Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu. Aku menceritakan insiden itu pada Yua. Terus terang, dia juga syok dan kaget. Bagaimana bisa lem perekatnya tertukar dengan salep obat luka milik Mia. Namun dia juga menyarankanku untuk melupakannya. Sebab kemungkinan besar, kami tidak akan bisa bertemu cowok itu lagi.
Bisa jadi dia sudah kembali ke asalnya, karena Vila Cahaya yang dulu sempat mereka tanyakan tampak sepi dan tidak berpenghuni. Entah kenapa, hatiku tetap tidak tenang. Bahkan selama seminggu ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku terus memikirkan apa yang terjadi dengan lukanya. Apakah bertambah parah atau bisa disembuhkan. Bagaimana kalau kejadian waktu itu menjadi bumerang dalam hidupku layaknya bom waktu yg bisa meledak kapan saja.
Yua terus mengingatkan aku. Dia ingin kejadian itu menjadi rahasia antara kita berdua saja agar tidak menimbulkan masalah. Aku rasa ada benarnya juga teman-temanku yang lain tidak tahu. Jika sampai mereka tahu, pasti mereka juga khawatir padaku. Aku tidak mau itu terjadi. Biarlah masalah ini aku pendam sendiri dan hanya Yua saja yang tahu.
Saat ini aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sama sekali tidak mengenal cowok itu. Bahkan dia juga tidak menghubungiku.
Jika memang terjadi sesuatu kepadanya pastilah orang yang dimintai bertanggung jawab adalah aku. Namun, sampai saat ini tidak ada yang terjadi. Tidak ada seorang pun yang menghubungiku. Cowok itu tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak apapun. Tidak ada kabar sama sekali.
Akupun memutuskan untuk menjalani aktivitasku seperti biasa. Aku berharap akan seperti ini terus sampai watuku tiba pergi dari negara ini.
"Ada apa denganmu?" tanya Yua saat aku membuka pintu rumahku. Ia datang untuk menjemputku.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, dengan lemah lesu seperti biasanya aku berangkat ke sekolah dengan Yua. Aku bahkan tidak punya tenaga menjawab semua pertanyaan temanku itu.
Hanya Yua yang bisa mengerti aku. Meski aku banyak diam, diapun mengerti dan memahami. Saat kami berkumpul bersama dengan yang lainnya, Yualah yang menolongku dari semua pertanyaan teman-temanku atas diamku.
Selama seminggu ini, aku berangkat bersamanya naik motor. Aku tidak sanggup bila harus berangkat bersama Nura dan Mia dengan berjalan kaki atau naik angkutan umum ke sekolah. Mereka pasti bertanya dengan apa yang menimpaku seminggu yang lalu. Sedangkan aku tidak ingin lagi mengingat kejadian waktu itu.
Karena itulah aku meminta Yua untuk menjemput dan mengantarku pulang sekolah sampai aku siap menghadapi kenyataan yang sangat membuatku tertekan. Insiden itu benar-benar mengusik hati dan pikiranku. Sejujurnya, aku tidak bisa tenang sebelum tahu bagaimana keadaan cowok itu sekarang. Aku hanya berharap semoga tidak terjadi apa-apa.
"Apa yang terjadi dengan Fey? Sudah seminggu ini ia banyak diam?" tanya Mia pada Yua ketika kami di kantin bersama. Mereka semua menatapku karena terus memainkan makanan yang ada dihadapanku.
"Apa dia ... sakit ....?"
"Hati ....!" Nura menyahut. Yua dan Mia menoleh ke arahnya bersamaan.
"Hatinya pasti sedang galau ...." Nura menjelaskan lagi pernyataannya supaya mudah dimengerti.
"Apa maksudmu?" tanya Mia.
"Bagaimana kau bisa ta-hu ...." Yua terkejut karena mengira Nura bisa mengetahui apa yang terjadi denganku. Padahal, masalahku ini hanya Yua dan aku saja yang tahu.
"Tentu saja ... lihatlah, Fey. Tidak ceria, murung, tidak nafsu makan, dan tidak bicara. Semua orang pasti tahu hanya dengan sekali lihat. Itu semua juga terjadi di film-film drama."
"Maksudmu ... dia ....!" Mia mecoba menebak, tapi dia takut salah.
"Yaaah ... dia jatuh cinta!" ujar Nura seenaknya.
"APA?" teriak Mia dan Yua bersamaan. "Jatuh cinta?" teriak mereka kompak.
Teriakan mereka berdua membuat kaget seisi kantin yang saat itu sedang ramai karena memang sedang jam istirahat sekolah. Akupun sama terkejutnya dengan yang lain. Jujur saja, teriakan mereka membuyarkan lamunanku.
"Hey! Kalian kenapa? Berisik sekali!" teriak seseorang yang sepertinya terganggu dengan suara keras Yua dan Mia barusan.
