"Ughhh …" Jaya Dena memuntahkan darah segar.
Sedangkan Langlang Cakra Buana sendiri hanya merasakan ada racun yang mulai menjalar masuk ke tubuhnya. Buru-buru dia memuntahkan racun itu dengan menggunakan tenaga dalam.
Tak lama lalu keluar darah yang hitam serta berbau busuk. Sebenarnya Langlang Cakra Buana kebal terhadap racun, tapi racun dari Ajian Racun Raja Kelabang sangatlah berbeda dari yang lainnya.
Kalau bukan dia, mungkin seseorang itu sudah tewas dan langsung membusuk ketika beradu pukulan dengan Jaya Dena tadi.
'Anak ini sungguh mempunyai kepandaian yang tinggi. Apakah ini pertanda bahwa dia memang murid Eyang Resi Patok Pati?' batin Ki Ageng Pakujaya bertanya-tanya.
Dua orang pendekar yang tadi beradu ajian tingkat tinggi sudah bangkit. Mereka berniat untuk melanjutkan pertarungan lagi.
Tanpa menunggu lebih lama, Langlang Cakra Buana kembali mengeluarkan jurus Harimau Membelah Gunung dan Ajian Dewa Tapak Nanggala secara bersamaan dengan tujuan ingin segera mengakhiri pertarungan ini.
Kedua guru besar itu cukup kaget, mereka tidak menyangka bahwa si pemuda akan berbalik menyerang secepat ini. Padahal baru saja dia terkena ajian yang mengandung racun mematikan.
Pertarungan kembali terjadi, tapi sekarang Jaya Dena tidak bisa bertarung seperti sebelumnya. Entah kenapa guru besar itu merasa bahwa ilmunya sudah hilang separuhnya dan rasa sakit akibat adu pukulan tenaga dalam tadi masih terasa sampai sekarang.
Selama malang melintang di dunia persilatan, rasanya dia baru kali ini merasakan ajian seperti yang dikeluarkan pemuda tadi yang tak lain adalah Langlang Cakra Buana.
Langlang Cakra Buana menyerang dengan sangat ganas, sekarang dia mirip seperti harimau yang terluka. Semakin kesini, dia semakin mendominasi pertarungan.
Dua guru besar itu mulai sedikit kewalahan, terlebih Jaya Dena. Entah sudah berapa kali dia diselamatkan oleh Ki Ageng Pakujaya karena selalu hampir terbunuh oleh Langlang Cakra Buana.
Pendekar Maung Kulon itu terus memberikan pukulan dan tendangan kepada kedua musuhnya. Tak jarang juga dia memberikan serangan tipuan. Setiap gerakannya selalu memberikan hawa panas.
Semakin lama gerakan Jaya Dena semakin lemah. Saat ini dia tidak terlihat seperti guru besar lagi, tapi lebih terlihat seperti orang yang sedang belajar ilmu silat.
Langlang Cakra Buana tidak mau kehilangan kesempatan ini, dengan cepat dia segera menyerangnya. Serangannya sangat mirip seperti seekor harimau menerkam mangsa, hanya satu kali gerakan saja …
"Ahhh …" mati.
Salahsatu guru besar Padepokan Goa Neraka akhirnya tewas ditangan seorang pemuda yang baru menginjak di dunia persilatan. Pendekar tua itu tewas dengan kepala terbelah. Darahnya bahkan sampai muncrat kemana-mana.
Orang-orang yang setia melihat pertarungan ini pun bergidik ngeri saat melihat bagaimana cara Langlang Cakra Buana membunuh musuhnya.
Sadis. Hanya satu kata itu yang kini ada di pikiran mereka.
Di sisi lain, Ki Ageng Pakujaya sangat murka terhadap Langlang Cakra Buana. Bagaimana tidak? Rekannya sekaligus guru besar Padepokan Goa Neraka tewas didepan matanya secara mengenaskan. Teman mana yang akan terima jika melihat rekannya tewas seperti itu?
"Kadal buntung, setan alas. Berani-beraninya kau membunuh rekanku. Mati kau monyet buduk," Ki Ageng Pakujaya memaki-maki Langlang Cakra Buana sembari menyerangnya.
Ki Ageng menyerang dengan amarah dan dendam untuk membalas kematian rekannya. Serangannya cepat dan mematikan. Dia terus memberikan serangan yang beruntun kepada Langlang Cakra Buana.
Terlebih tendangan, entah berapa puluh tendangan yang diberikan kepada pemuda itu. Tapi tetap saja semuanya bisa ditahan oleh Langlang Cakra Buana.
Langlang Cakra Buana tak mau kalah, dia mulai melakukan serangan balasan kepada musuhnya itu. Pukulan dan tendangan mulai dia berikan kepada Ki Ageng Pakujaya.
Seiring berjalannya waktu, ternyata Ki Ageng Pakujaya juga merasa lelah. Guru besar itu mulai kewalahan menghadapi serangan Langlang Cakra Buana yang datang secara terus-menerus tersebut.
Langlang yang melihat hal tersebut justru semakin brutal, dia malah menambah kecepatan serangan pukulan dan tendangannya. Tak lupa juga gerakan tipuan.
Perlahan demi perlahan gerakan Ki Ageng Pakujaya sudah tidak karuan. Banyak celah tercipta yang sangat menguntungkan bagi musuh.
Segera saja Langlang Cakra Buana mengerahkan Ajian Dewa Tapak Nanggala dengan kekuatan penuh yang mengarah ke wajah Ki Ageng Pakujaya.
"Buakk …" mati.
Ki Ageng Pakujaya tewas ditangan seorang pemuda dengan tanpa kepala. Kepalanya langsung terlepas ketika dihantam oleh Ajian Dewa Tapak Nanggala.
Orang-orang kembali bergidik ngeri melihat aksi Langlang Cakra Buana itu. Mungkin mereka berfikir bahwa pendekar muda tersebut sudah kehilangan akal sehingga bisa membunuh secara sadis.
Padahal pada kenyataannya, dia sendiri yang belum bisa mengendalikan kekuatannya. Apalagi beberapa hari lalu dia baru menerima Mustika Kahyangan.
Pada akhirnya, dua guru besar dari Padepokan Goa Neraka tewas secara mengenaskan ditangan pemuda bernama Langlang Cakra Buana si Pendekar Maung Kulon.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Rusliadi Rusli
waduh gawat....sadis bener
2023-01-08
0
akp
tarungnya sih seru,cuma sampai sini belum ada kisah-kisah petualangan yang bisa dinikmati.
2022-08-17
3
Otiswan Maromon
mantap
2022-04-24
2