Tidak banyak yang terjadi satu tahun ini. Hanya saja dua minggu sekali Hana tidak berada di gudang. Koperasi desa yang dikelolanya juga lumayan berkembang, mengingat baru satu tahun koperasi itu dibuka. Tidak ada warga desa yang berhutang pada rentenir atau bank keliling lagi.
Jaminan pinjaman? Bagi warga desa dengan KTP asli warga desa tersebut, dapat meminjam tanpa jaminan dengan batas pinjaman 1 juta. Lebih dari 1 juta, diharuskan menggunakan jaminan.
Bunga pinjaman yang berada di bawah bunga bank, tidak memerlukan banyak syarat. Tampa adanya gangguan dari dept collector. Membuat koperasi simpan pinjam itu, menjadi andalan warga kini. Yang ingin menabung atau meminjam uang untuk keperluan mendesak.
Nama Dirga dan putrinya menjadi semakin dihormati dan dikenal, bahkan oleh warga desa lain.
Kerabat? Apa Dirga tidak memiliki kerabat dekat? Tentu saja memilikinya, Dirga dahulu tinggal di kota dengan kedua orang tuanya dan beberapa saudaranya.
Hingga kematian kedua orang tuanya, saudara-saudaranya berebut warisan, semua aset berharga di tempat strategis yang almarhum kedua orang tuanya miliki. Menyisakan dirinya si bungsu, baru berusia 16 tahun satu hektar lahan dan sebuah rumah kecil di pedesaan.
Tidak putus asal, remaja yang belajar dari warga sekitar, mulai menggarap lahannya. Sembari memelihara ternak, hendak membuktikan pada kakak-kakaknya walaupun hidup di desa dirinya dapat lebih mapan daripada orang kota.
Namun, saat itu phoncell pun tidak ada. Hingga saudara-saudaranya telah pindah entah kemana.
Tapi, satu yang pasti, dirinya bahagia saat ini, tinggal di desa dengan putrinya. Tidak akan pernah mengijinkan Hana dan cucunya nanti meninggalkan desa dan warga yang dahulu membatunya bangkit.
Jika perlu Dirga bercita-cita ingin mendirikan rumah sakit, pertokoan, universitas serta perusahaan bis. Ingin tempat yang tetap asri ini memiliki segalanya, sehingga tidak ada warga desa yang pindah ke kota besar, melupakan kampung halaman mereka. Cita-citanya yang belum terwujud, mungkin akan diwujudkan oleh anak dan cucunya nanti.
Sekarang, hanya satu yang pasti, dirinya harus memastikan pria yang akan dinikahi Hana tidak akan membawanya ke kota. Pilihan Dirga berakhir pada Jono pemuda pembuat masalah, yang pastinya tidak akan dapat membimbing putrinya untuk meninggalkan desa.
Pria konyol yang dapat membuat putrinya tersenyum.
Hutang pemuda itu masih dihitungnya kini. Jemari tangannya bergerak cepat menatap catatan yang ditulis putrinya. Rumahnya kini tertutup rapat, sang ART telah pulang sore tadi.
Perlahan Hana berjalan, masih sedikit terasa lemas. Namun syarafnya sudah merespon gerakan secara normal. Dapat bergerak dengan seimbang sedikit demi sedikit.
"Ayah..." ucapnya berjalan pelan tanpa tongkat dan kursi roda.
"Hana, kemari," panggil Dirga tersenyum,"Kamu menyukai Jono?" tanyanya pada putrinya yang kini duduk berhadapan dengannya.
Hana mengepalkan tangannya, kemudian mengangguk, membenarkan.
Dirga menghela napas kasar,"Ayah akan menikahkanmu dengan Jono. Tapi, kamu harus banyak bersabar, seperti ayah pada ibumu dulu. Karena Jono masih belum mengaku menyukaimu. Ada saatnya untuk berpegangan erat, tapi juga ada saatnya menyiapkan diri untuk terluka,"
"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanyanya pada Hana yang mengangguk penuh keyakinan.
Dirga hanya dapat tersenyum, jika ini untuk kebahagiaan putrinya. Biarkan takdir yang akan berkata, jalan mana yang harus dilalui putri tunggalnya nanti. Jika berakhir terluka pun, seperti yang ditorehkan Haikal, Dirga hanya dapat menguatkan dan menjaganya agar dapat bangkit.
Sedangkan Hana terdiam, menyadari perasaannya nyata. Tapi apa Jono juga akan sama? Entahlah, Jono selalu mengatakan tidak menyukai dirinya. Hanya menganggap sebagai saudara.
***
Hingga hari itu tiba...
