Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Refald saat ini. Raut ekspresinya sulit sekali ditebak. Untuk beberapa saat, suasana diantara kami menjadi hening. Akupun juga sedang bergelut dengan hatiku sendiri, bagaimana bisa aku lupa kalau sudah memiliki tunangan, dan yang lebih parah lagi adalah aku tidak tahu apapun soal tunanganku. Apakah dia masih hidup atau tidak, aku juga tidak tahu. Aku mencoba mengingat-ingat, tapi tetap saja aku tidak bisa.
“Di mana kalian bertunangan?” suara Refald terdengar sedikit gemetar. Akhirnya ia mulai bersuara dan memecah kesunyian.
“Apa ini? Kau seperti polisi saja? Aku merasa seperti sedang diinterogasi!”ujarku.
“Jawab saja pertanyaanku!” Refald terlihat emosi, nada bicaranya mulai meninggi.
Dengan gugup aku menjawab, “Di Jepang .... ”
“Jepang?” Refald terkejut. Ternyata ia bisa kaget juga.
“Iya ... aku lahir di sana.”
“Di mana?”suaranya masih gemetar tapi tatapannya tajam dan lurus melihatku.
“Berhenti menginterogasiku! Aku mulai tidak nyaman. Ada apa denganmu?”sungguh aku tidak mengerti kenapa Refald jadi aneh begitu.
“Jawab saja!” serunya sedikit memaksa.
Aku semakin terkejut dengan seruannya. Ada apa ini? Kenapa dia marah sekali?
Melihat wajahku yang ketakutan, ia memalingkan wajahnya dan mulai berusaha mengontrol emosinya. Lagi-lagi, suasana kembali menjadi hening. Refald berdiri dan mengambilkan air untukku. Cowok ini sangat aneh, sebentar emosi, sebentar menakutkan, sebentar berubah lagi jadi hangat.
Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan-jangan ia punya kepribadian ganda. batinku.
Namun apa yang kukatakan padanya memang agak mengejutkan. Jangankan Refald, aku sendiri juga terkejut mengingat semua ini.
Secara tiba-tiba aku teringat kembali dengan tunanganku. Padahal selama ini aku tidak pernah lagi mengingatnya. Anak laki-laki yang ada dimimpiku tadi, aku yakin sekali bahwa dia adalah tunanganku.
Kesedihanku, kebencianku, rasa kecewaku yang begitu dalam selama ini membuatku lupa bahwa aku sudah bertunangan. Aku sendiri juga ragu apakah pertunangan kami ini masih bisa berlanjut atau tidak, karena sudah tujuh tahun lamanya kami tidak pernah bertemu dan tidak tahu kabar masing-masing.
“Hari ini kau memberiku banyak sekali kejutan!” Refald memulai pembicaraan lagi. Sepertinya dia sudah bisa menguasai diri. “Pertama, perasaanmu yang sebenarnya terhadap nenekmu karena kematian ibumu. Kedua, pertunanganmu yang tidak jelas dan kisah hidupmu yang miris!” Refald tersenyum sinis. “Kukira akulah yang membuatmu terkejut dengan berpura-pura menjadikanmu sebagai pacarku. Aku bahkan sempat senang karena telah berhasil membuatmu pingsan. Tapi ternyata aku salah. Kaulah yang mengejutkanku. Aku benar-benar terkejut!” Refald masih tersenyum sinis seolah menertawai dirinya sendiri.
Aku hanya diam menatapnya. Aku tidak tahu harus bilang apa. Karena aku sendiri juga masih belum bisa mempercayai semua yang terjadi dalam hidupku selama ini.
Refald kembali duduk disampingku, dan menatapku dengan tatapan yang masih saja membuatku merinding jika melihatnya. “Apa kau menyukai tunanganmu?” suaranya kini terdengar lirih.
“Tidak!" jawabku spontan dan tanpa ragu. "Aku membencinya. Kenapa kau bertanya begitu?”giliranku bertanya padanya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran. Kenapa kau membencinya?”
