Setelah dua guru besar tewas. Orang-orang yang tadi mengerumuni pertarungan Langlang Cakra Buana perlahan membubarkan diri. Mereka membawa kesan-kesan tersendiri dalam pikirannya.
Sedangkan Langlang Cakra Buana sendiri kembali memasuki penginapan tadi dan berniat untuk menghampiri guru besar dari Padepokan Kuda Sembrani.
Ketika dia masuk, orang-orang yang tadi biasa saja saat melihatnya, sekarang mereka malah tidak berani bertatap muka. Semuanya tunduk ketakutan, bagaimanapun juga pemuda tadi bukanlah pendekar biasa, pikir orang-orang itu.
"Paman tidak papa?" tanya Langlang Cakra Buana kepada guru besar Padepokan Kuda Sembrani yang sedang duduk sembari memegangi dadanya yang sakit.
"Tidak papa pendekar muda, terimakasih sudah membantu. Perkenalkan namaku Aki Wali Tangkah Kusuma," ucapnya memperkenalkan diri.
"Aku Langlang Cakra Buana, paman," jawab Langlang.
"Kalau aku boleh tahu, kemana tujuan nak Langlang Cakra Buana setelah ini?" tanya Aki Wali.
"Aku tidak memiliki tujuan pasti paman. Aku hanya mengembara untuk menumpas keangkara murkaan sesuai dengan perintah eyang guru," kata Langlang Cakra Buana.
"Mulia sekali tujuanmu. Bagaimana kalau aku mengajakmu singgah di Padepokan Kuda Sembrani? Disana kau bisa tinggal untuk beberapa saat sembari memikirkan langkah selanjutnya. Sekaligus aku juga ingin menjamu dirimu sebagai ucapan terimakasih," ucap Aki Wali mengajak Langlang Cakra Buana untuk ikut ke padepokannya.
Pemuda itu terdiam sejenak seperti berfikir. Pasalnya dia juga ingin cepat sampai di ibukota supaya cepat bertemu dengan Eyang Resi Patok Pati. Tapi dia juga berfikir bahwa tidak ada salahnya menerima tawaran tersebut.
"Baiklah paman, jika tidak merepotkan aku bersedia," kata Langlang Cakra Buana menerima tawaran Aki Wali Tangkah Kusuma setelah berfikir beberapa saat.
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang," tutur Aki Wali Tangkah Kusuma.
"Mari paman."
Keduanya lalu pergi dari penginapan tersebut. Mereka langsung menggunakan Saipi Angin, hal ini wajar karena pada zaman dahulu semua pendekar pasti memilili ilmu meringankan tubuh seperti contohnya Saipi Angin. Hanya saja biasanya beda pendekar beda juga tingkatannya, tidak selalu sama.
Keduanya terus bergerak cepat layaknya angin. Mereka menuju ke sebelah utara. Setelah sekitar lima belas menit, akhirnya mereka tiba disebuah padepokan yang berukuran cukup besar.
Bangunan disana cukup megah, diatas padepokan tersebut ada lambang kuda sembrani. Padepokan itu juga memiliki halaman yang luas, kira-kira luasnya sekitar satu lapangan bola.
"Kita sudah sampai Langlang. Selamat datang di Padepokan Kuda Sembrani," ucap Aki Wali.
Keduanya langsung memasuki padepokan tersebut. Terlihat disana ada banyak para murid yang sedang berlatih silat. Para murid itu mungkin baru berumur tujuh atau delapan tahunan.
Jumlah muridnya paling sekitar lima puluh orang saja. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok, setiap kelompok akan dilatih oleh satu orang guru. Hampir semua murid Padepokan Kuda Sembrani adalah pria. Wanitanya paling beberapa orang saja.
Langlang Cakra Buana dibawa oleh Aki Wali Tangkah Kusuma masuk ke dalam padepokan. Dia membawa pendekar muda itu menuju ke sebuah ruangan yang cukup besar. Entah akan dibawa kemana, Langlang Cakra Buana sendiri belum tahu.
"Sampurasun eyang," kata Aki Wali ketika sampai didepan ruangan tersebut.
"Rampes, silahkan masuk."
Terdengar dari dalam ada yang menjawab salam Aki Wali Tangkah Kusuma, tapi suaranya terdengar seperti orang yang sudah lanjut usia. Keduanya langsung masuk ke dalam ruangan, terlihat disana ada pria tua berpakaian kuning. Umurnya kira-kira terlihat sekitar delapan puluh tahun.
"Eyang, aku membawa kawan mudaku kemari. Tadi dia menyelamatkanku ketika aku bertarung dengan guru besar Padepokan Goa Neraka, yaitu Ki Ageng Pakujaya dan Jaya Dena," ucap Aki Wali kepada orang tua itu.
"Perkenalkan namaku Langlang Cakra Buana, eyang," kata Langlang memperkenalkan dirinya.
"Yang tua ini biasa disebut Eyang Tajimalela," jawab orang tua bernama Eyang Tajimalela.
"Benar apa yang dikatakan muridku barusan?" tanya Eyang Tajimalela.
"Ah … itu hanya kebetulan saja eyang. Aku hanya sedikit membantu saja," kata Langlang Cakra Buana merendah.
"Lalu, bagaimana keadaan dua guru besar itu?" tanya Eyang Tajimalela.
"Mereka tewas ditangan pendekar muda ini eyang," ujar Aki Wali Tangkah Kusuma.
Mendengar jawaban muridnya itu, Eyang Tajimalela kaget bukan main. Pada dasarnya karena dia mengetahui siapa dua orang yang dimaksud. Ki Ageng Pakujaya dan Jaya Dena adalah dua tokoh besar di dunia persilatan, khusunya mereka tokoh besar aliran hitam. Jika terbunuh oleh seorang pemuda, berarti siapa pemuda itu?
Eyang Tajimalela termenung sesaat, dia seperti memikirkan sesuatu.
Eyang Tajimalela adalah guru dari Aki Wali Tangkah Kusuma dan tiga lainnya. Dia memiliki empat murid, dimana kesemuanya merupakan guru besar Padepokan Kuda Sembrani. Tapi meskipun begitu, sudah cukup lama Eyang Tajimalela tidak menampakkan diri dalam dunia persilatan. Kecuali dalam keadaan darurat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Morphin
aktor utamanya trll mngumbar nama dan 7an utk mmbrantas angkara murka
2022-12-24
0
akp
next...
2022-08-17
3
Otiswan Maromon
mantap
seruuu abis
2022-04-24
2