Kami ketakutan setengah mati karena mengira ada yang aneh di sini. Ternyata eh ternyata ... tidak ada apa-apa. Camilan dan minuman yang ada di meja tadi disimpan lagi sama mbok Min sebelum dia keluar bersama nenek. Kami terlalu berlebihan mengira semua ini terlalu mistis, mungkin karena efek gebrakan dari jendela tadi yang membuat kami jadi berpikiran yang bukan-bukan. Nyatanya, sama sekali tidak ada apa-apa.
Nenek masuk kembali ke dalam kamar dan meninggalkan kami yang cekikikan sendiri di ruang tamu. Setelah ketegangan ini mencair, aku mendengar suara mobil datang yang langsung parkir di depan pintu rumah, dan aku hafal siapa pemiliknya. Suara mobil itu ... siapa lagi kalau bukan suara mobil milik Refald.
Cowok itu keluar dengan sok kerennya dari dalam mobilnya. Memakai celana dan jaket jins warna biru yang sama. Ia juga memakai kaos hitam bertuliskan “I’m so cool” serta memakai sepatu sneakers putih. Rambutnya lebih rapi dari biasanya menambah kesan charming. Parfum yang ia pakai menghipnotis teman-temanku yang terpesona dengan ketampanannya. Mereka sama sekali tidak berkedip melihat kedatangan Refald yang semakin dekat dengan kami. Bahkan nenekkupun ikut menyambut kedatangannya. Entah sejak kapan nenek ada di sini lagi, padahal baru saja ia masuk ke dalam.
“Sejak kapan Nenek di sini? Bukankah tadi ....”aku bingung.
“Nenek tahu ada tamu spesial, makanya nenek ke sini.” Nenek langsung pergi ke arah Refald dan mengalahkan teman-temanku yang sudah harap-harap cemas menanti kedatangannya.
Dia mulai tebar pesona! Astaga! aku hanya bisa tepok jidat saja.
“Pasti kau yang bernama Refald, kan? Ini yang kesekian kalinya kau ke sini. Tapi gadis tengil itu tidak pernah memperkenalkanmu pada, nenek! ” ucap nenek.
Aku sedikit tersinggung mendengar nenekku memanggilku seperti itu, aku bahkan baru mengetahuinya bahwa itulah julukan yang diberikannya padaku.
Refald mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya ia sendiri juga kaget karena ada teman-temanku juga di sini, tapi ia berusaha bersikap biasa.
Semua pandangan tertuju pada Refald dan aku mulai berdeham untuk memberitahu mereka bahwa aku juga masih ada di sini. “EHEMM HEEEEMM ....” aku tahu tidak ada yang mengacuhkanku.
Refald memulai pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya. "Berhubung kalian semua ada di sini, aku akan memperkenalkan diriku secara resmi. Namaku Refald, aku adalah pacarnya Fey, senang bertemu dengan kalian semua.”
Semua terkejut kecuali Yua dan nenek yang sudah tahu sebelumnya. Hanya saja pengetahuan mereka berbeda. Yua tahu kalau Refald hanya berpura-pura menjadi pacarku. Sedangkan nenek, sudah menduga sejak awal bahwa aku adalah pacarnya Refald sungguhan. Berbeda dengan Nura dan Mia yang baru saja tahu cerita sesungguhnya tadi.
“Bukankah kalian hanya pu ....” Yua langsung membekap mulut Nura sebelum ia bicara lebih jauh lagi.
Awalnya Nura berontak tapi akhirnya ia mengerti kenapa Yua melakukan hal itu, ada nenekku di sini.
Nenekku senang dengan perkenalan singkat Refald. “Sudah kuduga kalian berdua memang benar pacaran. Nenek merestui kalian berdua, karena kalian adalah pasangan yang serasi. Apa ada yang keberatan di sini?”
Nenek menatap semua wajah teman-temanku. Yua langsung menggeleng. Begitu juga dengan Mia. Sedangkan Nura hanya diam saja, tapi ia pun akhirnya ikut menggeleng karena cubitan dari Yua.
“Baguslah kalau begitu, ada apa calon menantuku ini kemari? Fey bilang ada yang ingin kau bicarakan?”
“Nenek! Jangan berlebihan begitu?” bisikku pada nenek tapi ia sama sekali tak menghiraukanku.
Refald merasa senang karena aku membicarakannya dengan nenek. Ia mengedipkan sebelah matanya padaku. Membuatku langsung ilfil dengannya.
“Sebenarnya ... aku mau minta izin pada nenek untuk mengajak Fey jalan-jalan ke kota, itu pun juga kalau nenek mengizinkannya ....”
Aku dan yang lainnya terkejut mendengar maksud Refald. Kecuali nenek.
“Tentu saja, kalian boleh pergi. Tapi jangan sampai pulang malam-malam!” setelah memberi izin nenek langsung masuk ke dalam. Aku tidak menyangka nenek langsung mengizinkannya, tanpa syarat pula.
“Kau tidak minta izin pada kami?” tanya Mia pada Refald setelah nenek menghilang dari pandangan kami. Ia terlihat seperti marah.
Refald menatapku dan aku mengerti maksud tatapannya. “Oh iya! Kenalkan, mereka adalah teman-temanku ... yang paling ujung Nura, lalu sebelahnya ada Yua dan yang bertanya padamu ini adalah Mia.”
