Tangan seorang wanita terangkat, hendak menampar wajah gadis yang tengah duduk di kursi roda. Namun pemuda yang sama menghentikannya, tangannya dicengkeram. Kemudian dihempaskan.
"Jangan kasar, bagaimanapun kami dapat melaporkan tentang penganiayaan," Jono tersenyum, sudah dapat menebak alasan dirinya ada disana. Tentunya Hana ingin ada yang melindunginya.
"Penganiayaan!? Wanita cacat ini penipu!! Dia hanya ingin merusak pernikahan Haikal!! Hana sebaiknya hentikan tingkah gilamu!!" bentak Sena tidak terima, hendak menyerang gadis yang bahkan tidak dapat berjalan.
Namun dengan cepat pak Sito (ayah Haikal) menghentikannya, mendorong tubuh istrinya."Sudah!! Bagaimana kalau juragan Dirga pecat bapak. Bapak mau kerja dimana nanti!? Sudah bapak bilang, bapak lebih setuju jika Hana menjadi menantu bapak!!"
"Hana, bapak akan bicara pada Haikal, agar menjadikanmu istri kedua..." lanjut Sito mendekat, memegang jemari tangannya,"Kamu tidak akan menjadi perawan tua, menikah dengan Haikal. Lagipula tidak akan ada yang mau dengan keadaan kakimu yang..."
Kata-kata Sito diselanya, tangan pria paruh baya yang memegang jemarinya dilepaskan oleh Hana. "Siapa yang mau dengan dokter miskin..." cibirnya.
Tangan Zara mengepal, masih bingung dengan apa yang terjadi, menatap wajah suaminya yang pucat pasi. Tapi kenapa? Bukankah ayah Haikal orang terkaya di desa ini? Lalu siapa itu juragan Dirga?
Tapi satuhal yang pasti, dirinya tidak ingin memiliki madu, siapapun wanita cacat di hadapannya. Mungkin hanya gadis kampung yang disenangi ayah Haikal karena pandai mencari perhatian, itulah yang ada di fikirannya. Tidak mengetahui tinggi rendahnya derajat.
"Istri kedua? Aku tidak mau dimadu!! Lagipula orang tuaku yang tinggal di luar negeri, juga akan marah besar jika tau kalian memperlakukan anaknya dengan buruk..." dustanya dengan intonasi tinggi.
Luar negeri? Seketika tamu undangan kembali berbisik-bisik berbicara memuji Haikal dan Zara.
"Haikal beruntung ya? Pantas saja meninggalkan Hana..." suara salah satu tamu kondangan terdengar samar-samar.
"Iya, orang tuanya tinggal di luar negeri, sudah pasti seperti di sinetron. Anak orang kaya yang naik mobil lambor...lambor...lambor apa ya? Seperti mobilnya Raffi Ahmad," ibu-ibu lainnya ikut bergosip.
"Lamborghini nama mobilnya. Melunasi uang pendidikan Haikal mungkin seperti kasih uang receh... seperti di sinetron," jawab satu orang yang baru ikut berbisik.
Bagaikan cerita sinetron, mungkin kehidupan Haikal bagi mereka, diperebutkan dua wanita. Hana mulai dicibir sebagai wanita rendah yang kemari hanya ingin mengemis untuk dijadikan istri kedua.
"Istri kedua? Aku kemari untuk menagih hutang, bukan ingin menjadi istri kedua..." geramnya mengepalkan tangannya, memendam kekesalannya.
Haikal tersenyum, lagipula ada Zara disampingnya. Bertambah satu fakta lagi baginya, orang tua Zara juga pastinya bukan orang sembarangan. Dengan cepat Haikal membuka map, mengambil bolpoin yang terselip disana, menangani surat perjanjian hutang yang tertempel materai 6000.
Plak...
Wajah Hana dilempar dengan map,"Aku akan membayarnya. Jujur saja, siapa yang akan mau dengan wanita cacat, perawan tua sepertimu. Mengancam ku untuk menjadikanmu istri kedua!? Jangan harap,"
Gadis itu tersenyum, mengambil map kemudian menghela napas kasar. Mempertahankan harga diri terakhirnya di balik sebuah kebohongan.
"Tidak ada pria yang mau? Perkenalkan ini Jono, calon suamiku," dusta Hana tersenyum.
Jono mengenyitkan keningnya, menunduk berbisik pada Hana,"Kenapa jadi aku...?"
"Ini hanya kebohongan, jika kamu bekerja sama, harga pupuk aku turunkan 50%. Perhitungan hutangmu akan lebih ringan..." jawab Hana berusaha tetap tersenyum sembari berbisik.
Keputusan bisnis yang tepat, akhirnya sang presiden direktur yang terjebak di desa mengambil keputusan bisnis,"Deal..."
"Kami baru resmi pacaran beberapa hari yang lalu. Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada anak juragan Dirga yang pintar, memiliki kulit yang putih, tekstur wajah blasteran Jepang, pandai mengumpulkan uang. Dan yang paling penting kehidupan keturunan ku terjamin," ucapnya mulai memuji produk bernama Hana setinggi langit.
Bagaikan mempromosikan kelebihan produk di depan partner bisnisnya.
