, takdir berkehendak lain, belum sempat kami saling mengenal lebih jauh, dia dan keluarganya meninggalkan aku tepat disaat hari kematian ibuku tanpa memberi penjelasan.
"Saat itu, semuanya kacau. Karir ayah, aku, kakakku, ditambah kematian ibuku yang mendadak karena penyakitnya. Aku tidak bisa menceritakan padamu secara detail bagaimana kondisi kami saat itu. Tapi sekarang, seperti yang sudah kau lihat. Aku berhasil lepas dari keterpurukanku. Itu karena aku ada di sini, berkat teman-temanku. Bersama dengan mereka aku menemukan kembali arti hidupku. Merekalah yang membuatku jadi seperti sekarang ini, mereka semua juga sudah kuanggap seperti keluargaku. Seandainya aku tidak datang kemari, entah apa yang akan terjadi denganku. Bukan karena tunanganku yang meninggalkan aku. Tapi karena kepergian ibukulah yang membuatku jatuh dalam duka yang dalam ...
"Untung saja ada teman-temanku yang setia menemani hari-hariku tanpa memandang siapa aku sebenarnya. Mereka bahkan tidak tahu aku berasal darimana. Mereka hanya menganggapku sebagai temannya. Akupun mulai menyayangi mereka karena sikap mereka yang tulus dan murni padaku. Mereka selalu bisa menghiburku dengan tingkah konyol mereka. Mereka adalah orang yang waktu itu kau lihat saat pertama kali kita bertemu. Apa kau ingat? Temanmu menanyakan sebuah alamat padaku saat kalian tersesat. Mereka juga teman satu sekolahku. Hanya saja, dua diantara kami beda kelas."
"Iya ... aku ingat!" Refald masih terus menatapku dan aku tidak menyangka, dia juga mendengarkan penjelasan panjang lebarku.
Raut muka Refald berubah serius dan penuh dengan makna. Ia menyimak penjelasanku tanpa menyela sedikitpun. Ia memang pendengar yang baik. Tapi aku tidak bisa menebak apa yang ia pikirkan. Karena ia tak menunjukkan ekspresi terkejut ataupun senang. Ia lebih terkesan datar tanpa ekspresi apapun. Ia pandai sekali menyembunyikan perasaan.
"Tapi sayangnya, saat itu bukan pertemuan pertama kita?" ujar Refald tiba-tiba dan memecah kesunyian.
"Apa?" aku terkejut lagi. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Di mana? Kenapa aku tidak ingat kalau pernah bertemu denganmu?"
"Itu tidak penting lagi sekarang. Lalu ... bagaimana?"
"Apanya?"
"Hubunganmu dengan tunanganmu?"
"Entahlah! Sudah kukatakan, dia meninggalkan kami saat ibuku meninggal. Sepertinya ia kembali ke negaranya karena selama sebulan, ayahku tidak bisa menghubunginya. Ayah juga mencari informasi di kedutaan besar dan ternyata, tunanganku dan keluarganya dideportasi dan tidak bisa lagi datang ke negara kami. Sejak saat itu sampai hari ini, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Seperti apa dia, aku juga tidak tahu, bahkan seandainya kami dipertemukan kembali, mungkin aku tidak akan bisa mengenalinya, begitu juga dengannya. Ia tidak akan bisa mengenaliku karena kami sudah lama sekali tidak bertemu."
Aku menatap Refald yang masih tertegun dengan pernyataanku. Aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya saat ini. Wajahnya seperti sedang syok mendengar penjelasanku. Refald juga tidak memberikan komentar apa pun.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
HNF G
palingan refald itulah tunanganmu Fey. jodoh emang gak kemana, pst ada saja cara jd bertemu.
2024-07-10
0
Mara
Tapi aku mengenalimu gitu dunx jawabnya 😁
2023-04-03
0
Anha Thea
aq balik lgi ksni🤭🤭🤫
2022-11-26
0