Yua dan Nura menolak satu mobil dengan Rio dan Mia, dengan alasan tidak ingin menjadi obat nyamuk bagi mereka. Selain itu, Yua juga tidak ingin meninggalkan motornya di sini, karena ia akan kesulitan jika ingin pulang nanti. Sebab itulah ia memutuskan naik motor berboncengan dengan Nura, karena Nura sendiri juga tidak mau dianggap sebagai pengganggu.
Sedangkan aku, mau tidak mau harus ikut satu mobil dengan Refald. Aku sungguh merasa bersalah pada kedua temanku karena keputusan yang mereka ambil. Tapi mau bagaimana lagi, saat ini Mia sedang dalam pengaruh virus yang berbahaya, yaitu virus cinta.
Jika seseorang terserang virus ini, penderitanya tidak akan pandang bulu. Siapapun bisa terpapar virus ini. Sebuah virus yang tidak bisa mengenali mana musuh dan mana teman, mana kawan dan mana lawan, mana tempat umum dan mana tempat khusus, lebih parahnya lagi adalah tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Yang dirasakan oleh penderita virus ini hanyalah dunia serasa milik berdua, tidak ada lagi yang lain. Itulah kenapa virus ini sangat berbahaya.
Virus ini tidak hanya membuat penderitanya senang atau bahagia, tapi juga bisa membuat hati menjadi sedih. Bahkan bisa juga terasa sangat menyakitkan. Virus ini bisa menyiksa penderitanya jika tidak segera diungkapkan. Selain itu, virus ini juga bisa membuat penderitanya hidup menderita dan merana bahkan serasa mati jika tak bisa memiliki orang yang dicintainya.
Virus ini bisa mengubah orang baik menjadi jahat dan juga sebaliknya. Itulah kenapa virus tersebut jauh lebih berbahaya dari virus manapun yang ada di dunia. Kendati demikian, ada juga yang bisa melawan virus ini dari segala dampak negatifnya, yaitu dengan merelakan, memaafkan, dan ikhlas menerima semua segala kondisi, situasi dalam keadaan apapun meskipun tak bisa mendapatkan orang yang dicintai. Namun, tak banyak orang yang bisa melakukannya karena itu merupakan hal yang paling sulit untuk dilakukan. Tapi bukan berarti semua orang tidak bisa, hanya orang yang memiliki kebaikan hati dan jiwa besarlah yang bisa melawan dampak negatif dari virus ini.
Sedangkan dampak positif dari virus ini adalah kita bisa hidup bahagia dengan orang yang kita cintai dan menyayangi kita. Selamanya, sampai maut yang memisahkan. Hidup dengan cinta akan berakhir bahagia, karena kita tidak hanya mencintai pasangan kita, tapi juga mencintai orang-orang yang ada disekeliling kita, seperti teman dan keluarga. Itulah yang dinamakan kehidupan yang sempurna.
Aku mulai berfikir suatu hari nanti aku juga ingin memiliki kehidupan yang seperti itu. Karena saat ini aku sudah mulai bisa menerima, merelakan, dan memaafkan semua hal yang pernah terjadi dalam hidupku dimasa lalu. Kini, aku ingin hidup seperti yang diinginkan ibuku. Walau ibu sudah tidak ada lagi disini, tapi aku tahu Ia bisa melihat dan mengawasiku. Untuk itu aku berjanji pada diriku sendiri, mulai hari ini, aku akan hidup bahagia. Supaya ibu juga bahagia di alam sana jika melihatku bahagia disini, di dunia ini.
Andai suatu hari nanti kami dipertemukan kembali, ibuku akan bangga padaku, karena aku telah bisa menjalani hidup bahagia meski tanpa dirinya. Walaupun saat ini, aku masih belum sepenuhnya bisa melakukannya, tapi begitu semua ini berakhir, aku akan kembali ke Jepang, berkumpul lagi dengan ayah dan kakakku dan melanjutkan hari-hariku dengan bahagia.
Setahun. Aku butuh waktu setahun untuk menyelesaikan semua ini. Termasuk urusanku dengan Refald. Aku ingin kepergianku nanti meninggalkan kesan yang baik sama seperti saat aku datang. Untuk itu, sebelum aku pergi aku akan mengisi kebahagiaan pada orang-orang yang ada disekitarku yang selama ini ada untukku. Aku ingin mereka nanti juga hidup bahagia meskipun aku sudah tidak ada lagi bersama mereka.
Untuk mewujudkannya, aku harus bekerja keras mulai dari sekarang.
Harus! Semangat Fey! Hidupmu yang baru, dimulai dari sekarang. Semangat!
Aku menyakinkan diriku sendiri. Seberat apapun masalah yang kuhadapi saat ini, aku pasti bisa melaluinya. Aku pasti baik-baik saja. Jujur, aku mulai bisa menerima kehadiran Refald dihari-hariku. Karena berkat dia juga, aku bisa kembali berpikir dengan jernih tentang arti hidup yang harus kujalani saat ini, dan juga nanti.
"Terima kasih!" ucapku pada Refald saat kami ada di dalam mobil.
"Tiba-tiba sekali?" ia agak terkejut karena aku tiba-tiba mengatakan hal itu.
"Iya ... aku hanya ingin mengucapkan itu."
Refald diam, sepertinya ia berusaha mencerna maksud ucapanku. Kami semua melaju meninggalkan desa menuju tikungan jalan berkelok-kelok yang menurun tajam, melewati beberapa jembatan lalu keluar dari hutan menuju perkotaan.
Rio ada di depan memimpin jalan, dan aku meminta Refald supaya tetap di belakang Yua agar kami tidak terpisah. Untungnya dia setuju.
