Tuan Presdir Dan Kaum Tani

Jono menghela napas kasar, hanya memiliki sebidang tanah tanpa tempat berteduh. Gudang besar itu diliriknya, apa bisa menumpang tinggal disana. Mungkin itulah yang ada di fikirannya.

Hingga anak juragan itu yang kali ini dilirik olehnya. Semua wanita terpesona dengan wajah rupawannya yang sempurna, tidak akan ada yang dapat menolak pesona seorang Nathan. Itulah yang ada di fikirannya. Apalagi hanya seorang wanita cacat...

Rambut basahnya dikibaskan olehnya, berjalan mendekat. Hendak meminta bantuan.

"Mau apa? Jangan dekat-dekat badanmu bau kotoran sapi..." ucap Hana mulai membuka laci, mengeluarkan satu-persatu bukti transfer transaksi. Serta pengeluarannya untuk ibu dan adik mantan kekasihnya.

Jono mengenyitkan keningnya,"Wanita sialan!!"geramnya, sejenak mulai mengendus baunya sendiri."Dia benar, aku bau kotoran sapi," gumamnya sedikit mual baru menyadari, menyesalkan dirinya yang tidak seperti dahulu dengan bau parfum maskulin ala kalangan atas.

"Jadi apa maumu?" Hana mengalihkan pandangannya menatap pada pemuda di hadapannya.

"Boleh aku tinggal di gudang ini...aku mohon, aku tidak punya tempat tinggal," pintanya, memasang wajah memelas.

"Boleh, tapi tinggal harus bekerja. Membersihkan gudang, membantu memindahkan gabah. Aku bukan penjajah, jadi ada bayaran untukmu, kebetulan ayahku kekurangan tenaga..." ucapnya dengan tangan masih memegang bolpoin dan tangan satunya, menekan kalkulator kecil miliknya.

"Pelit..." cibirnya, hingga Jono kembali mendekat mencari informasi,"Aku mempunyai lahan kecil, ingin mengolahnya sendiri. Disini tempat membeli bibit dan pupuk dimana ya?" tanyanya.

"Jenis pupuk apa? Kamu bisa membelinya padaku. Ada organik dan beberapa jenis urea, jadwal kedatangannya ada di kertas yang tertempel disana," Hana menunjuk sehelai kertas yang tertempel di dinding.

"Jadi kamu juga menjual pupuk?" tanyanya penasaran,"Aku tidak akan membelinya darimu, pasti harganya lebih mahal dari harga pasaran..."

"Jarak tempat pembelian pupuk lumayan jauh," Hana menghela napasnya, menghentikan aktivitasnya sejenak,"Jika kamu membelinya memerlukan biaya transportasi ratusan ribu rupiah. Aku mempunyai truk, dan hanya mengambil untung sedikit, dari satu karung besar pupuk hanya 5000 rupiah dari harga asli..."

Jono mengenyitkan keningnya,"Kamu benar-benar tidak mengambil untung besar?" tanyanya memastikan.

"Iya, kepercayaan lebih penting. Karena itu warga disini yang ingin menjual pupuk mengurungkan niatnya. Kalah bersaing dengan kwalitas dan harga, tidak ada istilah tengkulak disini. Karena warga yang menjual hasil panen dari kebun miliknya sendiri pada ayahku, mendapatkan catatan harga jual dan bagi hasil yang adil dengan ayahku..." jelasnya.

"Kamu lulusan luar negeri ya?" tanya Jono bertambah penasaran.

"Aku? S3...alias SD, SMP, SMU..." jawabnya tersenyum.

Tuhan memang adil, orang-orang sepertinya memang ditakdirkan terjebak di kampung. Jika tidak, ayah dan anak ini terlahir di kota, mungkin akan mendirikan perusahaan raksasa yang kokoh, sudah mendit (pelit) pintar lagi... cibirnya dalam hati, masih berusaha tersenyum.

"Jadi hanya lulusan SMU? Aku boleh pesan bibit cabai?" tanyanya.

"Uang DP?" Hana menadahkan tangannya.

Jono mulai tersenyum mematikan, menyisir rambutnya sendiri menggunakan jemari tangan. Menggigit bagian bawah bibirnya, mungkin wanita manapun akan melompat ke pelukannya, saat melihatnya.

Merayu anak tuan tanah? Hanya gadis kampung. Tidak mungkin kebal dengan pesona...

"Kamu sedang apa? Mana DP-nya?" tanya Hana kembali, masih menadahkan tangannya. Seolah semua pesona Jono memantul.

Sial...apa karena aku bau kotoran sapi? Atau tidak mengenakan jas ya? Biasanya wanita menempel, sampai sekretarisku bingung bagaimana mengusir mereka... kesalnya dalam hati.

Namun, perlahan wajahnya berusaha tersenyum, mendekati Hana duduk di atas sudut mejanya yang kosong. "Aku pinjam uang ya? Setelah panen aku kembalikan..." pintanya memelas.

Hana mengenyitkan keningnya, memijit pelipisnya sendiri."Yakin akan menanam cabai? Aku sarankan tanam padi dulu, karena saat panen cabai nanti musim hujan akan..." kata-kata gadis itu disela.

