Puluhan jurus sudah mereka lalui, tapi belum ada satupun diantaranya yang terpojok atau terluka. Keduanya nampak seimbang dalam pertarungan tangan kosong.
Pendekar tua tadi pun tak menyangka jika pemuda yang tidak dia kenali atau bahkan baru dia lihat, tapi ilmu beladirinya sudah tinggi. Dia hanya melihat dari jarak sekitar lima belas meter.
Pendekar Tanpa Ampunan mulai geram, pasalnya karena pemuda yang jadi lawannya belum terpojok sama sekali. Padahal sesekali dia mengeluarkan ilmu tingkat tinggi.
"Hebat juga kau, baiklah aku akan mulai serius sekarang." kata Gatot Adikusuma atau Pendekar Tanpa Ampunan.
Dia kembali menyerang Langlang Cakra Buana, serangannya mengandung banyak sekali tipuan. Setiap pukulannya mengeluarkan hawa panas, dia terus menyerang tanpa henti.
Langlang Cakra Buana tak mau kalah, Pendekar Maung Kulon itu kini berniat membalas serangan lawan, dia mulai mengeluarkan jurus kedua dari Kitab Maung Mega Mendung, yaitu Harimau Mengejar Mangsa.
Langlang Cakra Buana menyerang dengan cepat, kemanapun musuhnya pergi maka dia akan menyerang. Seolah dia tidak akan melepaskan musuh, semakin lama gerakannya semakin sulit untuk ditangkis lawan.
Dua puluh menit berlalu, ratusan jurus sudah mereka lalui tapi hasilnya masih sama dengan sebelumnya. Belum ada satupun dari yang menderita luka, mereka benar-benar seimbang.
Kali ini giliran Langlang Cakra Buana yang geram, dia mulai mengeluarkan jurus-jurus tinggi yang dia miliki. Hingga akhirnya pemuda itu mengeluarkan jurus keenam, yaitu Menyambar dan Menerkam Mangsa.
Dia merubah gerakannya, kali ini mirip seperti harimau yang akan menerkam mangsanya. Langlang Cakra Buana mengincar jantung lawan, dia terus maju menyerang sembari sesekali menendang.
Pendekar Tanpa Ampunan mulai kewalahan karena Langlang Cakra Buana terus memojokkan dirinya, dia mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak.
"Pukulan Tanpa Ampunan."
"WUSHH …"
Pendekar itu menyambut serangan yang datang, sembari menahan dia sesekali membalas serangan. Setiap pukulannya kini mengandung tenaga dalam yang kuat, dia mencoba memukul dagu Langlang Cakra Buana, tapi pemuda itu dengan sigap menahanya.
Adu pukulan terus terjadi, hingga akhirnya Langlang Cakra Buana mengeluarkan jurusnya yang lebih tinggi.
"Harimau Menelan Matahari."
"WUSHH …"
Pemuda itu mengeluarkan sinar kuning sesaat, setiap pukulannya menghasilkan sekelebat sinar seterang dan sepanas matahari. Hingga pada akhirnya Langlag Cakra Buana berhasil mendaratkan serangan kedua telapak tangannya tepat di dada kanan dan kiri musuh.
"Ahhh …"
Pendekar Tanpa Ampunan terpental menabrak pohon, dia berniat bangkit tapi dengan segera Langlang Cakra Buana menyerangnya kembali.
"Ahhh …" mati.
Pendekar Tanpa Ampunan tewas dengan luka sebuah cakaran yang lebar dibagian perutnya. Saking dalamnya cakaran itu hingga jeroannya sedikit terlihat.
Setelah musuhnya tewas, Langlang Cakra Buana segera menghampiri pendekar tua tadi dan menanyakan bagaimana keadaannya.
"Apakah paman tidak papa? Perkenalkan namaku Langlang Cakra Buana," ucapnya memperkenalkan diri.
"Aku tidak papa. Terimakasih kau telah menyelamatkanku anak muda, perkenalkan namaku Wijaya," ucap pendekar tua yang ternyata bernama Wijaya.
"Baik paman Wijaya, ngomong-ngomong kenapa dia menyerang paman?" tanya Langlang Cakra Buana.
"Dia menginginkan aku memberitahu dimana letak Mustika Kahyangan, tapi aku tidak memberitahukannya karena hanya orang yang berhati bersih saja yang bisa mendapatkan mustika itu." jawab Wijaya.
"Hemmm … kalau aku boleh tahu, kenapa dia menginginkan Mustika Kahyangan itu?" Langlang Cakra Buana semakin penasaran.
"Jika ada seseorang yang berhasil memiliki Mustika Kahyangan, maka orang tersebut bisa bertambah kuat dua kali lipat, bahkan dia akan terlihat berwibawa. Siapapun akan merasa segan kepadanya, tapi hanya orang terpilih saja yang bisa melihat Mustika Kahyangan. Bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana wujudnya, Aku hanya tahu dimana letak Mustika Khayangan tersimpan." kata Wijaya menjelaskan.
Menurut pengakuan Wijaya, Mustika Kahyangan konon merupakan sebuah mustika yang bisa menjadikan pemiliknya bertambah kuat dua kali lipat, bahkan Mustika Kahyangan bisa membuat orang tersebut lebih berwibawa daripada sebelumnya.
"Hemmm … paman, maaf jika aku lancang, tapi apakah aku boleh jika ingin tahu dimana letaknya mustika itu tersimpan?" kata Langlang Cakra Buana.
Entah kenapa pemuda itu serasa ingin mengetahui dimana tempat tersimpannya Mustika Kahyangan, awalnya dia tidak ingin menanyakan hal tersebut, tapi hati kecilnya terus mendorong supaya pemuda itu bertanya.
Wijaya terdiam sejenak, pria tua itu memperhatikan Langlang Cakra Buana dari atas sampai bawah, sebenarnya dia sedang menerawang pemuda yang ada dihadapannya saat ini.
Tapi setelah diterawang tidak ada tanda-tanda niat buruk, akhirnya Wijaya bersedia untuk memberitahu dimana letak tersimpannya Mustika Kahyangan.
Keduanya lalu pergi untuk menuju dimana Mustika Khayangan itu berada, mereka berjalan kaki perlahan. Karena menurut Wijaya, letak tersimpannya Mustika Kahyangan berada di hutan yang mereka injak saat ini.
Langlang Cakra Buana pun tidak banyak berkomentar, pemuda itu hanya mengikuti dari belakang sembari sesekali menyakan sesuatu untuk sekedar memecah keheningan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Reinvel
singkat, jelas, mati/Sweat/
2024-12-23
0
Winterfire
buset thor ini udah dijelasin detail sama kekek di atas malah dikasi tau lagi wkwkw
2023-07-30
0
Rusliadi Rusli
boleh tu di coba ,
2023-01-08
0