Hana yang berarti bunga, namun hidup tidak seindah namanya. Hari ini juga sama satu-persatu pupuk diturunkan para pekerja gudang ayahnya.
Gadis cantik yang hanya dapat duduk di kursi rodanya. Pekerjaannya hari ini? Menentukan jadwal pembagian pupuk dan insektisida bagi lahan yang mengalami penyerangan hama parah. Serta membuat pembekuan penjualan pupuk, tidak ada laptop atau komputer disana, hanya beberapa buku besar, penggaris, penghapus, kalkulator, pena dan pensil.
Jono menghela napas kasar, pupuk yang begitu berat, diangkat dengan menggunakan punggungnya. Menatap sinis pada wanita yang tengah duduk dengan jemarinya yang halus, menekan-nekan kalkulator kecil.
Setiap pagi membantu di gudang, diberi makanan seadanya. Bayaran? Akan didapatkannya perminggu, sementara saat siang hari barulah dirinya dapat mengurus lahan pertanian miliknya.
Mungkin baginya akan lebih mudah dan menyenangkan menggunakan program Microsoft Excel, duduk membaca dokumen perjanjian bisnis, jika sesuai tanda tangan. Jika tidak, panggil security, usir dedemit yang melakukan transaksi dengan klien.
Tapi ini? Harus mengeluarkan keringat, Jono hanya dapat menghela napas berkali-kali bahkan terengah-engah. Rasanya setelah tiga hari hampir tidak sanggup lagi.
Hingga seorang wanita paruh baya datang, bersama seorang remaja berusia 14 tahun, mendekati meja tempat Hana berada."Hana, Gio ingin ikut darmawisata bersama sekolahnya. Dia memerlukan uang, hanya uang transportasi 3 juta, kamu punya kan?"
Hana menghentikan aktivitasnya, menghela napas kasar,"Bibi pasti sudah tau Haikal akan menikah dengan wanita dari kota. Kenapa minta uang padaku? Padahal sudah ada calon menantu bibi..."
"Bibi berbaik hati memberimu kesempatan. Jika kamu membantu Gio mungkin Haikal bersedia kembali padamu, atau menjadikanmu istri kedua, lagi pula kamu tidak memiliki pilihan lain. Usia sudah hampir 31, ditambah dengan cacat..." cibirnya tersenyum sinis.
Hana menghela napas kasar,"Aku tidak perlu keluarga pengemis..."
"Ke... keluarga pengemis?" Sena mulai mengepalkan tangannya murka.
"Iya pengemis, apa lagi namanya bibi sering meminta uang padaku yang bahkan belum menikah dengan Haikal. Paman Sito (ayah Haikal) sering bolos kerja di gudang, itu masih belum seberapa, bahkan untuk uang pendidikan Gio juga meminta padaku..." jawab Hana, kembali mengambil penggaris besi dan pensilnya. Mengerjakan pembekuan.
"Aku akan mengadukan ini pada Haikal!!" bentaknya.
"Adukan saja, aku tidak perlu pria parasit. Tidak menikah juga tidak apa-apa, daripada menikah tapi menjadi istri tidak diakui nantinya. Bekerja untuk seorang madu dan suami tidak tau malu..." jawaban dari mulut Hana, yang tengah mengecek nota pembelian pupuk yang diberikan supir truk.
"Biar kamu menjadi perawan tua!! Mati diatas kursi roda tanpa memiliki anak yang menjaga!!" kutukan dari mulut Sena sembari mengangkat tangannya hendak menampar.
Dalam film seharusnya ini menjadi adegan yang keren. Kala tangan seorang pemuda rupawan mencengkram tangan sang wanita paruh baya.
Aku akan menunjukkan bagaimana kerennya seorang Nathan. Agar dapat berhutang lebih banyak nantinya... gumam Jono dalam hatinya, memasang wajah sedingin mungkin.
