Dengan harapan menggebu-gebu, Kelvin mengetuk pintu kamar sang pengantin baru. Berbekal jamu kuat sehat perkasa tahan sampai pagi dengan kuning telur ayam kampung berputar bagaikan bola tenis meja di dalamnya.
"Hana akan segera hamil..." senyuman menyeringai menyungging di bibirnya. Wajah memuakkan penuh akal busuk.
Pada akhirnya pintu terbuka juga, dirinya sedikit mengintip punggung halus tertutup handuk putih seorang wanita dengan rambut panjangnya yang basah. Menyisir rambut dekat meja rias. Jono tiba-tiba menutupi pemandangan indah yang terlihat dengan tubuhnya,"Ada apa?" tanyanya berusaha tersenyum, setelah menelan ludah berkali-kali kala memandikan istrinya.
Kini dedemit ada di depan kamar yang menatap istrinya tanpa berkedip. Tunggu, seharusnya Jono tidak marah bukan, tapi sungguh menyebalkan jika ada yang melihat tubuh Hana walaupun itu tidak sengaja.
"Aku sudah memesan jamu, ingin memuaskan Hana. Kamu sudah memberikan obat tidur atau minuman berakohol padanya?" tanyanya terlihat memelas penuh harap dengan segelas jamu di tangannya.
"Su... sudah aku bilang!! Aku membencinya hingga tidak ingin dia bahagia bersamamu!! Karena itu kita batalkan saja!!" ucap Jono menekan kekesalannya.
"Tidak bisa begitu, jamu ini aku dapatkan dengan susah payah. Berjalan ke pos ronda meminjam gelasnya secara khusus. Ayolah...aku tinggal meminum jamu, masuk, lalu membuat Hana menjerit penuh kepuasan. Kamu tinggal memanggil pak Dirga dan warga," alasannya kembali, ini demi si kuningnya yang cantik, Hana harus segera hamil.
"Tidak akan!!" Jono mencoba menutup pintunya, namun Kelvin menahan.
"Lalu nasib jamu yang susah payah aku beli bagaimana!?" tanyanya memasang wajah senatural mungkin. Dengan cepat Jono meraih, meminumnya sekali tegukan.
"Sudah!?" bentaknya.
"Br*ngsek!! Kenapa kamu habiskan!? Bagaimana aku menyenangkan Hana nanti!!" teriak Kelvin seolah tidak terima.
Jono tersenyum, menatap kemarahan sekretarisnya, membanting pintu di hadapannya.
Segera setelah pintu tertutup, sang sekretaris tersenyum menyeringai,"Pisangmu tidak akan bisa tidur, terlalu kuat dan perkasa ingin diasah..." suara tawanya terdengar, berjalan pergi hendak menemui janda cantik pedagang jamu keliling.
Dan benar saja, Jono bertambah sulit mengendalikan diri. Mencoba bertahan, membantu istrinya memakai pakaian. Namun sulit, memang sungguh sulit. Dengan tangan yang gemetar tiada henti.
Hingga pada akhirnya dirinya berhasil, duduk lemas di lantai, menatap Hana yang berada di kursi rodanya.
"Ka...kamu keluar sendiri!! A...aku harus mandi air dingin!!" ucapnya berlari menuju kamar mandi, merasakan celananya yang benar-benar sesak.
Sementara itu Hana menghela napas kasar, kecewa. Dirinya tidak berhasil menggoda suaminya sendiri."Apa aku kurang cantik?" gumamnya, bangkit, berjalan meninggalkan kamar dengan kursi roda kosong yang didorongnya.
***
Pada akhirnya sang presiden direktur berhasil menyegarkan diri walaupun tetap saja terkadang bayangan tubuh indah itu terlintas di benaknya. Berjalan menuju area gudang, menerima nasib? Tidak dirinya belum dapat menerimanya, hingga di tengah jalan setapak area pedesaan langkahnya dihentikan seorang remaja.
Menatap penuh kekesalan padanya,"Kakak mengatakan tidak menyukai kak Hana!! Tapi kenapa tetap menikahinya!?" bentaknya.
"Aku berhutang! Juragan Dirga memaksaku menikah! Lagipula siapa yang mau dengan si cacat! Pasti memalukan membawanya ke private party..." cibir mulut pedas, sepedas minyak sisa menggoreng satu kilogram cabai tersebut.
Gio menghela napas kasar antara iba dan senang. Dirinya iba pada Hana yang baik hati tapi memiliki suami seburuk ini. Senang karena kakaknya masih memiliki harapan untuk bahagia bersama Hana, mengingat Jono yang tidak benar-benar mencintainya.
Lagipula kakaknya tidak kalah tampan dari Jono. Hati Haikal sebelumnya baik, hanya karena terbuai kehidupan mudah di kota. Sang kakak menjadi berubah, layaknya pria tampan, setia, pekerja keras, idaman semua wanita menjadi power ranger.
