Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya guru dan murid itu tiba di sebuah telaga yang cukup besar. Telaga itu terlihat sangat dalam, airnya tenang, tapi seperti menyimpan seribu rahasia didalamnya.
Tidak banyak yang mengetahui tentang keberadaan telaga ini, karena memang tempatnya yang jauh dari pemukiman warga. Telaga ini ditemukan pertama kali oleh Eyang Resi Patok Pati saat dirinya akan menjalani tirakat sebuah ilmu, jika dilihat secara teliti telaga ini memiliki tujuh warna. Dengan alasan itulah Eyang Resi Patok Pati memberikan nama Telaga Tujuh Warna.
Saat ini Eyang Resi Patok Pati dan Cakra Buana sudah berada ditepi Telaga Tujuh Warna. Entah apa yang akan dilakukan oleh Eyang Resi, yang jelas Cakra Buana pun belum mengerti.
Eyang Resi Patok Pati terdiam cukup lama, dia seperti sedang mengamati keadaan sekitar. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Eyang Resi angkat bicara.
"Cakra, berendamlah ditengah-tengah Telaga Tujuh Warna ini selama empat puluh hari empat puluh malam. Jika kau berhasil menjalani tirakat ini, maka Eyang akan mewariskan ajian Gelap Ngampar dan ajian Pecah Raga. Ini merupakan syarat penting untuk menguasai kedua ajian itu. Tujuan dari tirakat ini tak lain untuk membersihkan jiwa dan ragamu dari sifat angkara murka," kata Eyang Resi.
Menurut Eyang Resi Patok Pati, syarat berendam di Telaga Tujuh Warna ini merupakan suatu kewajiban bagi siapapun yang ingin menguasai ajian tingkat tinggi seperti halnya ajian Gelap Ngampar dan ajian Pecah Raga.
Sebab, ketika seseorang berada dalam keheningan dan ketenangan maka orang tersebut bisa memasuki alam bawah sadar dan bertemu dengan dirinya yang halus. Jika sudah bertemu dengan diri halusnya, maka dengan otomatis cakra ajna dam cakra mahkota seseorang akan terbuka dengan sendirinya.
Setelah mendapatkan perintah dari gurunya, Cakra Buana segera melakukan persiapan untuk menjalani tirakat yang dimaksud. Pemuda itu melepaskan pakaian yang dikenakannya, dia hanya diperbolehkan memakai celana pendek tanpa busana ataupun aksesoris lainnya.
"Restui muridmu ini Eyang. Aku akan berusaha sekuat tenaga supaya berhasil menjalani tirakat ini." kata Cakra Buana seraya meminta restu kepada gurunya, Eyang Cakra Buana.
"Restu Eyang selalu mengiringi dirimu Cakra." ucap Eyang Resi Patok Pati.
Setelah mendapatkan restu dari gurunya, Cakra Buana segera pergi ke tengah-tengah Telaga Tujuh Warna. Perlahan-lahan pemuda itu semakin menjauh dan menjauh lagi, hingga akhirnya dia telah tiba tepat ditengah-tengah telaga tersebut.
Seluruh tubuhnya kini telah terendam, yang tersisa hanyalah kepalanya saja. Cakra Buana segara melakukan tirakat, tangannya ditaruh didepan dada seperti orang sedang menyembah, matanya perlahan mulai terpejam.
Melihat muridnya sudah mulai menjalani tirakat, Eyang Resi Patok Pati segera kembali ke gubuk tempatnya tinggal. Dia memilih mengawasi Cakra dari jarak jauh. Yang akan mengawasi bukan dirinya yang asli, tapi melainkan hanya sukmanya saja dengan menggunakan ajian Ngaraga Sukma (Meraga Sukma). Konon ajian Ngaraga Sukma bisa membuat orang yang memilikinya bebas pergi kemanapun yang dia mau. Karena yang pergi bukan raganya, tapi merupakan sukmanya saja.
"Semoga kau berhasil Cakra. Eyang yakin, hanya dirimu yang bisa mewarisi semua ilmu yang eyang miliki. Dan hanya dirimu pula yang pantas menjadi penerus Eyang." gumam Eyang Resi Patok Pati sebelum pergi.
Selang berapa saat, Eyang Resi segera kembali ke gubuk tempatnya tinggal. Karena dia menggunakan ilmu Saipi Angin, hanya beberapa saat saja Eyang Resi sudah tiba di gubuk tuanya.
Cakra Buana saat ini sudah mematikan semua inderawinya. Kini pemuda tersebut benar-benar tidak bisa merasakan apapun selain dari perasaan hampa. Bahkan, suara nafasnya pun tidak bisa terdengar sama sekali.
Dia mulai memasuki alam bawah sadarnya, semakin dalam dan semakin dalam. Cahaya emas perlahan muncul, lalu berubah menjadi cahaya putih, lalu berubah kembali menjadi hitam.
Hingga akhirnya, pemuda itu menemukan dirinya terbalik. Cakra Buana masih terdiam seribu kata, dia masih sedikit bingung apa yang harus dia lakukan.
Perlahan, dirinya yang terbalik itu mulai hancur menjadi butiran cahaya putih lalu menghilang. Cakra kembali tidak bisa melihat apa-apa, gelap … hanya warna hitam kelam yang dapat ia lihat.
Waktu terus berlalu dengan cepat, satu hari, dua hari, tiga hari, hingga tak terasa Cakra Buana sudah melakukan tirakatnya selama tiga puluh sembilan hari tiga puluh sembilan malam. Hanya tinggal satu hari satu malam lagi, dia bisa lulus menjalani tirakat tersebut.
Menjalang di hari terakhir, Cakra Buana merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tiba-tiba dua bayangan berwarna hitam dan putih muncul didepannya.
Kedua bayangan tersebut membawa Cakra Buana ke suatu tempat, tapi entah dimana letak tempat itu. Karena Cakra Buana pun tidak mengetahui secara pasti, yang jelas dia dibawa ke suatu tempat yang benar-benar asing.
"Siapa namamu anak muda?" tanya bayangan putih.
"Namaku Cakra Buana," jawab Cakra.
"Untuk apa kau melakukan ini?" tanya bayangan hitam.
"Untuk membersihkan jiwa dan raga dari sifat angkara murka," jawab Cakra Buana.
"Hahaha … membersihkan jiwa dan raga dari sifat angkara murka katamu? Apakah yakin kau bisa melakukannya … hahaha?" tanya bayangan hitam lagi, kali ini diiringi dengan suara tawa yang cukup mengerikan.
"Aku yakin pasti bisa, walaupun aku tidak bisa menghilangkan sifat angkara murka tapi setidaknya aku bisa menundukkan keangakara murkaan yang ada dalam diriku," jawab Cakra Buana tenang.
"Lalu? Apakah kau tahu siapa dirimu dan siapa itu Cakra Buana? Apakah kau tahu?. Aku sisi burukmu, dan dia sisi baikmu. Sedangkan dirimu, siapa?" tanyana lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Drra Andini
kebayang mengerikannya seperti apa ketika ketujuh raga itu mengguanakan ajian gelap ngampar. 🥶
2023-09-22
1
LEGIASTARI
klo di cerita Xiao Shuxiang Cakra Buana itu nama aslinya Bocah Pengemis Gila..,😊
2023-06-25
0
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ajian Gelap Ngampar dan Ajian Pecah Raga, kedengarannya Ajian dahsyat.
2022-11-14
1