Di sisi lain, guri besar dari Perguruan Goa Neraka itu tidak diam, mereka kembali berniat untuk melakukan serangan terakhir. Keduanya sudah bersiap untuk mengeluarkan jurus pamungkas. Tapi ketika mereka sudah dekat dan siap untuk menghabisi guru besar Perguruan Kuda Sembrani, tiba-tiba sekelebat bayangan putih menggagalkan serangan keduanya.
"Siapa kau? Berani sekali mengganggu urusan kami, apakah tidak tahu siapa kami?" salah seorang dari keduanya sangat geram.
"Perkenalkan, aku Langlang Cakra Buana. Mohon maaf jika aku lancang kepada paman sekalian, aku tahu siapa paman sekalian. Tapi, bukankah bertarung dengan cara mengeroyok seperti ini tidak mencerminkan sama sekali bahwa kalian itu guru besar? Bukankah ini merupakan pertarungan yang memalukan?" tanya Langlang Cakra Buana.
Ternyata sekelebat bayangan putih yang menggagalkan serangan keduanya adalah Langlang Cakra Buana, alasan pemuda itu melakukan tindakan tersebut karena dia sudah memahami situasi.
Terlebih karena ini merupakan pertarungan antara aliran putih dan hitam. Tentu saja dia tidak bisa tinggal diam ketika seseorang yang dianggap sejalan dengannya akan terbunuh.
"Kau tidak tahu masalahnya. Jaga ucapanmu bocah, apa kau pikir bisa mengalahkan kami hah?" gertak salahsatu guru besar Padepokan Goa Neraka.
"Mari kita coba saja paman. Kita bertarung secara jantan diluar sana," Langlang Cakra Buana menantang keduanya.
Bukankah sebelum dia mengembara Eyang Resi Patok Pati sudah pernah bilang, bahwa di wilayah Kerajaan Kawasenan hanya ada beberapa orang saja yang bisa mengalahkan atau bahkan menandinginya? Alasan inilah kenapa dia berani menantang kedua tokoh besar aliran hitam tersebut.
Kini ketiganya sudah berada diluar kedai tadi, mereka berada di halaman yang cukup luas. Banyak orang-orang yang ingin menyaksikan pertarungan yang mungkin cukup menarik sebagai tontonan. Sekaligus mereka juga ingin membuktikan apakah ucapan pemuda tadi bisa dibuktikan? Atau hanya sekedar bualan belaka saja?
"Siapa yang akan melawanku dahulu?" tanya Langlang Cakra Buana.
"Aku,"
"Perkenalkan namaku Ki Ageng Pakujaya, Pendekar Paku Neraka,"
"Perkenalkan namaku Langlang Cakra Buana, Pendekar Maung Kulon. Murid dari Eyang Resi Patok Pati".
"Deg … deg … deg …"
Jantung Ki Ageng Pakujaya berdetak kencang ketika Langlang Cakra Buana menyebut siapa gurunya, karena dia tahu betul siapa Eyang Resi Patok Pati. Sudah tidak terhitung berapa jumlahnya tokoh besar aliran hitam yang tewas ditangannya.
"Mari kita mulai …"
Langlang Cakra Buana menyerang lebih dahulu. Dia mengawali serangannya langsung menggunakan jurus Harimau Mengejar Mangsa. Pemuda itu sadar bahwa lawannya tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi dia merupakan tokoh besar aliran hitam sekaligus merupakan guru besar padepokan.
Kini keduanya sudah mulai bertarung satu lawan satu, gerakannya sama-sama lincah. Orang-orang yang menyaksikan pertarungan itupun sedikit tak percaya ketika melihat ada seorang pendekar muda bisa menyaingi kecepatan gerakan silat guru besar.
"Kemampuan pemuda itu ternyata tidak bisa dianggap enteng. Aku baru melihat ada seorang pendekar muda berkemampuan seperti dirinya." gumam rekannya Ki Ageng Pakujaya.
Puluhan jurus sudah dikeluarkan keduanya, sampai sekarang pertarungan masih terlihat imbang. Langlang Cakra Buana terus menyerang Ki Ageng Pakujaya dengan ganas. Tangannya bergerak mengincar ulu hati.
Lalu dilanjut sebuah tendangan menyamping mengarah tulang rusuk, Ki Ageng Pakujaya sedikit kewalahan dengan serangan Langlang Cakra Buana.
Murid Eyang Resi Patok Pati itu terus berusaha memojokkan Ki Ageng Pakujaya, pemuda itu berniat memukul kepala Ki Ageng. Sayang, itu hanyalah serangan tipuan. Yang benar adalah dia memberikan sebuah tendangan yang mengarah ke bagian telinganya.
Hingga akhirnya tendangan itu dengan telak mengenai telinga Ki Ageng Pakujaya. Telinga guru besar itu berdengung kencang dan mengeluarkan sedikit darah.
"Kadal buntung …" ucapnya sembari mengelap darah yang keluar.
Pendekar tua itu sangat geram. Dengan segera dia kembali menyerang Langlang Cakra Buana, kali ini gerakannya lebih cepat dari sebelumnya.
Adu pukulan dan tendangan yang dibarengi dengan tenaga dalam kembali terjadi. Debu-debu dan daun kering beterbangan karena terkena dery angin yang dihasilkan dari pertarungan pendekar tingkat tinggi.
Kini giliran Langlang Cakra Buana yang terpojok, pemuda itu terus diserang tanpa dibiarkan untuk sekedar mengambil nafas dengan tenang. Pukulan dan tendangan terus diterimanya tanpa bisa memberikan serangan balik. Dia hanya bisa bertahan dan terus bertahan.
Hingga akhirnya sebuah pukulan keras dengan telak mengenai ulu hatinya. Pendekar Maung Kulon itu terpental beberapa meter ke belakang sembari memegangi ulu hati yang terasa perih.
"Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan jurus yang lebih tinggi lagi." gumam Langlang Cakra Buana ditengah rasa perihnya.
Langlang Cakra Buana mengambil kuda-kuda, dia berniat untuk mengeluarkan jurus Harimau Mencabut Nyawa. Matanya mulai mengalami perubahan, bola mata yang tadinya berwarna hitam, kini mulai berubah menjadi sedikit kekuning-kuningan.
Dengan segera dia menyerang Ki Ageng Pakujaya, tapi gerakan silatnya berubah. Kali ini yang dia incar adalah bagian jantung. Baik tendangan ataupun pukulan yang diberikan, pasti mengarah ke jantung musuhnya.
Orang-orang hanya bisa membelalakan matanya ketika melihat pemuda serba putih mulai mengeluarkan rangkaian jurus yang mematikan. Tidak ada yang tidak kaget diantara mereka. Bahkan, rekan Ki Ageng Pakujaya pun sama kagetnya dengan orang-orang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Hikmat Nurhidayat
gk usah trs dibilang murid siapa2 thor biar agak kalem dikit
2024-01-30
2
Morphin
agus bjoe.....komenmu ok
2022-12-24
0
akp
apakah seterusnya hanya seperti ini tanpa ada alurnya, penasaran saya.
2022-08-16
2