Guru dan murid itu sudah tida di gubuk tempat tinggalnya. Eyang Resi memberikan secangkir kopi dan singkong rebus untuk disantap bersma dengan muridnya, Cakra Buana.
Mereka berdua lalu berbincang ringan sembari menikmati kopi dan singkong rebus. Karena menurut Eyang Resi, tidak baik jika dirinya langsung memberikan ajian Gelap Ngampar dan ajian Pecah Raga tanpa berbasa-basi dahulu.
Terlebih karena Cakra Buana pastinya merasa sangat lelah dan lapar setelah empat puluh hari empat puluh malam tidak makan dan minum apapun.
"Cakra, jika Eyang sudah memberikan ajian Gelap Ngampar dan ajia Pecah Raga, kau harus segera turun gunung untuk memberantas kejahatan yang terjadi. Apakah kamu siap?" tanya Eyang Resi mengawali percakapan serius dengan muridnya.
"Apapun yang Eyang Resi perintahkan, aku siap melakukannya dengan segenap jiwa," jawab Cakra Buana sopan.
Eyang Resi Patok Pati hanya tersenyum lembut saat muridnya berkata demikian. Dalam benaknya, pendekar legendaris itu bangga karena bisa memiliki murid seperti Cakra Buana.
Setelah beristirahat cukup lama dan kondisi Cakra Buana sudah stabil, Eyang Resi Patok Pati langsung menanyakan kesiapan Cakra Buana untuk menerima dua ajian tingkat tinggi yang akan di wariskan padanya.
"Cakra, apakah kamu sudah siap untuk menerima ajian Gelap Ngampar dan ajian Pecah Raga?" tanya Eyang Resi Patok Pati.
"Aku siap Eyang Resi." jawab Cakra Buana.
Mendengar Cakra Buana sudah siap, segera saja Eyang Resi Patok Pati menyuruh Cakra Buana untuk mengambil posisi bersila disebuah batu besar.
Cakra Buana langsung menuruti apa yang disuruh oleh gurunya, pemuda itu mulai bersila diatas batu hitam yang besar. Matanya mulai terpejam dan tanganya ditaruh didepan dada seperti sedang menyembah.
"Bersiaplah Cakra, Eyang akan mewariskan ajian Gelap Ngampar dan ajian Pecah Raga sekaligus. Fokuskan pikiranmu," kata Eyang Resi Patok Pati.
Eyang Resi duduk bersila di belakang Cakra Buana, dia mulai mengumpulkan tenaga dalamnya di telapak tangan. Cahaya putih mulai keluar dari telapak tangannya, Eyang Resi Patok Pati segera mentransfer ajian Gelap Ngampar dan ajian Pecah Raga kepada Cakra Buana.
Telapak tangannya di tempelkan di punggung Cakra Buana, kedua tubuh guru dan murid itu bergetar hebat. Bahkan batu hitam yang saat ini mereka duduki pun bergetar seperti akan pecah menjadi beberapa bagian.
Kejadian seperti itu berlangsung kurang lebih selama tiga puluh menit lamanya, kini tubuh guru dan murid itu sudah berhenti bergetar. Eyang Resi melepaskan telapak tangannya dari punggung Cakra Buana, keringat membasahi seluruh tubuh Eyang Resi Patok Pati dan Cakra Buana.
Setelah selesai, Cakra Buana segera membuka matanya perlahan. Aura dari ajian Gelap Ngampar dan ajian Pecah Raga mulai terpancar keluar dari tubuhnya, dia merasa tubuhnya beberapa kali lebih kuat.
Bahkan, kali ini Cakra Buana seperti terlihat lebih berwibawa dari sebelumnya, kedua ajian itu kini telah menyatu sedarah daging dengan pemuda tersebut.
"Sekarang coba kau perhatikan gerakan Eyang ini, Eyang akan memberitahumu bagaimana menggunakan kedua ajian itu." kata Eyang Resi Patok Pati.