Wajah Hana yang duduk di kursi roda tiba-tiba berubah dingin, terhanyut akan pemikirannya sendiri. Seluruh pegawai telah pulang, kecuali pak Kirjo dan Kelvin yang tengah mengantar sayuran menggunakan mobil pick up ke pasar yang berada di pinggir kota, hanya dirinya dan Jono yang berada di gudang.
Pemuda yang meminum kopi hitam hangat di gelas kaca. Mendengar suara jangkrik tengah malam.
"Jono," panggilnya memulai pembicaraan.
"Em? Apa?" pemuda itu menoleh sembari tersenyum.
"Bagaimana jika kita menikah?" tanya Hana, mengepalkan tangannya. Takut akan keputusannya ini.
"Menikah? Kita bahkan tidak pernah pacaran, hanya berteman hampir dua tahun ini..." jawabnya tertawa nyaring, menganggap itu sebuah lelucon.
"A... aku tau, tapi aku menyukaimu," kata-kata dari mulut Hana penuh kesungguhan.
Pemuda itu menghela napas kasar, menatap ke arah Hana. "Kamu sudah seperti saudaraku sendiri. Jadi..." kata-katanya terhenti, melihat Hana yang mulai tertunduk menitikkan air matanya.
"Hana mengerti..." ucapnya sudah menduga segalanya.
Jemari tangannya digenggam, menatap penuh keseriusan di hadapannya,"Akan ada pria yang menyukaimu, tapi bukan aku..."
"Aku mengerti... karena itu... karena itu..." ucapan Hana yang terisak dalam tangisannya disela.
"Karena itu carilah cinta yang lain," Jono menghapus air matanya. Tapi tanpa diduga, dirinya yang biasanya tidak cengeng, juga ikut menitikan air matanya. Seakan mereka adalah pasangan kekasih dengan hubungan yang tidak direstui.
Kenapa hatiku yang berat ... ayolah Nathan, wanita cantik ber-IQ rendah menantimu. Jangan cengeng begini, ini karena kamu terlalu sering bersamanya... tapi jika Hana menikah dengan pria lain... gumamnya dalam hati terasa lebih berat lagi, kala membayangkan Hana bersanding dengan pria lain. Tapi ini yang terbaik, sekali lagi Hana bukan tipenya.
Hana masih terisak tiba-tiba menghapus air matanya. Meraih phonecell yang ada di sakunya, menghubungi Dirga."Ayah, ini Hana apa petugas kelurahannya sudah siap? Hana ingin menikah pagi ini..."
"Menikah? Dengan siapa? Hana jangan sembarang menikah karena patah hati," ucapnya mencoba untuk mencegah, mematikan sambungan phoncell Hana, hatinya masih tidak rela, Hana bersanding dengan pria lain. Tapi fikirannya tidak dapat menerima Hana sebagai istrinya.
"Dengan Jonathan Northan..." Hana tersenyum. Bersamaan dengan, wajah Jono berubah menjadi pucat pasi mendengar nama aslinya disebut.
"A...apa maksudnya?" tanyanya berusaha tersenyum, seolah-olah itu semua adalah lelucon.
"Ternyata namamu mirip orang kota ya? Itu nama yang ada di KTP dan kartu keluargamu kan?" ucap Hana mulai tersenyum.
"I...ini bercanda kan?" Jono mulai mengeluarkan keringat dingin, sembari berlari menggeledah tasnya mencari keberadaan KTP dan kartu keluarganya.
Dan benar saja hasilnya nihil, dirinya benar-benar ketakutan saat ini. Hana hanya duduk di atas kursi rodanya, dan berkata,"Aku akan menjadi istri yang baik..."
"Ka... kamu mengambil KTP dan kartu keluargaku?" tanyanya, dijawab dengan anggukan kepala oleh Hana.
"Hutangmu, sudah melebihi harga sertifikat tanah, mengingat setelah cabai, semangka, melon dan paprika yang baru berbunga, kamu babat habis tidak menghasilkan apapun. Jadi bayarlah dengan menjadi suamiku..." kata-kata yang keluar dari mulut Hana membuat Jono seketika duduk di tanah dengan wajah pucat pasi.
Deru suara mesin mobil terdengar, mobil Jeep milik juragan Dirga akhirnya terparkir, membawa dua orang pekerja yang memiliki badan besar. Pria yang memakai topi koboi itu berjalan mendekatinya. "Sudah aku bilang kamu akan memanggilku ayah," ucapnya tertawa menepuk bahu Jono yang diam terpaku.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
hima
/Joyful//Joyful//Joyful/
2025-01-23
0
Labib Firda
nah masuk prangkp mafia kampung 🤣🤣🤣🤣
2024-06-13
0
💖 sweet love 🌺
bener2 si bapak sang mafia kampung dan si anak keturunan penjajah 😂
2024-06-08
0