Keadaan di Padepokan Kuda Sembrani sekarang sepi. Paling hanya beberapa orang saja yang terlihat masih berjaga. Itupun kadang-kadang mereka ketiduran. Hal ini wajar karena pada siang hari mereka berlatih, malamnya disuruh bergadang menjaga keamanan.
Orang-orang yang lain sudah mulai beristirahat di ruangannya masing-masing. Langlang Cakra Buana pun kini sudah berada didalam kamar yang disediakan oleh Padepokan Kuda Sembrani untuk dirinya.
Pemuda itu sedang duduk termenung di atas jendela kayu. Matanya memandang ke atas bulan yang nampak indah. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya menjadi teman setia.
Langlang Cakra Buana terus memandangi bulan cukup lama. Dia seperti sedang melamun, tapi entah melamunkan apa. Karena terkadang dia memberikan ekspresi yang berbeda, kadang tersenyum sendiri, kadang sedih, kadang terlihat seperti marah.
Pendekar Maung Kulon itu belum menyadari akan adanya bahaya yang sedang menuju ke tempatnya berdiam sekarang. Sudah hampir satu jam dia bertahan dalam posisi seperti itu.
Sedangkan di sisi lain, rombongan Padepokan Goa Neraka sudah hampir tiba di tempat berdirinya Padepokan Kuda Sembrani. Sekarang mereka memperlambat langkahnya. Para guru yang memimpin pasukan sedang mengintai dan melihat situasi disana.
Setelah beberapa saat melihat situasi, ternyata keadaan di Padepokan Kuda Sembrani aman terkendali. Mereka mulai mendekati padepokan itu dengan hati-hati. Seperti rencana sebelumnya, penyerangan akan dibagi menjadi tiga bagian.
Setelah sudah memperkirakan bahwa sekarang waktu yang tepat untuk melakukan serangan. Dengan segera para pemimpin pasukan menyerukan kepada para muridnya untuk memulai serangan.
"Serang …"
Rombongan Padepokan Goa Neraka langsung menyerang dengan ganas. Para penjaga gerbang Padepokan Kuda Sembrani menjadi korban pertama. Mereka tewas dengan sebuah luka akibat goresan golok di lehernya. Bahkan leher mereka hampir putus.
Menyadari adanya sesuatu terjadi, orang-orang Padepokan Kuda Sembrani satu-persatu bangun dari tidurnya. Mereka lalu melihat keluar dan memastikan keadaan. Betapa kagetnya mereka saat melihat ada banyak pendekar yang sedang menyerang padepokannya.
Karena dalam kondisi tidak siap dan masih kaget. Dengan mudah para pendekar dari Padepokan Goa Neraka membunuh orang-orang itu. Ternyata orang-orang tadi adalah para murid Padepokan Kuda Sembrani. Satu-persatu para murid itu tergeletak tak bernyawa.
Hingga akhirnya para guru segera keluar karena merasakan adanya pertarungan diluar padepokannya. Mereka juga cukup kaget, tapi cepat-cepat untuk menguasai diri. Pertarungan mulai terjadi di halaman Padepokan Kuda Sembrani.
Para murid yang sempat melakukan persiapan kini sudah bertarung melawan murid dari Padepokan Goa Neraka. Masing-masing guru dari kedua padepokan kini sudah saling berhadapan satu sama lain.
Disisi lain, Langlang Cakra Buana pun segera keluar setelah mendengar adanya suara senjata beradu. Pemuda itu langsung menggunakan Saipi Angin.
Awalnya dia cukup kaget ketika melihat pertarungan besar ini. Tapi dia segera memahami keadaan, terlebih karena maha guru Padepokan Kuda Sembrani sudah bicara padanya bahwa mungkin akan terjadi pertempuran antara dua padepokan. Dan sekarang ucapan itu trbukti nyata.
Cepat-cepat Langlang Cakra Buana memasuki medan pertempuran. Dia segera mencabut Pedang Pusaka Dewa. Ini pertama kalinya dia menggunakan pedang itu. Sebelumnya pemuda itu belum pernah memakai Pedang Pusaka Dewa karena setiap pertarungan yang dia lalui selalu menggunakan tangan kosong.
Tanpa menunggu lama, dia segera mengeluarkan jurus-jurus yang sudah dia pelajari dari Kitab Dewa Bermain Pedang. Pemuda itu langsung memakai jurus ketiga dari kitab tersebut, yaitu Empat Tangan Gerakan Pedang.