"Jadi kakak tidak menyukai kak Hana. Jika begitu berpisah saja, daripada saling menyakiti," kata-kata menusuk tepat sasaran menancap pada diri seorang Jono.
Pemuda itu berusaha membuat alasan, hingga satu alasan yang tercetus,"Aku akan ditangkap, ditelanjangi, sekalian dibotaki oleh pegawai gudang. Menganggap aku mempermainkan anak juragan Dirga..."
"Jika begitu buat juragan sendiri yang mengusir kakak," usulannya.
"Bagaimana caranya?" tanya Jono penuh rasa antusias.
"Kakak harus cari tau sendiri, jika memang ada niat pasti ada jalan..." petuah seorang anak yang tersenyum, bagaikan domba tanpa dosa, baik hati nan ramah. Padahal sejatinya ahli dalam taktik devide et impera (politik adu domba).
Jono mulai berfikir, bibirnya tersenyum. Hal ketiga, yang paling dibenci wanita adalah pria tidak berguna, yang kedua pria pemabuk, sedangkan peringkat pertama pria yang senang bermain perempuan. Ingin melihat seberapa sabarnya Dirga dan Hana mengahadapi dirinya, nanti...
***
Hingga tahap ketiga pun dimulai, menjadi pria tidak berguna,"Hana aku minta uang," ucapnya menadahkan tangan,"
"Berapa? Dan untuk apa?" tanyanya meletakkan penanya yang tengah mencatat.
"20 juta, aku ingin bersenang-senang..." jawabnya lugas,"Sebagai seorang suami aku juga boleh menggunakan uang-mu kan!?"
"Baik..." Hana tersenyum, sudah mempersiapkan diri. Seseorang bernama Jonathan Northan ini tidak akan dapat ditaklukkan dengan mudah.
Istri yang masih perawan tingting itu, mengambil uang yang diikat karet dari dalam laci, memasukkannya ke dalam amplop. Memberikannya pada Jono.
"Terimakasih, aku akan menggunakannya sebaik-baiknya..." ucapnya berjalan pergi.
"Hana kenapa langsung diberikan? Bagaimana kalau..." kata-kata pak Kirjo disela.
"Karakter Jono dia orang yang antusias dan pekerja keras. Tidak suka bergantung pada wanita..."
"Pak Kirjo, hari ini ikuti dia, katakan apa saja yang dilakukannya..." lanjut Hana tersenyum, tidak ingin kalah strategi dari pria yang mengaku-ngaku presiden direktur perusahaan besar.
***
Hal yang dilakukan Jono? Tidak ada, memasuki restauran elite pinggir danau. Bingung, bagaimana menghabiskan 20 juta, sekaligus membuat masalah besar untuk istri dan mertuanya nanti.
Jika hanya habis untuk membeli jam tangan atau pakaian, Hana dan Dirga tidak akan dipermalukan di hadapan warga desa.
Tapi seharian ini dirinya seharusnya di gudang, bergurau dengan Hana. Malah harus duduk di restauran sambil berfikir tidak jelas. Hanya beberapa jam tidak bertemu, mulut cerewet itu dirindukannya.
Tidak!! Tidak boleh, dirinya tidak boleh merindukan Hana. Pandangan matanya menelisik mengamati, tempat pembibitan ikan disana. Senyuman menyeringai di bibirnya, jika membeli ikan besar masih dapat dimasak oleh warga satu desa. Tapi bibit ikan kecil bagaikan teri...
***
Hari sudah mulai sore, tidak ada yang aneh, hanya saja semenjak dirinya pulang ayah mertuanya belum pulang juga. Sebagian pegawai gudang juga tidak ada.
Hana telah membersihkan diri kali ini, entah dibantu oleh Sari, mungkin... mengingat dirinya yang pulang larut.
Dirinya makan dan membersihkan diri, kembali ke kamar mereka membantu Hana berbaring di tempat tidur. Pakaian tidur yang tidak terbuka, namun tetap saja jakunnya terasa naik turun.
Pasangan suami-istri itu berbaring di ranjang yang sama,"Hana aku bukanlah orang yang berguna atau sempurna. Karena itu jika aku berbuat kesalahan jangan ragu untuk berpisah,"
Hana tersenyum,"Kita pasangan yang cocok," tubuh Jono tiba-tiba dipeluknya.
Pasangan yang cocok? Dapatkah Hana berkata demikian kala besok pesanan bibit ikan yang kecil bagaikan teri akan sampai.
"Kita tidak cocok!! Minggir!!" reaksi, jamu kuat perkasa, tahan hingga pagi itu masih terasa. Membuatnya mengeluarkan keringat dingin.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
mamae zaedan
ada² aja kau kelvin,,, dapat cadangan juga kau si mbk² jamu🤭😏
2024-01-01
0
weny
ngarep bgt lu vin 😂
2022-11-27
1
Saena r
keturunan kumpeni ni bocah
2022-10-19
2