“Karena dia sama sepertimu. Sangat menjengkelkan. Dia juga suka mengejekku dengan senyumnya yang menyebalkan. Bahkan aku tidak suka bicara dengannya. Untung saja kami tidak sering bertemu. Tidak ada yang kusuka darinya. Aku mau bertunangan dengannya karena ayahku yang meminta. Jika suatu hari kami tidak saling mencintai, maka pertunangan ini juga bisa dibatalkan. Sampai saat ini, akupun juga tidak tahu apakah pertunangan kami sudah batal atau belum karena ayahku tidak pernah mengatakan apapun. Itulah yang terjadi dalam hidupku yang miris ini. Meski aku terlihat sangat menyedihkan, aku tetap menolak pura-pura jadi pacarmu!”
“Kenapa? Kau mulai menyukai tunanganmu? Kau merasa bersalah padanya karena mengkhianatinya? Kau takut dia akan datang kemari mencarimu?”
“Dulu aku memang berharap seperti itu, meski diantara kami tidak ada perasaan apa-apa. Setidaknya sebagai tunanganku, dia ada disisiku saat kubutuhkan, tapi seiring berjalannya waktu, aku melupakannya. Bahkan aku tidak ingat kalau sudah bertunangan. Aku baru mengingatnya saat aku pingsan tadi. Tiba-tiba aku memimpikannya. Ini sangat aneh. Aku tidak pernah memimpikannya selama ini. Kenangan itu, ada di mimpiku. Tapi aku tidak begitu mengharapkannya, mungkin karena kami sudah tidak pernah lagi bertemu, dan aku juga tidak merasa bersalah padanya? Dia yang meninggalkan aku. Jadi dia yang salah.”
Refald hanya diam mendengar ocehanku yang seperti petasan renteng. Aku yakin ada sesuatu yang ia pikirkan. Kali ini ia sudah tidak menatapku lagi. Ia hanya menundukkan kepalanya.
“Aku akan kembali. Sebentar lagi kita akan pulang.” ucapnya lirih. Ia bangkit dari kursinya dan menuju pintu keluar.
“Kalau begitu aku juga!”
“Kau tetap di sini. Akan kuambilkan tasmu. Mukamu pucat sekali. Aku tidak mau kau pingsan lagi.”
Aku terkejut melihat sikap Refald yang sok perhatian padaku. Walaupun sikapnya itu kasar, tapi sebenarnya dia baik, tapi dia juga aneh. Bagaimana bisa orang seperti dia jadi idola para siswi di sini?
Aku mencoba bangun, tetapi tenagaku tidak cukup kuat untuk berdiri. Tubuhku terasa lemas sekali. Mungkin karena akhir-akhir ini aku kurang tidur dan makankupun tidak teratur. Ditambah banyak sekali masalah yang harus kuhadapi. Sepertinya aku memang butuh lebih banyak istirahat.
Entah berapa lama aku tidak merebahkan diriku dengan tenang seperti ini. Refald langsung pergi meninggalkanku sendiri dengan ekspresi yang tidak bisa kumengerti.
Kenapa dia? Reaksinya aneh sekali? Aku tidak tahu apakah dia marah, senang atau kesal. Aku tidak bisa menebaknya. Saat menatapku ia terlihat marah dan kesal. Saat tidak melihatku, ia berubah menjadi hangat dan menenangkan. Dasar aneh!
Aku bingung dengan semua ini. Aku tidak tahu apakah keputusan menceritakan rahasiaku padanya itu tepat atau tidak. Aku hanya berharap semua ini cepat berlalu. Karena aku ingin hidup normal seperti sebelumnya.
Semoga saja Refald bisa menjaga rahasiaku sampai tiba saatnya aku pergi darisini. Karena aku ingin pergi, sama seperti saat aku datang kemari dengan membawa rahasia hidupku yang tidak diketahui oleh siapapun. Aku berharap kepergianku nanti tidak meninggalkan bekas apapun di sini.
Kini yang mengganggu pikiranku adalah ... siapa Refald? Kenapa ia seperti itu? Apa ia juga punya rahasia sepertiku? Karena selama ini Refald tidak pernah bicara banyak mengenai dirinya. Ia hanya narsis dan terlalu percaya diri. Ia selalu berhasil membuatku terkejut dan kesal. Hanya itu yang kutahu tentang Refald.
Namun, entah kenapa aku merasa nyaman menceritakan semuanya pada Refald. Ia seperti mempunyai ilmu menenangkan orang.
