"Apakah yang dikatakan muridku itu benar Langlang?" tanya Eyang Tajimalela.
Dia sendiri masih belum percaya mendengar kabar ini. Tapi mana berani muridnya berbohong? Mau tidak mau jawaban satu-satunya ada pada pemuda yang kini dihadapannya.
"Benar eyang. Karena mereka juga berniat untuk membunuhku. Apakah ada yang salah eyang?" giliran Langlang Cakra Buana kini yang kebingungan.
Eyang Tajimalela jembali terperanjat kaget, pikirannya dipenuhi tanda tanya yang besar saat ini. Siapa pemuda ini? Siapa gurunya?
"Ahh … tidak Langlang, tidak ada yang salah. Justru aku harus berterimakasih kepadamu karena sudah menyelamatkan muridku. Tapi pasti masalah ini akan berbuntut pada perang antara Padepokan Kuda Sembrani dan Padepokan Goa neraka," kata Eyang Tajimalela.
"Perang antar padepokan? Memangnya … ada masalah apa Padepokan Kuda Sembrani dan Padepokan Goa Neraka itu eyang?" tanya Langlang Cakra Buana.
"Sebenarnya ini masalah lama. Dulu saat aku masih melakukan pengembaraan, aku membunuh adik dari Braja Suta. Braja Suta sendiri sekarang adalah maha guru di Padepokan Goa Neraka, dia sudah beberapa kali mengirimkan para muridnya untuk meneror padepokan ini. Sekarang jika kedua muridnya tewas, maka pasti dia akan turun gunung kembali. Aku tidak yakin bisa mengalahkannya, Ajian Langkah Iblis miliknya sungguh mengerikan," kata Eyang Tajimalela menjelaskan kepada Langlang Cakra Buana.
"Hemmm … begitu ya. Biar aku membantumu eyang, lagi pula ini termasuk tugasku untuk menumpas keangkara murkaan," Langlang Cakra Buana menawarkan diri untuk membantunya.
"Hemm, sebenarnya kau siapa pendekar muda?" tanya Eyang Tajimalela. Entah kenapa hatinya selalu berkata bahwa pemuda yang kini didepannya bukanlah sembarangan.
"Aku Pendekar Maung Kulon eyang. Guruku bernama Eyang Resi Patok Pati," kata Langlang Cakra Buana menjelaskan siapa gelar dan gurunya.
"Dugaanku tidak salah. Kau ternyata memang bukan pendekar biasa. Sampaikan salamku nanti untuk Eyang Resi Patok Pati," pinta Eyang Tajimalela.
Orang tua itu tentu saja mengenal siapa Eyang Resi Patok Pati. Apalagi dia mungkin satu generasi dengannya, sudah pasti Eyang Tajimalela tahu bagaimana sepak terjang Eyang Resi Patok Pati dalam dunia persilatan.
Ketiganya terus melanjutkan obrolan ringan, entah apa yang mereka obrolkan. Tapi kelihatannya sangat serius.
###
Ditempat lain …
Kabar tentang tewasnya Ki Ageng Pakujaya dan Jaya Dena sudah menyebar luas. Padahal kejadian tersebut belum sampai satu hari pun. Sosok pemuda berpakaian serba putih mendadak menggemparkan dunia persilatan.
Banyak yang bertanya-tanya siapa pemuda itu. Sayang, informasi tentang dirinya tidak bisa didapat banyak. Hal ini karena dia masih baru menginjak dunia persilatan. Para pendekar aliran putih sangat senang ketika mendengar kabar tentang kemunculan pendekar muda tersebut. Tapi bagi kalangan aliran hitam, pemuda yang membunuh Ki Ageng Pakujaya dan Jaya Dena yang merupakan tokoh besar aliran hitam sangatlah menjadi ancaman.
Sudah pasti pendekar muda yang tak lain Langlang Cakra Buana akan menjadi buronan aliran hitam.
###
Di Padepokan Goa Neraka …
Kabar kematian dua guru besar sudah sampai ditelinga semua orang disana. Termasuk guru besar lain dan maha gurunya sendiri, Braja Suta. Kini dia sedang melakukan pembicaraan disebuah ruangan bersama tiga guru besar lainnya.
