Pernyataan Refald sungguh sangat membuatku terkejut sekali. Sudah cukup aku menahan kesabaranku dengan semua yang ia katakan padaku, jadi kuputuskan untuk meluapkan semua perasaanku hari ini.
"Apa ini salah satu bentuk permainanmu? Kau membuatku terus berada didekatmu? Memaksaku jauh dari teman-temanku? Lalu kau ingin aku juga jatuh cinta padamu? Itukah yang kau inginkan? Apa kau sudah gila? Dan jawabanku adalah tidak! Sudah kubilang dari awal kau bukan tipeku. Kau bahkan juga tidak menyukaiku. Bagaimana bisa kau memaksaku supaya aku jatuh cinta padamu? Permainan macam apa ini? Kau pikir aku sudah tidak waras?" seruku.
"Ini bukan permainan! Kalau kau tidak bisa jatuh cinta padaku, maka aku yang akan membuatmu jatuh cinta padaku!" ucap Refald tandas.
"Aku tidak mengerti ... apa yang ada dalam pikiranmu? bukankah sudah ada orang lain yang kau cari? Harusnya kau menyukainya? Kenapa kau memaksaku menyukaimu juga? Apa yang kau rencanakan sebenarnya? Kau mau mendua? Laki-laki macam apa kau?"
"Tidak ada rencana apapun. Aku hanya ingin kau jatuh cinta padaku. Jika kau melakukannya, maka aku akan melupakan semua yang terjadi dan mencintaimu juga."
Aku langsung lemas memikirkan arah pembicaraan ini.
Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa ini? Kenapa Refald jadi aneh begini?
"Refald ... aku tidak tahu apa yang merasuki pikiranmu saat ini. Aku berusaha memahami situasimu. Tapi kau juga harus tahu, bahwa cinta itu tidak bisa dipaksa? Kau tidak bisa memaksaku untuk jatuh cinta padamu. Begitu juga denganmu. Kau tidak perlu memaksakan diri mencintaiku juga, jika sudah ada orang lain dihatimu?"
"Kalau begitu ... kau juga tidak bisa memaksa orang lain untuk mencintai sahabatmu!" tandas Refald.
Bagai disambar petir, aku tercengang mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Secepat itu ia mengubah topik pembicaraan.
"Kau ingin Epank meninggalkan pacarnya dan jatuh cinta pada Yua? Kau yakin itu bisa kau lakukan? Kau sendiri yang bilang kalau cinta itu tidak bisa dipaksa. Lalu kenapa kau melakukannya? Kau ingin merusak hubungan orang lain hanya demi kebahagiaan temanmu? Kau ingin mengorbankan orang lain supaya temanmu bahagia? Kau lebih senang di atas penderitaan orang lain? Begitukah rencanamu? Kau juga bukan orang yang baik kalau begitu!"
Aku terduduk lunglai. Yang dikatakan Refald itu benar. Hanya saja apa yang dipikirkannya berbeda dengan pemikiranku. Aku berusaha menenangkan diri agar tidak terbawa emosi. Akupun mulai menjelaskan yang sebenarnya pada Refald tentang situasi yang terjadi supaya ia tidak lagi salah paham seperti ini.
"Kau memang benar, tapi kau tidak tahu ... Yua jauh lebih baik dari Via. Hanya saja Epank tidak bisa melihatnya. Aku tidak akan memaksa Epank untuk meninggalkan Via dan jatuh cinta pada Yua, yang akan kulakukan adalah membukakan jalan untuk Epank supaya ia bisa melihat kebaikan Yua, dan supaya dia juga tahu, seperti apa Via sebenarnya.