Dan aku, mulai tetarik padanya.
“Haahhhh tidak! aku tidak ingin tertarik padanya ... bodo amat dengannya! Apa yang terjadi denganku? Aku harus menghilangkan perasaan ini. Aku tidak boleh menyukainya ... sadarlah, Fey! Kau bukan cewek bodoh!” aku menepuk lembut kedua pipiku sendiri. “Hanya sebulan, setelah itu semuanya selesai ... dia akan pergi suatu hari nanti, dan aku pun juga harus pergi darisini.” aku meyakinkan diriku sendiri.
Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Semua siswa keluar dari kelas masing-masing. Refald juga sudah kembali ke ruang UKS untuk menjemputku. Seperti yang ia bilang, ia mengambilkan tasku dan menyerahkannya padaku. Aku membayangkan bagaimana hebohnya teman-teman sekelasku saat Refald mengambil tas itu di dalam kelas. Pasti ramai sekali.
Kami berjalan keluar ruangan tanpa saling bicara. Aku memutuskan mengekor saja dibelakangnya. Karena suasana hati Refald sepertinya sedang tidak baik. Raut mukanya masam dan menakutkan. Berbahaya kalau membangunkan singa yang sedang tidur. Karena binatang buas suka sekali menerkam mangsa yang mengganggu tidurnya. Seperti itulah yang kulihat dari seorang Refald yang saat ini berjalan didepanku.
Sekolah sudah mulai sepi, semua siswa sudah banyak yang pulang, hanya tinggal beberapa siswa saja yang masih berlalu lalang di sini. Ada juga yang masih berkumpul di taman untuk merapatkan sesuatu, dan ada pula yang masih berada di ruangan kelas atau di ruang organisasi mereka masing-masing yang terdapat di sekolah kami.
Selain OSIS, sekolah ini juga memiliki banyak organisasi ekstrakurikuler, yaitu PA (Pencinta Alam), PMR (Palang Merah Remaja), Pramuka, Karate dan beberapa klub lainnya yang meliputi klub Bahasa, klub drama, klub MIPA dan klub Melukis.
Setiap siswa wajib mengikuti kegiatan tersebut ditahun pertama masuk SMA ini. Jika memiliki kompetensi dibidangnya, mereka bisa melanjutkan kegiatan ini ditahun berikutnya sebagai senior. Kegiatan ekstra ini dilaksanakan setiap hari sabtu setelah selesai jam pelajaran.
Kebanyakan siswa di hari sabtu pulang jam lima sore untuk mengikuti kegiatan ekstrakuler yang mereka ikuti masing-masing. Namun sebagian dari mereka juga ada yang pulang terlambat dari jam pulang sekolah biasanya meski bukan dihari sabtu. Itu karena mereka ini lebih aktif dikegiatan ektrakurikuler ataupun klub-klub yang mereka pilih. Bisa dibilang, mereka semua memiliki jiwa organisasi yang kuat. Tidak semua orang memiliki jiwa seperti itu.
Seperti yang kulihat saat ini, mereka yang masih berada di sini adalah anggota-anggota organisasi yang luar biasa aktif dibidangnya. Rata-rata yang aktif di organisasi, memiliki fans fanatik tersendiri. Baik laki-laki atau pun perempuan, karena mereka semua terkenal dengan kecerdasannya yang juga rata-rata memiliki visual yang tampan dan cantik. Meskipun tidak semuanya.
Pandangan semua orang beralih pada kami saat melihat aku dan Refald melintasi mereka. Aku sungguh tidak nyaman dengan tatapan mereka. Mereka melihatku seolah-olah aku adalah kriminal yang baru saja melakukan tindak kejahatan. Namun, terlepas dari dari situasi canggung ini, Refald tiba-tiba berhenti berjala dan menarik tasku dari rangkulanku.
"Apa yang kau lakukan?" Aku terkejut dengan tindakan Refald.
"Akan kubawakan tasmu!"
"Kau tidak perlu melakukan itu!" Aku berusaha meraih tasku kembali. Tapi Refald jauh lebih tinggi sehingga aku kesulitan mengambilnya. "Berikan padaku!" Aku mulai sedikit kesal.