Kedua temanku hanya saling menatap. Mereka berusaha menguasai diri mereka sendiri. Mia langsung menyeretku keluar dari kantin. Ia mengajakku ke taman belakang sekolah. Yua dan Nura juga mengikuti kami dari belakang.
"Apa ini ....?" tanyaku heran dengan sikap Mia yang sedikit memaksa.
"Jujurlah pada kami! Kau jatuh cinta?" tanya Mia to the poin.
"Apa?" tanyaku terkejut.
Yua datang dan memberikan kode yang sama sekali tidak kumengerti dan membuatku bingung. Yua menganggukkan kepalanya.
"Jujur saja pada kami, Fey! Siapa dia?" tanya Mia lagi. Entah kenapa aku merasa seperti sedang diinterogasi.
"Apa maksudmu? Dia siapa?" aku benar-benar tidak tahu dengan apa yang dibicarakan Mia.
Sekali lagi aku melihat Yua, dan ia masih menganggukkan kepalanya.
Mereka ini kenapa?
"Katakan, Fey! Kami tidak akan membunuhmu! Kau jatuh cinta, bukan? Dengan seseorang yang kau rahasiakan dari kami. Itu sebabnya kau jadi seperti ini?" ucap Nura.
Seperti kejatuhan gunung. Aku dan Mia menoleh ke arah Nura bersamaan. Jadi ini alasan teman-temanku membawaku kemari dan menanyakan hal yang tidak kumengerti sejak tadi?
"Aku tidak jatuh cinta ... Apa yang kalian pikirkan?" sanggahku.
"Lalu kenapa kau seperti ini? Sudah seminggu sejak kita masuk sekolah kau tidak bicara dengan kami. Kau menghindari kami. Kau takut kalau pacarmu itu kami rebut?" tuduh Nura.
"Berhenti bicara omong kosong! Apa yang kalian bicarakan? Percayalah, aku tidak jatuh cinta ... aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Maafkan aku jika itu membuat kalian terganggu," jelasku
"Sesuatu?" tanya Mia
"Apa itu?" Nura juga ikut bertanya.
Aku tidak bisa berterus terang dengan apa yang menimpaku saat ini. Yua hanya diam tanpa berkata apa-apa. Sepertinya ia menyerahkan semua keputusan padaku untuk memberitahu mereka atau tidak dengan masalah yang kurasakan sekarang.
Sebaiknya aku tidak memberitahu mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Karena aku sendiri tidak tahu bagaimana akhir dari masalah ini. Semuanya belum terlihat jelas. Mungkin suatu hari nanti mereka pasti akan kuberi tahu semuanya, baik masalah ini, maupun rahasia besarku yang selama ini kututupi rapat-rapat.
"Aku hanya memikirkan kondisi nenekku yang tidak begitu baik selama ini!" Akhirnya, aku berbohong. Tapi aku berusaha meyakinkan mereka bahwa kebohonganku itu alami sehingga terlihat nyata. "Kenapa kalian bisa berpikir bahwa aku jadi seperti ini akibat jatuh cinta? Itu konyol sekali dan itu juga jelas tidak mungkin."
Mia dan Nura terlihat kikuk, mereka memalingkan muka dan bersiul lalu pergi begitu saja meninggalkan aku dan Yua seperti tidak terjadi apa-apa.
"Mereka kenapa? Aneh sekali?" tanyaku seraya menatap mereka tak percaya dengan apa yang aku lihat. Mereka pergi meninggalkan aku dan Yua setelah sempat membuat kehebohan tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Dasar mereka itu!
"Mereka benar-benar takut kau jatuh cinta duluan dibanding mereka!" bisik Yua.
"Apa? Astaga!"
"Syukurlah kalau begitu! Aku sempat khawatir Nura tahu masalahmu yang sebenarnya. Aku bahkan sempat menyangka dia tak sebodoh yang kukira ... ternyata dia memang bodoh! Hedeuuhhh!" Yua menepuk jidatnya dengan tangannya sendiri.
Aku tersenyum tanpa sadar, dan ini pertama kali dalam kurun waktu seminggu senyumku mulai kembali. Tak peduli seperti apa mereka, dalam situasi apapun, mereka selalu bisa membuatku tersenyum dengan tingkah konyol mereka yang kekanak-kanakan. Aku sangat bersyukur bisa memiliki teman seperti mereka.
"Katakan padaku, Fey! Seperti apa cowok itu. Aku hanya sempat melihatnya sekilas. Jadi tidak begitu jelas!" Tua tiba-tiba saja menyinggung orang yang ingin aku lupakan.
"Dia sangat menyebalkan. Sepertinya dia blasteran, dan bukan orang daerah sini. Tinggi dan berkulit putih, tubuhnya atletis karena sepertinya dia suka berolahraga. Tapi nyalinya kecil. Tak sepadan dengan bobot tubuhnya." tanpa sadar akupun berkomentar tentang cowok itu.