"Aku yang akan menikahinya, mempunyai anak darinya..." ucapnya menunjukkan pesonanya, mengedipkan sebelah matanya. Memberi kode agar Hana mengikuti sandiwaranya.
"Kalau begitu cocok, wanita cacat dengan kuli angkut!!" komat-kamit mulut wanita paruh baya itu kembali berkicau,"Haikal yang dokter spesialis, mana cocok dengan wanita cacat!!"
"Bibi mau pergi sendiri atau aku panggil orang untuk mendorong bibi dan Gio keluar..." Hana menatap sinis.
"Haikal beruntung karena tidak jadi menikah denganmu!! Sudah bibi berikan kesempatan jadi istri kedua, malah tidak bersyukur!!" cibirnya, mulai melangkah meninggalkan gudang dengan kesal.
"Bagaimana ektingku? Tertarik memberi tambahan pinjaman?" tanya Jono penuh harap.
Hana menipiskan bibir menahan tawanya,"Tidak, tapi ektingmu lumayan, pipiku jadi tidak merah karena bekas tamparan,"
"Jadi, aku boleh minta tambahan pinjaman uang?" tanya Jono memelas, menatap wajah Hana dari jarak yang lumayan dekat, sedikit membungkuk dengan kedua tangannya ada di kursi roda Hana.
"Tidak, hanya meminjam uang untuk pupuk dan bibit. Selebihnya usaha sendiri dari gajimu mengangkat gabah dan pupuk..." Hana tersenyum, menatap pemuda di hadapannya..
"Pelit!! Judes!! Pantas saja akan menjadi perawan tua!!" cibir Jono komat-kamit kembali menurunkan pupuk.
Hana tersenyum, pandangan matanya tidak lepas dari pemuda itu. Entah kenapa, bahagia saat melihat wajah marahnya. Bahkan apa tadi? Jantungnya berdegup cepat saat menatap wajahnya dari jarak dekat.
Tidak pernah sebahagia ini, menatap kemarahannya yang terlihat menggemaskan. Perasaan Hana pada Haikal? Dulu memang begitu dalam, namun hubungan jarak jauh ditambah dengan kekecewaan. Membuat perasaan itu kandas dengan mudah. Hilang lenyap tidak bersisa, penantian selama hampir 13 tahun kandas karena kejadian 1 hari.
Dirga yang baru turun dari motor bebek tua yang digunakannya mengawasi perkebunan dan pertanian melihat segalanya. Putri tunggalnya tersenyum? Tapi kenapa, bukankah Haikal akan menikahi orang lain?
***
Malam semakin menjelang, Hana telah membersihkan dirinya dibantu Sari, ART rumahnya.
"Ayah..." ucapnya kala Dirga mulai duduk di kursi samping putrinya.
"Ayah dengar Haikal akan menikah. Kamu tidak kecewa?" tanya Dirga memulai pembicaraan.
"Tidak, aku bersyukur..." Hana mulai tertunduk, "Ayah ingat awal hubungan kami?"
"Ingat, saat itu dia masih kurus dan dekil membantu ayahnya mengangkut gabah. Memberanikan diri mengatakan akan menjagamu di hadapan orang banyak..." Dirga mulai tertawa kecil.
"Syukurlah semua terjadi sekarang, saat ayah masih ada. Jika ini terjadi nanti, aku tidak tau harus apa ..." ucap Hana tersenyum pada Dirga.
"Maksudnya?" tanya sang ayah tidak mengerti.
"Andai jika ayah sudah tidak ada, aku sudah menikah dan memiliki anak dari Haikal. Barulah semua kebohongan dan pengkhianatannya terbongkar. Mungkin setiap hari aku akan dipukuli mertua dan suamiku hanya karena uang..."
"Haikal akan membawa madu sempurna yang dielu-elukan mertuaku. Perlahan cucu ayah akan dilupakan setelah mereka memiliki anak nanti. Tanah milik ayah juga mungkin akan dijual untuk gaya hidup maduku boros. Hingga aku berakhir diceraikan setelah tidak memiliki apa-apa lagi. Syukurlah, ini terjadi sekarang, tidak terjadi nanti..." gumamnya berusaha tersenyum, walaupun guratan kesedihan itu masih sedikit terlihat.