Refald mengulurkan tangannya. Nura langsung menyambutnya dengan antusias seakan tidak mau melepaskan tangannya. Lalu Yua yang bersikap biasa. Tapi giliran Mia, dia hanya menempelkan ujung jarinya pada tangan Refald seolah enggan menyalaminya. Aku tersenyum melihatnya. Akhirnya ada juga yang tidak menyukainya selain aku.
“Bisa kita pergi sekarang?” Refald terkesan cuek dengan teman-temanku.
“Tidak bisa!” jawab Mia dengan ketus. “Sangat sulit bagi kami bertemu dengan Fey, sejak dia bersamamu. Bahkan disekolahpun kami juga tidak bisa saling bicara. Jika kau ingin mengajaknya pergi, kau juga harus mengajak kami juga?”
Wahhh! Mia hebat ... akhirnya dia bisa mengerti apa yang kuinginkan.
“Tidak bisa!” jawab Refald. Lagi-lagi, cowok ini merusak kesenanganku. “Mobilku hanya muat dua orang. Aku tidak bisa mengajak kalian semua.”
Mia berdebat dengan Refald. Saat suasana menjadi tegang ... tiba-tiba Rio datang dengan mobilnya yang ia parkirkan di sebelah mobil Refald.
Ia langsung menyapa kami begitu masuk ke dalam ruang tamu. “Ada banyak tamu rupanya ....”ujarnya.
“Siapa dia?” tanya Refald sedikit cemburu. Semua pandangan tertuju pada Rio.
“Dia Rio sepupuku yang waktu itu, kau ingat?”jelasku.
“Oh ....”
Aku memperkenalkan Rio pada teman-temanku. Seperti biasa, Nura bersikap berlebihan dan terkesan genit pada Rio. Yua masih sama, bersikap biasa saja. Itu karena ia tidak tertarik dengan cowok manapun kecuali Epank, meskipun sampai saat ini, cowok yang ia sukai itu sudah punya pacar. Sedangkan Mia, sikapnya berbeda dari yang ia tunjukkan saat bersalaman dengan Refald. Mata Mia berbinar melihat Rio. Apalagi saat mereka saling bersalaman. Seakan ada medan magnet yang saling tarik-menarik diantara mereka berdua.
Hanyut dengan perasaan masing-masing, mereka tidak sadar bahwa keduanya sudah saling bersalaman lebih dari sepuluh menit. Kami yang melihatnya serasa mual dan ingin muntah. Aku yakin mereka berdua sudah terkena virus yang namanya ‘cinta pada pandangan pertama’.
“EHHHEEEMMM” Refald membuyarkan dua sejoli yang sedang dilanda kasmaran itu. “Jadi bagaimana? Bisa kami pergi sekarang?”tanyanya kesal.
“Pergi saja!” Mia masih menatap Rio. Begitu juga sebaliknya. Keduanya tidak beranjak dari tempatnya dan masih saja beradu pandang. Aku merasa kecewa berat kali ini. Mia berubah 180 derajat setelah melihat Rio.
“Tidak bisa begitu, Mia ... ada apa denganmu?” Nura maju dan menarik lengan Mia. “Kita tidak bisa membiarkan mereka pergi berduaan saja!”
“Benar juga!” jawab Mia. Syukurlah, Mia cepat kembali menjadi dirinya sendiri. “Refald dan Fey harus mentraktir kita, bukan?" lanjutnya, "Itu sudah menjadi kesepakatan kita, dan kamilah yang akan menentukan di mana lokasi traktirannya.”
Nura terperangah, begitu juga denganku. "Apa?”
“Aku tidak keberatan, tapi bagaimana, ya? Aku tidak bisa membawa kalian semua.” Refald menyahut. Aku manatapnya marah. Dia sengaja memperkeruh keadaan.
“Kalau begitu naik mobilku saja. Kapasitasnya lebih banyak.” Rio menawarkan diri, tentu saja Mia langsung mengiyakan tawaran Rio. tidak ada yang bisa kami lakukan pada dua orang yang dimabuk cinta ini ... sepertinya permasalahanku dengan Refald tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan dua anak manusia yang sedang saling jatuh cinta.
“Baiklah! Kita berangkat sekarang, mumpung masih sore. Kalian jalan duluan. Kami ikut dibelakang.” Refald melihatku dengan tatapan yang tidak dapat kumengerti.
Aku menutup mataku. Menghela napas dan berusaha menerima situasi ini dengan tenang.
“Sepertinya setelah ini akan ada traktiran sesi kedua,” ucap Yua. Di susul dengan anggukan Nura yang masih terpana dengan pemandangan baru yang ada didepannya.
Mia jatuh cinta pada Rio, sepupuku. Kami bertiga menatap kedua pasangan baru yang berjalan lebih dulu bak pengantin yang baru saja keluar dari pelaminan.
Entah ini anugerah atau musibah ... yang jelas sepupu dan sahabatku jatuh cinta pada pandangan pertama mereka.
“Kau ikut denganku.” Refald mengagetkanku dari belakang. Ia menyeret tanganku dan memasukkanku ke dalam mobil. Suasana hatinya gampang sekali berubah. Raut wajahnya yang tadinya senang, berubah menjadi menakutkan lagi. Refald memang cowok yang misterius dan sulit sekali ditebak.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
HNF G
double date plus dua nyamuk😅😅😅😅😅
2024-07-10
0
Mara
Wong niatnya mau berdua , kok jadi rombongan 🙈
2023-04-03
0
Zaitun
bopong sama gendong beda ya?
2021-08-26
0