Seiring Berjalannya waktu, pertarungan antara pendekar muda dan pendekar tua berjalan semakin tidak seimbang. Langlang Cakra Buana semakin diatas angin dan mendominasi pertarungan itu.
Jurus Harimau Mencabut Nyawa memang sangat mematikan. Beberapa kali pendekar tua itu terkena serangan Pendekar Maung Kulon. Dadanya terasa sesak dan sakit yang teramat sangat.
Di sisi lain, rekan Ki Ageng Pakujaya semakin cemas karena melihat rekannya yang semakin terpojok. Entah berapa kali dia menggertak giginya sendiri hingga terdengar oleh beberapa orang.
Dia jelas tidak terima dengan hal ini, karena kalau seperti ini baginya sama saja sebuah penghinaan untuk Padepokan Goa Neraka. Akan terdengar konyol rasanya jika guru besar sebuah padepokan kalah dengan seorang pendekar muda.
Tapi bagi mereka yang melihat langsung akan berkata sebaliknya. Bukan guru besar Padepokan Goa Neraka yang lemah, melainkan pendekar muda yang menjadi musuhnya sangatlah berkemampuan tinggi.
Tanpa berbasa-basi lagi, rekan Ki Ageng Pakujaya melompat ke arena pertarungan, dia membantu rekannya yang semakin kewalahan.
"Jaya Dena, tunggulah giliranmu. Jangan semakin mempermalukan Padepokan Goa Neraka didepan banyak orang. Aku masih sanggup menghadapi pemuda ini," kata Ki Ageng Pakujaya menegur rekannya yang bernama Jaya Dena itu.
"Hentikan omong kosongmu itu orang tua. Buktinya sudah berapa kali kau hampir terbunuh, kita serang saja dia bersamaan," kata Jaya Dena dengan nada sedikit membentak.
"Tidak kusangka guru besar Padepokan Goa Neraka se-pengecut ini. Baiklah, aku tidak keberatan, biar sekalian saja aku mengirim kalian ke alam kematian," kata Langlang Cakra Buana.
"Diam kau, dasar sombong." bentak Jaya Dana.
Pertarungan yang sempat berhenti kini dilanjut kembali. Tapi bukan lagi menjadi satu lawan satu, melainkan menjadi dua lawan satu.
Keduanya mulai menyerang Langlang Cakra Buana dari samping kiri dan kanan. Pukulan dan tendangan mulai mengarah kepada pemuda itu, tapi hanya selangkah mundur, Pendekar Maung Kulon sudah terhindar dari serangan kedua musuhnya.
Hanya beberapa menit, beberapa jurus tingkat tinggi sudah dikeluarkan oleh ketiga pendekar tersebut, semakin lama pertarungan semakin panas.
Hal ini dikarenakan Langlang Cakra Buana belum juga merasa kewalahan, padahal dia sudah diserang oleh dua guru besar sekaligus. Kejadian ini membuat orang-orang yang menjadi penonton semakin takjub atas kepandaian silat Langlang Cakra Buana.
Sungguh jarang sekali bisa ditemui pendekar muda seperti dirinya yang bisa menyamai atau bahkan mungkin melebihi kepandaian dua guru besar sekaligus.
Di arena pertarungan, kedua guru besar itu semakin geram. Sudah hampir dua puluh menit mereka bertarung, tapi sampai sekarang dia tidak bisa membunuh atau bahkan memberikan luka berarti kepada murid Eyang Resi Patok Pati tersebut.
"Ki Ageng, mari kita keluarkan ajian pamungkas guru besar Padepokan Goa Neraka. Aku yakin jika kita mengeluarkan ajian pamungkas masing-masing, maka pemuda itu setidaknya bisa terluka parah," kata Jaya Dana mengajak ki Ageng Pakujaya untuk mengeluarkan ajian pamungkas masing-masing.
Kedua guru besar itu mulai merapalkan ilmu hitam terkuat yang mereka miliki. Namanya saja ilmu hitam, sudah pasti ilmu sesat. Yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, yang menurut orang awam mustahil, bisa jadi kenyataan.
Tidak angin tidak ada hujan, kedua kaki Ki Ageng tiba-tiba berubah menjadi merah membara. Bulu betisnya berubah menjadi paku yang sangat tajam, inilah Ajian Paku Neraka, jurus pamungkas Ki Ageng Pakujaya.
Sedangkan Jaya Dena, kedua tangannya berubah menjadi seperti tangan iblis dan warnanya ke ungu-unguan. Aroma tidak sedap mulai tercium oleh orang-orang sekitar, termasuk Langlang Cakra Buana sendiri. Dia mengeluarkan jurus andalannya yang bernama Ajian Racun Raja Kelabang.
Kini keduanya sudah siap menyerang Pendekar Maung Kulon dengan jurus pamungkas masing-masing. Di sisi lain, pendekar muda itu nampak sedikit terkejut.
Wajar, dia baru saja menginjak di dunia persilatan. Jadi masih bisa dihitung jari ilmu hitam apa saja yang baru dia lihat. Murid Eyang Resi Patok Pati itu buru-buru mengeluarkan ajian yang tak kalah hebat. Dia kembali berniat untuk mengkombinasikan Ajian Dewa Tapak Nanggala dengan jurus silat Harimau Membelah Gunung.
Langlang Cakra Buana melakukan kuda-kuda, bola mata pemdua itu kini hampir berwarna kuning sepenuhnya. Kukunya berubah menjadi cakar tajam layaknya harimau, dia sudah siap untuk menyambut serangan dari yang akan datang.
Dan benar saja, tak lama kedua guru besar itu maju menyerang dirinya. Mereka kembali mengepung pemuda serba putih tersebut, pertarungan dengan jurus pamungkas tidak bisa dihindari lagi. Hawa disekitar tempat itu berubah menjadi panas ditambah bau busuk yang menyengat hidung.
Langlang Cakra Buana diserang menggunakan pukulan dan tendangan, setiap serangan keduanya memberikan hawa panas dan bau yang sangat busuk.
Mereka terus mengincar bagian pinggang dan dada Langlang Cakra Buana. Pukulan dan tendangan sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Melihat ada celah, Jaya Dena berniat memukul bagian ulu hati Langlang Cakra Buana.
Tapi dengan segera pemuda itu menahannya, akibatnya adu pukulan jurus pamungkas antara Ajian Raja Kelabang dan Ajuan Dewa Tapak Nanggala pun terjadi. Dua ilmu tingkat tinggi yang beradu itu menimbulkan suara ledakan yang cukup keras.
"DUARR …". Keduanya terpental beberapa meter ke belakang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
akp
lanjut lagi
2022-08-17
3
Otiswan Maromon
rameeee
2022-04-24
2
Andi Martata
next
2022-01-18
2