"Apa kamu tidak berencana menggantikannya ?" tanyanya menatap ke arah putrinya. Namun hanya gelengan sebagai jawabannya.
Dirga menghela napas kasar, wajahnya terlihat tersenyum, mengelus rambut putrinya,"Ayah akan mencarikan pria manapun yang dapat membahagiakanmu..."
"Memang ada yang mau dengan wanita cacat?" Hana mengenyitkan keningnya.
"Kamu lupa siapa ayahmu!? Ayah adalah tuan tanah yang sewenang-wenang..." Dirga tiba-tiba menipiskan bibir menahan tawanya, teringat akan satu hal."Kamu tau bagaimana ibumu mau menikah dengan ayah?"
Hana menggeleng tanda tidak mengetahui...
"Ayah melihatnya didekati pria lain. Karena itu dengan sengaja ayah meminjamkan uang tanpa jaminan pada keluarganya. Hingga tanggal jatuh tempo tidak bisa membayar, mereka setuju untuk menikahkan putrinya dengan juragan Dirga..." tawa sang ayah terdengar nyaring.
Hana mengenyitkan keningnya,"Jadi almarhum ibu menikah tanpa cinta?"
Dirga sedikit tertunduk,"Dia menangis di hari pernikahan kami. Selama beberapa bulan ayah tidur di kamar yang berbeda dengan ibumu. Hingga akhirnya perlahan ibumu luluh, bersedia menerima ayah. Setelah itu kami mulai berkencan..." ucapnya menghela kembali napas, menatap ke arah bintang.
"Ayah terlihat judes di luar, tapi setelah mengenal lebih dekat akan terasa hangat. Karena itulah, ibu hingga napas terakhirnya pun tetap menggenggam tangan ayah..." tangan Hana menggenggam jemari tangannya Dirga, seakan menghibur sang ayah yang terlihat kesepian.
"Dia tersenyum saat usai melahirkanmu, berkata jika dia sudah bahagia, karena dapat memiliki suami seperti ayah..." Dirga tersenyum, menatap ke arah putrinya.
***
Hingga hari itu tiba, hajatan besar yang diramaikan artis dangdut lokal di balai desa diadakan...
Haikal menggengam jemari tangan istrinya di atas panggung, kala resepsi yang cukup besar terlaksana. Rumah Haikal? Pemuda itu tentu menunjuk rumah Dirga, rumah terbesar di desa tersebut kala Zara bertanya.
Dengan sombong penuh kebanggaan Sena mengenakan kebaya mahal. Membicarakan putranya yang telah menjadi dokter spesialis. Memiliki menantu cantik, orang kaya, pemilik butik.
Tidak menyadari seorang gadis tersenyum, mendekati lokasi pesta.
"Norak!! Kamu pasti tidak tau pesta mewah kalangan atas itu apa. Ada wine, souvernir pernikahan, pembawa acara, musik klasik, terkadang artis bertaraf internasional..." kata-kata Jono disela.
"Jangan banyak bicara, kamu bersedia mengantarku untuk makan enak secara gratis kan?" sinisnya.
"Memang..." presdir yang keji itu memegangi perutnya yang lapar. Dengan sengaja tidak makan dari pagi hanya untuk dapat memasukkan makanan resepsi lebih banyak ke dalam perut dan mulutnya nanti.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
merti rusdi
tiati bu, doa bisa berbalik loooh
2023-08-27
0
Lia Uhartina
masih 😕 bagaimana jln veritax
2023-06-14
0
Rifkah Susilawangi Fegie
Aq tau rasanya Hana... pernah juga disumpahin gak bakal nikah. Trauma nya sampai skrg, pdhl sudah 9 tahun sejak kejadian itu.
2023-04-25
0