Matahari hampir terbenam saat kami berangkat. Selama perjalanan, Refald tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya fokus menyetir. Lalu aku teringat sesuatu, ada banyak hal yang kupikirkan, mengenai luka yang ada ditangannya.
"Kenapa kau berbohong padaku?" Aku membuka pembicaraan lagi setelah kami mulai meninggalkan desa.
"Apa maksudmu?"
"Kau sendiri yang membopongku ke ruang UKS tadi. Bagaimana bisa? Jelas-jelas tanganmu itu terluka!"
Refald mendengus kesal, ia memalingkan wajahnya sebentar dan kembali lagi fokus menyetir. "Aku tidak sepenuhnya bohong. Tak ada satupun teman sekelasmu yang mau membawamu keruang UKS. Siapa lagi kalau bukan aku? Karena aku tidak bisa menggendongmu sendiri, makanya kuminta beberapa temanmu untuk membantuku meletakkan tubuhmu dipundakku. Begitu juga saat tiba di ruang UKS. Aku butuh beberapa orang untuk membaringkanmu di tempat tidur. Jika tidak, tubuhmu bisa hancur jika kuletakkan sendirian. Kau tahu kenapa?"
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena aku ingin sekali melemparmu!"
"Apa?" aku mulai sedikit emosi. Ternyata ia masih saja dendam padaku.
Wajah Refald terlihat sangat kesal. Aku memerhatikan lengannya yang terluka. Perbannya baru.
Mungkinlah lukanya terbuka karena memaksakan diri menggendongku? Itu sebabnya dia juga ada di ruang UKS?
Aku ingin menanyakannya, tapi aku takut kami akan bertengkar di sini. Apalagi ia terlihat sedang dalam suasana hati yang buruk. Tidak seperti biasanya yang selalu mengejekku dan memarahiku. Sepertinya ada hal lain yang sedang ia pikirkan saat ini.
Sebaiknya kuurungkan niatku dan kutanyakan hal yang lain saja.
"Siapa yang merawat lukamu?" tanyaku lirih.
"Kenapa? Kau cemburu?" Refald tersenyum. Aku lega ia tidak kesal lagi.
"Jangan mimpi! Untuk apa aku cemburu? Aku sama sekali tidak punya perasaan apapun padamu. Aku hanya penasaran karena saat aku sadar tidak ada siapa-siapa di sana kecuali kita berdua."
Senyumnya tiba-tiba menghilang dan kembali berwajah masam. "Ada seorang cowok yang sedang jaga di ruang itu. Jadi, dia yang merawatku. Kenapa kau tanya seperti itu? Kau merasa bersalah lagi?"
"Tidak! aku pingsan karena kau. Kali ini bukan salahku tanganmu terluka lagi."
"Apa? Kau masih bisa bicara begitu? Harusnya kau berterima kasih padaku ...."
"Maaf untuk semuanya ...."
"Kau tidak perlu minta maaf." Refald hanya menatap jalanan yang sudah mulai sore. Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
"Terima kasih juga karena sudah mau menuruti kemauan temanku. Kau bisa saja menolaknya tadi."
"Itu tidak mungkin. Kalau aku menolaknya hari ini, besok dan seterusnya dia akan memaksaku mentraktir kalian lain hari."
"Kau benar. Tapi itu juga salahmu sendiri. Siapa yang menyuruhmu mengakuiku sebagai pacarmu? Sekarang kau juga harus berurusan dengan mereka."
"Sepertinya temanmu itu jatuh cinta pada sepupumu!" Refald mengalihkan pembicaraan, dan aku mengerti.
"Yah ... aku tidak tahu kalau urusannya akan jadi seperti ini."
"Berarti dia harus mentraktir kita juga nanti."
"Apa yang kau rencanakan?"
"Tidak ada ...."
"Aku tidak percaya. Raut wajahmu menyatakan bahwa kau sedang merencanakan sesuatu."
"Terserah. Kau percaya atau tidak, aku malas berdebat denganmu. Jadi diamlah!"
Aku diam, dan melihat kejalanan depan. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan perubahan suasana hati Refald yang selalu berubah-ubah.
Akupun juga mulai memahaminya. Ia memang terlihat kasar, tapi sebenarnya dia orang yang hangat dan lembut didalam. Meski ia disukai dan digilai banyak cewek. Ia sama sekali tak peduli dan terkesan sangat cuek. Bahkan ia tak pernah menganggap cewek-cewek itu ada. Padahal dia selalu narsis bila ada cewek yang tergila-gila padanya. Tapi ia tak pernah memedulikan semua cewek-cewek itu. Ia hanya pamer padaku tentang ketampanannya dan betapa sempurnanya dia di mata wanita.
Aku mulai bertanya tanya, apakah tak satupun cewek di sini yang bisa menarik perhatiannya?
Entah mengapa pikiran itu tiba-tiba terlintas di benakku. Aku hanya berharap bahwa aku bukanlah salah satu wanita yang juga tertarik padanya.
Aku harus terus meyakinkan diriku bahwa yang kurasakan padanya hanyalah rasa bersalah yang ingin kutebus. Itu saja, karena pesona Refald yg begitu luar biasa bisa menghipnotis siapa saja yang berada didekatnya, termasuk aku juga.
BERSAMBUNG
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Mara
virus oh virus😂
2023-04-03
0
Femilia Dee
thor...latar tempatny kya di desa tempatq..klo mo ke kota harus turun gunung dulu..trz jalanny nikung2 diapit jurang tp pemandangannya bagus bgt....hehe..cuma bedany klo haluny othor di daerah b**u klo tempatq masih lebih ndeso lagi..😂😂
2021-10-03
1
Nurulfajriyah
optimis
2021-07-22
0