Mobil dilajukan pak Kirjo, supir yang bekerja di gudang beras milik Dirga. Hana menghela napas kasar, menatap penampilannya dengan kebaya merah. Kebaya yang indah, kontras dengan kulit putihnya, sayangnya riasan wajah tebal ala salon desa, menutupi wajah cantik alaminya. Rambutnya disanggul, bagaikan riasan ibu-ibu atau sinden.
Cantik? Bagi orang-orang di wilayahnya memang cantik. Namun berbeda dengan orang-orang di kota yang kini lebih banyak menggunakan riasan wajah natural. Menganggap terlalu tebal dengan warna cerah, terlihat kampungan.
Hana tipikal orang yang praktis, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Mobil yang mereka naiki saat ini adalah truk beras dengan warna kuning. Tidak lupa tulisan aneh bertengger di belakangnya. 'Ada uang abang sayang, tak ada uang abang ditendang' itulah tulisan di salah satu truk pengangkut hasil bumi miliknya.
Orang kaya? Ratusan hektar lahan perkebunan buah, sayuran dan sawah, milik ayahnya. Tidak ada yang kurang darinya, kecuali kakinya yang harus selalu menggunakan kursi roda, akibat beberapa syaraf kakinya mengalami gangguan setelah kecelakaan.
Hana tersenyum bangga, akan memiliki kekasih seorang dokter spesialis berusia muda. Klinik? Mungkin dirinya ingin membuat klinik di desa untuk Haikal setelah menikah nanti. Hari ini adalah hari wisuda kekasihnya, tentunya dirinya harus datang bukan?
Ke salon dari pukul 5 pagi, mengenakan baju kebaya yang dipesannya dari satu bulan lalu di tukang jahit desa tersebut. Haikal akan kagum, begitulah keyakinannya, kala truk yang dipenuhi beras itu memasuki kampus, klakson dengan bunyi nyeleneh terdengar, kala mencari tempat parkir.
Mahasiswa menatap truk besar itu, menipiskan bibir menahan tawanya. Entah mahasiswa mana yang didatangi keluarganya ke acara wisuda menggunakan truk. Sungguh memalukan...
Hingga pak Kirjo turun, membuka kursi roda, menurunkan majikannya untuk duduk di kursi roda.
"Buk RT, mau ke acara nikahannya siapa?" cibir salah seorang mahasiswa baru turun dari mobil yang mungkin harganya sekitar seratus juta.
"Lihat tulisan di truk-nya 'Ada uang abang sayang, tak ada uang abang di tendang'," mahasiswa lain yang baru turun dari taksi online ikut mencibir, tertawa tiada henti.
"Harga mobil kalian berapa? Ada setengah dari harga trukku? Harga trukku sekitar 800 juta..." cibirnya tersenyum penuh keangkuhan.
Seketika mahasiswa-mahasiswa itu terdiam, tidak dapat menjawab, kata-kata menusuk dari seorang wanita bermulut pedas yang mengenakan pakaian bagaikan sinden.
Penuh percaya diri, walaupun dari desa hanya tamatan SMU, itulah Hana. Orang kota, belum tentu lebih kaya dari orang desa, begitulah yang selalu diajarkan ayahnya. Hidup sederhana dan menunduk, tetap ulet serta tekun, ajaran dari sang ayah. Hingga kini, mereka menjadi orang yang dapat dianggap paling mampu di desanya. Anak seorang tuan tanah, yang mengangkat kepalanya dengan bangga ketika datang ke kota.
***
Dirinya terlambat datang, mengingat jarak yang harus ditempuh, dan disanalah Haikal saat ini. Mengenakan toga, di atas panggung dengan nama yang dipanggil.
Namun perlahan senyuman di wajah Hana memudar kala menatap seorang wanita cantik memeluk kekasihnya yang baru turun dari panggung.
Siapa? Hanya itu pertanyaan dalam hatinya, berusaha agar air matanya tidak mengalir. Agar riasan makeup murah ala salon desa tidak luntur.
Menunggu, dirinya lebih memilih untuk menunggu."Pak kita tunggu di luar gedung universitas saja..." ucapnya dengan air mata tertahan. Berusaha berfikir jika dirinya hanya salah paham. Namun, api dalam sekam akan mengeluarkan asap. Bahkan menimbulkan api yang lebih besar lagi.
Kala telah menunggu sekitar satu jam, para mahasiswa yang telah mengikuti wisuda mulai keluar, hanya sekedar untuk berfoto dengan keluarga mereka. Pak Kirjo tengah pergi diminta Hana untuk membeli minuman.
Berharap mendapatkan penjelasan saat menatap pemuda itu mencium kening seorang wanita. Cantik? Sejatinya Hana lebih cantik, tapi sekali lagi. Kaki yang sulit bergerak menjadi kekurangannya. Wajah yang tertutup riasan tebal, perlahan berusaha menggerakkan kursi rodanya.
"Haikal!! Haikal!! A...aku datang, selamat dokterku.." panggilnya dengan kebaya merah dan kain batik pada tubuhnya.
Namun, Haikal terdiam mundur selangkah, ini harus dilakukannya. Tidak ingin terjerat untuk merawat seorang gadis kursi roda di hadapannya. Zara memiliki butik di kota dengan omset besar, dipastikan memiliki status sosial yang lebih tinggi dibandingkan anak tuan tanah cacat yang hidup di desa.
"Kamu siapa!?" bentaknya, kesal menatap dirinya mulai dibicarakan menjadi pusat perhatian.
