Saat ini Langlang Cakra Buana telah memasuki desa baru, maklum Desa Pasir Maung adalah desa yang jauh dari perkotaan. Jarak ke ibukota pun cukup jauh hingga akan memakan waktu empat hari jika berjalan biasa.
Langlang sudah mulai memasuki gapura, gapura itu bertuliskan sebuah nama desa. Namanya Desa Pangarengan. Dinamakan Pangarengan adalah karena pada zaman dahulu konon desa ini merupakan tempat membuat arang, karena alasan itu desa ini diberi nama Pangarengan.
Kehidupan di Desa Pangarengan cukup makmur, para penduduk banyak yang menjadi petani padi maupun kopi. Cukup ramai keadaan desa ini, Langlang Cakra Buana berniat untuk pergi mencari kedai makan karena perutnya sudah bernyanyi daritadi.
"Sampurasun paman, apakah ada kedai makan yang didekat sini?" tanya Langlang Cakra Buana ke salahseorang penduduk yang dia jumpai.
"Rampes, ada den. Aden tinggal jalan lurus saja ke depan, kira-kira sekitar seratus meter dari sini ada kedai makan," jawab orang tersebut memberitahukan dimana tempat kedai makan berada.
Setelah mengucapkan terimakasih, pemuda itu akhirnya berjalan menuju tempat yang dituju. Di sepanjang perjalanan dirinya banyak menemui para penduduk, mereka sangat ramah kepadanya, bahkan melemparkan senyum ketika berpapasan dijalan.
Langlang Caka Buana sudah tiba di kedai makan yang dimaksud, dia berniat untuk segera masuk kedalamnya. Tapi sebelum masuk, pemuda itu melihat ada dua orang yang sedang meminta 'jatah' ke pemilik kedai. Penampilannya mirip seperti seorang pendekar, lebih tepatnya pendekar yang mencerminkan sifat aliran hitam.
"Ampun tuan … ampun. Saya belum bisa memberikan setoran, kedai saya baru buka." kata pemilik warung yang merupakan seorang kakek-kakek.
Meskipun kakek itu sudah bicara berulang kali bahwa dia belum mendapatkan hasil dari jualan makannya, tapi kedua pendekar itu terus memaksa. Bahkan mereka mendorong kakek itu hingga tersungkur lalu memeriksa laci tempat uang.
Langlang Cakra Buana yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kali ini mulai geram. Pemuda itu langsung menghampiri kedua orang tersebut.
"Sampurasun, maaf maksud paman sekalian apa? Bukankah kakek ini bilang bahwa dia belum mendapatkan hasil?" tanya Langlang sembari tersenyum ramah.
"Diam kau anak muda. Kau tidak tahu apa-apa, pergi sekarang juga jika tidak ingin menerima akibatnya!" ucap salahseorang rekannya.
"Aku tidak bisa pergi jika paman sekalian memaksa kakek ini menyetor. Memangnya kalian siapa berani bertindak semena-mena?" tanya Langlang.
"Kadal buntung … sudah diingatkan masih tida mau ngandel (nurut)."
Salah seorang dari mereka langsung menyerang Langlang Cakra Buana, entah apa alasan orang itu menyerang yang jelas Langlang Cakra Buana sendiri juga tidak mengerti.
Tapi pemuda itu tidak diam, dia siap menyambut serangan yang mendadak tersebut. Mereka mulai melakukan pertarungan diluar kedai makan. Pendekar tersebut menyerang dengan ganas, tapi Langlang Cakra Buana hanya menahan serangannya dengan santai.
Melihat rekannya yang tak kunjung berhasil melukai sang pemuda, rekannya tersebut berinisiatif untuk ikut andil dalam pertarungan itu. Hingga pada akhirnya pertarungan satu lawan dua tidak dapat terelakan.
Karena pertarungan itu cukup mengganggu telinga, akhirnya para warga yang mendengar langsung berdatangan satu-persatu. Mereka mulai bertanya-tanya dalam hati, siapa pemuda yang memakai pakaian putih dengan sebilah pedang hitam di punggungnya?
Rasanya para penduduk baru melihat pemuda itu kali ini. Semakin lama orang-orang yang melihat pertarungan itu semakin banyak. Tapi meskipun begitu, ketiga pendekar tersebut seperti tidak terganggu sama sekali, mereka terus bertarung secara ganas.