"Mungkin kamu tidak percaya, aku adalah presiden direktur perusahaan terkemuka. Keputusan bisnis aku yang mengambil, karena harga cabai cenderung naik dan stabil..." ucapnya seenak jidatnya, tidak memperhitungkan musim dan siklus alam.

"Tuan presiden direktur, hamba kaum tani hanya bisa menunduk. Tapi jika gagal panen nanti bagaimana kamu mengembalikan uang yang kamu pinjam dari kaum petani ini?" sarkas Hana, tersenyum menatap kebodohan pemuda di hadapannya.

"Aku...aku punya sertifikat tanah!! Akan aku jaminkan!!" tekadnya, menganggap dirinya sudah pasti akan untung.

"Terserah keputusan anda presiden direktur... selaku pemegang saham terbesar," sarkas Hana mengejek.

"Kamu meledekku!? Hanya perempuan cacat yang berasal dari desa tau apa!?" Jono bangkit dari meja terlihat sombong.

"Memang kamu tidak dari desa juga?" Hana mengenyitkan keningnya. Bersamaan dengan pak Kirjo yang berkulit gelap dengan kumis bagaikan pak Raden melirik dari jauh.

Seketika nyali Jono menciut,"Aku asli orang desa, ibuku dari desa, ayahku dari desa, bahkan kakek dari kakek buyutku dari desa ..."

Pak Kirjo kembali menghela napas melanjutkan kegiatannya.

"Owh... banggalah menjadi orang desa!!" ucap Hana tersenyum.

Dasar !! Kakekmu sendiri prajurit Jepang... dulu Indonesia terjajah, dan sekarang aku yang terjajah... keluhnya dalam hati menghela napas kasar.

***

Pasokan uangnya terputus, apa yang akan sang dokter muda lakukan? Tentu saja menjalankan tugas prakteknya di salah satu rumah sakit swasta. Menjadi bawahan sebagai dokter baru.

Hari ini juga sama, kartu ATM dimasukkannya, PIN ditekannya. Jumlah nominal yang tidak berubah, menghubungi Hana? Tidak mungkin dilakukan olehnya.

"Bagaimana ini?" gumamnya, mengingat gaya hidup Zara yang boros. Wanita pemilik butik ternama yang akan dinikahinya sebulan lagi.

Hingga keputusan diambilnya, memajukan pernikahannya. Agar setidaknya dapat tinggal di rumah Zara setelahnya, mengingat tanggal jatuh tempo sewa apartemennya akan berakhir besok.

Wanita itu mulai dihubunginya,"Sayang..." suara merdu penuh rayunya dari seberang sana.

"Zara, mengenai pernikahan, karena jumlah undangan yang datang banyak kita adakan resepsinya di balai desa ya? Selain itu, kartu ATM-ku tiba-tiba bermasalah. Bisa kamu carikan pinjaman untuk pernikahan kita? Nanti biar aku yang kembalikan..." ucapnya menggaruk-garuk rambutnya, mungkin kekurangan shampo Head & Shoulders anti ketombe, yang membuat merasakan sensasi dinginnya. Ketika ketombe diangkat, membuat tidak malu lagi berdekatan dengan orang lain.

Zara yang sejatinya seorang pengangguran, kini tengah memakan bakso aci pinggir jalan. Mengenyitkan keningnya bingung, jika mengatakan tidak dapat memberikan pinjaman uang, bisa-bisa kebohongannya akan terbongkar.

Siapa yang tidak mengidamkan anak tunggal juragan, yang memiliki lahan pertanian dan perkebunan ratusan hektar. Bahkan kini menjadi dokter muda, mungkin jika ingin, Haikal dapat mendirikan rumah sakit sendiri begitulah fikirnya.

"A... akan aku berikan, itu mudah. Pesta, kita adakan di kampungmu kan? Jadi tidak perlu menyewa gedung..." ucapnya gelagapan.

"Iya, kita akan menikah di desa dan tinggal bersama di kota nantinya. Aku mencintaimu..." Haikal menghela napas kasar lega, mematikan panggilannya.

Setelah tanggal jatuh tempo apartemen kelas menengah yang disewakan oleh Hana habis, dirinya dapat tinggal di rumah Zara. Mungkin membawa ibu, ayah dan adiknya. Terlepas dari kewajibannya merawat seorang gadis cacat seumur hidupnya.

"Walaupun cantik, tidak akan ada yang bersedia menghabiskan hidupnya hanya untuk membersihkan tubuh istrinya, mengangkatnya, bahkan harus membersihkan urine dan kotorannya. Tidak akan ada pria yang bertahan dengan istri cacat..." gumam yang masih berdiri di depan mesin ATM.

Tidak mengingat bagaimana seorang pemuda miskin yang mengejar anak tuan tanah, gadis tercantik di SMU-nya. Melupakan gadis cacat yang membuatnya dapat mengenakan seragam putih kedokteran, yang kini melekat di tubuhnya.

Bersambung

Terpopuler

Comments

glade🌊

glade🌊

manusia gk tau malu klo udah diatas kadang suka lupa diri,,

2024-09-10

0

mamae zaedan

mamae zaedan

iya bener juga,buyutnya Hanna kan penjajah indonesia🤭🤗

2024-01-01

0

merti rusdi

merti rusdi

ealah, 11-12 ternyata 😂 klop lah yah, jodohmu cerminanmu

2023-08-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!