"A...aku Hana, kita akan menikah setelah kamu wisuda. Kita berjanji bersama..." ucapnya berusaha tersenyum, hendak menggapai tangan Haikal.
Mahasiswa-mahasiswa lain mulai berbisik, bahkan tertawa. Haikal yang merupakan idola kampus ternyata kekasihnya hanya seorang wanita desa cacat yang kampungan, bahkan datang menggunakan truk yang dipenuhi beras.
Haikal menghela napas kasar, mulai mengambil keputusan,"Hana dengar!! Aku tau kamu menyukaiku, karena aku anak orang terkaya di kampung, sekaligus calon dokter muda. Tapi tidak begini cara untuk mendapatkanku dengan mempermalukanku di hadapan semua orang..."
Wanita itu tertunduk mengepalkan tangannya, akhirnya setetes air mata itu mengalir juga, melewati maskara murah yang akan luntur hanya karena sedikit air. Bercak jejak maskara hitam mengalir di pipi putihnya.
"A...aku..." ucapnya gelagapan, orang-orang mulai menertawakannya, mencibirnya sebagai wanita tidak tau malu. Apa penghinaan ini pantas untuknya? Dirinya memang dari desa lalu kenapa?
Matanya berkunang akibat tertutup air mata yang mengalir tidak terkendali. Berusaha menatap ke arah Haikal. Pemuda yang dicintainya selama 12 tahun. Pemuda yang bahkan makan dan minumnya dibiayai olehnya. Menyewakan apartemen untuknya di kota.
Bodoh bukan? Ternyata hatinya hanya sekedar mainan.
Wanita yang berada di samping Haikal mulai mendekat, "Ternyata cuma wanita cacat murahan yang mencoba mendekati Haikal,"
"Aku bukan wanita murahan, dia sendiri yang dulu mendatangiku. Mengatakan mencintaiku, akan menikahiku..." ucapnya tertunduk menangis lirih masih duduk di kursi rodanya. Riasannya telah luntur, melumber kemana-mana terlihat mengerikan. Bahkan bedak murah yang berada di wajahnya tidak luput luntur oleh keringat dan air matanya.
Haikal terdiam sejenak, memori itu masih ada kala gadis tercantik di desa didekatinya. Tapi ini tidak benar, dirinya tidak ingin menikahi wanita cacat. Zara yang mandiri, memiliki usaha sendiri ratusan kali lipat lebih baik.
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipi Hana, bukan Zara yang melayangkannya. Tapi tangan kekasihnya sendiri, Haikal.
Siang hingga larut malam Hana membantu ayahnya mengatur pembekuan, memberikan perhitungan pupuk dan pengairan, terkadang bergadang untuk mencari uang. Uang yang mengalir pada dompet kekasihnya sang calon dokter muda.
Sakit? Tentu saja namun hatinya lebih sakit.
"Aku mengerti..." satu kata yang keluar dari bibirnya.
Mengepalkan tangannya penuh kebencian, ibu Haikal yang bagaikan lintah darat, adik Haikal yang sering meminta berbagai hal padanya, bahkan ayah pemuda itu bergantung hidup menjadi kuli angkut di gudang milik Dirga. Apa kebaikannya kurang dibandingkan wanita kota yang tengah dirangkul Haikal.
Air matanya semakin deras ingin mempertahankan harga diri terakhirnya. Lebih baik pergi, menahan perih bekas tamparan di pipinya. Hingga, tutup sebuah selokan yang terbuka menjegal roda kursi rodanya. Kursi roda yang jatuh, bersama tubuhnya.
"Ada topeng monyet jatuh!!" tawa salah seorang mahasiswa diikuti mahasiswa lainnya. Bahkan wanita yang bersama Haikal ikut menertawakannya.
Haikal? Pemuda itu hanya terdiam, tanpa ada niatan untuk menolong. Membiarkan wanita cacat yang menunggunya kuliah di kota selama 8 tahun menangis tertunduk. Merutuki ketidak berdayaannya...
Hingga pak Kirjo datang dengan minuman di tangannya. Meletakkannya asal, mendirikan kembali Hana untuk duduk di kursi rodanya.
"Orang bilang doa anak yatim-piatu akan terkabul! Bapak seorang yatim-piatu jadi doa bapak akan terkabul. Haikal, bapak melihat sendiri kamu tumbuh dewasa bersama Hana!! Anak orang kampung tidak tau diri!! Hana nanti akan mendapatkan jodoh yang lebih baik darimu!! Bisa membeli kampus ini sekali jentik jari!!" kutukan kurang ajar dari pak Kirjo, seorang pria paruh baya yang berusia 58 tahun.
Yatim-piatu? Tentu saja, orang tua pak Kirjo meninggal di usia 86 dan 90 tahun, beberapa tahun lalu.
Hana dapat sedikit tersenyum, karena celotehan orang tua aneh itu.
"Pak kita pulang, tinggalkan dokter miskin itu," ucapnya yang telah duduk di kursi roda yang di dorong pak Kirjo mendekati truk.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Aries suratman Suratman
Iya ceritanya seru ada sedih dan ada yang bikin ketawa kalo bacanya terbawa suasana, pokok'nya sebelum baca sediakan Tisu dan Cemilan yang banyak
2025-01-23
0
Eka suci
aku ikutin novelmu , dengan ciri khas mu, bawang tapi lawak
2024-07-04
0
May Tanty
Ini cerita nya sedih tapi bikin ngakaak🤣🤣
2024-01-16
1