"Cinta memang bisa membutakan segalanya, dan Epank terlalu dibutakan oleh cinta, sampai ia sendiri tidak tahu seperti apa kekasihnya yang sesungguhnya. Sementara diluar itu, ada seseorang yang dengan tulus mencintainya tanpa pamrih. Yua bahkan juga tidak punya pikiran untuk merusak hubungan mereka! Ia lebih memutuskan memendam rasa sakit yang begitu dalam setiap melihat mereka berdua bersama di depan matanya. Dan itu berlangsung bukan hanya sehari dua hari saja, tapi hampir dua tahun lamanya Yua memendam rasa sakit itu.
"Cinta yang dirasakan Yua memang menyakitkan, tapi ia tetap bertahan. Aku hanya membantunya menemukan jalan yang selama ini tertutup untuk Yua. Jika memang takdir tidak mempersatukan mereka. Tidak masalah! Yang penting aku sudah berusaha membukakan jalan itu, tapi jika Tuhan berkehendak lain, akupun juga tak bisa berbuat apa-apa.
"Tidak ada niat untuk menghancurkan hubungan seseorang. Aku hanya akan membuat hubungan itu mengalir kejalan yang benar dengan sendirinya. Selama ini Yua tidak pernah mendekati Epank atau bermaksud merebut Epank dari Via. Bicara dengan Epankpun juga tidak pernah, yang bisa ia lakukan hanyalah menatapnya dari jauh. Itu saja!" aku tidak tahu kenapa aku bisa bicara panjang lebar begini di depan Refald, apalagi kami membahas soal cinta tepat di bawah sinar bulan purnama.
Refald diam seribu bahasa mendengar penjelasanku yang bagai cerita novel itu. Entah ia mengerti atau tidak, aku tidak tahu.
"Jika menurutmu yang kulakukan ini salah, maka aku juga tidak bisa menyalahkanmu. Karena setiap orang punya pemikiran yang berbeda-beda. Aku memang bukan orang yang baik, tapi aku berusaha membuat orang yang ada disekitarku bahagia, meskipun nanti banyak orang yang akan menghujat dan menyalahkanku, aku tidak peduli, karena pada dasarnya semua manusia itu egois!"
Aku pergi meninggalkan ruangan ini dengan bantuan senter ponselku. Sebenarnya aku ingin berlama-lama melihat bulan supermoon yang indah itu. Tapi apa boleh buat, situasinya jadi tidak karuan seperti ini.
Aku tidak bisa berlama-lama dengan Refald. Jadi kuputuskan untuk meninggalkan tempat ini meskipun aku sendiri tidak tahu harus pergi ke mana dimalam yang gelap ini. Rasa takut yang tadinya sangat kuat menyerangku tiba-tiba saja hilang begitu saja, dikalahkan dengan perasaan bingung, kesal, marah, kecewa, semua bercampur aduk.
Pikiranku menjadi kalut sehingga aku tidak sadar kalau sudah hampir sampai dip pintu keluar vila ini. Aku berdiri di depan pintu lantai dasar dan membukanya. Aku melihat mobil Refald yang masih tetap terparkir aman ditempatnya.
Aku tidak mengerti kenapa Refald merusak suasana hatiku. Tadinya aku pikir aku bisa menikmati keindahan bulan dan menjadikannya sebagai kenanganku bersamanya. Rasa sukaku pada Refald yang tadinya muncul berubah menjadi kekesalan yang memuncak.
Aku pasti sudah gila jika aku berpikir bahwa aku mulai menyukainya. Bagaimana mungkin aku menyukai orang aneh seperti dia? Dasar Refald bodoh!
Aku mulai berjalan dalam gelap menuju ke pintu gerbang yang masih belum terlihat dari sini, sampai tiba-tiba ada tangan yang menarikku dan langsung memelukku dari belakang. Aku terkejut setengah mati dan hampir menjerit. Tapi aku mulai sadar siapa orang yang memelukku ini.
"Jangan pergi sendiri! Jangan tinggalkan aku seperti ini! Kau boleh melakukan apapun yang kau mau dan aku juga akan melakukan apapun yang kumau untuk bisa membuatmu ... jatuh cinta padaku!" ucap Refald tanpa melepaskan pelukannya.