"Waauuwww ... Kalian baru saja bertemu, tapi kau sudah mengetahui detail banyak tentang dia. Apakah dia tipe orang yang kau suka?" Pertanyaan Yua mengejutkanku.
"Apa kau bercanda? Dia sangat menyebalkan dan suka berteriak setiap kali aku bicara. Bagaimana mungkin aku bisa menyukai pengecut dan bodoh seperti dia?" sanggahku, dan aku jujur.
"Siapa tahu? Pertemuan kalian ini langka, tahuuu!" Yua berlalu pergi meninggalkanku sediri dengan wajah bengong. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu padaku?
Kami berdua kembali ke kelas masing-masing karena bel tanda selesai istirahat berbunyi. Namun, ada pemandangan yang sedikit berbeda saat kami melewati beberapa kelas sebelum sampai di kelas kami sendiri.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, semua siswi cewek tiba-tiba berjajar di koridor kelas layaknya menunggu seseorang datang sambil berbisik-bisik. Bahkan beberapa pasangan sempat beradu mulut tentang sesuatu yang tidak kumengerti. Mereka semua berbaris di kanan dan kiri jalan seolah-olah menyaksikan pertunjukan parade gerak jalan.
"Sepertinya kita salah arah!" Bisik Yua. Kami berdua berjalan ditengah parade ini. Hanya saja yang datang hanya kami berdua.
"Ada apa ini? Apa ada pesta penyambutan? Kita berdua? Tapi dalam rangka apa? Dan kenapa hanya kita berdua saja yang berjalan disini?" tanyaku heran dan juga bingung melihat semua ini.
"Sepertinya semua ini bukan untuk kita. Lihat mereka, kita sudah berjalan tapi tidak ada yang memerhatikan kita. Itu artinya bukan kita yang mereka sambut. Ada orang lain." jawaban Yua masuk akal juga.
Aku melihat sekeliling, dan yang dikatakan Yua memang benar. Mereka sibuk berbicara satu sama lain dan acuh pada kedatangan kami.
"Lalu siapa yang mereka sambut? Kenapa hanya kita yang tidak tahu? Dimana Mia dan Nura?" Aku mencari keberadaan kedua temanku tetapi tetap tidak menemuka keduanya dimanapun.
"Entahlah kita ke kelas dulu dan cari tahu apa yang sedang terjadi," usulnya.
Aku setuju dengan Yua. Kelas kami memang berada di tengah sekolah kami. Lokasinya dekat dengan jalan utama menuju kelas-kelas, tidak jauh dari lokasi kami berjalan saat ini.
Kelasku ada di kelas XI IPA 4. Tempatnya lumayan strategis karena dekat dengan perpustakaan, laboratorium dan kamar mandi. Sekolah kami termasuk sekolah favorit dengan kalkulasi siswa keseluruhan kurang lebih 700 siswa. Ukuran yang sangat besar untuk sekolah favorit disebuah desa. Untuk berjalan dari taman belakang ke kelas kami saja membutuhkan waktu kurang lebih tujuh menit dengan jarak 100 m dari taman dan lapangan belakang sekolah.
Karena jaraknya yang lumayan jauh, kami sampai tidak tahu apa yang terjadi disini. Sejak kapan semua siswi cewek berkumpul disini dan apa yang terjadi. Hanya kami berdua yang tidak tahu.
Sebelum aku memasuki barisan penonton di koridor untuk menuju kelas kami, tiba-tiba semua orang bersorak-sorak ramai. Sontak saja kami menoleh ke arah sorakan itu ditujukan.
Bagai tersambar petir disiang bolong. Aku terkejut menyaksikan sumber yang menjadi sorakan mereka. Mulutku secara spontan menganga hingga mataku pun hampir ikut keluar.
Ada seseorang di sana dan ia sedang berjalan ke arah kami, dan aku langsung tahu siapa orang itu. Dia ... adalah cowok yang kutemui di desa waktu itu, seseorang yang selama ini membuat tidurku tidak nyenyak. Bukan karena aku menyukainya, tapi karena merasa bersalah padanya atas keteledoranku. Dia ... orang itulah yang membuatku seperti ini.
Saat semua senang dengan kehadirannya, hanya aku yang sedih dengan kedatangannya. Sungguh aku tidak menduga, cowok yang ingin aku lupakan, kini ia hadir tepat di depan mataku.
"Aku yakin ini adalah pertanda buruk bagiku. Bagaimana bisa cowok itu ada di sini?" gumamku pada diri sendiri.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Mara
Karena dia jodohmu😘
2023-04-03
0
Zaitun
siapa pu nya
2021-08-26
0
Nurulfajriyah
si dia
2021-07-21
0