"Ambil kalau kau bisa!" Cowok ini mulai bersikap menyebalkan lagi, ia sengaja menaikkan tangannya supaya aku tidak bisa meraih tasku yang ada ditangannya.
Aku berusaha melompat dengan sekuat tenaga agar dapat meraih tasku kembali. Namun na'as, kakiku tergelincir saat mulai melompat sehingga keseimbanganku oleng dan terjatuh menabrak tubuh Refald.
Kami berdua terjatuh ke lantai dengan posisi Refald berada dibawahku. Ia mengerang kesakitan karena punggungnya menghantam lantai dan juga tangannnya yang terluka tertindih tubuhku.
Spontan aku langsung berusaha bangun dari atas tubuhnya. Namun, lagi-lagi kakiku terkilir sehingga aku terjatuh lagi dan tanpa sengaja, aku mencium bibir Refald. Sontak saja kami berdua sama-sama terkejut. Kejadian ini begitu cepat sehingga aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Refald langsung mendorongku menjauh dari tubuhnya begitu ia sadar dari syoknya.
Rona pipiku memerah akibat insiden tak terduga barusan.
Gawatt ... kenapa aku bisa menciumnya? Mana itu ciuman pertamaku lagi .... haduhhhh!
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Maaf, aku tidak sengaja. Kakiku terkilir. Lagipula ini semua salahmu! Kalau kau mau memberikan tasku daritadi, kejadian ini tidak akan terjadi." aku menyalahkannya.
"Apa? Beraninya kau menyalahkan aku? Aku hanya ingin membantumu. Berjalan membawa tubuhmu saja kau tidak kuat. Apalagi ditambah beban tasmu yang beratnya hampir sama dengan berat badanmu! Apa saja yang kau masukkan kedalam tas ini? Kau ingin pingsan lagi? Tidak cukupkah kau merepotkan semua orang yang ada di sini?" geramnya.
Perkataan Refald membuatku tertegun. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku bisa merepotkan orang lain juga. Selama ini aku terbiasa sendiri. Melakukan banyak hal seorang diri. Jadi aku tidak pernah merasa membebani orang lain. Ini pertama kalinya dalam hidupku ada orang yang mengatakan itu padaku.
"Huuuuuuuu ... dasar caper!" komentar seseorang.
"Bilang aja kalau pengen dipeluk ama do'i ...." celetuk yang lain.
"Gak usah sok suci, lo!" ada yang sudah mulai mencibirku.
"Gayanya aja alim ... tapi kelakuannya mirip 21!" komentar-komentar pedas mulai tertuju padaku.
Aku baru ingat masih ada beberapa orang yang memerhatikan kami di sini. Mereka pasti melihat semua kejadian tadi. Pantas saja mereka membenciku sehingga melontarkan kata-kata yang menyakitkan itu.
Aku menunduk menahan malu. Aku sungguh tidak tahu apa yang yang harus kulakukan dalam situasi aneh seperti ini. Refald berdiri dan tiba-tiba saja memelukku di depan banyak orang. Aku sangat terkejut ia melakukan hal itu. Begitu juga dengan yang lainnya yang langsung ricuh melihat kami berdua berpelukan.
"Apa yang kau lakukan?" aku berusaha melepas pelukannya.
"Diam dan ikuti saja aku!" bisiknya.
Refald menggiringku pergi dari tatapan nyinyir orang-orang yang ada disekitarku sambil masih memelukku. Begitu melewati koridor kelas dan berjalan dijalan utama menuju pintu gerbang, Refald melepaskan pelukannya.
"Sekarang sudah aman." Ia menyerahkan tasku dan berjalan mendahuluiku.
Aku sempat bingung melihat aksinya yang berubah-ubah. Namun, akhirnya aku mengerti. Ia berpura-pura baik padaku di depan semua orang untuk menunjukkan bahwa aku memang benar pacarnya.
Dasar liciik! Tapi ... terimakasih sudah membawaku pergi dari kerumunan orang-orang yang menghujatku.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Mara
Dasar anak-anak julid🤦
2023-04-03
0
AsepSaepul Biru Tilue Tilue
yg jadi peran utama sllu wanita yg teraniaya hihihi
2022-05-26
0
Zaitun
😊
2021-08-26
0