Aku tidak bisa bergerak, tapi juga tidak bisa berontak. Aku mulai merasakan kehangatan dipelukannya. Kata-katanya juga tiba-tiba menenangkan hatiku. Aku memejamkan mata dan menatap ke langit. Aku tak bisa melihat bulan lagi karena terhalang oleh gedung vila dan pepohonan yang tinggi.
Perasaan apa ini? Kenapa serasa senang sekali mendengar Refald bicara seperti itu?
Perlahan, Refald melepaskan pelukannya dan meminta maaf padaku. Aku tidak bisa melihat bagaimana ekspresinya karena keadaan yang gelap ini. Ia menuntunku masuk ke dalam mobil dan mengantarku pulang ke rumah nenek. Aku melihat jam diponsel dan terkejut setelah tahu jam berapa sekarang.
Ini sudah hampir tengah malam!
Refald menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi meninggalkan vila kosong yang disewanya.
Ternyata tidak butuh waktu lama untuk kami sampai di depan rumah nenekku. Sepertinya lokasi vila tadi tidak jauh dari desa ini.
Refald turun dan membunyikan bel rumah. Akupun berdiri dibelakangnya. Nenek membukakan pintu dan aku langsung masuk begitu saja.
"Maaf, Nek! Kami pulang terlambat!" ujar Refald menjelaskan.
"Apa acaranya lancar?" nenek hanya tersenyum seakan tahu ke mana kami pergi tadi. Aku berpikir mungkin Refald sudah memberitahunya sebelum ia pergi bersamaku.
Refald hanya mengangguk tanpa ekspresi apapun. "Kalau begitu saya permisi dulu, Nek! Sudah malam!" pamit Refald.
"Baiklah, terima kasih sudah mengantar cucuku pulang. Selamat malam. Hati-hati di jalan," ujar nenek pada Refald.
Aku langsung masuk ke dalam kamar tanpa bicara sepatah katapun. Nenek hanya menatapku tanpa bertanya apa-apa. Sepertinya ia mengerti apa yang saat ini aku rasakan, dan nenek membiarkanku sendirian di kamar. Aku mendengar suara mobil menjauh. Itu berarti Refald sudah pergi.
Saat bersama Refald tadi, entah kenapa hatiku merasa tenang meskipun ia menjengkelkan, tapi ketika dia sudah tidak ada di sini lagi, aku kembali gelisah.
Apa yang terjadi pada diriku saat ini? Kenapa kata-kata Refald tadi membuatku bingung? Apa sebenarnya yang ia inginkan dariku? Kenapa ia memaksaku menyukainya?
Saat aku masih bergelut dengan hati dan pikiranku, tiba-tiba ada sms masuk dari ponsel milik Refald.
Refald:
Selamat malam, semoga mimpi indah. Lupakan semua yang terjadi tadi. Aku tidak ingin kau membenciku seperti kau membenci tunanganmu.
Aku membaca pesan Refald yang rancu itu. Aku merasa ada makna tersendiri dibalik pesan yang ia kirimkan untukku. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa maksud dari pesan itu.
Semoga bukan hal yang buruk. Baiklah! Jika itu yang kau inginkan. Aku akan melupakan kejadian tadi dan bersikap seperti biasanya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Mara
Tapi klo yua tahu ..apa yua setuju dengan cara fey
2023-04-03
0
Nurulfajriyah
gelap
2021-07-22
0
Ganta dicahya negri
oohhh.......Refald
walaupun sejauh ini
aku belum sepenuhnya paham
dengan jalan cerita cinta kalian
tapi aku mau dong
diperjuangin juga 😁😁🙊
( mimpi kali yeee )
(✿ ♡‿♡)(✿ ♡‿♡)(✿ ♡‿♡)(✿ ♡‿♡)(✿ ♡‿♡)
2021-03-23
0