Ketiganya sama seperti Ki Ageng Pakujaya dan Jaya Dena, mereka adalah murid langsung Braja Suta. Dua orang pria, satu orang wanita. Yaitu Walarangi, Genta Sena, dan satulagi Nyai Kembang Anom.
"Apakah diantara kalian ada yang mengetahui siapa pemuda yang membunuh rekan kalian?" tanya Braja Suta kepada tiga muridnya.
"Kami sama sekali tidak mengetahuinya guru. Bahkan mendengar namanya pun belum pernah, aku rasa dia masih baru menginjak dunia persilatan," kata Walarangi mewakili dua rekannya.
"Hemmm … ini semua pasti sangkut pautnya dengan Padepokan si tua bangka Tajimalela. Siapkan pendekar yang sudah matang, kita akan menyerang Padepokan Kuda Sembrani. Aku yakin pemuda itu akan muncul kembali," ucap Braja Suta memerintahkan ketiga muridnya untuk menyiapkan pasukan.
"Titah akan segera kami laksanakan guru."
Ketiganya langsung keluar dari ruangan Braja Suta, mereka langsung berniat untuk mengumpulkan para pendekar yang berkepandaian tinggi.
"Semuanya berkumpul!" seru Walarangi kepada seluruh murid Padepokan Goa Neraka yang sedang melakukan latihan silat.
Tak lama, seluruh murid Padepokan Goa Neraka berkumpul ditempat yang sudah ditentukan. Mereka bertanya-tanya dalam hati kenapa disuruh berkumpul, tapi tidak ada yang berani menyuarakannya.
"Semua murid senior Padepokan Goa Neraka segera bersiap-siap. Kita akan menyerang Padepokan Kuda Sembrani malam nanti," kata Walarangi menyuruh para murid senior.
Segera saja para murid senior memisahkan diri. Sedangkan yang junior memilih untuk beristirahat. Jumlah para murid senior tak lebih dari dua puluh orang saja. Tapi meskipun begitu, kemampuan beladiri dan kanuragannya cukup lumayan.
"Siapkan diri dan senjata kalian masing-masing. Kita harus memenangkan pertempuran nanti," kata Nyai Kembang Anom.
"Baik." jawab para murid serentak.
###
Hari sudah mulai malam. Orang-orang Padepokan Goa Neraka sudah bersiap untuk melakukan serangan ke Padepokan Kuda Sembrani. Kira-kira ada sekitar tiga puluh orang yang akan menyerang Padepokan Kuda Sembrani. Kesemuanya adalah para pendekar senior, guru, sekaligus maha guru Padepokan Goa Neraka sendiri.
"Semuanya, kita akan segera berangkat. Tapi sebelum itu, aku minta pasukan dibagi menjadi tiga kelompok. Satu menyerang dari bagian kiri, satu bagian kanan, dan satu bagian tengah. Bagian kiri dipimpin oleh aku sendiri, bagian kanan dipimpin oleh Genta Sena, dan bagian tengah dipimpin oleh Nyai Kembang Anom sekaligus maha guru Braja Suta. Kalian mengerti?" kata Walarangi kepada para pasukan.
"Mengerti guru," jawab mereka serempak.
Setelah semuanya sudah di kondisikan, mereka segera menuju ke tempat Padepokan Kuda Sembrani berada. Mereka memilih untuk menggunakan Saipi Angin daripada kuda. Karena jika memakai kuda akan cukup merepotkan, berbeda halnya dengan memakai Ajian Saipi Angin. Akan lebih simpel dan tentunya lebih mudah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Rusliadi Rusli
ok...seru ni
2023-01-08
0
akp
kenapa semua pendekar memakai saipi angin ya, apakah cuma itu satu-satunya ilmu meringankan tubuh di cerita ini?
2022-08-17
2
akp
"Guru ku memberi julukan pendekar maung kulon" mungkin kata ini jauh lebih rendah diri daripada langsung berkata "aku" yang seakan akan sangat menyombongkan diri.
2022-08-17
2