Lalu dia segera turun dari batu hitam dan mulai memperagakan sebuah gerakan yang cukup simpel tapi mengandung tenaga dalam yang sangat mengerikan.
Setelah memberikan contoh kepada Cakra Buana, Eyang Resi Patok Pati langsung menyuruh Cakra Buana untuk segera melakukan apa yang sudah dia peragakan barusan.
"Sekarang giliranmu Cakra, lakukan apa yang seperti Eyang lakukan," kata Eyang Resi mengingatkan Cakra Buana.
"Baik Eyang." jawab Cakra Buana.
Pemuda itu segera memperagakan gerakan yang sudah dicontohkan, Cakra Buana merentangkan tangannya dan menengadahkan kepalanya ke langit. Cakra Buana mulai memejamkan mata sesaat, lalu segera dibuka kembali.
Kini matanya berubah menjadi menyeramkan, ada bayangan petir didalam bola matanya. Langit mengeluarkan kilatan petir, tapi kali ini jumlahnya lebih banyak dari biasanya.
"Ajian Gelap Ngampar."
"Haaa …"
"DUARR …"
Petir menyambar hutan itu dengan sangat ganas, malam yang tenang berubah menjadi mencekam. Pohon-pohon hangus hanya dengan suara teriakan Cakra Buana, gemuruh petir tersebut masih belum hilang.
"Cukup Cakra!" kata Eyang Resi menyuruh Cakra Buana untuk menghentikan ajian Gelap Ngampar.
"Baik Eyang." Cakra Buana segera mengehentikan ajian Gelap Ngamparnya.
"Sekarang coba kau keluarkan ajian Pecah Raga!" Eyang Resi Patok Pati kembali menyuruh Cakra untuk mengeluarkan ajian Pecah Raga yang baru saja dia terima.
Cakra Buana menganggukkan kepala, lalu pemuda itu mulai berkonsentrasi untuk mengeluarkan ajian Pecah Raga.
Cakra Buana memejamkan mata kembali, kali ini dia sembari menunduk. Lalu perlahan kakinya menghentak ke tanah, kemudia berputar tiga kali.
"Ajian Pecah Raga"
"WUSHH …"
Cakra Buana diselimuti angin beberapa saat, lalu tiba-tiba muncul tujuh Cakra Buana dengan kemiripan yang sangat-sangat mirip. Ketujuhnya itu bahkan bisa bergerak sendiri, mereka melemparkan senyumannya masing-masing.
Melihat Cakra Buana sudah berhasil menguasai ajian Gelap Ngampar Pecah Raga, Eyang Resi Patok Pati bahagia bukan kepalang.
"Tidak sia-sia aku melatihmu selama tiga tahun, sekarang kau mungkin sudah menjadi salah satu pendekar tanpa tanding di wilayah kerajaan Kawasenan Cakra. Tinggal menunggu waktu dan menambah pengalaman, Eyang yakin kau akan mampu melampaui Eyang suatu saat nanti. Carilah ilmu diluar sana nanti, asalkan bermanfaat untuk orang banyak maka kau boleh mempelajarinya," ucap Eyang Resi Patok Pati.
"Terimakasih Eyang. Semua ini tak lain berkat Eyang Resi, aku berjanji akan selalu menjadi murid yang berbakti kepada Eyang Resi." kata Cakra Buana seraya memberi hormat.
Setelah selesai memperagakan ajian Gelap Ngampar dan Pecah Raga, keduanya kembali ke gubuk untuk segera beristirahat karena hari sudah larut malam.
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya. Kalau tidak keberatan tinggalkan juga votenya😁semoga sesuai selera kalian🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Wan Trado
sebaiknya disebut pendekar pilih tanding, bukannya tanpa tanding..
pilih tanding berarti masih bisa bertemu pendekar lain yg seimbang bahkan lebih kuat, sementara tanpa tanding itu sudah tidak ada lawan lagi sehingga sarat akan kesombongan
2024-12-08
0
Sigit Purnomo
ayo ngopi heula akang
2022-12-09
0
akp
nitip jejak
2022-08-16
3