Langlang Cakra Buana terus mengayunkan pedangnya kepada siapapun yang dia temui. Hanya beberapa menit saja, separuh pasukan Padepokan Goa Neraka tewas tanpa kepala ditangan pemuda itu. Setiap ayunannya akan membunuh sekaligus dua pendekar.
Ini adalah keuntungan bagi Padepokan Kuda Sembrani. Karena Langlang Cakra Buana, tidak banyak para murid yang tewas. Kecuali mereka yang lebih dahulu bertarung tanpa persiapan. Sedangkan bagi Padepokan Goa Neraka, ini adalah kerugian besar.
Para guru dari Padepokan Goa Neraka belum menyadari aka hadirnya seorang pemuda yang membunuh lebih dari setengah muridnya. Mereka masih bertarung sengit dengan masing-masing guru.
Termasuk Eyang Tajimalela sendiri, maha guru Padepokan Kuda Sembrani itu kini sedang bertarung bersama Braja Suta. Dendam kesumat diantara keduanya menjadi alasan lain mereka melakukan pertarungan.
Tak terasa, para murid Padepokan Goa Neraka sudah tewas semuanya hanya dengan satu orang pemuda saja. Murid-murid Padepokan Kuda Sembrani tak dapat berkata apa-apa lagi. Mereka hanya bisa membuka mulut yang hampir membentuk huruf O ketika melihat orang asing membunuh musuh dengan sadis.
Langlang Cakra Buana sendiri kini sedang berdiri santai sembari nyender ke sebuah pohon asem yang cukup besar. Dia memilih untuk melihat terlebih dahulu pertarungan antar guru tersebut.
Ditengah pertarungannya melawan salahsatu murid Eyang Tajimalela, Genta Sena mulai merasakan keanehan. Kemana para murid? Kenapa pertarungan menjadi sepi? Pikirnya.
Pertarungannya berhenti sebentar, keduanya sama-sama terlihat kebingungan. Mereka mulai memperhatikan keadaan sekitar. Betapa kagetnya kedua guru besar tersebut ketika melihat banyaknya pendekar tewas dengan tanpa kepala. Bau anyir dari para mayat mulai menyeruak memenuhi tempat disana.
Awalnya guru besar Padepokan Kuda Sembrani menyangka bahwa yang tewas itu adalah muridnya sendiri. Tapi setelah dilihat lebih teliti siapa saja yang tewas mengenaskan tersebut, bibirnya mulai tersenyum. Tapi hatinya dipenuhi seribu tanda tanya. Siapa pendekar yang melakukan ini? Kira-kira begitu pikiran dari murid Eyang Tajimalela tersebut.
'Siapa yang sudah melakukan pembantaian ini? Pasti ilmu pedangnya sangat hebat.' batin murid Eyang Taji Malela.
Pertarungan kedua guru tersebut masih terhenti. Mereka masih bertanya-tanya siapa pelaku pembantaian ini.
Langlang Cakra Buana yang menyadari kedua guru dari masing-masing padepokan kebingungan segera angkat bicara.
"Tidak perlu bingung mencari. Aku yang melakukannya," kata Langlang Cakra Buana dengan tangan mengelap darah yang masih menetes di Pedang Pusaka Dewa.
"******** kau. Setan alas, kalau berani jangan kepada murid-muridku. Hadapi aku, Genta Sena dari Padepokan Goa Neraka," ucapnya dengan nada tinggi.
Tentu saja dia marah besar, bagaimana tidak? Murid senior yang dibawa semuanya tewas secara mengenaskan. Guru mana yang akan diam saja jika melihat muridnya dibunuh secara sadis?
"Kau pikir aku takut dengan namamu? Aku terima tantanganmu itu," kata Langlang Cakra Buana. Pemuda itu langsung melompat ke hadapan Genta Sena.
"Paman, biarkan aku yang menghadapi iblis ini. Kau urus saja murid yang membutuhkan pertolongan," ucap Langlang Cakra Buana Kepada murid Eyang Tajimalela.
Guru besar itu tidak menolak. Perkataan Langlang Cakra Buana ada benarnya, dengan segera meninggalkan tempat tersebut dan berniat untuk membantu para murid yang membutuhkan pertolongan. Terutama mereka yang terluka.
Kini yang tersisa ditempat tadi hanyalah Langlang Cakra Buana dan Genta Sena. Mereka sudah berhadap-hadapan dan bersiap untuk segera melakukan pertarungan sehidup semati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
akp
widih sombong banget yak...
2022-08-17
2
Hilmy Bagaskara
katanya punya ajian sapta pangrungu...knp kecolongan thor
2022-05-08
2
Otiswan Maromon
seep
2022-04-24
1