Cakra Buana mulai kebingungan dengan pertanyaan bayangan hitam itu. Dia sama sekali belum menemukan jawaban walau secuil, pikirannya seperti tidak berfungsi, hatinya seolah membeku dan jantungnya terasa berhenti berdetak.
'Aku siapa? Kenapa aku baru sadar mengenai hal ini. Benar juga, bahkan aku tidak mengetahui siapa diriku.' batin Cakra Buana.
Pemuda itu sekarang mulai ragu dengan semuanya. Iyaa, keraguan … keraguan yang bisa meruntuhkan segalanya. Cakra Buana masih termenung, perasaan campur aduk mulai merasuki jiwanya.
"Bagaimana, apakah kau sudah tahu siapa dirimu? Jika kau tidak tahu dirimu sendiri, untuk apa kau melakukan semua ini, untuk apa kau hidup? Sia-sia saja apa yang kau lakukan selama ini anak muda," kata bayangan hitam.
Bayangan hitam itu terus memojokkan Cakra Buana, senyuman penuh makna tak henti dia tampilkan. Bayangan hitam nampak puas karena melihat Cakra Buana kebingungan seperti itu.
"Berfikirlah dengan tenang anak muda, buatlah hati dan pikiranmu sejalan. Jika kau berhasil, maka secara perlahan kau bisa menjawab pertanyaan ini. Renungkanlah, supaya kau bisa tahu siapa dirimu," kata bayangan putih.
Bayangan putih tersebut merupakan bentuk dari sisi baik Cakra Buana, sedangkan bayangan hitam merupakan bentuk dari sisi jahat Cakra Buana.
Cakra Buana mulai mengikuti apa yang dikatakan oleh bayangan putih, dia perlahan mulai memejamkan matanya. Berusaha memasuki ruang hati lalu pergi memasuki ke ruang pikiran.
Setelah itu, Cakra Buana berusaha membuat antara hati dan pikirannya sejalan dan tidak bersebrangan lagi. Tapi ternyata, hal tersebut bukanlah perkara mudah. Cakra Buana masih belum bisa menyatukan hati dan pikiran, hatinya berkata A, tapi pikirannya berkata B. Selalu begitu dan begitu.
Cakra Buana tak mau menyerah, dia terus berusaha sebisa mungkin. Hingga akhirnya pemuda itu bisa menyatukan hati dan pikirannya secara perlahan.
Cakra Buana tersenyum, dia mulai menemukan jawaban yang bisa masuk diakal. Semakin lama senyuman itu semakin lebar, hingga akhirnya Cakra Buana angkat bicara setelah sedari tadi termenung.
"Aku adalah manusia. Aku adalah tunggal. Aku nyata dalam dunia. Aku bukan ilusi dalam nirwana. Aku ini adalah manusia yang telah diberi takdir sesuai porsiku. Aku menyadari jika di dalam tubuhku tak hanya aku, ada banyak yang telah disiapkan oleh Sang Hyang Widhi dalam tubuhku, aku berupa jiwa, roh dan segala sesuatu yang gaib lainnya," jawab Cakra Buana dengan mantap.
Mendengar jawaban dari Cakra Buana, bayangan yang berwarna hitam nampak kesal. Sebab itu adalah suatu pertanyaan yang paling sulit dijawab untuk sebagian orang, terlebih orang yang awam.
"Tidak kusangka, dalam usia yang masih muda kau bisa menjawab pertanyaan seperti ini," kata bayangan hitam, tak lama bayangan itu lenyap dari pandangan.
"Apakah jawabanku ini benar?" tanya Cakra Buana kepada bayangan berwarna putih.
"Benar anak muda. Jawbanmu tepat, tapi jawabanmu hanya merupakan salahsatu dari yang tepat, sebab diluar sana masih banyak orang-orang yang bisa menjawab dengan kata yang berbeda dari apa yang baru saja kau ucapkan."
Menurut bayangan yang berwarna putih, jawaban setiap orang terkait tentang 'siapa aku' tidaklah selalu sama. Setiap orang pasti memiliki bahasa dan kata tersendiri, namun salah atau benarnya jawaban tersebut bisa diketahui saat orang itu menyampaikannya.
"Sekarang kau sudah berhasil meluluhkan sifat angkara murka dalam dirimu dan jiwamu kini sudah bersih. Segeralah kembali, gurumu sudah menanti. 'Jadilah manusia yang berjiwa manusia, jangan menjadi manusia yang berjiwa iblis ataupun binatang'." kata bayangan putih yang tak lain adalah sisi baik Cakra Buana sembari memberi wejangan.
Setelah berkata demikian, bayangan putih tersebut lenyap dari pandangan. Entah kemana perginya, karena Cakra Buana sendiri pun tidak tahu pasti.
Tak lama, Cakra Buana kembali ke alam sadarnya, matanya mulai terbuka ketika hari sudah larut malam. Tanpa basa-basi lagi, Cakra Buana langsung keluar dari dalam air dengan cepat. Dia dengan segera menuju tepi telaga.
"Eyang Resi," kata Cakra Buana sembari memberi hormat kepada gurunya, Eyang Resi Patok Pati.
Menurut perhitungan Eyang Resi, hari terkahir muridnya menjalankan tirakat jatuh pada malam ini yang bertepatan dengan bulan purnama. Oleh sebab itu, Eyang Resi Patok Pati segera pergi ke Telaga Tujuh Warna untuk menyambut Cakra Buana.
"Kau sudah kembali Cakra, Eyang sangat senang kau bisa menyelesaikan tirakat ini." kata Eyang Resi Patok Pati menyambut kedatangan Cakra Buana.
"Ini semua berkat restu dari Eyang Resi," jawab Cakra Buana dengan sopan.
"Bagus Cakra, sekarang jiwamu sudah bersih dari sifat angkara murka. Mari kita segera kembali ke gubuk, Eyang akan mengajarkan ajian Gelap Ngampar dan ajian Pecah Raga seperti yang pernah eyang janjikan dulu." ucap Eyang Resi Patok Pati.
Menurut Eyang Resi, sekarang memang sudah saatnya untuk mewariskan ajian Gelap Ngampar dan ajian Pecah Raga kepada Cakra Buana. Terlebih saat ini Cakra Buana sudah berhasil menjalani tirakat di Telaga Tujuh Warna dan berhasil meluluhkan sifat angkara murka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
akp
MC langsung dibekali ilmu-ilmu tingkat tinggi dari pendekar tanpa tandingan....
2022-08-16
3
Otiswan Maromon
mantap
2022-04-24
2
arfan
1258
2021-06-15
2