"Sebenarnya kau siapa bocah?" tanya salah seorang pendekar tersebut disela-sela pertarungan.
"Aku Pendekar Maung Kulon, Langlang Cakra Buana murid dari Eyang Resi Patok Pati." kata Langlang memperkenalkan siapa dirinya.
Mendengar nama Eyang Resi Patok Pati kedua pendekar itu mendadak gentar, pasalnya mereka tahu bagaimana sepak terjang pendekar tua tersebut didalam dunia persilatan.
Langlang Cakra Buana melihat kepanikan yang tergambar jelas dari dua pendekar tersebut, tapi pemuda itu tidak berniat untuk memberikan ampun padanya.
"Lalu, siapa kalian?" tanya Langlang.
"Kami Setan Kembar," jawabnya.
"Cepat menyerah sekarang sebelum terlambat!" kata Langlang Cakra Buana mencoba bicara baik-baik kepada kedua pendekar yang mengaku berjuluk Setan Kembar.
"Cuihh …" salahsatu dari mereka meludah. "Kau pikir kau siapa heh …? Kau pikir kami takut karena dirimu menyebutkan si tua bangka itu? Bisa saja kau berbohong untuk menakuti kami,"
"Sekali lagi kau bicara seperti itu terhadap guruku. Aku pastikan hari ini adalah hari terakhir kalian," Langlang mulai terpancing emosi ketika nama gurunya dilecehkan.
"Perduli setan. Untuk apa aku menghormati si tua bangka yang sudah bau tanah?" kata salah seorang Setan Kembar.
Langlang Cakra Buana sudah tidak bisa menahan amarahnya, pemuda itu benar-benar naik darah jika ada orang yang melecehkan gurunya.
Dengan segera pemuda itu langsung mengeluarkan jurus silat yang terkandung dalam ajaran Kitab Maung Mega Mendung. Pemuda itu menyerang lebih dahulu, tapi kali ini gerakannya lebih hebat dari sebelumnya.
Tangannya berubah warna menjadi agak memerah, matanya berubah seperti mata harimau, dia mengeluarkan jurus ke lima yaitu Amarah Harimau. Langlang Cakra Buana terus menyerang tanpa berhenti, dia mengincar bagian leher dan dada musuh.
Gerakannya semakin lama semakin tajam, hingga akhirnya pemuda itu berhasil mendaratkan pukulan telak di dada salah satu Setan Kembar.
"Ahhh …"
Salah seorang dari Setan Kembar terpental beberapa meter ke belakang. Dia seperti menahan rasa sakit yang teramat sangat, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Berselang beberapa menit kemudian pendekar itu tewas dengan dada yang menghitam.
Melihat temannya terbunuh dengan mudah, pendekar Setan Kembar yang tersisa berniat untuk melarikan diri. Sekarang dia sadar bahwa dirinya sudah menyinggung orang yang salah.
Namun saat dia hendak pergi, dengan segera Langlang Cakra Buana mencengkram pakaiannya dari belakang lalu melemparkannya hingga menabrak pohon.
"Apa kau pikir bisa lari begitu saja? Aku tidak akan pernah membiarkan setan seperti dirimu hidup di muka bumi ini, terlebih karena kau sudah menghina guruku" kata Langlang sembari menatap tajam pendekar tersebut. Pemuda itu benar-benar tidak berniat untuk membiarkannya pergi.
Belum sempat rasa takutnya hilang akibat sang pemuda bisa membunuh rekannya dengan mudah, tiba-tiba saja pemuda itu mendaratkan serangan tapak tepat di dadanya. Seketika dia terpental dan muntah darah kehitaman, tak lama dia tewas menyusul temannya ke alam baka. Akhirnya kedua pendekar Setan Kembar itu tewas ditangan seorang pemuda yang baru menginjakkan kakinya di dunia persilatan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
FHVTXYCJV
berniat TIDAK MEMBERI AMPUN
tapi masih mencoba BICARA BAIK²
Agak aneh sih
2023-02-19
1
Rusliadi Rusli
waduh...kok lgsung gegas thor
2023-01-08
0
Rhembezz
ngalahin tukang palak warung aja perlu jurus dari kitab andalan, duh....!
2022-11-21
0