Waktu begitu cepat berlalu, malam sudah hilang, rembulan telah lenyap dari pandangan. Sekarang yang terlihat hanyalah sang surya yang begitu semangat memberikan sinarnya ke bumi.
Suara burung-burung terdengar begitu merdu, alunan bambu bergesekan ditiup angin pagi hari menambah suasana menjadi lebih tenteram.
Disebuah gubuk pinggiran hutan, ada dua orang pria tua dan seorang pemuda yang sedang berbincang ringan sembari menikmati suasana pagi hari dengan secangkir kopi pahit dan ubi rebus. Mereka terkadang tertawa kecil disela-sela obrolannya, entah obrolan apa yang sedang mereka bicarakan, yang jelas keduanya terlihat bahagia dengan suasana seperti ini.
Mereka terlihat terus bertukar cerita satu sama lain, hingga mereka tidak menyadari bahwa pagi sudah hampir siang. Benar, mereka adalah pasangan guru dan murid. Eyang Resi Patok Pati dan muridnya, Cakra Buana.
Setelah berbincang cukup lama hingga lupa waktu, akhirnya Eyang Resi mulai berbicara serius kepada muridnya, Cakra Buana.
"Cakra, sekarang kamu sudah menguasai semua ilmu silat dan ajian yang Eyang miliki, sudah saatnya kamu untuk turun gunung. Sebab jika kamu tidak segera turun, maka keangakara murkaan pasti merajalela terutama ditanah Pasundan ini," kata Eyang Resi kepada Cakra Buana.
Eyang Resi berkata demikian tak lain karena ketika dia berkeliling dengan ilmu Meraga Sukma, dirinya mendapati keadaan diluar sana sangat kacau balau. Kejahatan merajalela, kemaksiatan dimana-mana, manusia sudah seperti tak mempunyai moral lagi. Bahkan mereka lebih pantas disebut sebagai binatang, atau bahkan lebih buruk daripada para binatang.
"Baik Eyang, aku akan menuruti titah Eyang. Aku berjanji akan berusaha memusnahkan kejahatan di tanah Pasundan," Cakra Buana berkata dengan serius kepada gurunya.
"Baiklah, sekarang kau bersiap-siap dahulu. Eyang juga akan mempersiapkan bekal untukmu," kata Eyang Resi Patok Pati.
Pendekar tua itu segera masuk ke gubuk kecilnya, dia akan memberikan sedikit perbekalan untuk Cakra Buana, tapi entah perbekalan apa yang dimaksud oleh Eyang Resi.
Selang beberapa menit kemudian, Eyang Resi Patok Pati keluar dari gubuk tuanya. Di tangannya terlihat ada sebuah buntelan berwarna putih dan juga membawa sebuah kotak kayu yang terlihat sudah tua, panjang kotak itu sekitar satu meter.
"Cakra, terimalah pemberian Eyang ini," kata Eyang Resi sembari membuka kotak kayu. "Gunakanlah pedang ini untuk menumpas kejahatan. Pedang ini bernama Pedang Pusaka Dewa, Eyang mendapatkan pedang ini ketika bertapa di Gunung Tilu Dewa (Tiga Dewa). Pedang ini hanya bisa digunakan bagi orang yang telah menguasi semua ajaran Kitab Dewa Bermain Pedang, dan orang itu hanyalah kau muridku."
"Kau juga harus selalu memakai ini," Eyang Resi Patok Pati berkata sembari menyodorkan buntelan kecil. "Ini adalah Kalung Mustika Maung Kajayaan. Ini juga merupakan pasangan dari Kitab Maung Mega Mendung, kau harus memakai kalung ini. Jangan pernah kau lepaskan jika kalung itu tidak lepas dengan sendirinya." kata Eyang Resi sembari memberikan kalung Mustika Maung Kajayaan.
"Baik Eyang Resi. Semua wejangan Eyang akan aku ingat selalu. Aku tidak akan pernah mengecewakan Eyang Resi." kata Cakra Buana hormat sembari menerima pedang dan kalung yang diberikan gurunya.
"Karena kau akan melakukan pengembaraan yang sangat panjang. Mulai sekarang Eyang akan mengganti namamu menjadi Langlang Cakra Buana (Kekuatan yang mengelilingi bumi) dan julukanmu adalah Maung Kulon (Harimau Dari Barat)." kata Eyang Resi Patok Pati sembari mengusap kepala muridnya yang kini telah berganti nama menjadi Langlang Cakra Buana.
"Terimakasih Eyang." ucap Langlang Cakra Buana.
"Sekarang pergilah. Jika kamu mencari Eyang, pergilah nanti ke Kerajaan Kawasenan. Eyang akan menjadi penasihat kerajaan." kata Eyang Resi.
Dia memutuskan untuk menerima tawaran raja menjadi penasihat kerajaan tak lain karena ketika muridnya memulai pengembaraan dirinya tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Langlang Cakra Buana masih terdiam disana, padahal gurunya sudah memerintahkan kepadanya untuk segera pergi melakukan pengembaraan.
Pemuda itu menundukkan kepalanya beberapa saat, dia sungguh berat untuk pergi meninggalkan gurunya sendiri. Bagaimanapun juga, Langlang Cakra Buana sudah tiga tahun hidup bersama Eyang Resi Patok Pati, sudah pasti siapapun orangnya akan merasakan hal yang sama.
Eyang Resi Patok Pati yang melihat muridnya tersebut langsung faham, dia pun merasakan hal yang sama pastinya. Rasa berat hati dan kesedihan melanda keduanya, tapi mau bagaimana lagi? Manusia tidak akan bisa melawan takdir yang sudah ditetapkan oleh Sang Hyang Widhi.
"Muridku, lawanlah keraguan dalam dirimu. Tidak usah kau mengkhawatirkan Eyang, Eyang akan baik-baik saja. Jika suatu saat Eyang tiada, kau pasti akan mendapatkan firasat. Jika kau ragu, bagaimana mungkin kau akan menghancurkan kejahatan yang sudah merajalela ini?"
Langlang Cakra Buana mengangkat kepalanya perlahan, genangan air mata mulai terlihat. Tapi pemuda itu berusaha untuk menguatkan diri, bagaimanapun juga yang akan dia lakukan adalah titah dari gurunya langsung demi kebaikan manusia, khusunya di tatar tanah Pasundan.
"Baiklah Eyang, aku pamit. Restui muridmu ini. Jaga diri Eyang baik-baik, suatu saat aku pasti akan kembali untuk bertemu Eyang." ucap Langlang Cakra Buana sembari meminta doa restu dari gurunya.
"Restu Eyang selalu mengikutimu muridku, semoga kau selalu dalam perlindungan Sang Hyang Widhi, pergilah. Eyang akan baik-baik saja," kata Eyang Resi Patok Pati menyuruh muridnya untuk segera pergi.
Guru dan murid itu melakukan pelukan perpisahan, mata mereka sama-sama merah akibat menahan kesedihan dihati.
Setelah merasakan ketenangan, akhirnya Langlang Cakra Buana berniat pergi. Pemuda itu langsung menggunakan ilmu Saipi Anginnya, dia tidak mau berlama-lama karena pasti kesedihan akan datang kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Lembu Sora
Mungkin author poho
2023-06-02
0
Rusliadi Rusli
sabar dan iklas
2023-01-08
0
akp
lanjut
2022-08-16
3