Matre, bagaimana bisa ada orang tidak tau malu seperti ini... gumam Hana dalam hati, berusaha menahan tawanya. Awalnya dirinya mengira di pernikahan Haikal, akan menangis, tapi siapa sangka dengan adanya makhluk pembuat masalah ini semua terasa menyenangkan.
"Kamu bukannya pegawai gudang yang baru?" tanya pak Sito pernah melihat wajah Jono sebelumnya.
"Pekerja gudang mana bisa dibandingkan dengan Haikal yang dokter spesialis..." cibir Sena.
"Bibi tidak ingat? Haikal juga dulu buruh angkut, aku bisa menjadikannya dokter spesialis. Kenapa tidak bisa mengikut sertakan calon suamiku untuk ikut pemilihan bupati nanti!?" ucap Hana tersenyum, menggenggam tangan Jono.
Bupati? Wanita ini benar-benar sulit dikalahkan, sekali mulai berdebat. Syukurlah, setelah dua atau tiga kali panen, aku akan kembali ke kota, menikahi wanita cantik dengan IQ normal. Jika terjebak memiliki istri seperti ini, bernapas saja rasannya sesak. Bertengkar dengan istri bagaikan bertengkar dengan pengacara ternama... gumam Jono dalam hatinya.
"Buruh angkut? Bukannya ayah mertua (pak Sito) punya lahan pertanian dan perkebunan ratusan hektar ya!?" tanya Zara dengan wajah pucat pasi.
"Zara, sebenarnya aku..." kata-kata Haikal terhenti.
Dengan cepat Sena yang telah emosi sedari tadi menendang kursi roda Hana, hingga gadis itu tersungkur di lantai,"Sudah memberi selamat kan!? Sudah dapat tanda tangan juga!! Zara akan melunasi hutang Haikal nanti!! Pergi!! Dasar cacat..." bentaknya kembali menendang kursi roda yang sudah jatuh, hingga ke bawah panggung pelaminan.
"Apa yang kalian lakukan!?" suara Dirga menggelegar bagaikan petir, menatap putri tunggalnya tersungkur di lantai.
Pertunjukan utama dimulai... batin Jono, yang saat ini berada paling dekat dengan Hana.
"Dia si... siapa?" Zara gelagapan, panggung pesta yang diluar ruangan, membuatnya dapat melihat pria paruh baya yang baru turun dari Jeep yang harganya pasti tidak murah.
"Ayahnya Hana, juragan Dirga, orang terkaya di kampung ini..." ucap Haikal menghela napas kasar, akhirnya berhadapan juga dengan pria yang memiliki kekuasaan terbesar di kampungnya.
"Kamu!! Bawa Hana ke tempat yang aman!!" perintahnya pada Jono.
"Baik pak..." ucap Jono segera mengangkat tubuh Hana ala bridal style, membawanya entah kemana.
Menyelamatkan anak dari pemilik uang terbanyak di kampung ini. Aku pasti akan diberikan pinjaman lebih... perhitungan seorang presiden direktur, yang bagaikan tengah menyelamatkan anak pemilik bank dari kericuhan besar yang akan terjadi.
"Pak Dirga..." Sito menunduk pada juragannya.
Bug...
Betis pria paruh baya itu ditendang oleh Dirga,"Jika tidak mengingat kita akan berbesan dari dulu aku sudah memecatmu!! Tapi sekarang? Bahkan anakmu tidak tau terimakasih,"
"Pak!! Walau kaya, kamu tidak bisa sewenang-wenang!!" salah seorang kerabat Sena dari desa lain membentak, menarik kemeja kotak-kotak yang dipakai Dirga, bahkan memukul wajahnya. Membuat sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.
"Juragan!!" dua truk yang bermuatan para pekerja gudang mulai turun tidak terima, juragan mereka diperlakukan buruk.
Beberapa diantaranya membawa balok kayu, mulai menghancurkan tempat pesta. Warga berhamburan, termasuk kedua mempelai yang melarikan diri entah kemana.
Keributan dan perkelahian terdengar, tidak ada yang menyadari dua orang yang duduk di bawah meja prasmanan. Dengan taplak panjang, tidak memperlihatkan diri mereka sama sekali.
"Kamu yang menghubungi pak Kirjo dan ayahku?" tanya Hana curiga memijit pelipisnya sendiri, berusaha meringankan beban fikirannya. Pertanyaan yang akhirnya hanya dijawab dengan anggukan oleh Jono.
"Kamu masih bisa makan di saat seperti ini?" lanjutnya mengenyitkan keningnya, menatap isi piring Jono yang menggunung.
"Agar kenyang sampai malam. Kamu mau?" tanyanya dengan mulut penuh, tangannya memegang sendok menawarkan pada Hana.
Gadis yang kesulitan berdiri itu tersenyum, menerima suapan dari pemuda aneh pembuat masalah di hadapannya.
"Aku tidak menyangka, akan sampai ada tawuran mafia kampung..." gumam sang Jono dengan mulut penuh.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
zizi 😉
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ jono jono presdir kocak
2025-01-07
0
mamae zaedan
gokilll dengan kelakuan jono🤭🤭👍
2024-01-01
0
merti rusdi
astagaaa, kirain dibawa keluar venue 😂
2023-08-27
0